
Aku melompat dan meraih tiang di atasku, kemudian mengangkat tubuhku hingga kepalaku melewati tiang itu, kemudian aku menurunkan tubuhku perlahan.
"Hitungan satu saja sudah bagus..." suara Yuuki terdengar, dan aku mengulangi langkah yang sama.
Pull up terasa lebih ringan setelah aku melakukannya setiap hari selama dua tahun ini, tidak hanya itu tubuhku juga terasa mulai melupakan sensasi menebas, digantikan dengan sensasi olahraga berat seperti angkat beban dan sebagainya.
"Angin sore ini terasa sejuk bukan? Berbeda dengan angin sore dua tahun lalu yang terasa amat pengap dan penuh dengan segala firasat aneh..." ujar Yuuki, dan aku melepas peganganku pada tiang pull up dan mendarat sempurna di atas tanah.
Taman terasa indah di sore hari, tempatku dan Yuuki berolahraga sedikit...
Sedikit saja...
"Lalu apa yang membuatmu datang kemari selain membujukku kembali ke militer?" tanyaku sambil meregangkan otot-otot tubuhku.
"Berlibur, dan mungkin membantu militer Indonesia." jawabnya dan ia melompat ke tiang pull up dan mengangkat tubuhnya hingga melewati tiang dan ia duduk di atas tiang, "Aku ingin bersantai dari urusan militer, sejenak saja, sama sepertimu."
"Apa kau tahu masa laluku?" tanya Yuuki sambil melompat turun dan mendarat mulus di atas tanah.
"Tentu aku tahu..."
Yuuki Ken tidak diketahui kapan lahirnya, yang diketahui hanyalah ia ditemukan di salah satu kota di Jepang saat ia masih kecil, sekitar berusia lima atau enam tahun, Yuuki juga tidak mengonfirmasinya. Sudah dari kecil ia menerima latihan Hunter yang keras dan di usianya yang menginjak enam belas tahun, ia menjadi Hunter rank S.
Namanya makin cerah sejak ia mengikuti Raid Islandia yang merenggut nyawa ratusan Hunter, dan mewarisi jabatan ketua organisasi Hunter EasternDragon di usia delapan belas tahun.
Di usia dua puluh dua tahun, ia dipromosikan menjadi Hunter rank SS, dan ia dijuluki Knight from Heaven oleh dunia...
Kontribusinya dalam Perang Dunia ketiga tidak berbeda dengan Hunter rank SS lainnya, ia mengerahkan seluruh kemampuannya di Jepang dan melindungi seisi negara itu hingga perang selesai.
Tak hanya itu, ia juga memimpin pasukan yang bertugas mencari mayat-mayat Hunter dan tentara yang gugur, dibantu dengan Al Sallah sang Hunter rank SS dari GodBless...
Saat ini, Yuuki memegang jabatan sebagai jenderal besar di Jepang, dihormati sebagai survivor Perang Dunia ketiga.
"Sudah yah, aku sudah mandi keringat, bisa-bisa aku masuk angin lagi..." Yuuki meraih jasnya dan memakainya, "Kau cepat pulang juga, aku balik duluan ya."
Yuuki berlari dan kulihat, gerakannya masih sama seperti sebelumnya, bahkan kulihat gerakannya makin cepat.
Aku menyelesaikan set push up kemudian memakai bajuku dan kembali ke rumah.
__ADS_1
***
Aku menatap pintu, lebih tepatnya ke pegangan pintu. Aku bisa merasakan sesuatu yang aneh, seperti diawasi...
Meskipun aku sudah tak bertarung lagi selama dua tahun, tetapi insting petarungku masih ada sampai sekarang,
"Banyak yang mengawasiku, mungkin juga seisi ibukota diawasi..." gumamku.
Aku harus hati-hati mulai sekarang...
Aku membuka pintu dan aku melihat Vina sedang membersihkan Pedang Api Hitam yang terpajang berdampingan dengan Mata Elang.
"Sudah sore, mau langsung mandi?" tanya Vina, dan aku mendekatinya, tidak, mungkin aku mendekati pedangku sendiri...
"Nanti saja..." aku mengangkat Pedang Api Hitam, "Siapkan dirimu, kita berpatroli di luar."
