Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
114. Seberapa yakin menjadi Hunter?


__ADS_3



Apakah Monster itu jahat?




Apakah keberadaan Monster layak dimusnahkan?




Apakah bagimu Gate akan mendatangkan kehancuran?




Apakah keberadaan Hunter bisa menghancurkan para Monster dan Gate?




Apa kau yakin pada kekuatanmu sendiri?




Apa kau mampu mempersembahkan nyawamu pada ras manusia?




Jika ya, lanjutkan dengan pertanyaan terakhir.


Jika tidak, letakkan kertas dan pulpenmu lalu pergi.




Seberapa yakin kau bisa bertahan di dunia Hunter yang keras ini?




Apa kau benar-benar serius ingin menjadi Hunter?

__ADS_1




Jika iya, tambahkan alasanmu di bawah.


Jika tidak, letakkan kertas dan pulpenmu lalu pergi.


Aku benar-benar memahami semuanya, dan aku merasa semua jawabannya adalah iya, tetapi ada satu pertanyaan yang jawabannya bagiku agak meragukan.


Apakah Monster itu jahat?


"Aku yakin ini pasti sebuah pertanyaan yang rumit bagimu." Zon berpendapat, "Ini seperti..."


Aku tahu ini amat rumit, jawabannya agak meragukan, mungkinkah...


"Mempertanyakan kemanusiaanku?" gumamku, dan Zon terdengar menyetujuinya.


"Ya, aku masih mengingat moto khas IHO, kau tahu kan?" tanya Zon, dan aku angguk-angguk saja.


Moto khas IHO adalah Hunter for Freedom of Humanity, yang jika diartikan ke bahasa Indonesia oleh kakekku artinya Hunter untuk Kebebasan Umat Manusia.


"Aku memahaminya..." aku mengangguk lagi, "Para Hunter rata-rata memiliki ambisi mempersembahkan kebebasan bagi umat manusia, dan cara untuk menghadapinya adalah dengan menghabisi Monster."


"Dengan menganggap Monster itu jahat, maka lebih mudah untuk membunuhnya." tambah Zon, dan aku setuju dengannya.


Masalahnya, aku tak menganggap hal itu benar sepenuhnya, hanya separuh saja. Aku berpendapat kalau tak semua Monster berambisi menghancurkan umat manusia, ada yang ingin membantu manusia melawan Monster. Aku tahu itu dari perkataan Flame Emperor dan Void Emperor sekitar empat tahun lalu, setahun setelah Raid Islandia.


Aku masih ingat jelas perkataan Void Emperor tentang misi mereka membantu manusia melawan Black Emperor dan Ice Emperor.


Membuat Monster dan manusia hidup berdampingan? Itu amat sulit mengingat kelakuan dua pihak.


Monster menghancurkan berbagai kehidupan di bumi, dan manusia melawan dengan keras serta dengan berbagai cara, pastinya dua pihak tidak akan menerimanya.


Hanya akan ada satu pihak yang terus bertahan, dan pihak lain akan hancur oleh pihak yang bertahan, itulah yang kuyakini akan terjadi nanti.


"Apa yang harus kujawab?" aku menggaruk kepalaku, merasa bingung dengan pertanyaan ini.


Ya, meragukan, tidak, tidak tahu hal itu, apa yang akan kupilih?


"Aku tidak akan ikut campur..." ujar Zon dan suaranya tak terdengar lagi.


Aku memejamkan mataku, dan satu pilihan terlintas di pikiranku...


Meragukan, itulah pilihanku pada pertanyaan pertama, aku yakin tak semua Monster itu jahat.


Yang kedua, aku menjawabnya dengan meragukan, dan aku yakin dua pilihan ini akan membuat paman Frans mempertimbangkan keberadaanku di dunia Hunter.


Yang ketiga, aku menjawabnya dengan Ya, karena semua gate yang muncul kuketahui selalu membawa kehancuran, jadi aku menjawabnya dengan Ya.


Yang keempat, aku yakin para Hunter bisa menghapus keberadaan Monster dan gate yang berambisi menghancurkan umat manusia.


Yang kelima, aku jelas amat meyakini kekuatanku sendiri bisa menghabisi Monster, bahkan aku yakin suatu hari nanti aku bisa mengusir Monster kuat hanya dengan memberikan peringatan ringan yang diperkuat dengan skill pasif Raja Api.


Yang keenam, aku bersedia mempersembahkan jiwa dan ragaku demi membuat dunia yang baik demi manusia, dan juga demi Monster yang ingin kedamaian.

__ADS_1


Aku akan terus maju, tidak akan berhenti hanya karena halangan kecil di mataku ini, meskipun sekelas Ice Emperor dan Black Emperor menghadang, aku akan melawan mereka jika semuanya demi kedamaian.


Yang ketujuh, dengan kekuatan yang kudapatkan dari Flame Emperor dan berbagai ajaran dari kakekku, aku bisa bertahan di dunia Hunter yang kejam ini.


