
"Aku akan ikut dalam Raid." ujarku, dan penjelasan ibu Esterosa seketika berhenti, wajahnya terlihat terkejut.
"Apa kau tahu konsekuensi dari kau berkata begitu?" ayahku mendekat, dan aku menatapnya, wajahnya benar-benar tak berubah, "Apa kau tahu?"
Ya, mengikuti Raid artinya menunjukkan kemampuanku ke seluruh dunia, bahkan Raid adalah sebuah ajang untuk para Hunter meningkatkan peringkat mereka, tapi sayangnya hanya yang kuat saja yang bisa bertahan.
"Mereka yang lemah akan tewas, mereka yang kuat akan dikenal sebagai Hunter rank S, begitu?" tanyaku, dan ayahku menepuk pundakku.
"Raid amat berbahaya, Hunter rank SS saja pastinya akan berpikir dua kali untuk mengikuti Raid, karena taruhannya adalah nyawa, apalagi Raid dunia seperti ini, yang musuhnya bukan Monster biasa, tapi pimpinan para Monster, para Emperor." ayahku menjelaskan, tapi sayangnya aku sudah bertekad bulat untuk ikut Raid.
"Entah apapun yang ayah katakan, aku tidak akan merubah keputusanku..." aku menatap ayahku serius, yah, Raid memang harus ditanggapi serius, "Aku adalah Hunter, terluka oleh mangsa tidak akan membuat pemangsa mundur begitu saja..."
Selain itu, ini adalah kesempatan bagiku untuk membalas dendam pada Ice Emperor karena sudah menusukku dan menendangku hingga terpisah dari teman-temanku. Aku harus menusukkan pedangku di tubuhnya setidaknya sekali saja sekarang...
"Baiklah, ayah akan memasukkan namamu ke dalam pasukan." ia melirik ke belakang, ke arah teman-temanku yang masih menyimak, "Bagaimana dengan kalian?"
Ada Carroline, Vina, Senja, Rei, Andhika, Lee Shin, Don, dan Carl, mereka saling lirik sebelum mereka serempak menjawab, "Aku ikut!"
Ayahku menggelengkan kepalanya dan ia berbalik keluar dari ruangan sambil berkata, "Kalau begitu, persiapkan diri kalian, ada jeda sampai besok pagi sebelum Raid benar-benar akan dilakukan." ia kemudian keluar dari ruangan, diikuti ibu Esterosa.
Ia hanya menatapku sebentar kemudian mengikuti ayahku, dan aku diam saja, aku tidak tahu apa yang dipikirkan ibu baruku itu.
Kalau kuperhatikan makin lama, ibu Esterosa makin mirip dengan ibuku yang sebenarnya, jadi aku menebak kalau ayahku menikahinya karena merasa ada sesuatu yang mirip dengan ibuku di dalam diri ibu Esterosa, tapi aku tidak tahu apanya yang mirip, penampilan atau sifatnya.
Setelah keduanya keluar, aku menatap teman-temanku dan berkata santai, "Yo, semuanya..."
Rei maju dan ia meletakkan tangannya di atas pundakku, "Apa kau benar-benar Langit yang kami kenal?
__ADS_1
Aku menaikkan alisku, apa maksudnya? Apa keneradaanku disini diragukan?
"Apa maksudmu? Jelas aku Langit Satria, siapa lagi yang kau pikirkan?" aku menaikkan alisku, "Apa aku memiliki keanehan yang membuat kalian tak yakin kalau aku adalah Langit Satria?"
"Ya, tatapanmu jelas lebih tajam dari biasanya, hembusan napasmu hampir tak ada bedanya dengan Hunter rank S, dan hawa yang kau pancarkan tak seperti biasanya..." Vina melipat tangannya, "Dan juga, kami meminta penjelasan kenapa kau pergi begitu saja tanpa menghiraukan panggilan kami?"
Ah iya, sepertinya aku lupa menjelaskan alasannya...
"Kalian harus tahu, aku harus menolong orang yang dikejar Monster raksasa itu, dan aku merasa tidak akan bisa melakukannya dengan kalian bersamaku..." aku memalingkan wajahku, "Aku berkata begini bukan berarti aku tidak yakin pada kemampuan kalian, tapi aku tak mau kalian kesulitan melawan Monster itu."
