Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
285. Kembalinya sang Cold Blooded Hunter


__ADS_3

"Tembak!"


Peluru-peluru berjumlah banyak melesat ke arahku, dan aku mengangkat pedangku dan mengalirkan banyak Energi Gaib ke kedua tanganku dan menepis peluru-peluru itu.


Meskipun kecepatan peluru dikatakan lebih cepat dari suara, tapi aku bisa melihatnya dengan mudah, karena aku sering berlatih melawan para Hunter rank SS sebelum Perang Dunia ketiga, dan mereka sering menyarankanku berlatih menepis peluru, dan kemampuan itu masih kubawa sampai sekarang.


"Tidak mungkin..."


"Semua peluru kita tak ada yang mendarat?"


"Ia tak terluka..."


"Apakah ia adalah Monster?"


"Hei kawan..." aku menurunkan pedangku, "Siapa yang mengirim kalian malam-malam begini?"


Ratusan senapan terangkat ke arahku dan satu orang menjawab, "Kau hanya harus mati, jadi tak perlu mengetahui darimana kami berasal!"


"Oh..."


Enaknya dipukul satu-satu ni...


"Oke..." aku mengangkat pedangku lagi, "Kalau begitu aku akan serius..."


Aku memasang kuda-kuda Membelah Samudra, dan seketika, senapan-senapan jatuh ke atas aspal, ratusan ******* yang mengepungku langsung berlutut, kulihat beberapa dari mereka berteriak keras, seperti kesakitan begitu.


Seseorang, kulihat datang dengan koper di tangan kirinya, ia memakai jas hitam yang sama sepertiku, dan ia mengangkat sesuatu di tangan kanannya, mengilap begitu...


"Langit Satria, Langit Satria, Langit Satria, kau masih belum berubah dari dua tahun lalu..."


Orang itu berhenti di hadapanku, sekitar tiga meter dari tempatku berdiri. Ia mengangkat pistol di tangan kanannya dan menodongkannya padaku, "Apa kau mengingatku?"


"Andhika..." aku menyipitkan mataku, "Apa kau yang merencanakan semua ini?"


"Maaf saja, aku tidak melakukannya karena tindakan ini akan dihitung kudeta..." Andhika menyimpan pistolnya, "Aku dipanggil ke Jakarta dan tak kusangka, ternyata perumahan tempatmu tinggal sudah dikepung..."


"Jadi? Apa tujuanmu kemari?" tanyaku.

__ADS_1


Aku masih belum tahu tujuan Andhika, setahuku ia berubah menjadi lebih perkasa dari sebelumnya, jadi sikap kerasnya mungkin saja meningkat lebih besar dibanding sebelumnya.


"Ada kudeta di pihak militer, kau bisa melihatnya dari kendaraan yang mereka pakai, perlengkapan mereka yang sama lengkapnya seperti tentara militer, dan satu lagi, yang membiayai mereka bukan orang luar, melainkan orang dalam." ujar Andhika dan ia meletakkan kopernya di atas aspal, "Aku sudah membawa pasukan kemari..."


Benar, aku sudah menyadarinya dari awal, bagaimana mungkin mereka bisa tahu seluk-beluk perumahan ini jika mereka tak diberitahu oleh orang yang paham?


"Apakah Yuuki?"


"Tidak, Yuuki berkata kalau ia sedang menyelesaikan masalah di Papua. Ada sekelompok ******* disana dan pasukan militer yang kukirim sudah disandera dan apa yang diinginkan pemimpinnya adalah bertemu denganku." Andhika membantah, dan ia mengulurkan tangannya.


"Indonesia sekarang kekurangan kekuatan, kekuatanmu dan Vina akan menambah lebih banyak kekuatan dalam TNI." ujar Andhika.


"Tapi aku perlu jawabannya, darimana mereka berasal dan siapa yang mengirim mereka?" aku menyarungkan pedangku, "Aku masih belum mengampuni mereka karena sudah merusak pintu yang baru saja kuganti engselnya..."


