
Pagi-pagi...
Langit masih gelap, tetapi pria tua yang menampungku dan kakekku mengatakan kalau jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi.
Kalau mendung sih akan kumaklumi, tetapi langit gelap pagi ini sudah seperti malam saja!
Terlebih kakekku tidak ada disaat seperti ini, membuatku takut jika terjadi sesuatu yang tidak kuinginkan pada kakekku itu.
Meskipun dia adalah Hunter rank S yang menyetarai Hunter rank SS, tetap saja ia yang sekarang adalah seorang kakek tua yang sudah mencapai puncak usianya, bisa jadi ia kalah di hadapan para Monster.
"Anak kecil, dimana kakekmu? Sedari tadi pagi ia sudah tak terlihat..." Pria tua itu bertanya sesuatu yang tak kuketahui jawabannya, jadi aku hanya menggelengkan kepala tanda tidak tahu.
Tak lama, pintu diketuk dan saat pria tua itu membuka pintu, seorang pria tua lainnya muncul dan mengatakan bahwa ada Monster yang menyerang.
Aku terkejut dan merasa sedikit ketakutan, disaat seperti ini kakekku seharusnya melindungi desa kecil ini, bukan berkeliling tidak jelas.
"Haish, hanya Green Grasshooper biasa yang senilai lima juta saja, aku akan mengurus mereka..." Seorang kakek tua lewat di belakang pria tua di depan pintu dan saat aku melihatnya, kakekku berjalan santai sambil menarik pedangnya, "Kalian semua, diam di rumah masing-masing!"
Kakekku berteriak keras dan suaranya menggelegar di seluruh desa, hingga maling sandal yang sedang menggosok giginya sekalipun memilih pulang daripada harus berurusan dengan Monster yang tak bisa dilawan dengan mudah.
Aku berlari keluar dan melihat kakekku yang sedang berjalan santai, dengan pedang yang sudah bercahaya merah terang dan ia berjalan menuju barisan belalang besar yang sedang merusuh.
"Aku sarankan kalian jangan merusuh!" Seru kakekku sekali lagi dan belalang-belalang itu terdiam seketika, "Nah begitu baru belalang yang baik hati."
Salah satunya yang berukuran lebih besar berjalan maju dan tak lama, ia berlari cepat menuju kakekku yang sedang berdiri santai.
"Sepertinya hargamu adalah enam juta rupiah, lumayan
untuk membeli nasi goreng selama sebulan." Kakekku memasang posisinya, "Membelah Gunung!"
Kakekku mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan saat belalang itu hampir menyerang dirinya, kakekku mengayunkannya ke bawah dan memotong capit belalang itu.
"Ah, salah tebas..." Kakekku melompat ke samping dan mengangkat pedangnya lagi, "Tebasan Memotong Karang!"
__ADS_1
Kakekku mengayunkannya ke bawah dan memotong kepala belalang dengan mudah, dan ia melompat mundur lagi, "Ada lagi yang maju?"
Belalang-belalang lainnya berjalan mundur, sebelum sesosok belalang berukuran besar muncul dan ia berteriak selayaknya manusia, "Hohoho, tak kukira kalau Bintang Langit masih ada di desa ini!"
Mataku, pria tua yang memberiku tempat tinggal, dan pria tua satunya lagi seketika melebar saat mendengar suara belalang besar itu.
"Cepat-cepat, masuk!" Pria tua yang tadinya di luar langsung menarikku dan masuk ke dalam, lalu pintu ditutup rapat-rapat, bahkan ia menarik kursi dan meletakkannya di depan pintu.
"Kakek!" Aku tak terima seperti itu, aku langsung berlari ke jendela dan berniat kabur lewat sana, tetapi pria tua yang tadi menarikku masuk menghentikanku dengan menarikku lagi.
"Apa kau sudah gila?! Monster itu memiliki kekuatan yang setara dengan Hunter rank S, bahkan bisa setara dengan Hunter rank SS! Kalaupun kau keluar, tidak akan membuat beban kakek Bintang berkurang!" Pria itu membentakku.
Aku terdiam sebelum air mataku menetes dan aku akhirnya menangis.
"Hish, begitu saja menangis, bagaimana caranya kau nanti akan melawan Monster..."
Suara mengejek terdengar dan aku yakin kalau dua pria tua yang bersamaku tidak berkata begitu.
Kedua pria itu saling lirik sebelum salah satunya mengangkatku dan meletakkan diriku di atas sebuah kursi dan berkata, "Tenang saja, kami yakin kalau kakek Bintang bisa menghadapinya, jadi kau juga harus percaya padanya. Dia kakekmu, kan?"
