Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
84. Bonus poin berlebih


__ADS_3

Pagi...


"Berita besar! Mark Wei sang Smoke and Rifle telah meninggal!"


"Kabar meninggalnya telah dikonfirmasi langsung oleh Tom Cage dan Mark Wei akan dimakamkan esok pagi pukul sembilan waktu setempat!"


Seisi televisi menayangkan berita tentang kepergian Mark Wei sang Smoke and Rifle yang merupakan seorang Hunter rank SS ke hadapan sang pencipta, dan berita itu jelas mengguncang dunia.


Bagaimana tidak, baru seminggu lebih tiga hari sejak Raid Islandia berakhir dan diketahui kalau semua pilar penjaga bumi berhasil lolos, kabar terbarunya adalah salah satu dari pilar penjaga bumi itu meninggal.


"Sepertinya dunia tak mengetahui tentang kondisi sebenarnya para pilar penjaga bumi, kan?" aku melirik kakekku yang sedang meminum segelas susu, "Hanya mereka yang terlibat langsung saja yang mengetahui semuanya?"


"Ya, Tom tak ingin menyebarkan kabar para Hunter andalan bumi terkontaminasi racun, jadi ia menyebutkan bahwa para Hunter andalan bumi baik-baik saja, hanya luka-luka sedikit, padahal sebenarnya kondisi kami lebih dari itu." jawab kakekku lalu meletakkan gelas susunya di atas meja, "Sudah?"


Sejak lebih dari enam bulan lalu, sejak pertama kalinya aku 'Disiksa' oleh latihan kakekku, aku berhasil beradaptasi dengan pola latihan yang diberikannya.


Pagi hari sarapan pisang dan air putih, siangnya pukul sebelas makan nasi dan sayur rebus yang disiapkan kakekku, hingga pukul delapan malam menahan lapar, kemudian barulah makan.


Karena aku menahan lapar dari siang pukul sebelas hingga pukul delapan malam, pastinya perutku tak boleh langsung dimasukkan makanan berat, jadi untuk pertama-tama kakekku akan menyiapkan buah-buahan segar yang dibeli dari pasar kemudian barulah memakan nasi dengan sayur.


Pola makanku begitu saja sejak enam bulan lalu, kakekku sendiri masih memikirkan pola makan lain yang bisa membuatku menahan lapar lebih baik lagi.


Yang unik, pada pagi hari aku meminta lebih dari satu pisang pada kakekku, dan kakekku menurut saja memberikanku tiga pisang berukuran sedang tanpa menanyakan alasanku.


Aku menjawab dengan anggukan dan setelah membuang kulit pisang ke tempat sampah, aku berjalan keluar dari rumah menuju halaman rumah.


***


"Status."


[Nama: Langit Satria


Level: 24


Usia: 7 tahun


Jenis kelamin: Laki-laki


Pekerjaan: Flame Emperor


Title: Pejuang Sejati, 3+


HP: 700/700


STR: 130


INT: 42


VIT: 36

__ADS_1


DEX: 35


DEF: 34


LUCK: 20


Bonus poin: 28


Stamina: 130/130


Skill pasif: (Raja Api: Lv. 2) (Pria Api Kejam: Lv. 1)


Skill aktif: (Sprint: Lv. 6) (Pedang Api: Lv. 6) (Pukulan Kehancuran: Lv. 1) (Darah Burung Api: Lv. 1) (Semburan Api: Lv. 1) (Lv. 25) ( Lv. 30) (Lv. 50)


Equip: Shirt (E) Shorts (E) Pedang Api Hitam (SSSR+)]


"Statusmu masih tergolong biasa-biasa saja karena kau belum mengubah bonus poinmu itu ke statusmu..." kakekku berkomentar setelah melihat statusku, "Dengan jumlah poin segila itu, jika kau mengubahnya ke status STR, mungkin kekuatan fisikmu akan melebihi anak kecil seusiamu."


Sebelum kakek bilang begitu pun aku sebenarnya sudah lebih kuat dari anak seusiaku, tetapi jelas kemampuanku masih kalah dengan Vina si Hunter muda dari RedWhite yang katanya Christo seusia denganku...


"Jadi? Harus kuubah kemana semua bonus poin ini?" aku menggaruk kepalaku.


Dalam pertarunganku sebelumnya melawan Monster belalang berlevel 60, aku mengubah 5 poin menjadi STR dan 5 menjadi poin DEF, jadi seranganku meningkat sedikit waktu itu.


Ditambah dengan title yang kumiliki yaitu "Pemburu Makhluk Buas" membuatku memiliki serangan yang lebih baik dari normalnya jika aku melawan Monster bertipe hewan. Dan title ini katanya tidak akan bisa aktif jika aku melawan manusia ataupun Monster yang bermutasi.


