Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
281. Sosok yang diandalkan


__ADS_3

"Langit, ayo makan!"


"Okeee!"


Aku meletakkan pulpenku dan berjalan ke dapur, kulihat Vina sedang meletakkan beberapa piring yang berisi makanan yang aromanya amat lezat...


Uuuw, senang melihat makanan...


Kulihat Vina sedang melepas apronnya dan ia berjalan ke meja makan kemudian duduk di depanku, "Mari makan."


Ia terlihat berdoa sebelum mengambil makanan dan memakannya.


Kulihat makanan malam ini adalah sup dan bakwan, sesuatu yang mengingatkanku pada masa latihanku dulu...


"Langit..." Vina menatapku, dan aku langsung terlepas dari termenung, "Sudah berlalu dua tahun sejak saat itu..."


Aku memasukkan sesendok sup ke mulutku dan mengangguk, benar, sudah dua tahun sejak perang dunia ketiga selesai, dan dunia memasuki masa pemulihannya.


Aku tidak tahu, apakah ancamanku dua tahun lalu berhasil membuat pemimpin negara sadar dan langsung bergerak mengerahkan pasukan mereka untuk memulihkan kota-kota.


Tokyo sudah berhasil berdiri kokoh, begitu juga dengan London dan Moskow. Beberapa kota lain juga masih dalam proses pembangunan.


Kamp pengungsian masih ada, tetapi jumlahnya masih sedikit, dan satu yang menarik perhatianku adalah, organisasi Hunter...


Dibubarkan.


Ya, dibubarkan.


Hunter tak ada lagi di dunia setelah berita menghilangnya Hunter rank SSS ramai dibicarakan, dan IHO resmi dibubarkan.


Sosok ketua IHO tak ditemukan di Amerika, yang artinya Neil Andero atau ketua IHO dinyatakan gugur bersama dengan penduduk sipil lain.


Hanya ada satu organisasi yang masih berdiri, tetapi tidak sebagai organisasi Hunter, melainkan organisasi penyidik. Namanya adalah EasternDragon. Jika orang-orang berpikir kalau EasternDragon penyidik adalah EasternDragon yang sama dengan EasternDragon yang menguasai laut China Selatan dan samudra Pasifik, maka mereka benar seratus persen.


EasternDragon bertransformasi menjadi organisasi penyidik, dengan ketuanya bernama Yuuki Ken. Apa pekerjaan mereka masih belum diketahui, tetapi yang pasti, penyelundupan ilegal di Jepang menurun drastis dalam dua tahun terakhir.


Menurut rumor yang beredar, disebutkan bahwa EasternDragon adalah sosok mematikan di bea cukai Jepang, dipastikan mereka berjaga di bandara, pelabuhan, stasiun, terminal, dan halte di seluruh Jepang.


Aku merasa bahwa Jepang masih memanfaatkan kemampuan EasternDragon yang luar biasa itu, bukannya dibubarkan sebagaimana militer Indonesia terhadap organisasi RedWhite.


Organisasi yang didirikan oleh tiga serangkai dibubarkan setelah Andhika menyatakan mundur dari dunia militer, ia meletakkan pedangnya dan pulang ke Bali. Senja juga mengatakan mundur dan ia kembali ke rumahnya di Jakarta. Selain itu juga banyak Hunter anggota biasa yang memilih pensiun dan melakukan aktivitas seperti manusia biasa pada umumnya.


Aku sebagai ketua organisasi RedWhite hanya bisa terdiam, pembubaran hanya satu-satunya jalan, selain bergabung dengan kemiliteran...

__ADS_1


"Langit, apa kau benar-benar tidak ingin kembali ke militer?" tanya Vina tiba-tiba, dan aku hanya bisa menghela napasku.


"Tidak."


***


Namaku Langit Satria, siswa kelas 11 SMA di Jakarta, yang aku sendiri ketahui bernama SMA Harapan. Maksud namanya? Entahlah, aku juga tidak memahaminya.


Aku duduk di bangku paling belakang, bersama seorang perempuan bernama Vina Celia, yang memiliki indera yang amat tajam.


Dan seorang perempuan di depanku yang bernama Senja Irawan selalu melirikku dengan tajam, seolah aku adalah musuh bebuyutannya...


Pagi ini adalah hari pertama semester genap kelas 11, tersisa satu setengah tahun lagi sebelum aku lulus dari SMA dan memutuskan akan pergi kemana...