"Kau memiliki pengetahuan dunia lain, kau pastinya tahu Monster apa itu, jadi kurasa kau punya alasan lain..." Carroline berkata, "Bukan hanya karena Monster itu lebih kuat saja, kan?"
Aku mengangguk, aku harus mengakui kemampuan menyimpulkan ketua kelas 1-A ini, "Kau benar, Monster itu bukan Monster biasa, tapi Monster yang disebut Black Emperor, dijuluki Titan, dan dianggap rajanya Monster raksasa."
Semuanya mematung, dan aku yakin kebenaran ini sulit diterima, jadi aku melanjutkan, "Aku memang melawan Black Emperor, tak lupa juga kalau aku melawan raja es yang dipanggil Ice Emperor dan raja para naga yang dipanggil Dragon Emperor, bersama tiga Emperor."
Secara tidak langsung, aku mengatakan kalau aku memiliki kualitas menjadi Hunter rank SS hanya dengan satu kalimat itu.
Tapi aku tak ingin naik peringkat secepat itu, aku harus mengumpulkan pengalaman sebanyak-banyaknya, menjadi Hunter seperti kakekku yang memiliki banyak pengalaman melawan berbagai jenis Monster dan tahu banyak hal tentang dunia.
"Kau hanya rank A, usiamu juga amat muda, tidak mungkin kau diijinkan mengikuti Raid, tapi kalau dipikir-pikir lagi..." Lee Shin mengelus dagunya, ia terlihat lebih bisa menerima situasi, "Ada Hunter sepertimu juga yang pernah mengikuti Raid di usianya yang muda."
Yuuki Ken, ya?
"Aku akan memecahkan rekor menjadi Hunter rank S termuda di dunia setelah Raid selesai." aku mengepalkan tanganku dan aku menarik pedangku, "Gasnya habis..."
***
__ADS_1
Akademi di malam hari amat sepi, dan aku seharusnya tak boleh datang di tengah malam begini, tapi sembari mengisi waktu sebelum tidur, aku ingin berjalan-jalan sebentar.
Aku berhenti di depan ruangan yang bertuliskan Training Room, dan aku membuka pintunya kemudian masuk.
Ada orang yang sedang melakukan gerakan aneh dengan kedua tangannya yang memakai sarung tangan besi yang telah menyala, dan ia melakukan satu gerakan pamungkas berupa pukulan keras dan aku bisa mendengar suara pukulannya meskipun jarakku dengan jaraknya cukup jauh.
"Sekian!" ia berseru dan ia mengepalkan tangan kanannya, mengangkat tangan kirinya kemudian mengadu telapak tangan kirinya dengan kepalan tangan kanannya kemudian membungkuk sedikit.
Aku berjalan maju dan mungkin, ia bisa mendengar gerakanku jadi ia berbalik menghadapku kemudian memasang posisinya, "Siapa itu?!"
Aku mengangkat kedua tanganku ke atas dan berseru, "Langit!"
Ia menghadapku, dan aku mengenalinya sebagai Wei Zhifu, Hunter rank B dari BraveWarrior dan murid yang satu kelas denganku.
Ia diam, dan aku berlari menuju ke arah, berniat menyapanya.
Kukatakan, hubunganku dengannya tak terlalu dekat, malahan aku lebih sering ribut dengannya akhir-akhir ini, jadi aku ingin memperbaiki hubunganku dengannya.
"Sesama Hunter tak boleh saling mengarahkan pukulan begitu..." aku mengangkat tanganku, memintanya menurunkan tangannya, "Jadi, apa yang sedang kau lakukan?"
"Menjadi lebih kuat dari sebelumnya." ia menurunkan tangannya, dan saat kuperhatikan lagi, matanya amat tajam, dan saat ini mungkin adalah pertama kalinya aku melihat matanya amat serius, "Aku tak ingin ditolong lagi seperti tadi."
"Ditolong? Siapa yang menolongmu?" tanyaku.
"Kau. Kau membawa pedang dan maju dengan berani, sementara aku hanya kabur tanpa ada melawan sedikitpun Wei Zhifu mengepalkan tangannya, "Maafkan aku, aku telah membuatmu dalam bahaya."
"Hanya bahaya, aku lebih takut kalau aku tak bisa memberikan kebebasan pada dunia." aku menepuk pundaknya, "Jadi, apa kau mau bertarung melawanku?"
__ADS_1