
"Apa benar disini adalah tempatnya?" Leonard menggaruk kepalanya, "Sepi sekali..."
Tom melipat tangannya, "Seharusnya disini, Zona 9 dan Zona 10 adalah zona yang menjadi tempat pertarungan para Emperor, tapi kenapa disini amat sepi?"
"Intinya semangat saja mencarinya, aku akan menunggu..." Jenny duduk di bawah pohon dan mengelap senapannya, "Kalau sudah panggil saja aku..."
"Aku ikut!" John melompat dan duduk di depan Jenny, ia kemudian melirik yang lainnya dan berseru, "Semangat mencarinya!"
Mir berjalan cepat kemudian menarik kerah belakang jas John sambil berseru, "Kau harus membantu kami! Kau tak punya waktu istirahat saat ini!"
"Eh?! Aku sudah menempuh perjalanan jauh dari Mesir dan kau tak membiarkanku istirahat?!" John berteriak sambil berusaha melepaskan tangan Mir dari kerahnya, "Biarkan aku istirahat!"
"Kau tak bertanya padaku..." Frans menguap, "Aku berangkat dari Indonesia pagi-pagi buta..."
"Aku juga..." Jenny menatap John, "Jangan mengeluh, akan ada orang yang lebih sial darimu..."
"Aku mengendarai pesawat tempur dari Australia, mau mengeluh lagi?" Alex melipat tangannya, "Marie dan pasukannya sedang sibuk jadi ia tak bisa membantuku kemari..."
"Tuh..." Yen menggelengkan kepalanya, "Ya sudah, ayo cepat..."
Jenny berdiri sambil mengangkat senapannya sementara Mir menarik John agar berdiri sambil berjalan.
***
"Lapar... Dingin... Haus... Lelah... Jadi satu..." William berjalan sambil menghela napasnya, "Lengkap sudah..."
"Entah berapa jam kita sudah berjalan begini, dan tak ada Monster yang muncul, kenapa? Ada yang bisa menjelaskan?" Jenny melirik Tom, "Bisa menjawabnya?"
"Flame Emperor mengatakan kalau para Emperor sedang terpisah, dan sekarang mungkin sedang memulihkan kondisi mereka..." Tom menjawab, "Yang jadi pikiranku adalah alasan kenapa Tang Liao masih hidup..."
"Itu dia..." Yen Jiu menarik pedangnya yang melengkung, "Kalian mendengar?"
"Suara gemerisik salju yang diseret?" Jenny menarik pengaman senapannya, "Aku mendengarnya..."
"Jaraknya sekitar sepuluh meter dari sini, dan suaranya terdengar samar karena badai salju yang mengacaukan pendengaran kita." Alex menarik belatinya dan menyalakan pemanasnya, "Ingat menghemat gas panas kita..."
"Seharusnya cukup untuk berkelahi selama seharian..." William mengangkat kapak besarnya, "Itulah kapasitas tabung gas panasku..."
Mereka bersiaga, dengan formasi Jenny di tengah-tengah, dikelilingi oleh John, Mir, Frans, Yuuki, dan Yen, kemudian Tom, William, Alex, dan Leonard bersiaga di luar lingkaran untuk menyambut serangan.
__ADS_1
Dalam waktu yang cukup lama, mereka bersiaga seperti itu, hingga akhirnya Monster bertubuh manusia besar dengan kepalanya yang seperti kepala banteng, berjalan mendekat.
Leonard mengangkat perisainya kemudian berseru, "Bersiap!"
Jenny mengangkat senapannya, mengarahkannya ke kepala banteng itu kemudian menembakkan satu peluru yang melesat cepat menuju banteng... Lebih baik disebut manusia banteng itu.
Manusia banteng itu berlari dan kepalanya terlihat seperti ingin menyeruduk apapun yang ada di depannya, sehingga Leonard mengangkat perisainya dan bertahan, dengan Tom yang berdiri di belakangnya untuk berjaga-jaga jika Leonard tak mampu menahan serudukan banteng itu.
Sayangnya, manusia banteng itu melirik ke kirinya kemudian melompat ke samping kanannya, menghindari tusukan dari seorang perempuan yang membawa pedang besar meliuk-liuk.
Tak lama, suara tembakan terdengar dan satu peluru berwarna merah terlihat melesat melewati laki-laki pedang besar meliuk-liuk itu.
Manusia banteng itu melompat menghindari peluru itu, ia mendarat dan mendengus keras.
