Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
94. Sepertinya pria itu adalah Hunter


__ADS_3

Sejuknya air dingin di kamar mandi menyegarkan seluruh tubuhku yang terasa lelah hari ini.


"Segar..."


Mataku terpejam, berusaha meresapi setiap kesegaran yang kuterima dari satu gayung air dingin, sebelum suara teriakan menyuruhku untuk cepat mandi.


"Langit! Cepat mandinya! Aku juga mau mandi!"


"Cih, mengganggu inspirasi saja..." aku menyiramkan air ke tubuhku kemudian mengeringkannya dengan handuk, "Sialan, padahal lagi serunya..."


***


Meskipun aku dan Andhika mengatakan sudah makan, bibi pemilik warung yang bernama Ayu tetap memaksa kami untuk makan, jadiii sekarang kami terjebak di meja makan yang sama dengan Rei serta ayahnya yang menatap kami tajam.


Suasana ruang makan terasa menegangkan karena tatapan ayah Rei yang tajam, membuat Andhika bergetar sedikit, bahkan aku yang memiliki kekuatan salah satu dari lima Monster terkuat sekalipun tetap gentar menatap tatapan tajam pria berotot itu.


"Apa kalian yang membawa pedang di depan itu?" pria itu angkat suara tiba-tiba, membuat jantung kami hampir lepas dari tempatnya saking terkejutnya.


Sialan, aku kurang waspada pada sekitar akibat terlalu gentar...


"Kau seharusnya menyadari kalau pernapasan pria itu berubah sedikit sebelum berbicara, ia menarik napasnya sedikit, membiarkan udara melewati tenggorokannya dan mulai berbicara, tetapi karena kau terlalu gentar membuatmu tak menyadari hal sekecil itu." Zon menjelaskan dan aku hanya tersenyum pahit.


"Apa kalian yang memiliki tiga pedang itu?" tanya pria itu lagi, dan Andhika menarik napasnya sebentar.


"Ya, itu kami..." jawabku terlebih dahulu, membuat Andhika kembali menghembuskan napas lega.


"Terima kasih Langit, kau menyelamatkanku." bisiknya pelan.


Apa maksudnya sialan?! Kau berniat berbicara tapi saat aku menjawab duluan, kau mengatakan aku menyelamatkanmu?! Jelaskan!


"Apa kalian Hunter?" tanya pria itu lagi, dan kami serempak menggeleng.


"Tidak, kami dalam perjalanan ke Jakarta untuk bergabung dengan RedWhite dan menjadi Hunter." aku menjelaskan, dan tiba-tiba saja, aku merasa hawa di ruangan itu bertambah berat.


"Apa-apaan ini?" gumamku, dan ketika aku menatap ke depan lagi, pria itu berdiri tegak.


Sialan, tingginya gila sekalii! Hampir setinggi paman Frans!


"Jangan kira hanya karena kalian membawa senjata api bisa membuatku gentar dan membiarkan Rei mengikuti kalian!" serunya dan suaranya bergema di ruangan itu.


Apa dia adalah mantan Hunter rank S seperti kakekku? Hawa keberadaan yang ia pancarkan bukanlah hawa keberadaan yang bisa manusia biasa pancarkan.

__ADS_1


Selama ini, aku baru bisa merasakan beberapa hawa keberadaan yang kurasakan berbeda, yaitu hawa keberadaan Monster yang terasa menyesakkan dada jika tak berkemampuan, hawa keberadaan manusia biasa yang biasa-biasa saja dan bisa kurasakan sejak dulu, hawa keberadaan Hunter biasa yang melebihi hawa keberadaan manusia biasa, hawa keberadaan Hunter kuat yang dahsyat memenuhi tempat, dan hawa keberadaan Emperor yang jelas lebih menekan daripada Monster, hanya lima keberadaan itu saja yang baru bisa kurasakan, mungkin nanti aku bisa merasakan lebih atau kurang.


Perbedaan hawa keberadaan yang kurasakan disebabkan karena perbedaan kemampuan mereka yang mereka miliki dengan kemampuan yang kumiliki saat ini. Darimana aku memperkirakan kemampuan mereka? Dari insting yang dibantu dengan title 'Penantang Maut' yang bisa membantuku memperkirakan kemampuan lawan dilihat dari fisik serta beberapa postur tubuhnya.


Yang kurasakan dan kulihat sekarang ketika menghadap ayah Rei adalah hawa keberadaan Hunter kuat yang bisa membuatku tak ingin melawannya.


Dari postur tubuhnya, ia berdiri dengan tegak yang menunjukkan kalau ia bukan sekedar manusia biasa yang menekuni kemampuan berbaris yang rapi, tetapi lebih dari itu, yaitu kemampuan militer.


Dari caranya menatap ke depan, ke segala arah, terlihat tatapan waspada yang pastinya terlatih untuk melirik sekitar dan menyimpulkan sebuah hal dengan cepat, jadi mungkin dia baru melihat tiga pedang kami saat duduk bersama kami.


