Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
129. Mereka adalah...


__ADS_3

"Aku hanya mampu mengingat kehidupan tiga kaliku saja, meskipun aku sudah mengatakannya, kau tidak tahu siapa nama dua orang lagi itu, kan?" Zon tersenyum sambil memejamkan matanya.


Yaaa, selama ini aku hanya melihat rekaman saja, tanpa tahu siapa yang merekamnya, jadi Zon benar.


Aku mengangguk dan berkata, "Jelaskan padaku..."


***


"Ibu, hari ini makan apa?" seorang bocah laki-laki, yang kuperkirakan berusia sekitaran sepuluh tahun, dan astaga, wajahnya kotor sekali!


"Ibu tidak bisa memasakkan sesuatu untukmu, sepertinya hari ini kita harus berpuasa lagi..." seorang perempuan, yang wajahnya sama buruknya dengan bocah laki-laki itu menjawab, dan ketika kulihat wajahnya lebih baik lagi, wajah itu menunjukkan kalau ia kelelahan, tapi ia menyembunyikannya dengan tersenyum.


"Apa kau tahu? Sekarang adalah tahun 1945, dimana perang sudah mencapai puncaknya." Zon muncul dan berkata, "Dan tak lama lagi, bocah itu akan mati."


"Eh?!"


"Ya, namanya juga perang, tak ada tempat yang aman lagi, sama seperti di Jepang..." Zon melirikku, "Apa kau tahu tentang pengeboman Hiroshima dan Nagasaki?"


Aku mengangguk, kakekku sering bercerita, di masa lampau, bumi pernah melewati satu perang dahsyat yang memusnahkan banyak sekali nyawa tak bersalah, banyak desingan peluru terdengar, puluhan pesawat tempur melintas di langit, hujan bom terjadi di berbagai tempat, dan membuat banyak sekali kota hancur. Nama kejadiannya yaitu Perang Dunia Kedua atau bahasa Inggrisnya adalah World War 2.


"Ada apa sebenarnya?" tanyaku, "Apakah insiden itu memiliki pengaruh pada kehidupanmu?"


"Bisa kau katakan begitu..." Zon menaikkan Idan terkekeh kecil, "Kau tahu? Aku dulunya lahir di desa kecil, kemudian desa itu dibom, aku dan ibuku sering berpindah tempat, hingga akhirnya kami sampai di Hiroshima."


Aku menatap lagi ke depan, dimana bocah laki-laki itu sedang berlari menjauhi toko sambil membawa sesuatu, dan kudengar, orang-orang meneriaki bocah itu.


"Pencuri! Tangkap dia!"


"Jangan biarkan dia lolos!"


Aku yang melihatnya sedikit ngeri, apa-apaan itu? Bocah kecil itu dikejar sambil ditodongi kayu? Kemana perginya kemanusiaan di dunia?


"Kemanusiaan sudah lama hancur sejak penjajahan, aku tak salah ingat, ada temanku yang tewas ditusuk pisau karena ketahuan mencuri." Zon mengepalkan tangannya, "Mereka tak tahu perasaan anak-anak yang kehilangan tempat tinggalnya karena perang."


Oke, oke kakek tua, aku mengerti...

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?! Siapa yang mengajarimu mencuri?!" perempuan berwajah buruk itu menampar bocah laki-laki itu, "Apa kau sudah bergaul yang tidak baik di luar sana?!"


"Maafkan aku bu, aku terpaksa mencuri karena kelaparan..." bocah itu mengeluarkan sesuatu dari bajunya, satu potong roti kecil, "Aku ingin makan bersama ibu."


"Ibu tidak mau makan makanan hasil curian! Makanan itu kotor!" perempuan itu duduk dan matanya mengeluarkan air mata, "Kapan semuanya berakhir?"


Bocah itu duduk di sebelah ibunya dan menyobek roti itu, separuhnya diberikan pada ibunya, "Makam dulu bu, sudah tiga hari kita tidak makan..." Dan bocah itu membujuk ibunya untuk makan, dan setelah beberapa lama, ibunya akhirnya mau memakan roti itu, meskipun sedikit enggan.


Aku sedikit terharu melihatnya, bagaimana mungkin bocah itu bisa bertahan selama tiga hari ini?


"Namanya Satoshi Shizawa, itu adalah nama bocah kecil itu sekaligus wujud pertama yang bisa kuingat." ujar Zon.


Kemudian selanjutnya berpindah ke bagian dimana seisi kota sedang kacau, suara peringatan terdengar di segala tempat.


Bocah itu berlari menyusuri jalan kecil, tetapi sesuatu runtuh dan ia mengurungkan niatnya untuk pergi kesana.


"Kuharap aku berhasil lolos dari kematian hari ini!" bocah itu berlari lebih cepat, mencoba menerobos kerumunan orang-orang.


Sayangnya, sesuatu jatuh dari langit dan ketika mengenai tanah, benda itu meledak dahsyat dan membakar seluruh kota, termasuk bocah itu.


