Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
302. Posisi yang tidak diharapkan


__ADS_3

Aku sulit mengingat apa yang kubaca tadi! Bahkan sumpah yang kuingat hanya sedikit, bahwa aku disumpah untuk setia pada Indonesia dan tidak akan pernah melawan perintah apapun yang diberikan atasan.


Serta satu lagi, aku juga diberikan sesuatu yang panjang seperti tongkat yang ujungnya bulat, entah apa fungsinya, apa untuk memukul orang? Entahlah, namun aku merasa kalau tongkat ini pernah dipegang oleh orang-orang hebat...


Aku berdiri di hadapan Andhika, dan ia terlihat menahan tawanya...


"Apa yang kau tertawakan? Kau sedang menertawakan atasanmu loh..." aku mengetukkan pelan tongkat yang kupegang ke lantai, "Kalau saja aku tidak sabaran, kau sudah pasti kuusir dari ruangan ini."


"Dih, sombong amat..." Andhika berdeham, "Bawahanmu ada tiga kalau tidak salah..."


"Ada aku, Vina, dan satu lagi namanya Budi Antara. Aku kurang tahu alasan kenapa Rei dan Senja tidak dipilih, namun aku tidak bisa melawan juga karena ini adalah hasil keputusan pak Yudha langsung." ia menaikkan bahunya.


Oh ya, jenderal tiga angkatan, yaitu angkatan darat, laut, dan udara sudah dilantik bersamaan dengan pelantikan jenderal besar dan ketiganya berada di ruangan yang sama.


Vina sedang mengambil kue yang nampak sedap di mataku, sementara Senja sedang berdiri di pojokan bersama Rei dan istrinya.


Selain para jenderal, juga dilakukan pelantikan beberapa perwira lain, namun tak banyak yang aku kenal... Yaaa, aku terhitung baru dan aku masih belum banyak menghapal nama-nama perwira yang ada di militer.


Kebanyakan perwira dipencarkan ke banyak daerah, itulah sebabnya aku jarang melihat mereka. Terlebih lagi aku jarang keluar dari rumah, jadi makin buruklah urusanku soal mengetahui nama-nama perwira beserta bentukan wajah mereka.


Dari yang kuperhatikan sejauh ini, kondisi masih aman dan semakin dekat dengan konferensi militer internasional dimulai, pergerakan teror mulai menghilang sedikit demi sedikit.


Bagaimana aku tahu? Tentunya lewat para Emperor yang kusebar ke seluruh dunia dan mereka terhubung langsung denganku.


"Tidak ambil kue? Enak loh..." Rei muncul dan menyodorkan satu piring yang penuh dengan kue-kue kecil, "Rasanya enak, tapi sayangnya ukurannya kecil."


Yaaaa, namanya juga acara resmi, beda dengan acara pribadi yang porsinya bisa diatur sendiri. Acara resmi kebanyakan menyediakan hidangan kecil serta mudah diterima banyak orang.


Kenapa bisa begitu? Dari pengamatanku, hidangan kecil disediakan agar orang-orang mudah mengambilnya dan mudah menyantapnya, jadi ruangan tidak akan penuh oleh kursi-kursi dan meja untuk para tamu makan.


Selain itu, hidangan kecil juga mudah dibuat dalam jumlah banyak, jadi memang wajar ditujukan bagi para tamu yang jumlahnya banyak dan sulit diprediksi.


"Lalu apa itu bisa dijadikan alasan mengambil dua piring penuh? Rasanya kau tidak sopan di hadapan orang-orang banyak..." Andhika menepuk dahinya.

__ADS_1


"Efek lima tahun tidak makan apapun yang manis." Rei menjawab sambil memasukkan dua kue, "Apalagi ini gratis, siapa yang tidak mau makanan gratis?"


Ia meletakkan piringnya dan memasukkan beberapa kue berbungkus ke dalam kantong-kantong pakaiannya, dan aku dengan Andhika hanya bisa menghela napas saja...


***


"Jadi, bagaimana perkembangannya?" aku menatap bangunan setengah jadi di depanku.


Baru beberapa pilar serta beberapa dinding yang sudah jadi, dan menurut kontraktor yang mengurusnya, tersisa detail dan tahap merapikan sekitar yang belum dilakukan.


