
"Itulah kekuatan yang pernah membunuh Ant Lord satu lawan satu, kekuatan yang dimiliki oleh Hunter rank S terkuat di dunia, Bintang Langit sang Pendekar Jubah Hitam..."
Frans tersenyum tipis, ia merasa kalau Bintang lebih kuat darinya dalam berbagai aspek terlepas dari usia mereka yang terpaut jauh, lebih dari dua puluh tahun, bahkan hampir tiga puluh tahun.
Biarpun begitu, ia merasa adanya kejanggalan dalam setiap serangan Bintang.
"Apa kakek Bintang sedang menahan diri?" Vigo menaikkan alisnya, "Serangannya terasa ditahan..."
"Biasanya, beliau akan menghabisi Monster rank C dan rank B dalam satu serangan, tapi sekarang, beliau menghabisi rank C dalam dua serangan. Ada apa ini?" pria dengan senapan di punggungnya bertanya, "Apakah beliau menyembunyikan sesuatu?"
Dalam jajaran Hunter rank SS, ada Wadah selain Oga, yaitu Tom yang kini menatap Bintang dengan tatapan cemas.
"Bagaimana caranya kakek Bintang tahan bertarung di usianya yang teramat senja?" gumamnya, "Bukankah sistem sudah menghabiskan Staminanya hanya untuk mempertahankan kebugarannya?"
Mempertahankan kekuatan sebesar itu di usia yang amat tua tidaklah mudah, bahkan sistem pun akan kesulitan mempertahankan kekuatan itu.
Untuk saat ini, Tom melihat kalau kemampuan Oga mulai menurun, sementara ia masih belum melihat Yun Xing dan Bintang, jadi ia akan sulit menebak seberapa tinggi kemampuan mereka di usia senja mereka.
Para Wadah diberikan kemampuan untuk melihat level sesamanya, dan Tom mampu melihat levelnya, Oga, dan Bintang.
Saat ini, Oga memiliki level 168, Bintang level 160, sementara dirinya memiliki level 180, membuatnya menjadi Wadah terkuat untuk saat ini.
Ia tak tahu batasan levelnya, tak ada yang bisa memberitahunya karena tak ada yang tah ,u sih...
"Apakah kakek Bintang sering berolahraga sehari-harinya?" Yuuki menaikkan telunjuknya, "Alasan ketua Oga mampu mempertahankan kemampuannya meskipun masih menurun, itu karena beliau masih terus berolahraga ringan."
"Kalaupun hanya olahraga ringan, seharusnya tak seberapa mempertahankan kemampuannya." Alex melipat tangannya, sebelum Tom pergi karena dipanggil oleh Esterosa.
Waktu terasa lama karena mereka menonton pertarungan Bintang menghadapi puluhan Monster seorang diri, beberapa merasa gemetar saat melihatnya, beberapa lagi berdoa agar Bintang diberikan keselamatan.
Tak lama, Tom datang dengan wajah kusut dan ia berkata, "Lihat ini..."
Layar terbagi dua, satu menampilkan situasi di luar pesawat, di tempat Bintang bertarung, dan satu lagi menampilkan wajah kusut seorang pria.
Pria itu adalah William dan ia menjelaskan situasinya, dan Vigo mengangkat tangannya, "Apa aku perlu ke Eropa membantu? Gate ungu tak pernah muncul dalam sejarah Hunter, jadi bisa saja itu adalah ancaman yang lebih mengerikan daripada gate merah."
Suasana seketika senyap saat Vigo bertanya begitu, dan hanya tiga kata yang berhasil diterima oleh orang-orang dan William.
__ADS_1
"Tunggu perintahku selanjutnya."
***
Bintang melompat mundur dan menarik napasnya, "Baru puluhan, nampaknya..."
[Memulihkan Stamina]
Bintang mengangkat pedangnya dan menghunuskannya, "Menembus Langit!"
Ia melesat cepat ke depan dan menusukkan pedangnya, menembus dada satu Monster berbentuk seperti manusia tinggi besar.
"Masih bisa..." gumamnya dan Pedang Api Hitam semakin membara, bahkan asap-asap tipis muncul dari bilahnya, "Hanya begini masih kurang!"
Ia melompat dan mengangkat tinggi-tinggi pedangnya, "Membelah Samudra!"
Dengan teriakan keras yang terdengar di tempat itu, Bintang membelah tubuh Monster besar itu dengan pedangnya yang sudah membara merah menyala.
