Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
264. Sampai tetes darah terakhir!


__ADS_3

Singa itu hanya menyeringai lebar dan ia menghilang dari pandangan William, sebelum ia merasakan hawa dingin di lehernya.


"Ap-...?!"


"Will-?!"


William menoleh ke kanan, ke arah Mir berdiri, dan singa tadi sudah menusuk punggung Mir hingga tembus ke dadanya.


Tombak biru Mir jatuh ke atas tanah, mengiringi kepergian sang Light Spear yang perkasa itu meninggalkan dunia fana ini.


Kedua tangan William bergetar, ia melihat kematian rekannya di depannya langsung dan ia tak bisa melakukan apa-apa...


Sepanjang perjuangannya sebagai Hunter ia tak pernah melihat hal semacam itu...


Ia selalu berhasil melindungi dirinya dan rekannya bahkan dalam situasi paling buruk sekalipun...


Sekarang?


Ia tak mampu melakukan apapun selain mematung dan bergetar...


"Hooh, mana keberanianmu tadi?" Singa melompat ke depannya kemudian menggeram, ia terlihat puas, "Kau ingin menghadapiku satu lawan satu?"


William memejamkan matanya dan menghela napasnya, "Hah, nampaknya waktuku sudah datang."


"Heh? Apa maksudmu?" Singa itu berdiri seperti manusia dengan wujud singanya, "Apa kau berusaha bersikap tenang?"


"Tidak, aku hanya merasa akhirnya sudah datang." William mengangkat kapaknya, "Suruh pasukanmu mundur."


"Jika kau menginginkan satu lawan satu, maka baiklah..." singa itu membungkuk lagi, kembali ke posisinya semula kemudian ia mengaum keras.


Tak lama, pasukannya yang beragam bentuk menjauhi keduanya, memberi ruang untuk keduanya bertarung.


Keduanya berhadapan, William memejamkan matanya, ia berusaha tetap tenang meskipun ia merasa sedikit geram karena tak bisa berbuat apa-apa saat rekannya gugur di depan matanya sendiri.


Singa itu melompat maju, William mengangkat kapaknya dan menghempaskan singa itu dengan kuat kemudian ia meraih tubuh Mir dan bergerak menjauh. Rencananya adalah meletakkan tubuh Mir di tempat yang aman lalu ia menghadapi singa itu.


Tapi nampaknya singa itu tak berniat membiarkannya menjauh...


Singa itu melompat ke arahnya, dengan kedua cakarnya yang sudah mengarah ke tubuhnya, dan William melesat lebih cepat dan meletakkan tubuh Mir di atas bangku yang entah bagaimana bisa ada disana.


Setelah itu, William mengangkat kapaknya dan melesat cepat ke arah singa itu, dan sesaat William merasa sedang melayang...


"Kau sudah semakin kuat, anakku..." seorang perempuan muncul di depannya, membuat William terdiam.


Sejenak ia melupakan kebenaran bahwa ia sedang menghadapi lawan yang kuat, ia kini menatap perempuan itu dengan tatapan terharu.


"Ibu..."

__ADS_1


"Kau masih merawat senjata yang ibu berikan, kau benar-benar anak yang baik." perempuan itu mengusap rambut William, "Apa kau tahu sesuatu?"


"Kapak itu adalah peninggalan keluarga Vunion, selalu diwariskan dari generasi ke generasi, sama seperti Hinokami no Ken yang diwariskan dari satu ketua ke ketua lain. Dan mungkin, kapak itu akan pensiun sekarang..."


"Kau harus menjaganya seperti kau menjaga keluargamu, dan jangan mati karena Monster..." perempuan itu tersenyum, "Patuhi perintah dan kalahkan dia..."


William merasa kakinya menapak tanah lagi, dan gerakannya semakin cepat. Ia langsung mengangkat kapaknya dan berlari cepat menuju singa yang ukurannya semakin besar.


Ia mengayunkan kapaknya bersamaan dengan cakar singa itu yang hampir mendarat di wajahnya, dan mendorong singa itu menjauh darinya, setelah itu ia mendarat di atas tanah dengan mulus.


Singa itu terlempar jauh, dan William mengangkat kapaknya lagi dan berlari cepat menuju singa itu, ia tak berniat membiarkan singa itu mengambil napas sejenak sebagaimana tadi ia memperlakukannya.


"Mati!" William melompat dengan kapak besarnya yang ia angkat dengan mudah, dan ia mengayunkan kapaknya ke bawah menuju singa itu dengan kecepatan yang amat cepat, hingga kapaknya meleset akibat cepatnya ayunan kapak William.


William sedikit tertegun, tak biasanya ia mampu bergerak secepat itu, sementara ia sendiri merasa gerakan singa itu melambat sedikit.


Ia menggelengkan kepalanya cepat, baginya yang paling penting sekarang adalah menghabisi singa itu dan pulang dengan tubuh utuh.


Kapaknya gagal memotong kepala singa itu, hanya tersisa beberapa sentimeter saja hingga kapaknya bisa merenggut nyawa singa itu dalam satu tebasan saja.


Singa itu berdiri dengan cepat, ia bergerak cepat mengayunkan cakarnya dan William mengangkat kapaknya lalu menahan semua cakaran yang dilepaskan singa itu.


