
"Langit, kakek sudah merasa hidup kakek sudah tak lama lagi, jadi kakek akan mengatakan sesuatu padamu..."
Aku berlutut di sebelah tempat tidur kakekku dan memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan, "Baik, Langit dengarkan..."
Kakekku bergeser sedikit dan meraih sesuatu di sebelah tempat tidurnya dan memberikannya padaku, lalu berkata, "Kau tahu ini?"
Aku menerima benda yang diberikan kakekku dan menatapnya baik-baik, dan aku menggeleng, "Langit tidak tahu, benda apa ini?"
"Itu adalah medali pengenal Hunter, atau bisa dibilang adalah lisensi Hunter yang pasti semua Hunter di dunia miliki. Dengan kau memakai ini, maka menunjukkan identitasmu sebagai seorang Hunter dari organisasi RedWhite." jawab kakekku perlahan.
Aku bisa melihat kalau medali yang baru saja kakekku berikan memiliki bentuk yang unik. Lambang burung garuda dengan warna merah dan warna putih serta enam gambar bintang membentuk lingkaran serta satu bintang besar di tengah-tengahnya di tengah lambang itu memberikan kesan berwibawa bagiku.
Menurut pelajaran yang kakekku berikan dua tahun lalu, burung garuda dengan warna merah dan putih adalah lambang dari organisasi Hunter RedWhite yang melindungi wilayah Asia tenggara. Jadi, medali yang kupegang saat ini adalah lambang RedWhite.
"Aku juga ingin memberikan sesuatu lagi..." kakekku memberikan satu benda lagi, dan ketika aku menerimanya, benda itu berbentuk seperti kartu, dan tertera nama kakekku di kartu itu, "Ini adalah kartu lisensi Hunter yang kakek miliki."
"Kenapa kakek memberikan Langit dua benda berharga ini?" tanyaku.
"Kakek ingin agar kau pergi ke RedWhite untuk memberikan dua benda itu pada Frans, dan katakan kalau kakek sudah meninggal." ujar kakekku dan tak lama, ia terbatuk-batuk.
Aku berdiri dan berniat mengambil air, tetapi langkahku berhenti karena tangan kakekku menarik tanganku.
"Tak usah nak, waktu kakek tersisa sedikit lagi, tak ada gunanya memberikan kakek air." ujarnya pelan.
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi, kakekku terlalu sering mengatakan waktunya tersisa sedikit lagi, seperti mengatakan kalau inilah saat terakhirnya, atau mungkin itu benar? Entah kenapa diriku masih belum siap atas hal itu...
"Jangan berkata begitu, Langit yakin kakek masih bisa bertahan, kakek kan seorang Hunter-..." Aku belum selesai berkata-kata ketika kakekku memotong perkataanku dengan ucapannya yang pelan.
"Tidak, kakek tahu inilah saatnya, jadi tolong dengarkan..." ucap kakekku pelan yang mulai terbata-bata.
Mau tak mau, aku mendengarkan apa yang kakekku akan katakan.
__ADS_1
"Saat kakek sudah meninggal, berikan dua benda yang kakek berikan tadi ke RedWhite, lebih tepatnya ke ketua RedWhite langsung yang bernama Frans. Katakan padanya kalau kakek sudah meninggal dan sudah dimakamkan di desa ini."
"Kakek ingin ketika kakek sudah meninggal, tutupi tubuh kakek dengan bendera merah putih, sertakan juga bendera itu ke dalam lubang makam kakek, agar kakek bisa selalu merasakan hangatnya bendera merah putih yang kakek sukai..."
"Setelah kau menyerahkan dua benda itu, kau kini bisa menentukan tujuanmu selanjutnya, kakek biarkan kau memilih."
"Kakek juga akan memberikan peringatan kalau kau bertugas ke luar negeri. Usahakan agar identitasmu sebagai Wadah Flame Emperor tak diketahui oleh siapapun kecuali dirimu sendiri. Jika kau mengungkapkan identitas aslimu sebagai Wadah Flame Emperor, maka banyak Monster akan menghampirimu dan berusaha menghabisimu bagaimanapun caranya."