"Aku akan melawannya!" William mengangkat kapaknya ke atas, "Lihat saja aksiku kali ini!"
Ia berlari maju, bersamaan dengan manusia banteng itu yang berlari, dan William mengayunkan kapak besarnya dengan kuat, sementara manusia banteng itu berhenti berlari kemudian menyeruduk ke depan.
William melompat mundur dan mengayunkan kapaknya lagi untuk menahan serudukan banteng itu, dan mengenai tanduk banteng itu.
Ia melompat mundur lagi, dan tersenyum lebar, "Lumayan..."
"Tom, kami berhasil membunuh dua Lord." satu laki-laki yang memakai pakaian serba hitam berkata. Dia adalah Joko Taru.
"Dan semakin lama kita berjalan, semakin jauh dari perbatasan, semakin sedikit Monster yang muncul." satu perempuan dengan pedang besar meliuk-liuk di tangan kanannya berkata. Dia adalah Esterosa de Esquede.
"Baiklah..." Tom melipat tangannya, "Kita bisa menyerahkan banteng itu pada William."
"Tapi sepertinya kita tidak akan bisa melakukannya..." Jenny berkata, "Kita sekarang ada dalam masalah."
***
Kami berlari cepat mengikuti kedua orang tuaku yang memimpin di depan, sementara badai salju masih terjadi.
Situasinya kurang lebih sama seperti ketika ujian kemarin, dan masalahnya sekarang bukan ujian atau hanya sekedar simulasi Raid, tapi Raid betulan! Tak ada jaminan badai salju ini bersahabat dengan kami!
"Bocah, pinjam pedangmu!" ibuku menadahkan tangan pada Andhika, "Cepat!"
Andhika hanya mengangguk dan memberikan pedangnya pada ibuku, dan siapa mengira kalau setelah ibuku menerima Keris Raja Singa dari tangan Andhika, ia langsung berlari lebih cepat dan meninggalkan kami.
__ADS_1
"Semuanya! Aku mendengar suara gemerisik salju! Seperti langkah kaki!" Vina berseru, "Tapi suaranya disamarkan oleh badai salju!"
"Ada kemungkinan itu Monster..." ayahku berdecak, "Kita bergerak lebih cepat!"
Kami pun bergerak lebih cepat, dan tak lama, seekor Monster dengan tubuh manusia dan kepalanya bertanduk sedang berlari, bersamaan dengan ibuku yang menusukkan pedangnya.
Ibuku berhasil menusuk ke depan, tapi manusia banteng itu bisa menghindarinya.
Beberapa saat kemudian, seorang pria dengan kapak besar maju dan melawan manusia banteng itu.
Aku mengenalinya sebagai William Vunion sang Death Demon, ketua organisasi IronBlast. Kurasa Tom benar-benar melakukan apa yang dijelaskan oleh Flame Emperor tadi, tentang mengerahkan seluruh Hunter rank SS untuk melawan Lord.
Kami mendekati Tom dan Hunter lainnya, dan setelah sampai, ayah dan ibuku berbicara sesuatu pada Tom.
Aku memperhatikan sekitarku, aku mengenal tempat sekarang kami berada, inilah tempat pertama kalinya aku melihat langsung kejadian yang membuat Raid Kanada harus dilakukan, yaitu berkumpulnya tujuh Emperor.
Aku tidak mengerti apa yang membuat kami dituntun sampai kemari, tapi yang pasti sesuatu akan terjadi lagi.
"Baiklah..." Tom melipat tangannya, "Kita bisa menyerahkan banteng itu pada William."
"Tapi sepertinya kita tidak akan bisa melakukannya..."perempuan yang membawa senapan laras panjang yang kuketahui bernama Jenny Anderless berkata, "Kita sekarang ada dalam masalah."
Aku menoleh ke belakang, aku mendengar suara gemerisik salju, dan tak lama, puluhan, bahkan mungkin ratusan Monster, muncul. Ada beberapa Monster yang berukuran lebih besar dari yang lainnya.
[White Tiger Lord (Lv. 150)]
[Bear Lord (Lv. 130)]
[Snow Wolf Lord (Lv. 120)]
[Ice Emperor (Lv. 300)]
[Black Cat Lord (Lv. 145)]
...
Sial, Ice Emperor datang kemari, bagaimana rencana Hunter terkuat untuk menghadapinya?!
"Heheh, nampaknya aku akan melawan Emperor kali ini..." aku melirik Tom dan kulihat ia menyeringai lebar, "Akan kukeluarkan semuanya!"
__ADS_1