
"Paman Lein, sudah pagi?" aku membuka mataku perlahan sambil melirik ke paman Lein yang masih menyetir mobil.
"Kau bisa bilang begitu..." jawab paman Lein lalu kudengar ia berkata lagi, "Batu penandanya sudah terlihat..."
Kata paman Lein, setiap kota besar pasti memiliki batu penanda yang ada sekitar beberapa meter dari kota, untuk menunjukkan kalau di dekat sana ada kota besar. Ibukota Indonesia yaitu Jakarta termasuk salah satunya.
Aku masih ingat dengan kata-kata paman Lein itu dan setelah mendengarnya, semua rasa kantukku langsung hilang dan mataku terbuka lebar, "Jakarta sedikit lagi!"
Ya, aku sudah menunggu sampainya kami di Jakarta, dan aku sudah lupa berapa hari berlalu sejak kami meninggalkan kota 6, mungkin seminggu? Entahlah...
"Dan kita sampai di Jakarta bertepatan dengan hari berdirinya RedWhite dan kemerdekaan Indonesia..." ujar Lein lagi, "Sekarang sudah tanggal 17 Agustus..."
Ah, iya, 17 Agustus adalah tanggal kemerdekaan Indonesia sekaligus tanggal berdirinya organisasi Hunter kebanggaan Indonesia, yaitu RedWhite.
"Pas sekali bukan, kedatangan kita ke Jakarta bertepatan dengan dua hari besar itu?" Andhika muncul di sebelahku, "Mungkin ibukota sedang ramai sekarang."
"Tapi pertama kita harus mengurus masalah pendaftaran..." Rei berkata, "Ingatlah apa yang akan kita lakukan di Jakarta."
Kukatakan, Rei benar-benar serius dengan niatnya menjadi Hunter. Satu menitpun tak ia lalui tanpa membaca buku catatan yang kuberikan padanya, yang merupakan buku catatan turun temurun dari guru paman Antha.
Setiap kali kulirik ke belakang, Rei selalu membaca bukunya, dan satu waktu ia sempat menutup bukunya dan menantangku bertarung dengan alasan ingin mencoba trik yang ia pikirkan ketika membaca buku itu, dan berakhir kekalahannya.
Selama perjalanan juga, tak ada Monster yang datang mendekat, dan katanya sistem, semua Monster yang berniat menyerang kami ketakutan merasakan aura Raja Api yang kupancarkan.
Meski skill pasif Raja Api masih berlevel 3, tetapi hawa keberadaanku cukup membuat Monster ketakutan mendekat? Apa aku semenakutkan itu?
"Sekarang kalian bersiap-siap saja, paman akan melajukan mobil lebih cepat supaya kalian bisa melihat suasana perayaan kemerdekaan Indonesia dan berdirinya RedWhite di ibukota." ujar paman Lein dan berseru, "Pegangan!"
***
Meskipun ada perayaan besar di ibukota, penjagaan di pintu masuk tetap tak berkurang sedikitpun, bahkan semakin ketat.
Kami yang masuk mengendarai mobil sempat dicegat dan dilarang masuk karena dicurigai sebagai *******, tetapi setelah paman Lein menunjukkan kartu lisensi Hunter dan medalinya, dan Andhika yang menunjukkan surat bersegel dari cabang RedWhite yang ada di Denpasar, kami pun diijinkan masuk.
__ADS_1
Suasana kota yang meriah dipenuhi warna merah dan putih menyambut kami ketika memasuki kota, dan bendera merah putih berkibar di berbagai sudut kota, serta bendera dengan lambang burung garuda berwarna merah putih disandingkan bersama bendera merah putih, membuat suasana semakin meriah bagiku.
Hanya satu kata yang bisa menggambarkan suasana itu bagiku...
"Keren!!!"
Waah, aku senang melihat warna merah dan putih di berbagai tempat, dan aku mengeluarkan kepalaku lewat jendela mobil agar pemandangan diluar terlihat jelas
Untung saja paman Lein memahami apa yang akan kulakukan, jadi ia mengendarai mobil dengan perlahan.
Dan ketika aku melihat keluar, aku melihat perempuan dengan wajah yang tak asing di ingatanku, perempuan yang ikut lolos dari kehancuran Surabaya bersamaku.
"Senja, dia terlihat lebih dewasa dari sebelumnya..." gumamku ketika melihatnya, "Apa dia ingat aku?"
***
Paman Lein membawa kami melewati istana negara, dan ketika kami lewat, upacara bendera sedang dilakukan, dengan barisan tentara yang berjejer di halamannya.
"Waw..." aku, Andhika, dan Rei terkagum melihatnya.
Bagian ketika bendera merah putih dibentangkan oleh anggota TNI dan ditarik ke atas oleh tentara diiringi lagu nasional Indonesia adalah bagian paling keren dan paling hebat yang selalu kusukai dalam rangkaian upacara bendera memperingati hari kemerdekaan Indonesia.
"Mau berhenti?" tanya paman Lein, dan aku mengangguk cepat.
Paman Lein menghentikan mobilnya dan menunjuk ke halaman istana negara, "Kalian mau melihatnya lebih dekat?"
