
Bintang memejamkan matanya dan ia berkata, "Kuterima."
Suasana semakin senyap saat Bintang menjawab begitu, dan Tom tersenyum, "Ah, ada tambahannya..."
"Disini disebutkan bahwa Bintang Langit memiliki kemungkinan menjadi Hunter rank SSS jika berhasil menghabisi satu Monster rank SS, entah itu seorang diri atau mengajak orang lain."
Bintang tersenyum lebar, "Boleh, akan kulakukan..."
Frans menggosok matanya dan menatap Bintang tak percaya, "Anda menerimanya?!"
"Bagaimana lagi, kalau ketua Neil sudah berkata, maka tak ada yang bisa kulakukan lagi. Bisa saja, kabar aku yang menjadi Hunter rank SS kesebelas sudah menyebar selagi kita membicarakan hal ini." Bintang menggelengkan kepalanya.
Tom melipat kertas tadi dan berkata, "Sebenarnya, aku sedang mengincar rank SSS, dengan cara ikut ke Islandia dan menghabisi Monster itu."
"Tapi sebaiknya kau jangan gegabah, kita tak tahu apa yang dipikirkan Monster, bisa saja Monster itu hanyalah pancingan, sementara negara yang perlindungannya lemah akan menjadi sasaran utamanya." Vigo mengingatkan.
"Aku tahu, itulah sebabnya aku membagi kalian menjadi beberapa pasukan, untuk berpencar dan melindungi New Washington dalam waktu yang sama." Tom menyeringai.
"Kalau begitu, pertemuan kali ini kusebut telah selesai." Tom berdiri dan semuanya ikut berdiri.
Entah apa yang terjadi, apa yang dikatakan Vigo benar terjadi, di negara yang jauh dari Amerika Serikat...
***
"Ayah gunakan cara apa lagi untuk bisa mencapai rank SS?!" Joko menarik kerah jas panjang ayahnya, "Ataukah ayah mengancam mereka?!"
"Semuanya sesuai dengan apa yang sudah ayah lakukan, tak lebih." Bintang menepis tangan Joko, "Tak ada prestasi yang bisa dicapai tanpa perjuangan, ingat itu..."
Bintang membuka pintu dan berjalan menuju balkon kamar mereka, "Apakah kau masih ingat dengan kisah yang pernah kuberitahu?"
"Tentang Lord, Emperor, Divine Legion, dan Hunter, bukan? Ada apa?" Joko menaikkan alisnya.
__ADS_1
"Kurasa, para Lord adalah dalang dibalik lima Gate itu, mengingat hanya mereka saja yang bisa menciptakan Gate." Bintang menjawab sambil menaikkan telunjuknya, tanpa berbalik menatap Joko, "Atau bisa juga Emperor."
"Tapi kurasa, Emperor tidak ikut serta dalam serangan itu." Joko mendekati Bintang, "Entah kenapa, aku berpikir begitu..."
"Mungkinkah mereka hanya menekan kita? Sebelum mereka melancarkan serangan yang lebih besar?" Tanya Joko lagi, "Saat mental kita sudah turun jauh dan formasi pertahanan bumi kita sudah kacau, saat itulah kurasa Lord atau Emperor akan menerobos."
"Kesimpulanmu boleh juga, tapi kita harus pastikan juga dengan laporan di lapangan. Kita tidak tahu, apakah perkiraan di kantor itu sama dengan di lapas, jadi dua hal itu harus dipadukan agar kita bisa mendapat kesimpulan yang benar." Bintang berbalik, menatap Joko yang memasang wajah serius, "Lima Gate itu menentukan masa depan kita."
"Ah ya, nanti malam kau dan Alex akan pergi ke Kanada, bukan? Kenapa kau tidak mempersiapkan diri saja? Seperti meminta senjata pada Tom, begitu?" Bintang menahan tawanya, "Daripada kau memakai pisau kecil begitu, mana bisa menikam leher Monster yang besar..."
"Benar juga, tapi kira-kira dimasukkan ke hutang negara tidak ya, kalau aku meminta?" Joko menyentuh dagunya.
