
Berita yang tayang di televisi kebanyakan tentang pernyataanku yang akan membantai siapapun yang telah merusak perdamaian dunia, dan tentu saja, satu dunia heboh dengan pernyataanku.
Apa yang kukatakan seolah menjadikan satu dunia sebagai musuh Indonesia, namun Andhika mengatakan kalau ia tak keberatan satu dunia menjadi musuhnya, karena Indonesia memiliki manusia terkuat di sisinya.
Yah, terdengar seperti Indonesia berharap banyak padaku, dan inilah yang membuatku belum melakukan langkah terakhir melepas kehidupan militerku...
Menyegel kekuatan ratusan Emperor di Pedang Api Hitam, itulah syarat terakhir yang harus aku lakukan.
Namun, dengan aku kembali ke militer lagi, mau tak mau aku harus memakai kekuatan gaib itu lagi untuk menjaga Indonesia dan kedamaian.
"Namun, apakah kedamaian bisa tercipta dengan kekerasan? Dengan kekuatan gaib?"
Entahlah, aku juga sulit menyimpulkannya...
Aku melirik jendela di dekatku, di hadapanku ada Flame Emperor, Sword Emperor, dan Ice Emperor. Kulihat ketiganya sedang menatapku.
"Dunia di Pedang Api Hitam terasa damai bukan?" tanyaku, dan kulihat Ice Emperor menggeleng.
"Saat ratusan Emperor ada disini, beragam tekanan dan aura kurasakan, entah itu aura permusuhan ataupun aura pertemanan. Namun yang pasti, aku beberapa kali merasakan aura pertemanan, mungkin karena kita sudah bekerjasama menghabisi Death Emperor..." jawabnya, "Mungkin dendam para Emperor yang kuhabisi mulai berkurang seiring kami bersama melalui waktu disini..."
"Benar." Flame Emperor mengangguk, "Berkat kau yang menciptakan tempat ini sebagai tempat tinggal kesadaran para Emperor, kami jadi lebih sering beraktivitas bersama dan memahami satu sama lain."
"Aktivitas Death Emperor di balik layar yang membuat kami semua bertarung satu sama lain, dan setelah dalangnya hilang, kami kembali seperti semula."
"Bagaimana dengan rencanamu menghabisi beberapa petinggi yang mengusulkan ide melenyapkan sang pahlawan dunia?" tanya Sword Emperor, "Jika kau melakukannya, itu artinya kau bersedia menjadi musuh dunia."
"Sudah kuduga, ahli perang sepertimu pasti paham hal seperti itu..." aku tersenyum tipis, "Namun aku benar-benar tak bisa berpikir hal lain lagi selain menghabisi mereka."
"Mencabut pohon dari akarnya lebih baik dibanding memotong rantingnya agar tidak membesar lagi. Hal yang sama juga berlaku saat ini..." kudengar suara berat terdengar. Laki-laki bertubuh besar masuk dan di sekujur tubuhnya diselimuti api berwarna hitam.
"Dari apa yang kudengar selama ini, banyak yang menginginkan kamu untuk mati, begitu?" laki-laki itu duduk di sebelah Ice Emperor, "Kalau begitu, apakah mereka bisa menggantikan posisimu dalam melindungi dunia?"
"Dan kudengar juga bahwa banyak orang yang ingin menguasai beberapa hal hingga orang-orang yang lebih lemah jadi tidak bisa bertahan dan akhirnya mati sia-sia, begitu?"
Sang Purgatory Emperor, salah satu Emperor yang selalu mengajariku banyak hal tentang sifat-sifat makhluk fana, ia adalah Emperor paling bijaksana yang pernah aku lihat.
__ADS_1
"Saranku, kau harus mencari cara damai terlebih dahulu untuk menyelesaikannya, dan cara kasar adalah cara terakhirnya." ujarnya, "Kekuatan kami tak bisa kau keluarkan begitu saja, kau masih ingat apa yang selalu dikatakan oleh Dragon Emperor?"
Eksistensi lain di duniaku akan datang jika merasakan kekuatan gaib disini, dan itulah akhir dari umat manusia.
"Namun kau bisa mengatasinya dengan beberapa cara." Sekelebat petir muncul dan berhenti di belakang Purgatory Emperor kemudian berubah menjadi sosok manusia setengah serigala yang diselimuti petir, "Membagikan kekuatanmu pada beberapa orang terpilih."