Yang kedelapan, aku serius dengan keinginanku menjadi Hunter, yaaa karena alasan keenam, aku akan memberikan kedamaian bagi dua pihak yang menginginkannya, kalau yang tidak mau tinggal kupenggal saja.


"Wah, mengerikan..." Zon bergidik mendengar pemikiranku, dan aku mengisi semua pertanyaan itu dengan semua jawaban yang sudah kupikirkan.


"Oke semuanya, tesnya sudah selesai, kertasnya dibawa kemari." Vina berdiri dari kursinya dan menepuk tangannya, terdengar seperti memanggil kami bertiga ke hadapannya.


Aku berdiri kemudian berjalan menuju Vina dan menyerahkan kertas-kertas tesku, sementara Andhika dan Rei mengikuti.


Setelah selesai menerima semuanya, Vina pergi dari ruangan dan Senja menjelaskan tes selanjutnya.


"Selanjutnya kalian akan bertarung lagi..." Senja melirikku, "Tapi tidak dengan Langit."


Ya, aku terlalu kuat untuk mereka hadapi, jadi itu adalah hal yang wajar untuk melarangku bertarung melawan Andhika atau Rei.


***


Yang akan mengetes kemampuan Andhika dan Rei adalah pak Vano yang sudah menunggu di ruang latihan.


"Katanya Vina, Andhika Hendrawan dan Rei Artawan mengikuti tes dan sekarang adalah tes fisik." ujar pak Vano, "Tesnya tak berupa pertarungan lagi, tapi lebih ke arah seberapa tahan kalian melakukan suatu hal dalam batas waktu tertentu."


Yaaa, tes fisik kurasa berupa olahraga ringan, tapi batasannya ditambah hingga lebih berat dari normalnya.


"Pertama kalian mengganti pakaian kalian menjadi pakaian ringan, yang tidak akan memberatkan gerakan kalian." pak Vano menatapku dengan sedikit keraguan, "Dan kurasa Langit Satria bisa mengikutinya..."


Tes fisik bukanlah hal yang kubenci, tapi hal yang cukup kusukai...


Aku melepas jas, kemejaku, dan celana panjang hitamku dan membawanya ke beberapa kursi yang ada di dekat tembok kemudian meletakkannya disana. Andhika dan Rei melepas pakaian mereka, hingga mereka hanya memakai celana pendek saja, aku juga begitu.


Dan tes fisik akan dimulai dengan aku, Andhika, dan Rei yang berdiri di tengah-tengah ruangan...


***


Aku menghembuskan napasku pelan, kemudian menariknya perlahan, dan menghembuskannya perlahan, begitu seterusnya hingga aku merasa bisa menghembuskan napasku lebih panjang lagi.


Meskipun sudah berjam-jam berlalu sejak tes fisik berakhir, aku masih tak bisa melupakan bentuk tes fisiknya, yang mana semuanya sudah sering kulakukan selama lima tahun terakhir ini.


Lari seratus meter, lompat tali selama setengah jam, push up seratus lima puluh kali, pengukuran kekuatan pukulan dengan sebuah mesin yang aku tidak tahu namanya apa, melompat setinggi-tingginya, mengangkat barbel seberat dua puluh kilogram, dan terakhir adalah menembak dengan pistol.


Jika aku mengatakan telah melakukan semua tes fisik dengan baik, maka tidak termasuk dengan tes menembak dengan pistol, yah, seperti yang kalian tahu, aku tidak bisa memakai pistol, dan peluru-pelurunya berkali-kali meleset dari sasaran. Bahkan Andhika yang ketakutan melawanku dalam adu pedang bisa menembak dua kali tepat sasaran. Rei? Dia lebih buruk dariku, ia sekalipun tak bisa memegang pistol yang merupakan senjata api jarak jauh paling ringan yang kuketahui.


"Pistol tidak cocok denganmu..." ujar Zon, "Kau tidak cocok dari jarak jauh, kau lebih cocok dengan jarak dekat jika melihat kemampuanmu sejauh ini."


Hari semakin larut ketika angin tiba-tiba berhembus lebih kencang. Seseorang berdiri di depanku.


"Aku ingin tahu apa kau benar-benar Langit..." Orang itu adalah Senja, dan dia berdiri di hadapanku.


Kenyataan bahwa aku memiliki kekuatan Monster pasti membuatnya tidak percaya, dan dia pasti mempertanyakan kemanusiaanku.


"Jika kau berpikir kalau aku tidak memiliki kemanusiaan, maka kau salah besar..." aku menyandarkan punggungku ke sandaran kursi.


Kulihat taman markas RedWhite sepi, hanya aku saja yang masih duduk di kursi, dengan Senja yang berdiri di depanku.

__ADS_1


"Jadi, apa kau kemari hanya mempertanyakan kemanusiaanku?" tanyaku, aku merasa Senja mendatangiku tak hanya untuk menanyakan itu saja.


__ADS_2