Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
103. Pernyataan dua Hunter dan mobil


__ADS_3

Aku membuka mataku perlahan, sinar matahari menyinari tubuhku yang tergeletak di atas halaman rumah paman Antha, ketika aku meliriknya ke samping paman Antha masih tertidur dengan mulut terbuka lebar.


Aku tidak paham, kenapa banyak sekali orang suka tertidur sambil mendengkur dan membuka mulutnya lebar-lebar?


"Sementara suara dengkuranmu bahkan terdengar sampai di tempatku tertidur." Zon menggerutu lagi, "Aku tidak mengerti bagaimana caranya kau melakukannya..."


"Diam roh tua..."


Untuk pertama kalinya, Zon tak mengamuk ketika kupanggil roh tua, ia hanya menghela napasnya saja.


Aku bangkit dari tidurku dan menarik napas panjang, udara sejuk pagi hari menyelinap ke dalam hidungku, memenuhi dadaku dengan udara sejuk yang terasa menyegarkan tubuhku.


"Oi Langit!" tiba-tiba saja, dua orang datang dan salah satunya berjongkok di depanku, "Darimana saja kau?!"


"Ah, Andhika rupanya..." aku berdiri dan meraih pedangku, "Menyelesaikan apa yang kukatakan kemarin siang."


"Hah?" Rei yang ikut datang bersama Andhika menaikkan alisnya, "Apa maksudnya? Apa yang kau katakan kemarin?"


"Dia mengalahkan Hunter rank A." paman Antha bangun dan ia melirikku, "Dia memang penerusnya kakek Bintang."


Ia berdiri dan menepuk pundak Rei, "Apa keinginanmu sebenarnya?"


Kurasa, Rei masih marah pada ayahnya, tapi aku melihat ia tersenyum lebar dan menjawab dengan antusias, "Aku ingin menjadi Hunter yang akan mengalahkan Naga Kehancuran!"


Mimpi Rei cukup hebat, tapi kalau ia malas-malasan, bukannya mencapai impiannya itu, ia hanya akan mati di medan tempur, tapi kurasa kemungkinan itu kecil terjadi karena kulihat kemarin sore, ia benar-benar tekun ketika berlatih memukul angin


"Baiklah kalau begitu..." paman Antha mengacak-acak rambut Rei, "Pergilah bersama Langit dan Andhika."


Rei terdiam sejenak, sebelum ia bersorak gembira dan memeluk ayahnya erat, "Terima kasih, yah!"


***

__ADS_1


Lein itu, dia berpidato di hadapan banyak warga kota dan ia meminta maaf atas semua yang ia lakukan.


Ia juga menambahkan akan memperkuat penjagaan kota 6 dengan merekrut kembali Antha Artawan menjadi wakilnya dan membantunya mengurus kota.


Pernyataan itu jelas mengejutkan semua orang, tak ada yang tak tahu nama Antha Artawan karena ia terhitung cukup sering masuk televisi, tetapi kepopulerannya kalah dengan kakekku, ayahku, Frans, Vigo, dan yang lainnya.


Dan paman Antha muncul dan memberikan pernyataan kalau ia akan kembali ke dunia Hunter, memakai Demon Gauntlet dan menghajar Monster lagi untuk melindungi kota 6, bahkan melindungi seluruh dunia bersama para Hunter lainnya.


Pernyataan dua Hunter itu jelas mengejutkan para warga, aku bisa memahaminya karena mereka berubah ketika pertarungan semalam.


Lein berubah menjadi lebih baik karena mungkin saja, ia menyadari kalau paman Antha masih ada dan mengawasi seluruh pergerakannya selama ini, jadi ia tak ingin bergerak aneh-aneh lagi mulai saat ini, sementara paman Antha ingin menjadi Hunter kembali karena ingin melindungi semua orang dan melawan rasa takutnya pada kematian.


Yah, yang paling penting aku sudah menyelesaikan apa yang kukatakan pada Asep kemarin, mungkin saja aku sudah menghajarnya semalam, tapi kuharap ia senang dengan apa yang kulakukan.


Oh ya, Lein tak mengatakan kalau aku yang mengalahkannya kemarin dan membawa paman Antha ke hadapannya, jadi untuk saat ini aku masih aman, seharusnya...


"Aku berterima kasih pada Langit Satria yang sudah membantuku menyadarkanku dan Lein dari kesalahan kami!" paman Antha berseru, "Sambutlah anak kecil yang memakai jas hitam, membawa dua pedang milik kakek Bintang!"


