Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
55. Menuju Kanada


__ADS_3

"Ayahku masih hidup, tapi kenapa dia tak kembali padaku? Apakah dia tak ingin menemuiku lagi?" Aku terus berpikir hal-hal yang mungkin tentang alasan kenapa ayahku tidak kembali padaku meskipun dia masih hidup.


"Dia memiliki alasannya, aku yakin itu..." Zon terdengar menghiburku, tetapi kurasa itu saja tidak akan cukup.


"Kurasa, dia ingin menebus kegagalannya karenakemudian,isa melindungimu padahal dia adalah Hunter." Zon berkata lagi, "Dengan Raid itu, ia ingin menebus kesalahannya dengan melawan Monster yang mengancam bumi "


Omong-omong, Zon sudah memahami dunia ini dan ia mencampurkan apa yang ia ketahui di dunia asalnya dengan apa yang ia tahu tentang duniaku, jadi ia bisa membantuku menghadapi situasi yang akan hadir dalam hidupku nanti.


"Bisa jadi juga sih..." Aku melirik ponsel yang ada di sebelahku, "Apa kuhubungi kakek saja, ya?"


"Kusarankan jangan, kakek tua itu pasti sedang berdiskusi tentang Raid." Zon menjawab, "Ingatlah, Raid bukanlah hal yang bisa dihadapi dengan gegabah, apalagi lawan kalian bukan dari dunia ini, melainkan dari dunia lain."


Aku tersenyum tipis, "Alasan, ya?"


"Apa alasanmu tetap berjuang? Membalaskan dendam kematian keluargamu?" Tanya Zon tiba-tiba.


"Ya, aku membawa impian kakakku dalam latihanku, paman tahu kan apa impiannya?" Jawabku. Itu adalah alasanku ingin berjuang, aku ingin agar impian kakak bisa terwujud, meskipun ia sudah tiada, tetapi impiannya masih mengalir dalam ingatanku, dan aku ingin mewujudkannya agar kakakku senang di alam sana.


"Menjadi Hunter rank SSS, Hunter terkuat di seluruh dunia..." Zon terdengar menghela napasnya, "Dan aku tahu masa depanmu..."


"Kau akan menanggung semuanya, meskipun kau sudah bukan lagi manusia, tetapi kau terus berjuang, hingga akhirnya namamu diingat sebagai sang Pahlawan..."


***


Markas StarSam, New Washington, Amerika Serikat...


Malam terasa sejuk di balkon lantai sembilan Hotel Super StarSam, di kamar yang ditempati oleh Bintang dan Joko.


"Rasanya, lama sekali aku merasakan angin hotel tinggi begini, terakhir sih waktu aku pulang dari Hawaii, seterusnya di desa yang jauh dari hiruk pikuk dunia Hunter." Bintang berkata sambil menatap titik-titik cahaya di bawah.


"Surabaya cukup dekat dengan keramaian, jadi rasanya biasa saja..." Joko berkata sambil mengelap pisaunya dengan tisu yang entah kapan ada disana, "Aku biasa saja..."


"Kan..." Bintang menunduk, "Kau ini tak tahu yang namanya perumpamaan, ya?"


"Tentu tahu, ayah, tapi cobalah menghadapi semuanya dengan santai..."

__ADS_1


"Dan juga, kenapa kau masih disini?! Kapan kau berangkat ke Kanada?!" Bintang berbalik dan menunjuk Joko, "Pergi woy!"


"Tak ada kabar dari Alex, jadi aku santai saja dulu..." Joko menyarungkan pisaunya dan mengambil handuk dari tasnya, "Aku mandi dulu..."


Ia masuk kamar mandi dan beberapa saat kemudian, kurang dari lima menit, ia keluar lagi dengan tubuh separuh basah.


"Cepatnya..." Bintang menaikkan alisnya, "Tak sampai lima menit, kau sudah terbiasa dengan situasi darurat, kah?"


"Aku menyebutnya Mandi Kilat." Jawab Joko dan ia memakai pakaiannya kembali, "Tak ada waktu bertapa di kamar mandi, tahu!"


Iya juga sih, Bintang membenarkan apa yang dikatakan Joko.