Konferensi akan diadakan sekiranya dua bulan lagi, di bulan Agustus, dan aku harus memastikan semua persiapannya selesai tepat waktu.


Tugas pertamaku sebagai jenderal besar TNI adalah mengawasi jalannya persiapan konferensi, dan sejauh inii, aku berhasil melakukannya.


Bali benar-benar dijaga ketat...


Orang-orang kuat berada di pulau Dewata ini dan mereka kebanyakan orang-orang yang aku kenal...


Ada Yuuki yang ikut membantu, Al yang menyediakan beberapa bantuan persenjataan, dan Marie yang masih rajin mengawasi wilayah perairan.


"Ada beberapa yang kurang, tapi aku sudah mengatasinya." orang yang kutanyai menjawab, "Dan anda bisa mengurus hal lainnya, serahkan masalah infrastruktur padaku."


Budi Antara, selain jenderal angkatan darat, ia juga seorang tentara yang paham soal bangunan dan segalanya yang berbau membangun. Jadi ia kutugaskan mengurusnya, dan kudengar ia membawa banyak kontraktor untuk membantunya.


Yaah, menyerahkan urusan itu pada Budi bukan hal buruk juga...


Sekarang waktunya mengunjungi Andhika...


DRRRTT!


Aku merogoh kantong celanaku dan mengeluarkan ponselku yang baru bergetar.


"Vina lagi..." aku menghela napasku dan mengangkatnya, "Halo..."

__ADS_1


"Pak presiden Yudha ingin mengatakan sesuatu. Datang secepatnya." ujarnya dan panggilan ditutup.


Vina memang tak pernah berbicara panjang lebar lagi lewat telepon, namun ia akan banyak bicara kalau sudah berbicara tatap muka. Yap, itulah yang berubah selama lima tahun ini...


"Aku kembali dulu..." aku menepuk pundak Budi, dan ia melambaikan tangannya kemudian ia pergi, begitu pula denganku.


***


"Emm, aku hanya ingin mengatakan satu hal..." pak Yudha berdeham sebelum melanjutkan lagi, "Ambillah jabatan menteri pertahanan yang kutawarkan itu."


"Sekali tidak ya tidak." aku memejamkan mataku sambil melipat kedua tanganku, "Aku belum siap-..."


"Tapi ini adalah tugas yang juga harus kau ambil."


"Dari pandanganku, kau mampu menggerakkan banyak orang untuk melakukan bela negara, bahkan jumlah teror yang kita terima berkurang drastis sejak kau kembali ke militer. Itulah alasan kenapa aku menunjukmu sebagai menteri pertahanan."


Jabatan menteri bukan jabatan sepele, akan banyak pekerjaan yang datang kepadaku dan hasilnya? Aku akan kehilangan kemampuan bertarungku sedikit demi sedikit hingga akhirnya aku lupa caranya bertarung.


Selain itu, jabatan menteri juga memungkinkan kalau aku akan dikawal kemanapun aku pergi. Itu juga menambah alasan aku tak mau menerimanya, karena aku tipe orang yang lebih memilih bertarung langsung ketimbang dilindungi dulu.


"Kau bisa memilih Rei atau Vina, aku merekomendasikan mereka karena kinerja baik mereka selama ini yang kurasa juga sama baiknya seperti kinerjaku." aku berkata, "Dan juga, jabatan menteri pertahanan tidak arus berasal dari militer, kan?"


"Apa aku bisa mempercayai salah satu dari keduanya?" ia bertanya, dan aku bisa merasakannya...


Hawa kepercayaan pak Yudha terhadap perwira lain amat rendah, dan nampaknya ia hanya mempercayaiku seorang...


Mau bagaimana lagi, kurasa hanya satu caranya...


"Aku akan menerimanya." jawabku, "Asal satu syaratnya, aku tak mau jabatan jenderal besar ditarik dari tanganku."


"Kenapa?"


"Karena aku perlu jabatan itu untuk mengurus militer, ada kemungkinan kudeta dari pihak militer." ujarku, "Untuk saat ini aku akan menugaskan satu perwira terbaikku untuk menjagamu dari ancaman, kupastikan dia tidak akan membiarkanmu terluka satu sentimeter pun..."

__ADS_1


Cukup basa-basinya, sudah waktunya masuk ke konflik lagi...


__ADS_2