Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
303. Pulau Dewata


__ADS_3

Bali, orang banyak menyebutnya dengan banyak panggilan, namun hanya beberapa saja yang masih diingat jelas oleh dunia internasional...


Pulai Dewata, serta Pulau seribu Pura, dan hidden paradise, julukan yang benar-benar cocok untuk alam Bali yang benar-benar asri.


Meski sudah berkali-kali aku datang ke Bali, aku benar-benar sulit percaya kalau alam Bali benar-benar masih asri dan masih hijau, meski pengaruh modern ada diantaranya...


Seni yang beragam juga masih eksis setelah Perang Dunia ketiga selesai, dan itu menunjukkan bahwa Bali mungkin menyimpan suatu rahasia yang masih belum aku ketahui sampai sekarang...


Keberadaan Andhika dan pasukan militer angkatan Laut saja rasanya sulit untuk mempertahankan keasrian Bali dari serangan para Monster...


***


Agustus 2335...


Konferensi militer internasional diadakan di Denpasar, dimana tepatnya? Katanya Andhika sih, nama tempatnya adalah Kuta, dan disana sudah dibangun beberapa infrastruktur sederhana untuk mendukung konferensi ini.


Bandara ramai oleh pesawat-pesawat militer, dan aku melihat beberapa pesawat lapis baja yang pernah berjaya di masa invasi Monster...


New Starprize, Great King, dan lain sebagainya, aku mengerti kalau konferensi ini sama pentingnya seperti rapat di PBB, sebab itulah penjagaannya amat ketat agar tak ada serangan apapun dari luar...


Dengan tambahan pasukan luar negeri yang berjaga di Bali, artinya Bali menjadi tempat paling aman di seluruh dunia yang sama sekali tidak akan terkena serangan apapun itu.


Seharusnya sih, tapi siapa yang tahu masa depan? Kali saja akan ada serangan dari dunia lain lagi seperti insiden Paris tiga ratus tahun lalu itu...


Aku kini berada di hotel yang sudah kami sediakan, dan kami mengambil hotel yang mewah. Kenapa? Tamu kami bukan tamu biasa, tapi petinggi militer dan kami ingin menyediakan pelayanan terbaik yang kami bisa.


Lima tahun sudah cukup untuk membangun infrastruktur yang diperlukan, yang sempat hancur selama perang dunia ketiga.


"Mandi sana! Masa jenderal tidak mandi?" Rei muncul dan melempar sebuah handuk dan mendarat di kepalaku.


Aku menariknya dan menatapnya, Rei sudah mandi di jam enam sore ini. Sebuah keajaiban ia bisa melakukannya...

__ADS_1


Rei yang kutahu selama tiga tahun bersamanya, ia jarang mandi dan ia selalu mandi belakangan dengan alasan bertugas patroli, jadi ia jarang diam di rumahnya.


"Omong-omong, Andhika tidak menginap di hotel?" tanyanya, dan aku menarik handukku kemudian melepasnya, mencambuk paha Rei dengan keras.


"Ey sialan! Sakit oi!" Rei meringis dan ia mengangkat tangannya, "Aku bertanya malah dijawab dengan cambukan kasar!"


"Ahahaha!" aku berdiri dan menghindari gerakan Rei yang berniat menangkapku kemudian aku melompat masuk ke kamar mandi.


***


Agenda konferensi militer internasional hanya beberapa saja berdasarkan hasil diskusiku dengan William.


Hari pertama kami lalui dengan perkenalan serta penjabaran apa saja yang ingin dibahas, kemudian kami melanjutkan dengan berjalan-jalan di sekitar, seperti keliling Bali ataupun keliling perairan.


Hari kedua kami lalui dengan perjamuan, dengan hidangannya adalah hidangan terbaik dari masing-masing daerah di Indonesia. Juga kami berencana membahas tentang beberapa hal yang baru saja terjadi selama perjamuan itu.