Kurasa, para warga mengingat jelas bentuk senjata api milik kakekku, dan mereka langsung menyusuri kerumunan, sementara Andhika dan Rei hanya bisa menepuk dahi mereka sambil menghela napas panjang.


[Skill pasif Raja Api aktif! Semua kawan akan menurut padamu dan semua lawan akan gentar menatapmu!]


Oh ayolah, aku hanya mengangkat tanganku dan mengatakan kalau aku disini, bukan bertarung!


Para warga melirikku sedikit gentar, dan aku merasa kalau skill pasifku terlalu kuat untuk para manusia biasa, hanya Lein dan paman Antha saja yang biasa-biasa saja melihatku.


Para warga membuka jalan, memberikanku jalan menuju panggung yang sedang berdiri paman Antha di atasnya.


Sialan kau paman Antha!


Aku berjalan ke atas panggung dan naik ke atasnya, kemudian berdiri bersebelahan dengan paman Antha.

__ADS_1


"Jadi Langit, apa yang kau inginkan?" tanya paman Antha, "Anggap ini adalah balasan yang bisa kami berikan padamu."


Aku memejamkan mataku, apa yang bisa kuminta pada paman Antha?


Aku tak ingin meminta yang aneh-aneh, mungkin aku akan memintanya membantuku pergi ke Jakarta lebih cepat.


"Aku, Andhika, dan Rei ingin pergi ke Jakarta lebih cepat, jadi kami meminta tumpangan untuk kami bergerak cepat ke Jakarta, itu saja."


***


Sesuai dengan permintaanku, paman Antha menyuruh satu Hunter untuk mengendarai mobil, membawaku, Andhika, dan Rei ke Jakarta.


Dan Hunter itu adalah Lein, ia mengajukan dirinya dengan alasan ingin berbincang lebih banyak denganku setelah ia mengetahui kalau aku adalah penerusnya kakek Bintang.


Bukan hanya ia saja, banyak Hunter yang berebutan untuk mengendarai mobil itu, sebelum Lein datang dan mengatakan akan mengendarai mobil, yah, meskipun setelah berkelahi sedikit.


Dan setelah beberapa kali berkelahi, Lein akhirnya memenangkan perkelahian dan mengendarai mobil dan membawaku, Andhika, dan Rei ke Jakarta.


Dalam mobil saat ini, kami berempat tak berbicara apapun, membuat suasana tegang saja. Aku duduk di sebelah paman Lein yang menyetir, sementara Andhika dan Rei di kursi belakang, dan semua tas serta senjata api kami ada di bagasi belakang


"Jadiii, namamu Langit, begitu?" Lein angkat bicara setelah beberapa menit berlalu sejak kami meninggalkan kota 6, "Aku masih belum memahami darimana kau mendapat Pedang Api Hitam dan Cakar Ayam Api..."


Aku menghela napas, memang dasarnya dua senjata api ini membuatku terkenal secara tak sengaja...


"Aku mendapatkan Pedang Api Hitam dari kakekku, sementara Cakar Ayam Api kudapatkan di Surabaya, di markas Hunter tempat ayahku bekerja dulu. Sekarang, mereka berdua telah meninggal." jawabku, "Tujuanku ke Jakarta selain menjadi Hunter adalah untuk memperbaiki Cakar Ayam Api yang sudah rusak."


"Rusak?" Andhika bertanya dengan nada kebingungan, "Bukankah benda itu baik-baik saja, bahkan bisa dipakai untuk bertarung?"


"Meskipun kau bilang begitu, aslinya Cakar Ayam Api sudah rusak, sendi-sendinya sudah rusak, beberapa kabel pengalir panas sudah putus, bahkan lapisan logam Flamingnya sudah keropos." aku mengangkat tanganku yang memakai Cakar Ayam Api, "Lihat, permukaan luarnya mengelupas sedikit..."


"Memang benar, ketika kau bertarung pun aku bisa merasakan kalau semua seranganmu tak mengandung kekuatan penuhmu..." Lein ikut berkomentar tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan, "Seperti kau ragu akan sesuatu..."

__ADS_1


Padahal aku sudah tidak menunjukkan kalau aku bertarung dengan hati-hati, tapi Lein bisa mengetahui kalau aku bertarung dengan hati-hati, seolah aku memberitahunya sebelumnya. Hunter berpengalaman memang berbeda...


"Omong-omong, aku menolak tawaran dari Frans tentang mempromosikanku menjadi Hunter rank S..." Lein berkata, dan perkataannya membuatku terkejut, "Untuk saat ini..."


__ADS_2