"Bilang saja, belati yang kau minta adalah permintaan pribadi, bukan permintaan negara. Kalau negara yaa, Frans yang bisa pusing tujuh keliling..." Frans menepuk dahinya.
Tak lama, telepon kamar berbunyi dan Joko menjawabnya, kemudian berbicara.
Bintang berbalik dan menatap keluar, menatap langit senja Amerika yang hawanya terasa menyejukkan.
"Aku ingin melindungi kesejukan ini lebih lama lagi..." Bintang mengepalkan tangannya, "Tapi sayangnya usiaku sudah terlalu tua untuk melanjutkannya lagi..."
"Eh?" Bintang mengorek telinganya, "Ayah tak salah dengar ini? Kenapa kau menyukai wanita agresif begitu?"
"Iya..." Joko menunduk, "Wajahnya, suaranya, posisinya saat berdiri, dan kurasa, sifatnya, menarik perhatianku.'
Bintang menyeringai, "Mau ayah bantu kau berkenalan dengannya?"
"Ah, aku ragu..." Joko mengetukkan kedua telunjuknya, "Apakah dia sudah menikah?"
"Kau beruntung, dia masih belum menikah." Jawab Bintang dan tertawa lepas, "Entah bagaimana reaksi Ayu saat melihat suaminya menikah lagi..."
Joko mengumpat, rasanya tak ada gunanya berbicara pada ayahnya sekarang...
__ADS_1
"Tenang saja, dia itu sebenarnya baik kalau kau berbicara dengan benar padanya." Bintang memalingkan wajahnya, melirik ke belakang, "Apa yang kau bicarakan dengan telepon itu?"
"Si Alex itu menyampaikan kalau nanti malam jam delapan malam, aku dan dia akan pergi ke Kanada, dengan..." Joko duduk di atas lantai dan menaikkan lututnya kemudian meletakkan kepalanya di atas lututnya, "Dengan motor..."
Bintang tak menahan tawanya, ia tertawa lepas dan ia jatuh terduduk.
"Apa kau tak pernah naik motor malam-malam di gurun, hah?! Lelaki macam apa kau ini?!"
"Biasa saja sih..." Joko memanyunkan bibirnya, "Lihat saja nanti, akan kutunjukkan kalau aku adalah seorang lelaki!"
***
Aku membuka mulutku lebar-lebar melihat berita di televisi.
"Ap-?!"
Sendok makanku jatuh saat aku makan di depan televisi, dan mulutku terbuka lebar.
Berita terbaru adalah tentang seorang Hunter yang diberikan peringkat SS oleh International Hunter Organization atau IHO, seorang Hunter dari Indonesia.
Hunter itu memiliki banyak prestasi, salah satunya adalah mengalahkan Monster rank SS di Hawaii.
Hunter itu adalah Bintang Langit, Hunter rank S yang dijuluki Pendekar Jubah Hitam, berasal dari Indonesia.
Jujur saja, aku tak percaya ini, kakekku menjadi Hunter rank SS pada awal-awal kembalinya dia ke dunia Hunter, hebat sekali...
"Ah, itu ayah..." Aku sangat yakin dengan penglihatanku, dan sosok yang selalu berdiri di sebelah kakekku adalah ayahku, sosok yang kuduga sudah tewas.
"Kenapa dia tak menemuiku? Bukankah dia masih hidup?" Tanpa sadar, aku meremas remote televisi, tetapi karena fisikku yang melemah sedikit akibat pertarungan kemarin, membuat remote televisi tidak hancur kuremas.
Berbagai pertanyaan hadir di pikiranku saat melihat ayahku kemarin muncul di televisi, meskipun samar-samar, tetapi aku yakin kalau dia adalah ayahku, manusia yang bernama Joko Taru.
__ADS_1
"Apakah ia ingin menebus kekalahannya dengan ikut Raid itu?" Aku menunduk, sarapanku yang berupa sup kemarin malam mulai mendingin.
Entahlah, jika aku sudah kuat, aku ingin menemui ayahku dan menanyai semua padanya, langsung padanya!