
Aku melihat awan-awan yang berkumpul dan cahaya berwarna ungu bersinar di atas awan-awan, hingga dari bawah terlihat awan-awan itu berwarna ungu alih-alih berwarna putih.
"Catastrophe..."
"Kau salah, itu namanya gate. Kurasa catastrophe adalah sebutannya di duniamu..."
"Begitulah..."
Aku menarik pedangku kemudian tanganku menyentuh alat komunikasi di telingaku, "Andhika? Langit disini."
"Andhika disini. Apa kau juga melihatnya?"
"Ya, aku melihatnya." aku menyalakan pemanas Pedang Api Hitam, "Apa kau bisa memastikan lokasi saat ini? Berapa jauhnya dari pusat kota?"
"Kurasa kau sudah bergerak terlalu jauh dari selatan, kini kau berada di tengah-tengah pulau Bali. Gerakanmu terlalu cepat untuk kita hentikan. Saat ini konferensi ditutup untuk sementara dan semua tentara disiagakan di selatan. Aku dan Vina saat ini sedang mengatur rencana bersama semua jenderal yang ada. Dan menurut kakek William, gate muncul lagi, namun kita bisa menghancurkannya dengan semua kekuatan yang ada. Dengan kata lain, kita akan mengerahkan semua kekuatan yang kita miliki."
"Aku tambah lagi, komando militer dikembalikan ke dirimu dan kau harus memberikan perintah. Sekian laporanku, ada yang kurang jelas?"
Tanggapan militer terhadap masalah ini amat cepat, aku merasa bersyukur peserta konferensi saat ini adalah para tentara yang paham strategi dan mampu bertindak cepat dalam segala situasi. Kurasa perintahku hanya satu...
"Musuh kali ini kemungkinan Monster yang bermutasi dan berevolusi menjadi wujud yang lebih kuat. Aku harapkan semuanya bisa bertarung dengan baik dan menahan semua musuh untuk tidak keluar dari Bali. Saat ini pulau Bali harus diisolasi agar tak ada Monster yang keluar. Masalah menutup gate, serahkan padaku. Sekian, segera laksanakan!"
Panggilan ditutup, dan aku kembali fokus ke depan, ke arah gate yang terbuka makin lebar di atasku itu.
Angin berhembus makin kencang, menimbulkan perasaan tidak nyaman bagi manusia biasa, namun bagiku yang sudah sering menghadapinya, itu terasa biasa saja.
"Oke, mungkin sudah waktunya untuk bertarung melawan Monster lagi..." aku berjalan maju, kudengar suara langkah kaki di sebelahku.
"Catastrophe itu sesuatu yang berbahaya, dan sebagai operator, aku harus melindungi semua orang dari ancaman itu." kudengar suara pedang ditarik masuk ke telingaku, dan kulihat Skei sudah mengangkat pedangnya, "Apa kau mengetahuinya?"
"Tidak. Yang kuketahui saat ini adalah musuh akan muncul dalam waktu tak lama lagi, jadi kau harus memilih, apakah tetap disini atau kabur..." aku berhenti berjalan setelah berada tepat di bawah gate besar itu.
__ADS_1
"Seperti yang kukatakan sebelumnya, catastrophe adalah sesuatu yang berbahaya, jadi aku akan menahannya disini meski aku akan terinfeksi oripathy." jawab Skei dan ia memasang posisinya, "Oke, mana musuhnya?"
...
...
...
Hawa yang berat muncul untuk kedua kalinya, dan aku merasa kalau musuh yang datang lebih kuat dibanding Skei maupun Monster yang biasanya aku lawan...
***
"Ini diluar perkiraan kita semua..." William berkata sambil memejamkan matanya, "Tak kusangka kalau Monster akan muncul sekali lagi..."
Ia membuka matanya dan menatap kursi tempat Langit tadi duduk kemudian menghela napasnya panjang.
Satu-satunya orang yang ia harapkan untuk berbicara duluan saat berhubungan dengan Monster hanyalah Langit seorang, karena Langit benar-benar memahami semuanya tentang Monster dan jika ia berkata kalau serangan kali ini amat berbahaya, maka itulah yang sebenarnya.
