
Sudah banyak kota yang hancur sejak tiga abad lalu, sejak kemunculan gate pertama kali di dunia, tepatnya di Paris.
Selama itu, tak terhitung banyaknya nyawa yang melayang dalam pertempuran menghadapi Monster yang muncul dari gate, dan tak terhitung juga jumlahnya kota yang hancur akibat pertempuran maupun dihancurkan oleh Monster yang mencari makanan, termasuk kota yang berhasil kami temukan ini.
Hanya ada beberapa kota yang berhasil dipertahankan, termasuk Surabaya, Malang, Jakarta, Denpasar seperti yang dikatakan oleh Andhika, New Washington, Tokyo, Kyoto, Shanghai, dan lainnya, selebihnya hancur meninggalkan kenangan.
Kota yang kami datangi tak memiliki nama lengkap, hanya berupa angka saja, yaitu kota 6 yang aku sendiri tak tahu maknanya apa.
"Menurut peta yang diberikan oleh paman Hunter di kotaku, nama beberapa kota kecil memang tak berupa kata yang terdiri atas lebih dari dua suku kata, melainkan berupa satu suku kata, bahkan bisa berupa satu huruf atau satu hingga dua angka." Andhika menjelaskan dan aku angguk-angguk saja.
Aku mengerti maksudnya, memberi nama pada sebuah kota pastinya memerlukan imajinasi yang hebat, sementara para manusia sekarang hanya terfokus pada seni bertarung saja, jadi tingkat imajinasi mereka, yah, tak terlalu tinggi, malah di bawah rata-rata.
Kalaupun ada yang memiliki imajinasi lebih, itupun hanya pada peneliti dan pembuat senjata api, menurutku...
Kami berjalan menuju gerbang masuk kota 6, sebelum dua orang yang membawa senapan menodongkan senjata mereka pada kami berdua.
"Berhenti! Siapa kalian?!" salah satunya bertanya dengan nada keras, "Jawab dulu baru masuk!"
Jika aku berpikir berdasarkan kejadian di Surabaya ketika kedatangan RedWhite kesana, mungkin mereka mencurigai kami sebagai ******* karena senjata yang kami bawa.
Banyak yang mengetahui kalau rata-rata para ******* adalah para anak kecil sampai remaja yang membawa senjata dengan wajah garang serta menyeramkan, yaaa itu karena mereka dipungut oleh para ******* di kota yang dihancurkan Monster.
Aku menarik kedua pedangku kemudian meletakkannya di atas tanah dan melepas Cakar Ayam Api lalu meletakkannya di atas tanah, aku menurunkan tasku setelah itu mengangkat kedua tanganku, "Aku bukan *******! Kalian bisa memeriksa tasku!"
Andhika menurunkan Keris Raja Singa dan tasnya lalu mengangkat kedua tangannya, "Aku juga bukan *******!"
Keduanya maju sambil terus menodongkan senapan mereka, salah satunya menurunkan senapannya dan memeriksa tasku, sebelum ia mengeluarkan beberapa batu kecil dari tasku, "Apa kalian pedagang?"
__ADS_1
Tolong, kenapa pandangan pertama mereka pada kami adalah pedagang? Apa mereka tak melihat Pedang Api Hitam, Pedang Naga Iblis, dan Keris Raja Singa yang kami bawa?!
"Kalian membawa inti kehidupan yang cukup banyak, jadi kalian terlihat membeli banyak inti kehidupan dari Hunter di sebuah kota kemudian berencana menjualnya di kota lain untuk mendapatkan keuntungan." ujar orang itu sambil melirik ke temannya, "Mereka bisa dipercaya."
Yang lainnya yang masih mengangkat senapannya menatapku dengan tatapan menyelidiki sebelum ia bertanya, "Apa hubunganmu dengan kakek Bintang?"
Oke, sudah terungkap...
"Apa maksud paman?" Yaaa, pura-pura bodoh tak tahu apa-apa sepertinya langkah yang cukup baik sebagai permulaan...
"Langit, tolong jangan berbohong, kau jelas tahu sesuatu..." Andhika berkata lalu bersiul santai.