***
Bintang tersenyum lebar dan menghunuskan pedangnya, "Jadi, apa maumu? Sudah kemarin mencoba menyerang, sekarang kembali menyerang, apa maumu?"
"Disini terdapat kunci yang bisa dipakai untuk meningkatkan kekuatan, aku mengincarnya." Jawab Grasshooper Lord dan ia melesat maju dengan kecepatan tinggi, dan semua bawahannya memilih bergerak mundur.
Bintang memejamkan matanya dan berseru, "Tarian Pedang Api!"
Pedangnya bercahaya terang sebelum ia melompat dan bergerak cepat melepaskan tebasan yang memotong capit Grasshooper Lord. Setelah berhasil memotong capitnya, Bintang melompat mundur.
"Wah, sepertinya penglihatanku semalam salah, deh..." Grasshooper Lord berkata sambil mengangkat satu capitnya yang tersisa, "Meski sang Wadah sudah tua, kekuatannya masih seperti sebelumnya. Aku akan serius..."
"Ya, berusahalah agar serius!" seru Bintang dan ia melompat mundur karena Grasshooper Lord menyerang ke depan dengan capitnya.
__ADS_1
"Apakah kau kesulitan?" Tanya Grasshooper Lord tiba-tiba, "Pasti karena kau bertarung sambil melindungi penduduk desa ini, kan?"
Bintang menghunuskan pedangnya dan bertanya, "Hargamu adalah dua ratus juta, sementara Ant Lord seharga dua ratus lima puluh juta, apakah kau lebih lemah darinya?"
Tak lama, Bintang merasakan sesuatu dan ia langsung menyipitkan matanya, "Dia benar-benar serius!"
Grasshooper Lord bergerak maju dan menyerang ke depan, tetapi capitnya tak mengenai Bintang karena dia melompat ke belakang.
Bintang melompat ke depan setelah capit raksasa itu tak mengenainya kemudian berlari di atas capit besar itu dan ia berhenti di depan wajah Grasshooper Lord, "Tusukan Menembus Langit!"
Ia mengangkat pedangnya dan menusuk mata Grasshooper Lord kemudian menarik pedangnya lagi dengan kasar dan melompat ke depan. Capit besar itu menepuk wajah Grasshooper Lord dan Bintang berlari ke belakang Grasshooper Lord.
"Apakah kau tak bisa menangkap sang Wadah karena tubuhmu yang kebesaran?!" Tanya Bintang, "Rasanya kau tidak seperti Grasshooper Lord!"
Seketika, tubuh Grasshooper Lord bergetar dan saat itulah, Bintang melompat ke samping dengan cepat dan Grasshooper Lord bergerak cepat, menyerang Bintang yang belum mendarat.
Karena di udara, manusia seharusnya tak bisa menghindar, menahan serangan, ataupun bergerak leluasa, tetapi yang dilawan Grasshooper Lord adalah Bintang Langit yang merupakan Wadah dari Fire Bird Lord, Lord terkuat kedua di dunia lain, jadi Bintang memiliki beberapa cara untuk menahan serangan Grasshooper Lord.
Bintang mengangkat pedangnya dan menahan capit itu, tetapi ia tak mampu menahannya dan terpental ke sebuah pohon di dekat sana.
Ia mengendalikan dirinya dan berpijak di pohon itu kemudian melesat cepat dengan bantuan pohon itu yang melengkung sedikit. Sederhananya, dengan prinsip ketapel...
Bintang berputar di udara dan berseru, "Mengangkat Samudra!"
Ia bergerak cepat dan menebaskan pedangnya dari bawah saat ia sudah dekat dengan wajah Grasshooper dan membelah dagunya, sebelum ia mendarat dan berlari menjauh.
"Akh!"
Bintang berlari menjauh dan ia berhenti di tempatnya tadi berdiri, "Bagaimana?!"
Grasshooper Lord berbalik dan berkata Lantang, "Aku akan kembali, tak lama lagi!"
Ia menciptakan sebuah portal dan masuk ke dalamnya, bersama pasukannya dan menghilang.
__ADS_1
Melihatnya pergi, Bintang menyarungkan pedangnya lagi dan menghembuskan napasnya tenang, "Sudah lama aku tak memakai Aliran Pedang Bumi..."
Op amat nih kakek-kakek, wajarlah, karena aslinya ane gk bisa ngebuat nih kakek-kakek mati gitu aja, karena dia punya misi di masa depan, jadi ane masih belum bisa ngematiin nih kakek-kakek seezzy gitu...