Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
299. Persiapan kecil


__ADS_3

"Benda ini harus dirawat baik-baik lagi..." aku meletakkan Penghancur Bumi ke atas meja, "Lama tidak dipakai membuat beberapa komponennya rusak."


"Mau bagaimana lagi, aku tidak pernah menyentuh benda berat itu setelah Perang Dunia ketiga selesai." Rei melipat tangannya, "Dan juga, jangan samakan senjataku dengan senjatamu yang susah hancur itu..."


Yah, senjataku yang namanya Pedang Api Hitam memang senjata terkuat di bumi ini, banyak Hunter rank SS yang mengakuinya...


Bukannya aku bangga berlebihan, namun itulah adanya. William yang terhitung ahli dalam segala hal mengenai senjata api mengakuinya dan ia mengatakan bahwa material yang digunakan bukan logam Flaming biasa, bahkan teknologi yang digunakan juga tidak biasa...


"Lalu bagaimana? Penempa senjata api kebanyakan sudah pensiun, aku menyadari kalau senjataku rusak parah dan mustahil diperbaiki dengan ilmu seadanya." Rei mengepalkan tangannya, "Apa kau punya alternatif lain?"


"Ganti senjata dong." aku mengorek hidungku, "Kemampuanmu tidak hanya sebatas memukul saja kan?"


"Kubunuh kau!" Rei meraih sarung tangan besinya dan bersiap melemparnya, "Aku tak punya keahlian lain selain memukul!"


"Maka dari itu belajar." aku meletakkan pistolku di atas meja, "Ambil ini dan temui Vina. Minta dia supaya mengajarimu lagi tentang menembak."


"Tidak mau." Rei menyentil pistolku hingga pistolku berhenti di depanku, "Penghancur Bumi sudah bersamaku sejak lama, mana mungkin aku melepasnya."


Yah, aku pernah melihatnya, Andhika tidak pernah melepas Keris Raja Singa, tapi di setiap rapat, ia tak pernah membawanya dan hanya membawa sebilah pisau di sabuknya. Namun saat bertugas, ia selalu membawa pedangnya kemanapun ia bertugas.


"Yah, mungkin aku akan mencobanya..." aku menghela napasku, rasanya tidak enak jika artefak dari masa invasi Monster seperti Penghancur Bumi hancur setelah menyelesaikan tugasnya...


Aku punya sedikit ilmu, dan aku akan mencobanya...


"Asal jangan kau jual, aku berikan..." Rei mendorong koper yang berisi satu pasang senjatanya, "Rawat ya..."


Ia berdiri kemudian pergi dari kamarku setelah memberikan senjatanya...


"Baik, biar aku periksa benda ini..." aku mengangkat Penghancur Bumi kemudian memeriksanya...

__ADS_1


***


"Apa kau yakin kalau kita boleh melakukannya?" Rei mengangkat kayu yang ia pegang, "Meski mereka menebar teror, kita harus mengikuti prosedurnya."


"Prosedur apanya? Orang yang memberi prosedurnya ada disini, bahkan Langit juga mengabaikan prosedurnya dan langsung menghancurkan satu pasukan udara musuh serta satu kapal perang hancur oleh dirinya sendiri." Andhika melirik ke belakangnya, "Lagipula, gerakan kita tidak akan diketahui semudah itu..."


Keduanya berjalan dengan amat senyap, hingga keduanya sampai di depan sebuah pohon, Andhika berhenti dan menarik pisaunya, "Lihat?"


Ia menunjuk ke depannya dengan pisaunya, dan Rei mengikuti arah yang ditunjukkan Andhika. Rei menaikkan alisnya lalu bertanya dengan nada kecil, "Lalu? Apa kita harus menghancurkan mereka?"


"Bali akan menjadi tuan rumah konferensi militer internasional pada tahun 2335, jadi kita sebagai TNI harus menjaga tempat ini agar nantinya siap dipakai sebagai tempat konferensi itu." Andhika menyimpan pisaunya dan menarik pedangnya, "Aku yakin Langit pasti berpikir begitu."


"Kau yakin? Bukannya kerjaan Langit selama ini hanya duduk dan bengong saja?" Rei menaikkan alisnya.