Pemahamannya benar-benar berbeda dengan Hunter kebanyakan, dan itulah yang membedakan Langit dengan Hunter lainnya.
Suara getaran terdengar lagi, dan Andhika yang tadinya berdiri di pojokan untuk menghubungi Langit duduk di kursi bagiannya Langit kemudian berkata, "Langit sudah berhasil aku hubungi."
"Lalu apa katanya?" tanga Yuuki.
"Sederhana, kita harus menutup Bali dari segala arah. Ini untuk mencegah Monster keluar dari pulau ini dan menyebar seperti insiden Paris terdahulu." Andhika mengelus pipinya yang berwarna merah menyala, "Kepada Mr. Antonio, saya meminta ijin untuk mengambil posisi jenderal Langit untuk sementara."
"Silahkan." Antonio menjawab dan ia melipat tangannya.
Andhika berdeham, "Aku meminta semuanya untuk menyiapkan diri, kemampuan Monster kali ini berhasil diprediksi oleh Langit. Menurutnya, Monster kali ini adalah hasil mutasi dan evolusi terbaru spesies Monster, jadi kita harus berhati-hati menghadapinya. Semua kendaraan militer juga harus disiapkan."
"Masalah menutup gate bisa kita serahkan ke jenderal Langit, sekarang aku akan menjelaskan pembagiannya." Andhika berkata, "Kakek William, aku meminta bantuanmu."
__ADS_1
"Oke..." William mengangguk.
***
Hanya ada para keroco saja yang jatuh, dan aku membiarkan mereka lewat, sementara Skei sudah menyerang mereka semua dengan ganas, meski tidak semua berhasil ia bunuh karena kecepatan geraknya yang nyatanya tidak bisa menyetarai kecepatan Monster lemah bermunculan.
"Musuh utama belum terlihat..." aku berjalan maju, aku merasa kalau tujuan orang dibalik gate ini adalah menghabiskan tenaga kami sebelum menyerang dengan kekuatan yang lebih besar.
Namun strategi itu tidak berfungsi padaku, karena sekarang aku sulit merasa lelah meski sudah bertarung selama berjam-jam, meski begitu aku tak berniat menghabiskan tenagaku untuk membasmi keroco lemah yang bahkan bisa tewas hanya dengan satu skill saja.
"Ice Field..." aku mengangkat kakiku, mengalirkan Energi Gaib berjumlah besar ke kakiku kemudian menghentakkan kakiku ke tanah dengan cepat, menciptakan lapisan es tebal yang langsung membekukan kaki siapapun yang ada di sekitarku dengan cepat.
...
...
...
Sesuatu turun dari atas kemudian mendarat di atas tanah hingga menciptakan suara berdebum yang amat keras.
Angin berhembus kencang akibat sesuatu itu menghantam tanah, dan debu-debu yang beterbangan mulai menghilang, menunjukkan wujud sesuatu itu.
Seperti manusia, namun tubuhnya amat besar dan kekar, mengingatkanku akan almarhum Tom Cage si Hunter rank SSS kedua di dunia.
"Ohoho, nampaknya ada dua makhluk yang kuat ya..." manusia... Tidak, mungkin aku menyebutnya makhluk tidak dikenal, ia menyeringai dan matanya terlihat menyala merah. Ia berdiri dan berjalan maju.
Hawa seketika bertambah berat, namun itu masih dalam batasan aku bisa menahannya.
Darimana makhluk itu berasal? Bagaimana mungkin ia bisa memiliki kekuatan sedahsyat itu?
Bukannya aku mengakui diriku kuat, namun aku setidaknya yakin kalau diriku adalah manusia terkuat di duniaku dan tidak akan ada entitas lain yang mampu menghabisiku, kecuali Monarch dari dunia lain.
__ADS_1
Hanya Monarch saja, mungkin manusia sekelas Ray bisa menghabisiku dengan mudah atau mungkin Storm Bringer juga mampu melakukannya...
"Yah, aku akan menjelaskannya dengan singkat..." makhluk itu berhenti berjalan dan berdiri sejauh sekitar sepuluh meter dariku, "Aku akan menginvasi bumi ini."