Tangannya yang terlihat berotot dan kuat mencengkeram pinggir meja membuatku yakin kalau ia sudah sering memegang sesuatu, seperti gagang atau benda lain, mungkin senjata, tapi aku tak bisa menyimpulkannya dengan mudah seperti memegang senjata api.


Napas yang tenang dan sedikit bersuara membuatku berpikir kalau ayah Rei bukan orang biasa yang kebetulan mampu mengatur pernapasannya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi mampu mengatur pernapasannya dalam kegiatan lain.


Kemampuan militer, tatapan waspada, tangan yang kekar berotot, kuat mencengkeram sesuatu, dan napas yang tenang cukup membuatku berpikir kalau ayah Rei adalah mantan tentara militer atau lebih, yaitu Hunter.


"Kami datang tak berniat untuk membantu Rei menuju Jakarta, kami hanya singgah dan beberapa hari lagi kami akan pergi setelah mengisi persediaan makanan." aku menjawab dengan sopan setelah menyimpulkan hal tadi, berusaha menghindari kontak fisik dengan pria itu.


Andhika hanya angguk-angguk saja ketika kulirik, dan itu cukup membuatku geram.


Bukannya membantu menjelaskan, malah angguk-angguk tak jelas.


"Benarkah?" pria itu bertanya lagi, dan aku melebarkan matanya, "Kau yakin hanya sekedar lewat saja?"


"Kami yakin, tetapi kurasa aku juga bisa menolongnya." jawabku, dan tiba-tiba saja aku mendapat peringatan sistem.


[Perhatian! Hawa membunuh dirasakan!]


[Perhatian! Hawa membunuh dirasakan!]


Peringatan yang sama terus muncul, aku tak mengerti dimana kata-kataku yang salah sebelum aku teringat sesuatu yang dikatakan bibi Ayu tadi.


"Ah, salah, ya?" aku menggaruk kepalaku, berusaha terlihat bodoh dan tak mengerti suasana, tetapi sayangnya peringatan itu tak kunjung hilang.


[Perhatian! Hawa membunuh dirasakan!]


[Perhatian! Hawa membunuh dirasakan!]


[Perhatian! Hawa membunuh dirasakan!]


"Apa kau pikir kau bisa membantunya?" tanya pria itu dengan tatapannya yang semakin tajam menatapku.

__ADS_1


[Skill pasif Raja Api aktif! Kau tak bisa menunduk di hadapan makhluk yang lebih lemah darimu!]


Menurut sistem aku adalah Raja, tetapi bagiku aku hanyalah bocah kuat yang ingin menjadi Hunter...


Dan juga, dimana letak pria ini adalah makhluk yang lebih lemah dariku?! Dia jelas lebih kuat dariku!


Aku menggigit bibirku dan menjawab dengan tegas, "Ya, aku bisa membantunya..."


"Kalau begitu, kau harus bisa menahan pukulanku barulah aku mengakuimu." ujar pria itu dan berjalan pergi, "Ikut aku."


***


Pria itu benar-benar serius tentang kata-katanya, di halaman rumahnya yang luas, aku tak berkutik menghadapi pukulannya yang lebih baik kuhindari dari pada menahannya dengan tangan kosong.


Aku merasakan kekuatan besar yang terdapat di setiap pukulan kuatnya itu, dan membuat pendapatku tentang dia adalah orang kuat itu benar.


Aku menarik napas lagi dan mengalirkan Stamina ke kedua tanganku, dan berseru, "Pukulan Kehancuran!"


[Skill aktif Pukulan Kehancuran aktif! Semua kekuatan pukulanmu akan meningkat 20% dan meningkatkan peluang efek Burn sebesar 2%!]


Masalahnya, aku jarang memakai Pukulan Kehancuran dan proses naik levelnya hanya bisa dengan dipakai dalam pertarungan, jadi aku benar-benar menyesal tak pernah memakai skill satu ini dalam pertarungan.


Akibat kecilnya dampak dari skill Pukulan Kehancuran, membuatku tak berani melawan balik, takut jika efek seranganku tak berdampak apapun pada pria satu itu.


"Perhatikan pergerakannya, dia hanya memiliki kekuatan yang besar, tetapi pergerakannya lambat. Matamu bahkan bisa melihatnya dengan baik semua pergerakannya, jadi kau bisa menghindarinya dengan baik." Zon menjelaskan, "Saranku, cobalah untuk mencari celah untuk menyerang dari belakang."


"Dan cara itu bukanlah cara lelaki menyelesaikan masalah." aku mendengus.


"Heh, lebih baik pakai kecurangan jika kau tak ingin kalah!"


"Lebih baik aku kalah dengan jujur dibanding menang dengan curang!"


"Hish, kulihat apakah kau bisa membuktikan kata-katamu!"


Ya, lebih baik roh tua sepertimu melihat generasi muda bertarung, aku sudah punya rencana melawannya..."


....


...


...

__ADS_1


"Berkata roh tua sekali lagi maka kurasuki tubuhmu!"


__ADS_2