Aku mengangguk, dan aku mendengar suara pintu dibuka di belakang, sebelum Andhika dan Rei sudah berada di luar sambil tersenyum lebar.
Aku dan paman Lein keluar dari mobil kemudian berjalan mendekati pagar istana negara, karena sebelumnya kami melihat kalau pintu masuknya dijaga oleh Hunter yang bukan Hunter peringkat bawah, melainkan Hunter rank S langsung, dikatakan langsung oleh paman Lein, jadi ia agak ragu membawa kami masuk ke halaman istana negara meskipun dengan identitas paman Lein yang merupakan Hunter sekalipun.
Kata paman Lein, dua Hunter rank S yang menjaga pintu masuk adalah Si Dua Taring Ardika Rajasa dan Si Palu Ungu Antonio Werdio. Mereka tergolong sering masuk televisi dan prestasi mereka cukup banyak, serta mereka lumayan terkenal di dunia.
Omong-omong, Antonio Werdio itu adalah salah satu Hunter yang pernah mengalahkan paman Lein, dan sekarang paman Lein ingin berlatih keras supaya bisa mengalahkannya.
__ADS_1
Kami berdiri di dekat pagar, sambil melihat bendera merah putih yang dibawa ke dekat tiang bendera, siap untuk dikibarkan.
Mataku yang bisa melihat melebihi orang pada umumnya memperhatikan sosok yang berdiri di depan barisan tentara, dan wajahnya kukenal, bahkan aku pernah berbicara dengannya.
"Orang yang berdiri di depan barisan tentara itu adalah Frans Andreas, ketua organisasi Hunter RedWhite saat ini. Ada rumor mengatakan kalau ia adalah Hunter yang setara dengan Hunter rank SS dari IronBlast, yaitu Esterosa de Esquede, dan promosinya menjadi Hunter rank SS sudah diperhitungkan oleh IHO."
IHO adalah organisasi Hunter dunia, dimana mereka bertugas mengawasi pergerakan semua organisasi Hunter di dunia, mereka juga bertugas menentukan tingkat berbahayanya suatu gate dan Monster, dan mereka memiliki hak untuk mempromosikan seorang Hunter menjadi Hunter rank SS atau rank SSS.
Organisasi ini bergerak di bawah arahan PBB langsung dan mereka diijinkan untuk bergerak sendiri apabila situasi tak memungkinkan untuk menunggu keputusan PBB, berbeda dengan organisasi Hunter, dimana setiap pergerakan organisasi Hunter lainnya perlu persetujuan dari IHO dulu barulah bisa bergerak, sekalipun itu situasinya darurat.
"Setiap kulihat, pak Frans selalu terlihat gagah dimanapun ia berada, bahkan ketika ia sedang bersantai sekalipun, membuatku kagum padanya." ujar paman Lein, dan aku mengiyakannya.
Bendera merah putih dibentangkan oleh seorang tentara, dan dua tentara lainnya mengerek talinya naik hingga ujung, diiringi oleh lagu nasional.
Paman Frans yang berdiri di barisan paling depan memberi komando posisi hormat, dan semua tentara serta semua pejabat negara memberi hormat pada bendera, begitu juga dengan kami berempat yang ada di luar lapangan.
Beberapa kendaraan yang lewat di jalanan, berhenti ketika lagu nasional yang mengiringi bendera merah putih naik ke ujung tiang bendera, memberi hormat pada bendera, beberapa pengendara bahkan ada yang ikut menyanyi.
Setelah bendera selesai ditarik ke atas, semua pengendara kendaraan kembali melanjutkan perjalanan mereka dan kami tetap di tempat, menonton kembali.
Proses selanjutnya adalah sambutan dari presiden Indonesia yang aku tidak tahu siapa namanya, hehehe...
Setelah itu adalah sambutan dari paman Frans yang berbicara dari tempatnya, tetapi tak lagi memakai posisi berdiri tegak layaknya tentara, ia berdiri santai. Ia berbicara tentang perjuangan Indonesia belum selesai, ia juga menyemangati para Hunter untuk bertarung lebih baik lagi untuk memberikan Indonesia sebuah kebebasan.
Setelah sambutan dari paman Frans, selanjutnya adalah pemberian anugerah pada orang-orang tertentu yang sudah menorehkan prestasi terbaik pada negara.
Dan nama Hunter yang baru saja memberikan sambutan muncul dalam nama orang-orang tertentu yang memberikan prestasi terbaik pada negara yang hari ini mendapat kenaikan jabatannya.
"Frans Andreas diangkat menjadi Hunter rank SS oleh IHO berdasarkan keputusan ketua Neil pada 15 Agustus 2326." sepertinya perwakilan IHO memberikan langsung medalinya pada paman Frans, dan entah kenapa aku merasa akan berada di posisi itu suatu hari nanti.
Yah, seperti yang dikatakan oleh paman Lein, jalanku masih panjang, banyak yang akan kulalui, semua yang kulalui sekarang, masih permulaan saja...
Cold Blooded Hunter : Seeker of Peace - Arc 4 - Perjalanan menuju dunia Hunter - The End
__ADS_1
Ga ada kata-kata penutup, ngantuk.