...


...


...


"Langit, Indonesia membutuhkanmu."


Aku sudah sering mendengar dan membaca pesan dari Andhika yang mengatakan bahwa Indonesia membutuhkanku, tetapi apa yang mereka butuhkan dari aku?


Apalagi sekarang masih dalam kondisi perbaikan dunia, tidak akan ada pemimpin militer yang berpikir untuk menyerang satu sama lain...


Diktator...


Hanya tipe pemimpin seperti itu yang hanya akan memikirkan kekuasaannya dibandingkan kesejahteraan rakyatnya. Aku amat membenci tipe pemimpin seperti ini...


"Selamat pagi, anak-anak..." guru perempuan masuk dan kami sekelas memberi salam pada guru kemudian duduk dengan diam.


Guru itu meletakkan bukunya di meja guru kemudian ia berkata di depan kelas, "Oke, jadi pelajaran hari ini ibu tiadakan, ibu ingin berbincang sedikit dengan kalian..."


"Ibu yakin kalau masing-masing dari kalian sudah memiliki cita-cita, yang akan menentukan masa depan kalian, begitu?"


"Kalau begitu, bagaimana kalau kalian bercerita dengan teman-teman sekelas dan ibu, menyenangkan bukan?"


Ah, pasti maksudnya supaya murid-murid tidak tegang dengan hari pertama...


Selain itu, semester genap adalah waktunya bagi kami untuk menentukan akan menjadi apa kita nanti setelah lulus SMA...


Ya...

__ADS_1


Itu adalah sesuatu yang tak ingin kuceritakan...


Satu persatu murid bercerita, dan ibu guru mendengarkan dengan senang, sambil sesekali menanggapi cerita murid-murid...


Lama...


Lama...


"Langit, bukan? Coba ceritakan kau ingin menjadi apa?" ibu guru menunjukku, dan aku menunduk...


"Ah, aku ingin jadi pelari yang akan mewakili Indonesia di setiap turnamen dunia."


Aku sudah lama mengikuti ekstrakurikuler atletik, dan setidaknya aku sudah beberapa kali menjuarai turnamen tingkat nasional, jadi kemampuanku di atletik tidak akan diremehkan begitu saja.


Bukan hanya itu, aku juga sempat diajukan untuk mengikuti pelatihan bersama atlet lain dari seluruh Asia tenggara, tetapi aku menolaknya karena ingin fokus belajar saja.


Rekor tercepatku adalah lari sprint sejauh 400 meter dalam waktu satu menit kurang. Menurut catatan, aku adalah pelari tercepat di seluruh dunia... Ya...


Aku diakui oleh internasional... Lagi...


"Apa kau tidak ingin kembali ke dunia Hunter? Atau militer saja?" tanya ibu guru, dan mendengarnya membuatku merasa sedikit... Kesal...


"Aku akan memikirkannya nanti..."


***


"Bersedia, siap, yak!"


WHUUSSSHH!


Aku menggerakkan kedua kakiku dengan kecepatan tinggi, hanya dalam waktu sekejap, aku sudah sampai di garis finish.


Beberapa detik kemudian, pelari lain sampai di garis finish dengan napas tidak teratur, tapi aku tidak merasa kelelahan sedikitpun.


"Dengan kecepatanmu itu, kau seharusnya bisa mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional, namun kenapa kau menolak tawaran PASI untuk mengikuti olimpiade dua tahun lagi?" pelatihku datang dan bertanya.


"Tidak, aku hanya ingin berprestasi di tingkat nasional saja, internasional tidak menarik perhatianku..." jawabku singkat kemudian berlutut untuk mengikat tali sepatuku lebih kuat, "Mungkin suatu saat aku akan tertarik pada Internasional."


"Yah, bagaimanapun juga kau harus tetap semangat seperti ini, sangat jarang anak muda sepertimu memiliki paru-paru yang sehat dan kuat dipakai berlari secepat itu." pelatihku duduk di sebelahku, "Yah, intinya kau adalah atlet yang kami banggakan..."


Ia meraih pundakku dan merangkulku, "Bagaimana kalau nanti kau ikut kami makan-makan?"


Aku melepas rangkulan pelatihku dan berdiri, "Aku akan pulang duluan, ada urusan..."

__ADS_1


"Oh, baiklah..." pelatihku mengangguk pelan, "Hati-hati saat pulang ya..."


__ADS_2