
"Langkah awal kami menyelesaikan masalah dimulai dari sini, di kota 6 yang walikotanya menyalahgunakan kekuasaannya!"
Aku hanya tertawa kecil saat memikirkan kata-kata yang kukeluarkan tadi siang, sambil memikirkan rencana apa yang bisa kulakukan untuk mengurus kota kecil ini.
"Langit, aku membawa dua nasi bungkus..." Andhika datang dan duduk di sebelahku kemudian menyerahkan satu bungkus padaku, "Makan dulu..."
Aku menerimanya kemudian meliriknya, ia sudah makan dengan lahap, seperti belum makan nasi sejak berhari-hari lalu-... Eh iya, bukannya kita sudah jarang makan nasj seperti ini?
Terakhir yang bisa kuingat hanya seminggu lalu ketika aku singgah di rumah bibi Sri, makan nasi dengan sayur dan tahu goreng lengkap dengan sambal dan kerupuk. Wah, rasanya benar-benar kurindukan...
Tapi jika aku kembali lagi untuk makan makanan seperti itu, mungkin aku tidak akan duduk disini, makan nasi bungkus bersama teman pertamaku.
Aku membuka bungkusan itu kemudian memakan isinya sambil tersenyum, "Untunglah aku bisa makan nasi lengkap dengan lauknya..."
***
Hari sudah malam ketika aku dan Andhika selesai makan nasi bungkus di taman kecil di dekat pusat kota, dan hari ini sudah kami cukupkan menyelidiki kota ini.
Kami pergi ke warung terdekat dan menanyakan lokasi penginapan yang bisa kami pakai untuk beristirahat.
"Di kota ini tak ada penginapan yang bagus, rata-rata penginapan yang biasa-biasa saja karena memang sedikit Hunter yang datang kemari, dan sekalinya datang hanya membawakan suplai makanan dari kota sebelah." ujar pemilik warung itu yang terlihat banyak tahu.
"Kalau begitu, bolehkah kami menginap disini?" tanyaku.
Kebetulan warung itu menyatu dengan sebuah rumah jadi kupikir rumah itu bisa kami pinjam sebagai tempat beristirahat sejenak.
"Boleh, kalian juga terlihat seperti selesai melakukan perjalanan jauh." pemilik warung itu mempersilahkan kami masuk, "Mari, bibi antar ke dalam."
Kami diajak ke halaman rumah oleh bibi itu, dan terlihat seseorang sedang memukul angin di tengah-tengah halaman.
"Rei? Masih belum mandi?!" bibi itu berseru pada orang itu, "Mandi!"
"Yaaa tunggu dulu Bu! Aku sedang berusaha menyelesaikan hitunganku yang kedua ratus!" orang itu berseru.
Gila, dua ratus kali pukulan? Apakah tangannya tidak akan kaku melakukan pukulan yang terlihat kuat dan cepat itu dalam jumlah yang banyak?
Kalau kuperhatikan dengan mataku, napas orang yang dipanggil Rei itu cukup teratur meskipun keringat mengucur deras hingga membasahi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Tak apa bi, lagipula saya senang melihat orang berlatih begitu..." aku terkekeh kecil, "Apakah ia ingin menjadi petinju?"
Bibi itu menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Rei ingin menjadi Hunter, tetapi ia tak memiliki senjata api untuk melakukannya, jadi ia melatih pukulannya dan berniat pergi ke Jakarta setahun lagi dan menjadi Hunter kemudian mendapatkan senjata api pertamanya."
"Tetapi sayangnya, ayahnya tak mengijinkannya menjadi Hunter karena menjadi Hunter mempertaruhkan sesuatu yang amat berharga, yaitu nyawa..." bibi itu menunduk, "Seandainya ada yang mau berbaik hati padanya, menolongnya mencapai impiannya..."
Rasanya, aku geram pada ayah Rei ini. Jika Rei berniat untuk membantu para Hunter membebaskan dunia ini dari invasi Monster, kenapa ayahnya tak mengijinkannya? Hanya karena takut anaknya tewas? Itu bukanlah alasan yang logis saat ini...
"Kau boleh berpikir begitu, tetapi pikiran semua orang terhadap Hunter berbeda jauh saat ini..." Zon berkata, "Jika kakekmu mengijinkanmu menjadi Hunter, maka di luar sana pasti ada saja orang yang tak ingin anak atau kerabatnya menjadi Hunter karena takut kehilangan mereka..."
"Kalau begitu terus, bukankah lama kelamaan dunia akan hancur dikuasai Monster?"
Zon diam dan aku menghela napasku. Aku melepas tasku dan menyerahkannya pada Andhika, "Pegang ini..."
Andhika menaikkan alisnya, "Hah? Kau mau melakukan apa?"
