
"Kau bisa tinggal disini untuk sementara." Vina membuka pintu perlahan dan masuk, "Anggap rumah sendiri saja..."
Rumah Vina sederhana, sama seperti rumah tempat petinggi RedWhite tinggal, karena menurut catatan yang pernah kubaca, para petinggi tidak diizinkan memiliki banyak aset berharga di rumahnya, agar mereka siap dipanggil kapanpun diperlukan.
Yah, kurang lebih mirip seperti asrama kemiliteran deh, sederhana begitu...
"Lagipula..." Vina duduk di sofa, "Ada Andhika yang menawarkan tempat tinggalnya sebagai tempatmu istirahat, juga ada Senja, bahkan kita juga punya asrama militer, kenapa kau lebih memilih tempat sederhana seperti ini?"
"Entah, apa ya penyebabnya?" aku duduk di kursi kemudian meletakkan pedangku di atas meja, "Apa karena menarik bagiku?"
"Terserah..." Vina berdiri lagi dan ia pergi, "Aku akan menyiapkan air dulu untuk kau mandi."
Ah iya, tadi Vina mengeluh soal posisinya yang diturunkan oleh Andhika saat perang kemarin... Bukan mengeluh sih, lebih tepatnya seperti menyuruhku menurunkan Andhika dan menaikkan Vina menjadi wakil ketua RedWhite lagi...
Ya, menurut laporan Vina tadi, akibat suatu perpecahan yang tak sengaja ia lakukan, Andhika datang dan langsung mencabut paksa posisinya dan menjadikan dirinya sendiri sebagai wakil ketua RedWhite.
Kalau bisa kukatakan, keputusan Andhika saat itu benar, meskipun aku belum mendengar cerita penuhnya dari Andhika langsung.
Andhika yang sudah dilatih militer sejak kecil pastinya tetap tenang dan berkepala dingin dalam segala situasi, jadi kurasa sebuah kesalahan aku tak meliriknya saat menunjuk wakil ketua RedWhite dulu.
Tapi yah, setelah perang selesai, para Monster sudah kubasmi, apa yang akan kulakukan selanjutnya?
"Ini tehnya..." Vina meletakkan cangkir yang berisi cairan berwarna kuning keemasan di depanku, "Minum dulu, seharian ini pasti kau lelah..."
Ia duduk di sebelahku dan... Menyandarkan kepalanya di pundakku? Apa yang ia lakukan?
"Untungnya kau kembali..." ujarnya pelan, dan aku bisa mendengarnya.
"Maaf jika aku tak melakukan sesuai perintahmu, sampai RedWhite hampir hancur saat itu..."
Yah, pada akhirnya Vina tetaplah seorang perempuan yang memiliki mental anak usia lima belas tahun pada umumnya...
"Apa kau akan marah?" tanyanya, dan aku menghela napasku.
"Sayangnya tidak, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan, dan itu adalah hal biasa..." jawabku.
Tangan kananku ditarik kemudian rasanya tanganku dipeluk, yah, untuk sementara ini saja sudah cukup...
__ADS_1
***
"Jadi aku dihujat lagi? Bahkan saat kalian sudah menjelaskan kalau aku masih melawan musuh di tempat asing?"
Rasanya aku geram, bagaimana mungkin mereka masih berpikir begitu sementara dunia sudah berhasil diselamatkan?
"Begitulah, kelakuan orang acak memang tidak bisa ditebak..." kudengar Vina menjawab, "Kami sudah berusaha menjelaskan, tapi nampaknya mereka tetap teguh pada pendirian mereka."
Seminggu sudah lewat sejak perang selesai, dan esoknya setelah perang selesai, penduduk sipil kembali ke rumah masing-masing... Atau mungkin lebih tepatnya aku sebut perkemahan, karena kondisi dunia saat itu sudah hancur lebur akibat Strategic Missile yang ditembakkan menghancurkan segalanya...
Dalam perlindungan IHO, beberapa negara memulai pemulihannya, dan sampai aku kembali ke dunia ini, pembangunan masih dilakukan.
"Dengan kedatanganmu, kami berharap kekacauan akibat ketidakpercayaan masyarakat terhadap pihak militer bisa menghilang." ujar Vina, "Dan juga, cepat makan sarapanmu, kita harus kembali ke markas!"
Ah iya, aku lupa...
Aku meletakkan ponselku dan kembali makan, tanpa suara seperti yang pernah ayahku ajarkan.
***
Tokyo, Jepang...
Yuuki meletakkan setumpuk kertas di atas meja, "William, Andhika, dan Al masih membantu di Amerika, karena saat ini kami masih mencari tubuh Carroline yang masih belum kami temukan sampai saat ini."