"Menurutku para Hunter rank SS adalah orang-orang yang pantas menerima kekuatan kami." Maharaja dari masa lalu datang, "Secara fisik dan mental, mereka mampu menahan kekuatan kami, terlebih mereka juga terlatih untuk bertarung jangka panjang, jadi mereka pantas menjadi baris terdepan dalam melindungi bumi dari eksistensi lain."
Para Hunter rank SS ya...
"Kedamaian semu..." Wisdom Emperor memejamkan matanya, "Bahkan dengan menghilangnya Monster dari muka bumi ini, dunia masih terancam dengan sifat alami manusia..."
Aku termenung, apakah kedamaian memang benar-benar tidak akan bisa diciptakan semudah itu? Bahkan setelah aku memiliki banyak hal yang tak pernah bisa dimiliki manusia lain?
Aku bukanlah orang terpilih yang akan menciptakan kedamaian...
***
"Aku benar-benar sulit percaya, bahkan bom nuklir pun tak bisa mengalahkan Langit Satria?! Cara apa yang bisa membuatnya tewas instan?!"
"Aku bahkan tak pernah melihatnya bercanda meski hanya sekali saja..."
"Itu karena kau tak seberuntung Andhika, Rei, Senja, Vina, Yuuki, William, Al, Marie, dan beberapa jenderal yang pernah melihat kehidupan pribadinya."
"Kita hanyalah karakter sampingan..."
Yo emang, ngelawak kamu dasar pengkhianat _-
"Sekarang apa?"
"Langit bukan manusia, hanya itu yang bisa kukatakan..."
"Itu benar, aku bukanlah manusia seperti kalian."
Suara yang terdengar enteng dan ringan muncul, dan seketika komunikasi senyap.
__ADS_1
Orang berpakaian militer di ruangan itu terdiam, ia berbalik dan melihat seorang laki-laki, dengan pedang lengkung di tangan kanannya, ia berdiri di depan pintu yang terbuka lebar.
Laki-laki itu masuk dan ia menjatuhkan pedangnya, "Aku bukan manusia seperti kalian yang memilih duduk dan membiarkan manusia lain mengerjakan tugas kalian..."
"Jika kalian berniat melenyapkanku, maka hadapi aku dan bertarung satu lawan satu."
"Para Hunter rank SS dan Hunter rank SSS bukanlah manusia seperti kalian yang takut menghadapi musuh, mereka terlatih secara fisik dan mental untuk menghabisi musuh."
Laki-laki itu mengangkat tangannya, terlihat kukunya yang panjang sedikit dan matanya yang menyala sejenak, ia menyeringai lebar, "Dan target para Hunter bukan lagi Monster, namun orang-orang yang merusak kedamaian..."
"Yao Junzhi, kau adalah target pertamaku. Kau adalah orang yang mengirim teror ke rumahku, dan membuatku dikeluarkan dari sekolah."
"Dia adalah ancaman dunia! Siapkan pasukan secepatnya, kita akan membombardir Indonesia!"
Panggilan ditutup, dan Yao Junzhi hanya mematung, di hadapannya kini adalah orang yang dihormati di masa lampau sebagai Hunter rank SSS dan sang Cold Blooded Hunter, yaitu sang Langit Satria!
"Nah, cara mati apa yang kau suka?" Langit menyeringai, dan ia meraih leher Yao Junzhi, "Dicekik, atau bagian tubuhmu yang dicopot dari tempatnya?"
Yao Junzhi tak menjawab, keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuhnya, ia benar-benar ketakutan saat ini.
"Oh, kau takut ya? Baiklah, akan kuselesaikan dengan cepat..." Langit menguatkan genggamannya pada leher Yao Junzhi...
...
...
...
Benda bulat jatuh ke atas lantai, dan Langit berbalik sambil mengibaskan tangannya yang berlumuran darah.
"Misi belum selesai..." ia meraih pedangnya dan melompat masuk ke dalam gate di bawah kakinya.
***
**Hunter lahir untuk berburu, bukan untuk diburu. Tak pernah sekalipun dalam sejarah, ada Hunter yang berani berhenti untuk berburu...
__ADS_1
Langit Satria**...