Aku diam melihatnya, apa-apaan itu?


***


"Apa ini namanya, guru?"


"Oh, ini namanya rumput hijau langit, bisa dipakai untuk mengobati sakit perut."


Dua orang, satu laki-laki dewasa bertubuh tinggi dan satu bocah kecil sedang berdiri di depan pohon.


"Duvian, sudah paham?" laki-laki dewasa itu bertanya pada bocah kecil, "Dunia menyediakan apa yang kita butuhkan..."


"Tugas kita hanya memanfaatkannya dengan baik, agar bisa berguna bagi kehidupan kita." tambah laki-laki itu, "Kau mengerti?"


Oh, laki-laki tinggi itu bertanya hal yang sama dua kali pada bocah itu...

__ADS_1


"Bocah itu bernama Duvian, di masa depan dia akan dikenal sebagai seorang ahli ilusi, yang kemampuannya amat tersohor di seluruh dunia." ujar Zon.


Aku mengangguk, dalam ingatan yang diberikan Zon, Duvian memiliki banyak sekali trik ilusi, yang tidak bisa diterapkan di duniaku. Julukannya ketika masih hidup adalah Illusion Shadow, mengerikan memang...


Bocah itu berlatih keras, dan saat melihatnya, aku seperti melihat diriku sendiri yang berlatih keras di bawah bimbingan kakekku yang amat kejam.


Tak lama, bocah itu tumbuh menjadi seorang remaja laki-laki yang hebat, tapi gurunya meninggal karena suatu hal, yang kata gurunya disebut sebagai keracunan.


"Dunia praktik, tidaklah sesederhana berjuang menjadi abadi, banyak rintangan yang harus dihadapi, termasuk keberadaan dua belas sekte terbesar Aliran Putih dan Aliran Hitam, yang selalu bertempur satu sama lainnya." ujar gurunya, "Guru seperti ini karena terkena racun mematikan dari salah satu sekte itu..." kemudian laki-laki tua itu meninggal.


Remaja itu, berjalan menuju dunia berbekal petunjuk dari gurunya, pergi untuk membalaskan dendam kematian gurunya pada sekte yang meracuninya.


"Kakek tua, apa itu sekte?" tanyaku pada Zon. Sejauh ini, aku selalu mendengar sekte tanpa tahu apa artinya itu.


"Sekte adalah sebuah perkumpulan, di dunia itu sekte adalah perkumpulan para praktisi, mereka berusaha melatih diri dan membuat diri mereka lebih kuat dengan ilmu dari perkumpulan itu..." Zon menjelaskan, "Diantara sekian banyaknya sekte, ada dua belas sekte yang ditakuti di seluruh dunia, dianggap sebagai dua belas sekte terbesar di dunia."


Ia menjelaskan semuanya, dan aku angguk-angguk mendengarnya. Kurasa, dunia itu tidak cocok untukku... Terlalu banyak pembunuhan manusia disana... Aku takkan bisa bertahan...


"Omong-omong, roh ini sudah merenggut tak terhitung jumlahnya nyawa manusia dan hewan..." Zon mengangkat kedua tangannya dan menatapnya sambil tersenyum, "Setiap membunuh, ada rasa tersendiri ketika melakukannya..."


Aku bergidik mendengarnya, aku sudah melihatnya sebelumnya, tapi tetap saja, aku tidak percaya kalau roh satu ini senang membunuh.


"Agh!" seorang pria dengan pakaian serba hitam jatuh terduduk sambil menatap tajam musuhnya yang ada di depannya, "Bagaimana kau melakukannya?!"


"Senior Duvian, kau terlalu lembek pada lawanmu, hingga kau melupakan kalau kita adalah praktisi yang saling membunuh!" seorang pria yang terlihat lebih tua menghunuskan pedangnya ke leher pria berpakaian hitam itu, "Hadapi aku lebih serius!"


Pada akhirnya, pria yang membawa pedang itu memilih kabur saat pria berpakaian hitam merentangkan kedua tangannya dan mengeluarkan beberapa tiruan dirinya dan melepaskan aura berwarna merah kehitaman, yang lebih kuat dari sebelumnya.


"Hawa membunuh... Kebanggaan para praktisi..." gumam Zon, dan aku mendengarnya.


Sudah kuduga! Para praktisi memang tidak ada satupun yang memiliki akal sehat!


Pria berpakaian hitam itu bernama Duvian, dia berpetualang ke segala tempat, mempelajari banyak sekali jurus ilusi, menjadikan dirinya lebih kuat dari sebelumnya.


Petualangan panjangnya membawanya ke sebuah pantai, dimana ada seseorang, yang cukup ia kenal, berdiri di sana.

__ADS_1


"Kakak..." gumam Duvian, dan ia dibawa ke sebuah tempat yang jauh dari benua kelahirannya.


Siapa yang mengira, bahkan aku tak mengiranya, kakak Duvian lebih kuat darinya dan memenggal kepala Duvian lalu mencuri semua ilmu yang dimilikinya.


__ADS_2