"Kau pikirkan dulu, apakah kau akan memilih memiliki STR lebih dari yang lainnya, DEF lebih besar dari normalnya, atau keduanya?" kakekku mengelus dagunya, "Tapi kau tak bisa melupakan poin VIT yang akan berpengaruh pada besar HP yang kau miliki, serta poin DEX..."


DEX adalah status yang berguna untuk mempengaruhi pergerakanku menghindari serangan musuh. Semakin besar poin DEX yang kumiliki, maka kelincahanku akan bertambah besar.


"Begini deh, kau tambahkan 10 poin ke STR, 5 poin ke DEX, 5 poin ke VIT, sisanya ke DEF." kakekku berkata, "Bisa?"


"Oke..."


Aku melakukannya sesuai perkataan kakekku, dan aku memeriksa statusku lagi.


"Status."


[Nama: Langit Satria


Level: 24


Usia: 7 tahun


Jenis kelamin: Laki-laki


Pekerjaan: Flame Emperor


Title: Pejuang Sejati, 3+

__ADS_1


HP: 700/700


STR: 140


INT: 42


VIT: 41


DEX: 40


DEF: 44


LUCK: 20


Stamina: 130/130


Skill pasif: (Raja Api: Lv. 2) (Pria Api Kejam: Lv. 1)


Skill aktif: (Sprint: Lv. 6) (Pedang Api: Lv. 6) (Pukulan Kehancuran: Lv. 1) (Darah Burung Api: Lv. 1) (Semburan Api: Lv. 1) (Lv. 25) ( Lv. 30) (Lv. 50)


Equip: Shirt (E) Shorts (E) Pedang Api Hitam (SSSR+)]


Aku tersenyum tipis melihatnya, aku tak mengira poin STR yang kumiliki bisa lebih besar dari poin statusku yang lain, kalau aku kombinasikan dengan Pukulan Kehancuran yang masih level 1 serta Cakar Ayam Api, mungkin kekuatan penuhku bisa menghancurkan pohon UNTUK SAAT INI...


Sekali lagi untuk saat ini...


Di masa depan nanti, mungkin aku bisa menghancurkan kepala Monster berlevel 100 semudah membalikkan telapak tangan, dan jika saat itu tiba, mungkin aku akan disetarakan dengan kekuatan Tom Cage si Burning Arms, gyahahahaha...


"Pikiranmu boleh juga nak, aku juga terpikirkan hal itu tetapi kau lebih cepat menemukannya. Rasanya kau semakin pintar sejak poin INT yang kau miliki melebihi 30..." Zon memujiku, dan aku harus mengendalikan diriku agar tidak langsung merasa puas begitu saja.


Aku tersenyum tipis memikirkan yang kupikirkan tadi, sebelum aku merasakan suatu bahaya mengincar kepalaku.


Aku melirik ke kiri dengan cepat dan melihat pukulan kakekku bergerak cepat ke arahku, dan langsung saja, sebagai tanggapannya aku melompat ke samping lalu menarik napasku.


"Pukulan itu dilancarkan dengan niat membunuh yang kuat, apa kakekmu tak bisa mengendalikan dirinya? Sampai melancarkan serangan yang mengandung niat membunuh?" Zon terdengar menghela napasnya.


Itu benar! Apa kakekku berencana membunuhku setelah kepulangannya tak disambut meriah?!


"Kecepatanmu menanggapi serangan meningkat, sebelum kau mengubah bonus poinmu ke DEX pastinya kau memiliki kecepatan gerak yang lambat." kakekku berkata sambil mendekatiku.


Oh, ternyata hanya tes saja, kukira betulan...


"Jika kau mengubah bonus poinmu menjadi DEX saja, maka kau akan memiliki kecepatan gerak dan kecepatan menanggapi yang besar, tapi serangan dan pertahananmu mungkin tidak mengimbangi kecepatan itu, kecuali kau ingin menjadi Hunter tipe Assassin, jelas poin DEX lebih diperlukan." tambah kakekku, "Itulah sebabnya, setiap bonus poin yang kau miliki harus kau pikirkan untuk diubah ke poin mana, agar seterusnya kau tidak menyesali keputusanmu saat itu."


"Maksudnya mengatur bonus poin yang kumiliki, begitu?" aku menyimpulkan, dan kakekku mengangguk.


"Kau bisa menyebutnya begitu."


Zon tak bisa menahan tawanya dan ia berteriak keras di pikiranku, "Kakekmu itu orang bodoh! Kenapa tak dia singkat saja semua penjelasannya itu?!"

__ADS_1


Iya juga ya, kenapa kakekku bisa-bisanya memanjangkan sesuatu yang bisa disingkat?


__ADS_2