Joko memakai dasinya dan menarik jas panjang yang tergeletak di atas kasur kemudian mengambil ponselnya dan berkata, "Aku pergi..."


Ia berjalan menuju pintu dan membukanya, sebelum sebuah kepalan tangan mendarat di wajahnya.


"Aduh muka tampan!" Joko melompat mundur, "Apa-apaan itu?!"


"Eh? Kau sudah keluar?" Seorang pria dengan jas hitam dengan lambang bendera Inggris di dada kirinya menatap Joko, mengalihkan pandangannya dari yang awalnya menatap layar ponselnya, "Kukira belum selesai, jadi aku berencana mengetuk pintu..."


"Dan kau mengetuk pintu tanpa melihat ke depan?!" Joko mengelus kasar hidungnya, "Hampir nih hidung lepas, tahu!"


"Sudah." Joko melipat tangannya, ia berbalik dan berkata pada ayahnya yang duduk di balkon dengan kaki kiri terangkat di atas kaki kanannya, tangan terlipat, dan tersenyum lebar, "Aku pergi, ayah!"


Bintang mengangguk, "Oke." Setelah itu ia mengambil sepotong roti di meja di sebelahnya dan memakannya.


Joko berbalik kemudian menutup pintu sambil memakai alat penerjemah otomatis di telinganya dan berkata, "Ayo, kita pergi..."


Alex mengangguk dan ia berjalan duluan, "Aku sudah menyiapkan semuanya..."


***


Joko terdiam menatap motor besar di hadapannya, yah, motor dengan bodi besar dengan satu kursi tambahan di samping kirinya.


"I-Ini..." Joko menunjuk motor itu, "Kita ke Kanada naik ini?"

__ADS_1


"Kenapa? Kau tak mau?" Alex menaikkan alisnya, "Ketahuilah, aku tak bisa mengendarai mobil, jadi aku memilih motor saja."


Masuk akal sih, kalau Alex kemari naik mobil dan menyuruhnya mengendarai mobil, maka Joko akan memilih kabur duluan daripada disuruh melakukannya dengan alasan ia tak bisa melakukannya.


Jadiii, dua Assassin kita ini tak mampu mengendarai mobil, sekian...


Alex berjalan mendekati motor dan menaikinya kemudian menyalakannya.


Suara besar motor itu bergema di lobi hotel, membuat beberapa Hunter yang lewat terkejut dan melirik keduanya


Alex tak memedulikan itu semua, ia melirik Joko dan menyuruhnya untuk duduk di kursi tambahan.


"Duduk." Ujar Alex datar dan Joko duduk.


"Tujuan kita adalah Kanada, sekitar dua hari dari saat ini..." Gumam Alex sambil menggeser layar di speedometer motor dan Joko mendengarnya.


Setelah Alex merasa mesin motornya sudah panas sedikit, ia menarik gas motornya sedikit dan mulai berjalan.


***


Cukup dengan memasang wajah saja, Alex dan Joko bisa keluar dari markas dan melaju di jalanan New Washington yang ramai.


Karena masih di dalam kota, Alex mau tak mau harus berjalan pelan dan berhati-hati, kalau tidak mungkin mereka akan terkena masalah dengan polisi setempat.


Biarpun mereka Hunter, mereka harus tetap mematuhi aturan di suatu negara, yaa biar tidak terkena masalah yang membuat pihak organisasi Hunter kesulitan.


Dan, polisi serta tentara juga tak segan menilang dan menghukum Hunter yang melanggar aturan, bahkan Hunter yang memiliki rank SS sekelas Tom dan Oga sekalipun takkan bisa lolos dari hal itu.


Perjalanan mereka terhambat sejenak karena lampu merah, dan di saat itulah, Alex melirik Joko sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam jasnya dan menyerahkannya pada Joko.


"Ini, hadiah dari ketua Tom..." ujar Alex.


Joko menerima benda itu dan bertanya, "Ini apa?"


"Batu."

__ADS_1


Joko diam mendengarnya, "Apa maksudnya coba?"


"Itu belati..." Jawab Alex dan ia menjalankan motornya lagi, "Namanya Dragon Fang Dagger..."


__ADS_2