Tebasan itu menutup pertarungannya dan ia berdiri tegak dengan nyala pedangnya yang sudah dimatikan. Bilahnya perlahan berubah warna kembali ke warna hitam.
[Peringatan! Staminamu telah menyentuh angka 5!]
[HP akan dikonsumsi sebagai pengganti Stamina!]
"Baik-baik, itu tak ada gunanya, aku hanya akan memakai Stamina untuk berjalan kembali saja..." gumamnya sambil menaikkan bahunya.
Dari kejauhan, para Hunter yang tak sempat membantu hanya bisa terpana melihat kemampuan hebat Bintang Langit di usia tuanya.
"Jika satu individu seperti kakek Bintang saja sudah sekuat itu, mampu membereskan separuh gelombang seorang diri, untuk apa kita datang kemari?"
***
"Terlalu mudah..." ujar Bintang pada Tom, "Aku melapor pada pimpinan Raid."
"Seluruh gelombang kedua selesai diurus, tinggal menunggu gelombang ketiga." ujar Bintang sambil mengangkat ponselnya, "Aku baru saja menerima kabar dari Adi, kalau mereka berhasil menyelesaikan gelombang di selatan Islandia."
"Baik, karena gelombang kedua sudah selesai, dan hari sudah siang, ada baiknya kita beristirahat dulu..." Tom mengangkat mic dan berkata keras, "Pasukan, mundur!"
__ADS_1
***
Tak banyak kehilangan yang terjadi dalam dua gelombang awal, dan bagi Bintang, tak ada waktunya untuk bersantai karena mereka berada dalam medan perang.
Dalam waktu istirahat, Tom juga menerima kabar kalau gate di kepulauan Hawaii sudah ditutup, dan Yen Jiu bersama Yao Zhong akan bergerak bersama pasukannya menuju Islandia.
"Setidaknya itu adalah kabar baik, Islandia adalah pusat segalanya, jadi bantuan mereka kurasa adalah hak terbaik saat ini." ujar Joko, sebelum kepalanya dipukul oleh Bintang.
"Apa kau lupa dimana saja ada gate?! Kalau pasukan banyak terkumpul disini, maka di wilayah lain yang terdapat gate akan kekurangan kekuatan." Bintang melirik Tom, "Menurutmu, apakah gelombang akan terus terjadi sampai dua hari lagi?"
"Seharusnya iya..." Tom mengelus dagunya, "Aku sudah lama tidak ikut Raid, kebanyakan si Mark dan si Jenny sih, maklum, wilayah Amerika terlalu luas untuk StarSam urus, jadi kebanyakan Hunter kami tersebar di seluruh Amerika, saat ada gate, sedikit Hunter yang ikut, tapi hasilnya lumayan."
"Jadi?" Bintang mengibaskan tangannya, "Bagaimana keputusanmu?"
Sebelum Tom menjawab, ada panggilan dari pasukan StarSam yang berjaga di Brazil.
"Aku angkat..." Alex mengangkat tangannya dan meraih mic.
Setelah ia mengangkat mic, suara panik terdengar dan Alex langsung memindahkannya ke layar di ruang kendali.
"Ketua! Bahaya sedang terjadi di Brazil! Dua Monster rank SS muncul dan ketua Oga sedang menahannya untuk saat ini!"
Suasana seketika senyap, dan Yuuki mengepalkan tangannya, "Ketua Oga!"
Tom memejamkan matanya, "Perjalanan ke New Washington menuju Brazil dengan pesawat tempur adalah tiga jam, jika dengan pesawat lapis baja, maka butuh waktu lebih singkat lagi, sekitar dua jam."
"Tapi apakah waktunya akan cukup?" tanya Joko, dan tiba-tiba, si Mark menaikkan telunjuknya.
"Kita suruh Yen Jiu ke Brazil! Jaraknya pasti sudah dekat saat ini!" seru Mark.
Semuanya mengangguk, dan Tom meraih mic dan berkata, "Kalian tunggu sebentar, BraveWarrior akan menyusul kesana! Kalian bantu Oga Ojisan sebaik mungkin!"
Panggilan ditutup dan Tom langsung menghubungi Yen Jiu lagi, mengabarkan perubahan arah.
"Baik, akan kami lakukan." Jawab Yen Jiu sebelum ia memerintahkan pilotnya mengubah arah.
Tom meletakkan mic dan memejamkan matanya, sementara Yuuki sedang menahan kesalnya tak bisa membantu ketuanya sekaligus gurunya disaat ia sedang kesulitan.
__ADS_1