
"Itu dia..." Mark menarik senapannya, "Mungkin aku akan turun tangan mulai sekarang..."
Mark Wei adalah Hunter rank SS dengan tipe Assassin Marksman, yang mampu bergerak cepat dengan senapan di tangannya. Pergerakannya juga cukup senyap, sehingga ia bisa disebut Assassin meskipun dia sebenarnya adalah Marksman.
Ia mengisi senapannya dengan sekotak peluru dan membidik ke depan, lalu melihat gerombolan monyet-monyet berukuran manusia dewasa mendekat.
"Ini saja..." Mark menurunkan senapannya dan mengeluarkan sebuah granat, "Pakai ini cukup..." Ia menarik tuasnya kemudian melemparnya ke depan dan jatuh di antara para monyet itu.
Setelah asap-asap sisa ledakannya menghilang sedikit demi sedikit, ia mengangkat senapannya ke atas dan berseru, "Pasukan, serang!"
Para Hunter di belakangnya berteriak dan bergerak maju sambil menarik senjata masing-masing dan mulai bertarung.
Sementara Mark, ia berdiri dengan posisi siaga, dengan di sebelahnya ada seorang wanita yang membawa senapan laras panjang.
"Pak Mark, apakah Monster saat ini anda hitung lemah?" Tanya wanita itu pada Mark.
Mark memejamkan matanya dan menjawab, "Tak ada Monster yang lemah, mereka kuat, hanya saja kitanya yang terlalu kuat."
Wanita itu adalah Jessica Celia, Sniper andalan RedWhite dan ia meminta ikut turun lagi dalam pertarungan, setelah sebelumnya ia membantu seorang Hunter rank S dari FreedomLight bertarung di gelombang keempat kemarin.
"Pak Mark, apakah anda tahu Sniper bernama Jenny Anderless?" tanya Jessica lagi.
Mark mengangguk, "Ya, wanita itu adalah Sniper terbaik di StarSam, mungkin dunia, karena hingga saat ini, rekor menghabisi tiga Monster dengan satu tembakan yang dilakukan olehnya tak ada yang bisa mematahkannya."
Jenny Anderless adalah Sniper terkuat di dunia, dan ia adalah pemegang rekor dunia sebagai satu-satunya Sniper yang mampu menghabisi tiga Monster dalam satu tembakan dan itu terjadi sekitar dua puluh lima tahun lalu, sebelum ia menjadi Hunter rank SS karena prestasinya itu.
"Kenapa kau menanyakannya? Apakah kau adalah salah satu penggemarnya?" Tanya Mark sambil membuka matanya dan menatap ke depan.
"Ya, aku adalah salah satu penggemarnya, karena aku adalah Sniper, tak mungkin aku tak tahu nama Jenny Anderless..." Jessica tersenyum lebar.
"Baik-baik, jika semuanya sudah selesai aku akan mengajakmu bertemu dengannya." Mark terkekeh kecil, "Sekalian, kau minta saja beberapa ilmunya..."
Keduanya tertawa kecil, sebelum jeritan terdengar dan membuat keduanya mengangkat senjata masing-masing kemudian memasang posisinya.
"Jess?"
__ADS_1
"Baik pak..."
Bagi Jessica, jika nama Jess sudah dipanggil, maka itulah saat baginya untuk langsung serius. Ia berjalan mundur, mengambil jarak dari Mark kemudian memasang posisinya.
Sementara Mark, ia menarik senapannya lagi kemudian berlari maju, dengan satu tangannya yang siap mengeluarkan granat lagi.
Jessica berjongkok sedikit dan mengarahkan senapan laras panjangnya ke depan kemudian membidik, dengan telunjuk tangan kanannya yang siap menarik pelatuk kapanpun jika ia melihat celah.
"Jessica, pertahankan posisimu disini, sementara aku akan maju membantu Mark..." seorang pria tua maju sambil menarik pedangnya, dan Jessica mengenalinya.
Pria tua itu adalah Vano si Ksatria Kilat yang disebut-sebut satu generasi dengan Bintang, dan ia memiliki rank S. Senjata api yang ia miliki adalah pedang dua sisi tajam yang bilahnya bisa berubah warna menjadi merah dan menjadi panas.
"Baik, kakek Vano..." jawab Jessica kemudian membidik ke depan, "Hati-hati, kek..."
"Oke..." Vano menghunuskan pedangnya dan berlari maju, menghampiri para Monster yang sedang bertarung melawan para Hunter.