"Gigimu kutarik, kerjaan Langit tidak seperti yang kau bayangkan. Meski ia memegang pangkat tertinggi di militer Indonesia, ia tetap turun tangan dalam mengatasi banyak hal. Itulah yang membuat militer Indonesia menjadi militer terkuat di seluruh dunia." Andhika menghela napasnya.


"Yah, sudah waktunya kita menyelesaikan masalah ini." Andhika bangkit dan ia bergerak cepat ke bangunan tua di depannya, "Cepat Rei!"


***


"Aku mengucapkan selamat datang pada jenderal besar Langit Satria..." laki-laki tua menyambutku saat aku masuk ke ruang kepresidenan.


Ruangan yang rapi, yang mengingatkanku pada pak Oka... Aku bekerja melindungi Indonesia di bawah pengawasan pak Oka selama tiga tahun lamanya, dan itu amat singkat...


Setelah Perang Dunia ketiga selesai, beberapa bulan setelah aku memutuskan menghilang dari dunia, aku mendengar bahwa masa jabatan pak Oka sudah selesai, dan pilpres diadakan.


Siapa yang berhasil merebut hati rakyat adalah laki-laki bernama Yuda Ardiana. Dan dua tahun ia memegang posisi presiden, tak banyak hal yang berubah...


Atau mungkin aku yang terlalu berharap banyak pada presiden, ya...

__ADS_1


"Mari duduk sejenak, aku yakin kau pasti kelelahan menempuh perjalanan kemari..." ujarnya kemudian ia menyiapkan dua cangkir , "Minum apa?"


"Sama denganmu saja..." aku menyandarkan punggungku ke sandaran sofa, dan rasanya sedikit lega...


"Silahkan..." pak Yuda meletakkan secangkir... Kopi di depanku kemudian berkata, "Maaf jika saya bersikap begini dihadapan anda, pak Langit..."


Sedikit hal lagi, Yuda dulunya adalah Hunter, dan ia memiliki pangkat yang tidak terlalu tinggi di militer, namun ia bisa membesarkan namanya di politik hingga ia dilirik oleh beberapa politikus dan mendapat dukungan hingga berhasil duduk di kursi kepresidenan.


"Jadi, hal apa yang membuat anda datang kemari menemui saya langsung?" tanya pak Yuda, dan ia meletakkan cangkirnya, "Apakah mengenai konferensi militer internasional?"


"Benar, aku perlu beberapa hal..." aku mengeluarkan selembar kertas, "Yang pertama, berikan aku komando penuh untuk mengawasi jalannya konferensi..."


"Yang kedua, ijinkan aku untuk melindungimu secara eksklusif agar terhindar dari penyusup."


"Lalu yang ketiga, berikan kami sedikit dana untuk perawatan beberapa peralatan militer."


"Itu saja, selebihnya kami bisa siapkan sendiri." aku melipat kertas yang kubaca kemudian menyimpannya lagi, "Aku akan menjamin konferensi militer internasional bisa membuat nama Indonesia menjadi lebih baik lagi di mata dunia."


"Serta satu lagi, jika kau memang benar-benar pemimpin negara ini, maka aku meminta satu hal kecil saja..." aku menarik satu kertas lagi, "Eksekusi para pejabat korup."


Mata Yuda melebar, ia langsung menggeleng cepat lalu ia menjawab, "Khusus itu aku tak bisa sanggupi."


"Oh, apa itu artinya kau tidak mau Indonesia maju?" aku meletakkan kertas yang baru aku keluarkan, "Atau sederhananya, kau menutup mata atas segala uang rakyat yang dimakan pejabat korup?"


Kertas yang baru aku keluarkan kudapatkan dari intelijen, aku meminta sedikit data dan mereka memberikannya.


Atas dasar aku berasal dari bawah dan aku memang melihat banyak ketidakadilan selama dua tahun aku beristirahat, itulah yang membuatku merasa kalau korup harus dimusnahkan dengan berbagai cara...


Yuda tak bisa berkata-kata lagi, ia menarik kertas yang aku keluarkan kemudian mengangguk.

__ADS_1


"Bersikaplah seperti seorang pemimpin. Pemimpin tidak boleh ragu mengambil keputusan..." ujarku, "Aku tidak memengaruhimu, aku hanya meminta saja."


"Jika ada yang mengancammu, beritahu padaku dan aku akan menghabisi orang itu." ujarku kemudian aku mengeluarkan medali sembilan bintang yang aku miliki, "Ini adalah janjiku."


__ADS_2