Aku membawanya ke kamarku, kemudian aku membuka lemariku dan mengeluarkan jas hitam yang biasa kupakai dan armor tipis dari lemari.
"Waktunya mandi kilat..."
***
Aku mengeluarkan Pedang Api Hitam dari sarungnya dan membersihkannya sedikit, tak ada debu, tapi aku yakin kalau salah sedikit perawatannya, maka kualitas pedangnya akan menurun jauh.
Terlebih mekanik senjata api sudah tak ada lagi di dunia, mau tak mau aku sendiri yang harus mengerjakan segala hal yang berbau perawatan senjata api.
"Apa yang kau rasakan sebenarnya, Langit?" tanya Vina tiba-tiba, "Apa kau merasakan sensasi diawasi?"
"Kau juga merasakannya?" aku menatap Vina yang juga menatapku, "Kukira hanya aku saja yang merasakannya..."
"Sensasi saat pulang dari supermarket berbeda jauh dari biasanya, seperti diawasi terus, sebab itulah aku memilih berdiam di rumah sambil terus dekat-dekat dengan senjata kita." jawabnya.
Aku tidak heran Vina bisa merasakannya, ia dulu adalah mantan gerilyawan terbaik saat masa-masa invasi Monster, dan ia pintar dalam membaca situasi sekitarnya, apa yang akan terjadi, apa yang sudah terjadi, dan apa yang sedang terjadi saat ini...
Jika insting para Hunter masih ada setelah dua tahun berlalu, seharusnya Yuuki juga merasakannya...
DOR!
__ADS_1
DOR!
DUAKKH!
"Masuk! Bunuh semua yang ada di dalam sini!"
Aku melompat dari sofa dan menarik pedangku, suara klik terdengar dan mata Vina terlihat menyala sedikit.
Suasana kamar Vina yang gelap membuat jarak pandang orang biasa akan menurun jauh, tetapi berbeda dengan kami yang sudah dari tadi sore tak menyalakan lampu, dan sekarang sudah jam sepuluh malam, yang artinya mata kami sudah terbiasa dengan kegelapan sekitar. Segala aktivitas seperti makan kami lakukan dengan gelap, sebab itulah mata kami cepat beradaptasi dengan gelap.
Selain itu, saat masa invasi Monster, kami sudah sering bergerak saat malam hari, jadi itulah sebabnya mata kami terbiasa dengan gelap.
Vina berdiri belakang pintu, sementara aku berjalan perlahan mendekatinya, "Vina, kuharap kau bisa menjaga punggungku selagi aku menjaga punggungmu."
"Siap, ketua."
Vina bergerak ke belakangku, dan aku merasa punggungku ditempel, kemudian aku maju perlahan dan membuka pintu perlahan.
Aku bisa melihat cahaya samar-samar dari ruangan lain, dan aku menepuk pinggang Vina dan berbisik, "Bergerak lebih cepat..."
Langkahku makin cepat keluar dari kamar, dan aku melihat beberapa orang dengan senapan bersenter sedang membongkar beberapa laci di ruang tamu dan ruang santai.
Suara piring jatuh terdengar, dan aku menyipitkan mataku, siapa mereka? Apakah mereka yang kurasakan mengawasiku setiap saat?
Aku ragu menyalakan pemanas di pedangku, aku perlu informasi dari mereka semua, jadi untuk sekarang aku tak bisa membunuh mereka...
"Dua senjata yang dimaksud disini hilang! Ada kemungkinan orang disini sudah kabur duluan!"
Aku menepuk pinggang Vina sekali lagi dan aku berbisik, "Sekarang kau ikuti aku!"
Aku mengalirkan Energi Gaib ke kedua kakiku, dan bergerak cepat ke cahaya-cahaya itu kemudian mengayunkan pedangku dan menebas dua orang yang ada paling dekat denganku.
Orang-orang yang tersisa, mereka langsung mengarahkan senter mereka kearahku, dan aku mengangkat pedangku dan menebaskannya ke bawah, angin kencang tercipta dari tebasanku.
Hanya satu yang kupikirkan...
"Apa kalian ******* yang akan menghancurkan ibukota?"
__ADS_1