"Para Wadah yang sebelumnya ada di dunia, satu persatu mulai meninggal, sehingga tersisa kakek, Tom, dan Oga saja sebagai Wadah, dan akan berkurang satu setelah ini."
"Dengan kau memiliki kekuatan Flame Emperor membuatmu memiliki kewajiban melindungi bumi, tetapi kau tak boleh mengungkapkan kekuatanmu kalau kau tak memiliki cukup kekuatan untuk melindungi dirimu."
Kakekku terbatuk lagi, membuatku ingin berkata lagi, tetapi aku tak bisa melakukannya karena aku memahami kalau akhir hidup kakekku semakin dekat.
"Saat kau sudah pergi dari desa ini, berusahalah untuk selalu meningkatkan levelmu, berusaha agar selalu memanfaatkan bonus poin yang kau dapatkan, berusahalah untuk melindungi orang-orang..."
"Berusahalah untuk menjadi kuat, buat kematian kakek sebagai suatu pelajaran kalau kau tak boleh lengah saat melawan Monster manapun, sekalipun itu lemah di hadapanmu."
Aku yakin kalau kakekku berusaha terlihat serius dalam kata-katanya kali ini, tetapi wajah kusutnya merusak wajah seriusnya.
"Dan yang paling penting, putuskan rantai warisan Pedang Api Hitam, hentikan invasi Monster dalam masa perjuanganmu, berikan dunia ini sebuah kebebasan..."
Kakekku mengangkat tangannya kemudian merebahkan dirinya, "Pedang Api Hitam tak boleh lagi diwariskan ke tangan selanjutnya, kau harus menyelesaikan semuanya yang tak bisa kakek lakukan..."
"Kobarkan api semangatmu, dan habisi para Monster itu..." ucap kakekku sebelum beliau memejamkan matanya, dengan tangan yang perlahan turun ke atas dadanya.
Dadanya naik sedikit sebelum turun dan tak naik lagi, menandakan napasnya telah berhenti sepenuhnya.
Aku memejamkan mataku, kurasa perjalananku yang sepi selanjutnya akan dimulai...
"Terima kasih kakek, atas segalanya yang telah kakek berikan pada Langit yang bodoh ini..."
__ADS_1
***
Desa seketika gempar saat aku mengatakan pada penduduk desa kalau kakek Bintang si pejuang tangguh itu telah meninggal.
Banyak yang tidak mempercayainya, sehingga aku terpaksa membawa mereka ke rumah dan menunjukkan tubuh tanpa nyawa kakekku yang sudah kututupi dengan bendera merah putih yang ada di kemari kakekku.
Aku pun menceritakan permintaan terakhir kakekku serta menambahkan, bahwa kakekku ingin agar pemakamannya diiringi lagu kebangsaan Indonesia.
"Langit, apakah permintaan beliau memang seperti ini?" tanya kepala desa yang ikut ke rumahku, "Kalau begitu, kami akan memakamkan beliau sebagaimana kau katakan sebelumnya."
"Dan juga..." kepala desa berkata lagi, "Apakah kabar ini bisa dipublikasikan?"
Aku mengangguk, "Iya, tetapi setelah proses pemakamannya selesai, ada yang perlu kusampaikan lagi."
"Baiklah..." kepala desa mengangguk kecil, "Selanjutnya kami akan membersihkan tubuh kakek Bintang terlebih dahulu..."
***
Pemakaman kakekku dilangsungkan di hari itu juga, di siang hari setelah beliau dibersihkan dan didoakan.
Aku diminta untuk membantu menurunkan tubuh kakekku ke dalam lubang makam dan aku turun, membantu menurunkan tubuh kakekku kemudian membaca sedikit doa yang telah diajarkan oleh pemuka agama di desa.
Karena poin INT yang kumiliki mencapai 60 poin, membuatku bisa cepat memahaminya dan mengingatnya dengan baik.
Setelah semua prosesnya selesai...
"Semuanya, namaku adalah Langit Satria dan aku ingin mengatakan sesuatu!"
Ya, aku ingin mengatakan sesuatu pada penduduk desa terkait hal yang selanjutnya akan kulakukan.
Wes, terlambat lagi, ada projek presentasi, jadi telat rilisnya_-
__ADS_1