
"Sekian, terima kasih..." aku menancapkan pedangku ke atas tanah dan membungkuk sedikit, sehingga sosok yang sedang bersembunyi di balik sebuah pepohonan muncul dan bertepuk tangan.
"Hebat sekali gerakanmu, kawan..." sosok itu bertepuk tangan dan mendekat, membuatku harus kembali menarik pedangku.
"Siapa kau?" Tanyaku pada orang itu itu.
"Aku hanya orang yang ingin pergi ke RedWhite untuk bergabung dengan mereka." jawab orang itu, "Omong-omong, pedang itu terlihat tak asing bagiku..."
Aku menyipitkan mataku, menurut penglihatanku ia memiliki kemampuan yang tak jauh dariku, dan ia kira-kira berusia setara denganku atau lebih tua dariku.
"Dan juga, aku ingin agar kau menurunkan pedangmu agar suasana berkenalan lebih santai..." ujar orang itu, membuatku tersadar kalau aku masih menghunuskan Pedang Api Hitam.
"Ah, maaf..." aku menurunkan pedangku kemudian menyarungkannya.
Ketika aku sudah menyarungkan Pedang Api Hitam, orang itu tersenyum lebar dan ia berjalan mendekat.
"Perkenalkan, namaku adalah Andhika Hendrawan, usiaku empat belas tahun dan aku ingin menjadi Hunter." orang itu mengenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya, "Namamu?"
"Namaku Langit Satria, usiaku dua belas tahun." aku mengulurkan tanganku, "Usiamu cocok untuk bergabung dengan RedWhite..."
"Ya, karena telah berusia empat belas tahun aku meninggalkan kotaku menuju Jakarta untuk bergabung dengan RedWhite." Andhika berkata, "Kutebak, kau juga ingin menjadi Hunter, kan?"
Aku mengangguk, "Yaaa, seperti yang kau katakan, aku ingin menjadi Hunter."
"Tapi memangnya bisa? Usiamu jauh dari batas minimal untuk bergabung dengan RedWhite, aku ragu kau bisa diterima..." Andhika menggaruk kepalanya, membuatku yakin kalau ia masih belum tahu trikku agar bisa diterima di RedWhite.
Aku belum mengatakannya, ya? Kalau aku akan bergabung RedWhite dengan bantuan medali pengenal dan lisensi Hunter milik kakekku? Seandainya Andhika tahu, aku yakin dia pasti akan syok...
"Yah, aku yakin kau pasti akan menanyakan itu..." aku berjalan menuju dua beruang itu dan mengangkat tanganku yang memakai Cakar Ayam Api, "Tunggu sebentar, akan kujelaskan..."
Aku menusukkan cakarku ke dada beruang itu dan menarik keluar jantungnya dan meremukkannya, hingga di tanganku tersisa satu batu kecil. Aku melakukan hal yang sama pada beruang lainnya.
"Dua inti kehidupan." Andhika muncul di sebelahku sambil mengelus dagunya, "Mau kau apakan?"
__ADS_1
"Jika sudah sampai di Jakarta, aku berencana menjualnya." jawabku.
"Oh..." hanya itu yang kudengar dari mulut Andhika.
Menurut buku yang dulu dijelaskan oleh kakekku, inti kehidupan yang dimiliki oleh Monster itu berguna sebagai alternatif lain energi senjata api, selain gas alam.
Karena gas alam mulai menipis sejak senjata api ditemukan, berbagai penelitian untuk menggantikan gas alam dilakukan dan ditemukan hasil kalau energi senjata api bisa diisi dengan inti kehidupan yang dicairkan.
Inti kehidupan dihargai cukup mahal, satu buah kecilnya bisa mencapai lima ratus ribu rupiah, dan yang berukuran kepalan tangan orang dewasa bisa seharga sepuluh juta rupiah. Memang gila...
Aku memasukkan dua inti kehidupan itu ke dalam tasku dan berjalan menuju satu pohon yang ada di dekat sana, "Mau mendengar caraku bergabung dengan RedWhite?"
Andhika berlari dan duduk di hadapanku, "Ya, beritahu caranya..."
"Aku sebenarnya ragu mengatakannya, tetapi ya sudah, suatu hari nanti akan terungkap juga..." aku memasukkan tanganku ke kantong jasku dan mengeluarkan dua benda yang ditinggalkan kakekku, "Aku akan memakai ini..."