William menguatkan genggamannya pada gagang kapaknya dan ia mengayunkan kapaknya dengan kecepatan tinggi, saking cepat dan kuatnya ayunannya membuat William sekilas merasa kedua tangannya hampir terlepas dari tempatnya.


Ya, semakin besar senjatanya, semakin berbahaya senjata itu, baik untuk pihak musuh ataupun untuk diri sendiri dan rekannya.


Selain itu, beratnya yang berbeda dari senjata biasa membuat senjata berukuran besar sulit digerakkan kecuali sudah terbiasa. Bahkan saat terbiasa pun, tetap ada resiko yang amat sangat berat dan berbahaya.


Jika senjata berukuran besar diayunkan sekuat tenaga, maka kedua tangan akan terasa seperti hampir putus, bahkan bukan tidak mungkin lagi kedua tangan akan putus secara instan.


Selain itu, efek ayunan yang besar juga bisa berefek ke tubuh sendiri, seperti otot yang tertarik atau lebih buruknya adalah otot yang putus, sendi pada tulang punggung yang tidak kuat menopang tubuh kemudian terlepas, serta organ-organ dalam yang ditekan dari luar.


Segala efek itu bisa diperparah dengan armor tebal yang biasanya dipakai para Hunter, dan tak jarang banyak Hunter yang gugur dengan tubuh yang hancur akibat kelalaian sendiri.


"Rasakan ini!!"


Kapaknya bergerak cepat ke bawah, singa itu mengangkat kedua tangannya dan menahan kapak itu, tapi akibat kuatnya ayunannya, tangannya terpotong dan kapak William mendarat telak di atas tanah.


Singa itu melompat mundur, William mengangkat kapaknya lagi dan berlari cepat dan mengayunkan kapaknya dengan kekuatan penuhnya.


Kapaknya terayun cepat, dan singa itu melebarkan matanya melihat gerakan William yang amat cepat itu.


Tanpa disadarinya, kepalanya terlepas dari tempatnya dan kapak musuhnya membelah tubuhnya menjadi dua.


William berhenti dan ia mengangkat kapaknya ke semua musuh di sekitarnya, "Mau?"


Monster lainnya terlihat ragu untuk maju, tetapi satu Monster berukuran besar berbentuk singa lagi mengangkat tangannya dan berseru, "Dia sendirian, maju!"

__ADS_1


Ia maju, begitu juga dengan Monster lainnya yang langsung bergerak mengikuti singa besar itu.


William menurunkan kapaknya dan ia menghembuskan napas panjang, ia merasa seperti nostalgia dengan suasana yang sama seperti yang pernah dulu ia rasakan bersama teman-temannya.


Ia mengangkat kapaknya ke atas lalu berseru, "Until the last drop my blood!"


***


Jam 16.00 waktu setempat...


"Entah berapa jam sudah berlalu sejak ketua Mir dan ketua William pergi ke Kola Superdeep Borehole, tapi mereka tak kunjung kembali..."


"Apa mungkin..."


"Jangan berkata aneh-aneh, keduanya pasti selamat..."


"Sebentar, ketua Al mengatakan sesuatu!"


"Semuanya, William telah kembali ke Moskow!"


"Hah?!"


Perkemahan terlihat gempar, tak lama setelah itu, seorang Hunter muncul dan berseru, "Lapor, ada satu orang tinggi besar dengan kapak besar di tangan kanannya sedang membawa manusia! Tubuhnya diselimuti darah!"


Para Hunter yang tersisa bergerak ke luar perkemahan, dan mereka melihat seseorang, menyeret kapaknya yang berlumuran cairan berwarna biru dan merah, serta satu benda yang mirip seperti tubuh manusia di pundak kirinya.


Saking banyaknya cairan di tubuhnya, bahkan wajahnya pun ditutupi cairan berwarna biru dan merah itu, menutupi wajahnya.


"Kapak itu... Mirip seperti milik ketua William..."


Semuanya memperhatikan lagi, dan benar saja, orang itu adalah William Vunion, dan manusia di pundak kirinya kemungkinan besar adalah Mir Sveta.


"Dia... Benar-benar iblis..."


"Tidak heran julukannya adalah Death Demon, bahkan saat berjalan seperti itu saja ia terlihat seperti iblis kematian..."


Mereka semua menghampiri William dan membantunya berjalan menuju kemah pengobatan.


Catatan:


Satu nyawa yang selamat dibalas dengan kematian lainnya...


Beneran, sulit bagiku ngetik chapter ini, terlebih enam chapter selanjutnya yang mungkin lebih berat lagi dari chapter saat ini...


Karakter William mungkin tak berhasil kugambarkan dengan baik, begitu juga dengan karakter lainnya yang mungkin gagal kuhidupkan dalam setiap kata-kataku, tapi dia memiliki kesan yang mendalam bagiku...


Aku beneran ga bisa ngelepas dia, tapi sebagai gantinya, akan ada karakter lain yang akan gugur menggantikannya...

__ADS_1


Perang kali ini berbeda dari sekian banyak perang yang sudah kubuat selama ini, yah begitulah...


__ADS_2