Aku membaca kertas-kertas yang diberikan, dan aku merasa sedikit ngeri saat membacanya...
Esterosa de Esquede ditemukan dalam kondisi pundak kanan ditusuk, tulang lengan kiri tertebas, punggung kiri yang ditusuk dari belakang berkali-kali, dan terakhir adalah perut yang berlubang lebar.
Alteron de Esquede ditemukan dalam kondisi tubuh tanpa tangan kiri serta tangan kanan, perut berlubang lebar, dada kanan yang berlubang kecil, dan terakhir adalah lubang yang amat lebar dari dada kiri hingga ke bawah, terlihat seperti bekas tusukan pedang besar. Aku tak bisa membayangkan seperti apa rasa sakit yang dirasakan anak muda itu...
Mir Sveta sang penjaga Rusia gugur dalam kondisi punggung berlubang, amat lebar... Hanya itu hasil otopsinya.
John Person gugur dalam kondisi tubuh yang terpisah-pisah, aku jadi semakin merasakan kengerian saat Perang Dunia ketiga ini...
Hunter rank SS bernama Alex Curran dan Joko Taru hilang, tubuh mereka tak ditemukan, tetapi Al sudah memutuskan bahwa keduanya sudah gugur dalam misi mereka mengirimkan suplai ke seluruh dunia.
"Lalu, apa yang sekarang dilakukan setelah otopsi selesai?" tanyaku pada Yuuki.
__ADS_1
"Kami berencana mengembalikan jasad mereka ke negara masing-masing, untuk selanjutnya dimakamkan dengan penuh kehormatan." jawabnya, "Sebelum itu, aku ingin membicarakan sesuatu..."
"Apa itu?" tanyaku sambil menaikkan alisku.
"Tentang hubunganmu dengan Watcher codename Storm Bringer..."
***
Aku berdiri di hadapan makam ibuku dan Alteron, aku melihat nama lengkap, posisi terakhir mereka, tanggal lahir, serta tanggal mereka gugur di nisan mereka.
Rasanya aku menyesali kematian mereka yang gugur, tetapi untuk apa menyesalinya? Perang memang seperti itu, selalu ada nyawa yang pergi di setiap pertempuran...
Ah, apakah aku mulai kehilangan sisi kemanusiaanku akibat aku berubah menjadi Monarch?
Entahlah, aku juga tidak memahaminya, aku merasa sedih, tetapi aku tak bisa meneteskan satu tetes air mata pun dari mataku...
Ada banyak jasad tidak utuh yang ditemukan di seluruh dunia, aku jadi tahu kalau Monster yang menyerang lebih buas dan lebih ganas dari yang mereka tahu, jadi mungkin persiapan kami belum sebaik itu, sehingga banyak Hunter yang gugur...
Tak ada lagi cadangan Strategic Missile yang tersisa, tak banyak kendaraan militer yang tersisa, banyak Hunter juga yang kini tidak berada dalam kondisi prima mereka, tentara juga tersisa sedikit, mungkin ini adalah kemenangan yang sulit disebut kemenangan bagiku...
"Ibu, Alteron, aku sudah memastikan kematian kalian tidaklah sia-sia..." aku mengangkat tanganku dan menaburkan bunga di atas makam ibuku, "Kalian bisa beristirahat tenang..."
Aku menaburkan bunga di atas makam Alteron, kemudian aku pergi meninggalkan pemakaman yang menjadi tempat peristirahatan terakhir para Hunter terbaik di Eropa...
***
"Kakek, aku sudah melakukan misi yang kakek berikan padaku..." aku meletakkan Pedang Api Hitam di atas makam kakekku, "Dan pedang tua ini telah menyelesaikan tugas akhirnya..."
Aku duduk bersila di hadapan makam berukuran sedang yang bertuliskan "Bintang Langit", yaitu nama dari kakekku, kemudian aku tersenyum tipis.
Kapan terakhir kali aku duduk di depan kakekku seperti ini? Mungkin lima? Atau tujuh tahun lalu? Entahlah, tetapi rasanya sudah lama aku tidak duduk di depannya seperti ini?
"Kakek, aku sudah besar, sudah menyelesaikan tugas yang kakek berikan, dan mungkin, aku akan kebingungan dengan apa yang akan aku lakukan." aku memejamkan mataku.
Ya, inilah masalahnya...
Jika perang sudah selesai, Monster sudah hilang dari dunia, apa yang akan Hunter rank SSS sepertiku akan lakukan? Begitu juga dengan teman-temanku?
__ADS_1
Nampaknya, ini adalah suatu hal yang sulit diputuskan dengan mudah...