Andhika mengambil lambang burung garuda berwarna merah dan putih dengan enam bintang melingkar dan satu bintang besar di tengah-tengahnya dan bertanya, "Ini apa?"
"Satu bintang menunjukkan rank E, dua bintang menunjukkan rank D, tiga bintang menunjukkan rank C, empat bintang menunjukkan rank B, lima bintang menunjukkan rank A, dan enam bintang melingkar seperti ini adalah rank S. Jika ada satu bintang di tengah-tengah bintang yang berbentuk lingkaran ini, itu artinya pemilik medali ini memiliki rank SS."
Wajah Andhika menjadi terkejut, ia menatapku dengan tatapan seperti tidak percaya dan ia bertanya, "Apa maksudmu? Kau memiliki medali yang merupakan medali Hunter rank SS?"
"Penjelasanku belum selesai..." aku menggaruk kepalaku, "Dan jika ada tiga bintang di tengah-tengah bintang yang berbentuk lingkaran ini, itu artinya medali ini milik Hunter rank SSS."
"Jadi?" Andhika terlihat tak bisa menahan keterkejutannya, "Apa yang ingin kau katakan lagi?"
"Medali ini milik kakekku, Hunter rank SS yang ikut bertempur di Islandia, Hunter yang dijuluki Pendekar Jubah Hitam, Bintang Langit." jawabku kemudian menunjukkan kartu lisensi Hunter milik kakekku.
Andhika terdiam dan ia tersenyum tipis, "Jadi kau berencana bergabung RedWhite dengan mengatakan kalau kau adalah cucunya kakek Bintang?"
"Bisa dikatakan begitu..." aku mengambil kembali medali yang dipegang oleh Andhika, "Dan aku akan memakai medali seperti ini di suatu hari nanti..."
Andhika mengangkat tangannya dan menepuk pundakku, "Semoga tercapai..."
__ADS_1
***
Hari-hari 'Berburu' selanjutnya ditemani oleh Andhika, yang setelah mendengar aku adalah cucu Bintang Langit, ia lebih sering bersikap hati-hati padaku, terlihat begitu.
Selain itu, aku jarang melihatnya bertarung serius, sekalinya serius itupun karena kupaksa bertarung serius.
Dan setelah seminggu berada di hutan, akhirnya aku dan Andhika berhasil keluar dari Jawa Timur dan berjalan menyusuri Jawa Tengah.
Kenapa aku tak jadi kembali ke Surabaya? Itu karena Andhika sudah membawa peta yang ia bawa dari Bali dan karena itulah, aku memutuskan untuk membatalkan rencanaku kembali ke Surabaya.
Dan juga, menurut perkiraanku, setidaknya perlu waktu sekitar sebulan lebih beberapa minggu hingga kami sampai di Jakarta jika tak ada hambatan apapun.
"Tak ada Monster yang benar-benar bisa membuat kita mengeluarkan kekuatan penuh kita..." ujar Andhika.
Senjata api yang dimiliki oleh Andhika adalah pedang yang bilahnya meliuk-liuk yang ukurannya sekitar satu meter, setara dengan tinggi kami berdua.
"Dan aku tak pernah melihat bilah Keris Raja Singa menyala terang..." aku membersihkan Cakar Ayam Api dengan air.
Kami sedang berhenti di tepi sungai sambil membersihkan senjata masing-masing yang sudah bersimbah darah hitam setelah dipakai bertarung selama seminggu lamanya.
Nama senjata api milik Andhika adalah Keris Raja Singa dan bilahnya tak pernah menyala terang sejak seminggu lalu, dan menurut Andhika ia harus menghemat penggunaan energi panasnya hingga ia sampai di Jakarta untuk ditingkatkan kualitas.
"Sial, apa alam bebas memang membosankan seperti ini?" gumam Andhika pelan dan aku mendengarnya.
"Ini memang aneh, sudah seminggu kalian ada di alam bebas dan selama itu, musuh yang muncul selalu mudah kalian atasi, membuatku merasa ada yang salah..." Zon berpendapat.
"Apakah kau berpikir kalau akan ada serangan dadakan?" tanyaku, dan Zon terdengar terkekeh kecil, membuatku menaikkan alis kebingungan, "Kenapa?"
"Baru kubilang..." Zon terkekeh kecil, "Keberuntungan kalian memang tidak bagus..."
Rencana awal: Keris Singaraja (Kek nama daerah...)
Jadinya: Keris Raja Singa :)
__ADS_1