"Pegang saja..." aku melepas jasku dan menyerahkannya bersama kedua pedangku pada Andhika, "Serta ini...."
Kini, aku hanya memakai kemeja, celana panjang, dan sepasang Cakar Ayam Api.
Aku berjalan maju dan berseru, "Rei! Buktikan kemampuanmu padaku!"
"Namaku Langit, kau ingin jadi Hunter?" Aku melepas kedua Cakar Ayam Api, "Lawan aku jika kau menjawab ya."
Mata Rei melebar dan ia menarik kerah kemejaku dan bertanya dengan nada keras, "Apa maksudmu?! Kau menantangku berkelahi?!"
"Kau cukup menjawab dengan ya atau tidak. Jawab ya dan pakai dua senjata api ini, jawab tidak maka meringkuklah di bawah tempat tidur." Jawabku dingin dengan skill pasif Raja Api yang menyala.
[Skill pasif Raja Api aktif! Semua kawan akan menurut padamu dan semua musuh akan gentar menatapmu!]
Rei bergerak mundur, ia menerima kedua Cakar Ayam Api dan memakainya kemudian menatapku, "Kau serius menantangku berkelahi?"
"Sekarang bukan namanya berkelahi, tetapi kata yang lebih berkelas yaitu bertarung." jawabku sambil melipat lengan kemejaku dan melepas semua kancing kemejaku, hingga menunjukkan bentuk tubuhku yang sebenarnya.
Rei diam, ia terlihat menyeringai dan bertanya lagi, "Apa kau yakin? Aku kuat loh..."
Sayangnya aku lebih kuat...
__ADS_1
Peluang kemenanganku kuhitung sekitar empat puluh persen, jika kemampuan Rei setara dengan omongannya itu. Kalau tidak, ya peluangnya meningkat jauh, jadi sekitar enam puluh persen.
Rei memasang posisinya dan berlari maju, dengan kecepatan yang bisa kulihat dengan mata mengantuk sekalipun kemudian ia melancarkan pukulannya.
"Pukulan Angin!"
Saat ia sudah ada di depanku, ia melancarkan pukulannya dan tiba-tiba, terpaan angin yang kuat mendorongku mundur, dan aku tersenyum tipis.
"Lumayan..." aku mengepalkan tanganku, "Akan kubalas..."
Aku menarik kedua tanganku ke pinggangku kemudian melancarkan pukulan dengan tangan kanan dengan cepat ke perut Rei, hingga ia menyemburkan udara yang tadi ia hirup dan terpental ke belakang.
Aku tak boleh sampai memakai kekuatan penuhku, jika tak ingin Cakar Ayam Api penyok di beberapa bagiannya dan membuatnya harus dibongkar dan dihancurkan.
Ketahuilah, Cakar Ayam Api sudah rusak parah, aku hanya bisa memakainya tanpa pemanas, kalaupun kupakai hanya akan membuat cakar di ujung jarinya keropos dan rusak, hingga perlu diganti sepenuhnya.
Di Jakarta nanti, aku akan meminta pada ahli senjata api RedWhite untuk memperbaruinya dan menambahkan fungsi baru yaitu menyemburkan api agar skill Semburan Api bisa kupakai.
Rei jatuh di atas tanah sambil terbatuk-batuk, membuatku yakin kalau kemampuannya tak seperti yang ia katakan.
"Sialan! Apa kau Hunter?!" Rei berdiri dengan cepat dan ia berlari dengan kecepatan tinggi ke arahku, tetapi sayangnya kecepatannya masih bisa kulihat, "Apa kau Hunter?!"
Dalam kondisi kesal dan marah, napasnya berubah dari yang awalnya teratur menjadi terengah-engah, membuatku yakin kalau ia sulit menerapkan teknik pernapasan dalam pertarungan.
Ia terus memukul, dan aku terus menghindarinya dengan tenang sambil terus mengatur napasku agar tetap teratur.
"Yah, berikan dia kesempatan, Langit..." Zon berkata, dan aku hanya menghela napas.
"Oke..." aku berhenti, membuang semua udara yang ada di perutku kemudian membiarkan pukulan Rei mendarat di perutku.
[1370/1375]
Poin DEF yang kumiliki membuat pertahananku cukup tinggi dan mampu mengurangi dampak pukulan Rei.
Rei yang melihat pukulannya tak memberikan dampak yang besar padaku melebarkan matanya, mulutnya terbuka lebar dan ia mengepalkan tangannya lagi dan memukulku.
[1366/1375]
__ADS_1
"Tak ada rasanya, kau belum pernah berkelahi, bukan?" tanyaku, membuat Rei terdiam.
"Tapi tak apa, aku bisa menolongmu..." aku mengangkat tanganku dan menjulurkannya, "Kurasa kau bisa menolong kami..."