Jessica menyipitkan matanya kemudian menarik pelatuknya dan menembakkan satu peluru yang menembus dahi satu Monster. Ia membidik lagi ke depan dan melepaskan tembakannya.
Dalam waktu singkat, kombinasi Mark, Vano, Jessica, dan para Hunter lainnya mampu membereskan para Monster, sebelum suara desis ular terdengar dari kejauhan.
Para Hunter bergerak mundur menjauhi tempat mereka sebelumnya, sementara Mark dan Vano bergerak mundur secara perlahan, sambil memastikan situasi.
"Pak Vano, bagaimana pendapatmu?" tanya Mark, "Apakah komandan pasukan atau Lord itu langsung?"
Vano memejamkan matanya, "Aku tak tahu, pengalamanku melawan Monster mulai menumpul seiring usiaku bertambah..."
Mark mengangguk paham, semakin tua seseorang maka ingatannya semakin memudar.
Mereka berdua berdiri menatap hampa ke depan, hingga beberapa saat kemudian, datanglah seekor ular yang memiliki tubuh yang sangat besar.
Vano dan Mark terkejut melihat kedatangan ular tersebut. Mereka langsung bersiap siaga saat ular tersebut mulai mendekati mereka.
"Mark, apa kau yakin bisa melawan ular itu hanya dengan menggunakan senapan dan granat?" tanya Vano.
Mark menggeleng ragu. "Sebenarnya aku agak ragu jika hanya kita berdua yang menghadapinya."
__ADS_1
Tak lama kemudian, Jessica datang dengan membawa senapan laras panjang.
"Bagaimana situasinya?" tanya Jessica.
"Seperti yang bisa kau lihat, di depan sana ada ular yang sangat besar." jawab Mark.
Jessica menatap ngeri ular tersebut. Lalu ia menatap Mark sembari bertanya "Bagaimana cara kita menghadapi ular tersebut? Apa kalian sudah memiliki rencana?"
"Sayangnya belum ada rencana apapun..." Vano mengelus dagunya sambil berpikir sejenak, "Apa mungkin kita harus bertanya pada Tom?" sambung Vano.
"Boleh..." lalu Mark mengeluarkan ponselnya, dan langsung menghubungi Tom.
C-140 Hercules...
Tom meletakkan ponselnya di atas meja dan menekan sebuah tombol, "Semuanya, ada panggilan dari Mark..."
Di layar ruang kendali, panggilan yang dilakukan oleh Mark muncul, dan Tom bertanya, "Bagaimana? Ada masalah?"
"Ah ya ada masalah. Kau bisa melihatnya lewat kamera." Jawab Mark.
Tom menekan satu tombol lagi dan layar tersebut menampilkan video yang terekam kamera pesawat. kemudian ia melihat satu persatu rekaman video itu.
Pandangannya berhenti di salah satu video, dan matanya melebar melihat potongan video itu.
"Kurasa kita harus menarik mundur pasukan untuk mengatur ulang strategi." ujar Bintang, "Monster itu bukan musuh yang bisa Mark hadapi sendirian." sambungnya.
Semua orang yang ada di ruangan itu mengangguk setuju dengan ucapan Bintang.
"Ukuran ular tersebut sangat sulit diperkirakan, mungkin perlu bantuan dari udara untuk bisa menghitungnya." kata Yuuki, "Bisa saja ukurannya melebihi lima puluh meter dan memiliki kekuatan melebihi Hunter rank SS sekalipun."
Bintang yang mendengarnya yakin pada ingatannya, kalau Monster itu adalah Serpent Lord, yang merupakan salah satu dari lima Lord terkuat dan salah satu bawahan yang paling dipercaya oleh Black Emperor.
"Kalau benar begitu, mungkin kita akan kesulitan dalam menghabisi ular itu meskipun kita semua bersatu melawannya." ucap Vigo.
Semuanya diam memikirkan ucapan Vigo, sebelum Mark berteriak "Aku tutup panggilannya! Aku akan kembali sebentar lagi!" dan panggilan pun berakhir.
__ADS_1
Tom melirik yang lainnya dan memberikan perintah dengan tegas, "Semuanya, persiapkan semua persenjataan kalian dan semua pertahanan pesawat! Kalian turun duluan, aku akan mengabari yang lainnya dan segera menyusul! Laksanakan secepatnya!"