Tanpa sadar aku mengeluarkan seluruh hawa yang kumiliki, dan Andhika hanya meringis, membuatku sadar kalau aku masih bersama orang...


"Ah, maafkan aku, aku masih terbawa emosi..."


"Tidak apa, malahan aku senang bisa bertemu denganmu lagi."


***


Diperkirakan World Freedom sudah tersebar di seluruh Asia tenggara, jadi TNI kewalahan mengurusnya.


"Selain itu, aku merasa kalau orang militer yang mengarahkan mereka, begitu?" aku menatap Andhika yang masih memakai pakaian militernya.


Andhika Hendrawan adalah letnan jenderal angkatan darat, dan ia berencana dinaikkan pangkatnya menjadi panglima tertinggi, namun ia menolaknya dan berkata akan menyerahkannya pada sang pahlawan.


Siapa sang pahlawan itu? Tentu saja Langit Satria, Hunter rank SSS sekaligus Hunter terkuat di masanya.


Langit Satria dianugerahi pahlawan nasional dan disetarakan dengan para pejuang kemerdekaan di masa lampau, dan mendengarnya membuatku tertegun cukup lama.


Satu lagi, posisi jenderal besar masih dipegang olehku, dan tak ada satupun petinggi yang mau mengambilnya padahal pak presiden sudah menyarankan agar Langit Satria diturunkan dari jabatannya karena ia menghilang dalam waktu yang cukup lama...


"Tunggu, aku punya permintaan..." aku menginterupsi perkataan Andhika tentangku, "Bagaimana kalau kau minta pada petinggi lain untuk mengurus tugasku?"


"Sudah sejak lama..." Andhika menghela napasnya, "Dan sialnya tak ada dari lima Hunter terkuat RedWhite yang berniat terjun ke militer, jadi aku sebagai orang yang paham militer, mau tak mau terjun."

__ADS_1


"Bagi petinggi lain, dinaikkannya aku menjadi letnan jenderal tidak memerlukan persyaratan khusus, karena sepak terjangku di masa invasi Monster sudah banyak tertulis di buku, jadi aku langsung dinaikkan menjadi letnan jenderal saat aku baru masuk akademi militer."


"Yap, usiamu masih dua puluh tahun, masih muda juga..." aku menghela napasku.


"Intinya, apa kau mau kembali ke militer?" tanya Andhika, dan secangkir teh diletakkan di depannya.


Vina duduk di sebelahku dan kulihat matanya amat tajam menatap Andhika, aku jadi ngeri suatu saat Vina akan berkata kasar di depan Andhika...


"Silahkan tehnya..." aku meraih cangkir teh dan meminumnya perlahan.


"Jawabanku adalah iya..." aku meletakkan cangkir teh dan menatap dokumen yang ada di atas meja, "Aku harus membongkar siapa pengkhianat di TNI, dan aku tidak akan mengampuninya karena telah merusak kedamaian yang telah aku ciptakan..."


***


Aku meletakkan bungkusan panjang di sebelah tempat dudukku kemudian mengeluarkan buku pelajaran.


Hari yang berat...


"Hei, apa kalian tahu kalau sempat ada kudeta di dekat rumahku?"


"Yang mana?"


"Baru tadi masuk berita, menurut konfirmasi tentara, katanya pelakunya adalah ******* yang mengejar seseorang."


"Waduh, apakah orang yang berbahaya?"


"Entahlah, tapi menurut hasil identifikasi yang dirilis tentara, dikatakan kalau orang yang menyelesaikan masalah kudeta itu adalah orang dengan senjata tajam."


Ribut ah...


Aku mau tidur sebentar...


"Oe, bangun! Malas sekali!"


Aku membuka mataku, baru saja tertutup sebentar -...


"Andhika?! Kenapa kau ada di sekolahku?!!"

__ADS_1


__ADS_2