
"TNI akan menyebarkan satu hal yang sudah lama kami persiapkan untuk kami umumkan..." Andhika merapikan dasinya, "Yaitu pengumuman kembalinya kau ke militer."
Aku memakai jas hitam andalanku dulu dan menyimpan pedang di balik jasku, "Yah..."
Pada akhirnya aku tetap dikeluarkan dari sekolah...
Ahahaha...
Setelah semua yang kulakukan di sana, sekolah tetap mengeluarkanku dengan alasan bisa membawa masalah bagi murid lainnya.
Serangan teror yang dimaksud sebenarnya belum hilang sepenuhnya, namun militer dan pejabat menganggap semuanya berlalu begitu saja.
Sayangnya aku tak menganggapnya begitu, Andhika dan beberapa perwira lain juga berpikir begitu.
Setelah jumpa pers untuk menyelesaikan pertanyaan dari dua tahun lalu yang belum kujawab, aku akan rapat dengan semua perwira yang ada...
"Omong-omong, tidak ada yang menyadari keberadaanmu di sekolah?" tanya Andhika dan kulihat ia memakai sepatu.
"Tidak ada, mereka bereaksi biasa saja setelah aku memperkenalkan diriku, jadi kurasa meraka tidak tahu namaku atau bahkan siapa aku sebenarnya." aku berdiri dan melirik beberapa perwira yang sedang bersiap-siap, "Begitulah..."
"Sampai aku mendapat pelajaran sejarah dan melihat kalau namaku sedikit disinggung di buku sejarah. Seolah menunjukkan bahwa aku jarang bertarung di baris depan, seolah aku bukanlah orang yang pernah berdiri di baris depan..."
Mungkin aku terkesan seperti menyombongkan diri, namun aku berkata dengan maksud lain...
Sejarah disembunyikan oleh orang-orang tinggi, nama orang paling berpengaruh di dunia sampai tak disebutkan, itu seperti menunjukkan bahwa mereka takut dengan potensi yang aku miliki.
Sayangnya mereka memilih lawan yang salah, militer satu dunia yang digabungkan sekalipun untuk menghabisiku, malahan akan kuhabisi balik, aku tidak bisa diremehkan begitu saja oleh orang-orang.
Aku akan meluruskan semua yang telah terjadi selama aku tertidur!
***
"Kami dari pihak TNI ingin menjelaskan beberapa hal, dimulai dari kasus seminggu lalu tentang serangan yang hampir menghancurkan ibukota." Andhika memulai jumpa pers, "Seharusnya kalian tahu kalau seminggu lalu, ada serangan teror ke ibukota, namun berhasil dipadamkan sepenuhnya oleh tentara."
__ADS_1
"Namun, ada beberapa hal yang disembunyikan militer seminggu lalu, tentang fakta bahwa bukan militer yang memadamkan serangan teror itu, melainkan seseorang."
Suasana seketika ribut, menandakan bahwa media merasa dibohongi oleh militer.
Yah, aku yang duduk di samping Andhika dengan masker hitam yang disarankan oleh seorang perwira yang memakai pin nama Budi, mengingatkanku pada kak Budi yang gugur dua tahun lalu.
Ia menjelaskan bahwa aku perlu memakai masker ini untuk kejutan. Kembalinya sang pahlawan nampaknya akan mengejutkan semua orang...
"Ya, orang itu juga yang menghentikan serangan teror ke SMA Harapan, meskipun ada satu siswa yang harus terluka karena terlambatnya tindakan militer."
Yah, aku tidak berharap banyak kalau kedatanganku akan mengejutkan orang-orang, mengingat aku sempat menghilang dari dunia cukup lama, sampai-sampai sejarah tak mengingatku...
"Aku tidak tahu bagaimana orang itu bisa menahan serangan ******* yang kami identifikasi sebagai serangan yang dilancarkan dengan senjata militer, dan kami menganggap bahwa militer juga ikut campur dalam serangan ini."
"Yang paling penting, siapa orang itu? Nampaknya kalian sangat bangga dengan prestasi orang itu seolah orang itu adalah orang terkenal..." satu wartawan mengangkat tangannya dan bertanya.