Hari ketiga adalah puncaknya, dimana kami membahas semua yang menjadi inti dari konferensi ini...


Dan hari ini adalah hari pertama, aku masuk ke ruangan, dan kulihat ruang pertemuan terasa sepi...


Tapi aku melihat beberapa orang dengan pakaian militernya yang berhiaskan bintang-bintang berwarna-warni, membuatku benar-benar yakin kalau saat ini aku berada di hadapan para jenderal besar dari seluruh dunia...


Mereka semua menatapku dan aku menaikkan bahuku kemudian berjalan ke tempatku seharusnya duduk, dan aku merasakan Andhika berdiri di belakangku dengan posisi tegap.


Aku duduk dan melihat beberapa wajah yang kukenal, sisanya tak kukenal sedikitpun...


Ada Yuuki yang datang sebagai jenderal besar militer Jepang, ada William Vunion yang datang sebagai jenderal besar militer Inggris, Al sebagai jenderal besar militer Arab Saudi, dan terakhir adalah Marie sebagai jenderal besar militer Australia.


Aku juga melihat Guerrero Tarto si jenderal besar Spanyol, Tanaka Ginyu yang mengawal Yuuki, dan Roberto Armstrin si jenderal besar Italia. Selebihnya tidak kukenal...


Wajah Guerrero dan Roberto berubah saat menatapku, dan aku jadi tahu kalau keduanya masih mengalami trauma karena melawanku tiga tahun lalu...

__ADS_1


Salah mereka juga, buat apa melawanku yang jelas-jelas pernah melawan Monster terkuat sepanjang sejarah invasi Monster? Mereka tetaplah orang bodoh yang haus akan uang...


"Ehem, kurasa semuanya sudah ada di ruangan, jadi kurasa aku akan membuka acaranya..." seseorang, yang kukenal sebagai Antonio Vassano, membuka pembicaraan. Semuanya kembali senyap dan fokus ke arah Antonio.


Antonio berdeham kemudian berkata lagi, "Selamat datang di Konferensi Militer Internasional. Disini aku berdiri sebagai perwakilan PBB untuk mengawasi jalannya konferensi ini. Perkenankan aku mengenalkan diri, namaku adalah Antonio Vassano, ketua PBB sekarang. Saya memberikan kesempatan untuk saudara semua untuk mengenalkan diri masing-masing..."


Semua orang mengenalkan diri, termasuk aku, dan setelah perkenalan yang aku tak hitung tapi aku yakin kalau jumlah orang yang hadir kurang dari seratus, perkenalan selesai.


"Kurasa semuanya sudah memperkenalkan diri, begitu? Selanjutnya sesuai agenda, kita akan menjabarkan apa saja yang akan dibahas selama konferensi."


"Penting bagi kita semua untuk memahami apa yang sebenarnya diperlukan oleh dunia sebenarnya. Kalian tahu apa yang sebenarnya dunia perlukan sekarang?"


"Mungkin uang?"


"Kita perlu fasilitas bagi semua orang untuk tinggal dan melanjutkan aktivitas?"


"Keamanan?"


Hanya sedikit pendapat yang diajukan, dan aku yakin kalau mereka belum memahaminya, maksud yang ingin disampaikan oleh Antonio.


"Aku rasa yang diperlukan dunia adalah orang-orang berpendidikan, begitu?" William mengangkat tangannya, dan aku diam.


Perkiraanku dan perkiraannya tidak berbeda jauh, aku berpikir dunia perlu sesuatu yang bisa membuat orang-orang memahami tentang sains dan segalanya yang diperlukan untuk membangun dunia, sederhananya adalah dunia perlu sains.


Sejauh aku memahaminya, memperbaiki dunia sekarang sama saja dengan membangun ulang dunia dari nol. Diperlukan pengetahuan luas untuk memahami setiap sisi dunia yang tak pernah kita dalami lagi-...


...


...


...

__ADS_1


Hawa berat ini... Musuh lagi?!


__ADS_2