Sialan, tak ada cara lain...
"Aku ini adalah cucunya kakek Bintang, aku diwariskan Pedang Api Hitam dari kakekku dan aku membawa Cakar Ayam Api milik ayahku yang bernama Joko Taru."
Satu kalimat panjang itu cukup membuat keduanya terdiam, bahkan Andhika yang sudah tahu kebenaran kalau aku adalah cucunya tetap terdiam.
"Ada bukti lain?" tanya temannya, dan membuatku tersenyum tipis.
Aku mengeluarkan medali pengenal serta kartu lisensi Hunter milik kakekku dan menunjukkannya pada mereka berdua.
Dua benda itu cukup membuat keduanya terkejut dan mereka kembali memasukkan inti kehidupan yang kami bawa, serta salah satunya mengangkat senapannya dan berkata, "Akan kami antar ke kota, ikuti kami."
Aku menyeringai lebar, sementara Andhika hanya menghela napasnya.
***
__ADS_1
"Seperti yang kalian lihat, kota 6 hanya dikuasai oleh para Hunter, jadi sistem pemerintahannya belum tersusun rapi, masih kacau balau." salah satunya yang memperkenalkan dirinya sebagai Asep menjelaskan situasi kota 6 pada kami berdua.
Temannya yang bernama Iwan dikirim kembali ke pintu gerbang untuk berjaga, setelah berdebat sedikit di pintu gerbang, pada akhirnya Asep berhasil memenangkan debat itu dan mengantarkan kami.
"Tak jelas siapa walikotanya disini, begitu?" Andhika bertanya dan Asep mengangguk.
Seingatku, Indonesia menganut sistem demokrasi, dimana masyarakatlah yang menentukan pemerintahan, nampaknya begitu, tetapi di kota ini tak terlihat sistem itu terlaksana dengan baik.
"Apa kalian tak melakukan pemilihan?" tanyaku dan Asep menggeleng.
"Kami sudah melakukan pemilihan, hasilnya sudah keluar, tetapi masalahnya sekarang adalah pemimpin yang kami pilih menyalahgunakan kekuasaannya." jawab Asep.
Wah, bermasalah nih, tak boleh dibiarkan...
Kuperhatikan, peringkat Asep dan Iwan adalah Hunter rank C, dan menurut Asep peringkat tertinggi yang ada di kota ini adalah rank A, jadi ada kemungkinan kalau walikota kota 6 adalah Hunter rank A.
Aku belum pernah mencoba melawan Hunter lain selain kakekku, dan selama ini juga aku tak pernah mencoba melawan musuh selain Monster, jadi aku kurang memiliki pengalaman dalam melawan manusia.
Urusan melawan kakekku, yaaa, banyak trik yang sudah kupikirkan, tetapi sayangnya aku tak bisa menerapkannya karena racun dalam tubuh kakekku telah menyebar ke seluruh tubuhnya.
Jadi, mungkin saja aku harus mengalahkan Hunter rank A itu untuk membuat kota ini lebih baik dari sekarang.
Tapi yah, kalau kuperhatikan sejauh ini, kota ini baik-baik saja, jadi masih belum ada yang bisa kulakukan kalau hanya mendengar kisahnya saja, perlu sebuah kejadian langsung untuk membuktikan kisah itu. Sebagai tambahan, aku harus merasakan langsung kejadian itu agar mudah menyimpulkan apakah kejadian itu memang menunjukkan penyalahgunaan kekuasaan atau tidak.
"Kurasa aku bisa membantu kalian." tanpa rencana, Andhika berkata, dan itu cukup membuat Asep terkejut.
"Apa? Bukankah kalian hanya pedagang saja?"
__ADS_1
Dan kau masih menganggap kami sebagai pedagang?! Apa kau tak mendengar ceritaku tadi?!
"Kami bukan pedagang, kami adalah anak kecil yang akan bergabung dengan RedWhite untuk menjadi Hunter." aku mengangkat tanganku, "Langkah awal kami menyelesaikan masalah dimulai dari sini,, di kota 6 yang walikotanya menyalahgunakan kekuasaannya!"