"Orang itu pernah berdiri di baris depan, bahkan ia pernah menerima gelar yang amat diimpikan oleh banyak orang di masa lampau..." jawab Andhika, "Jika kalian ingat dengan sang Cold Blooded Hunter, maka dia orangnya."
"Lalu, kemana Langit setelah menyelesaikan masalah teror itu?"
"Apa benar bahwa Langit kembali untuk mengurus militer?"
Berbagai pertanyaan dilontarkan wartawan dan Andhika mengangkat kedua tangannya, memberi isyarat agar semua wartawan diam.
"Aku akan menjawabnya dengan satu kalimat..." Andhika melirikku yang duduk di sampingnya, "Dalam satu kalimat..."
"Langit Satria memutuskan untuk kembali ke militer setelah serangan teror yang menyerang rumahnya dan sekolahnya dulu, dan kini ia sedang duduk bersamaku disini." Andhika menepuk pundakku, "Giliranmu..."
Aku berdiri dan meraih mic di depanku, "Yo pasukanku..."
Wartawan diam, tampak wajah mereka yang menunjukkan ekspresi terkejut bahkan saat aku baru mengeluarkan dua kata saja dan belum menunjukkan wajahku yang tertutupi masker.
"Oke, maaf sebelumnya jika aku berkata seperti ini..." aku melepas maskerku, "Kenapa namaku tidak ada di buku sejarah?"
__ADS_1
Wajah para wartawan makin terlihat terkejut, bahkan ada yang menurunkan kameranya dan menatapku cukup lama...
Yah, karirku sebagai Hunter selama tiga tahun memang singkat, namun wajahku sudah berkali-kali tampak di media, dan segalanya tentangku diketahui oleh orang-orang, bahkan suaraku dan segala tampilanku pasti sudah diketahui oleh orang-orang awam.
"Serius Langit?"
"Langit sudah sedewasa itu..."
"Suaranya berubah sedikit, namun suara enteng khas Langit tidak akan pernah aku lupakan..."
Aku merogoh kantong jasku dan mengeluarkan medali sembilan bintang yang biasa kubawa dulu, "Jika kalian tidak percaya..."
Suasana masih diam, dan satu wartawan mengangkat tangannya, "Pergi kemana selama ini?"
Aku menghela napasku, "Aku hanya bersekolah, tidak lebih."
"Yang paling penting..." aku menyimpan medaliku kemudian meletakkan pedangku di atas meja, "Aku yakin kalian pasti tidak percaya kalau aku yang menghabisi pimpinan musuh, dan meratakan serangan ******* di setiap tempat."
"Namun, aku yang sekarang bukan orang yang bisa dihabisi begitu saja." aku menyentuh sarung pedangku, "Indonesia tidak akan berada dalam bahaya lagi, aku juga akan menyelesaikan segala hal yang tidak lurus selama aku tak ada disini."
"Ada lagi?" tanyaku. Jawabanku tadi kurasa cukup menjawab banyak pertanyaan dua tahun lalu.
Para wartawan mencatat sesuatu, dan kulihat satu wartawan mengangkat tangannya, "Apakah anda berniat melakukan sesuatu dengan jajaran atas?"
Ya...
Aku merasa perlu melakukan sesuatu dengan jajaran atas seperti menteri dan pejabat lain, ada hal yang tidak beres dengan apa yang biasa kudengar di berita.
"Ya, namun tidak sekarang..." aku duduk lagi, "Dan aku berniat menyelesaikan sesuatu tentang kedamaian di bumi..."
"Apa itu?" wartawan itu menaikkan alisnya, "Apakah anda berniat menghadapi Monster lagi?"
"Jawabanku, tidak." aku meletakkan kedua tanganku di atas meja, "Karena lawanku kali ini bukan Monster, tetapi manusia sepertiku..."
__ADS_1
Seketika, suasana di depan markas militer sepi, bahkan aku melirik Andhika yang juga menatapku dengan tatapan tidak percaya...
"Ya, aku akan membantai siapapun yang berniat menghancurkan kedamaian yang sudah kubuat sebelumnya..."