
Markas IronBlast berada di tepi kota London, dan luasnya bukan main, setara dengan luas markas RedWhite!
Untungnya, berkat bantuan seorang pengemudi taksi yang ada di bandara, aku bisa sampai di markas IronBlast tanpa harus tersesat di kita London yang jalan-jalannya banyak persimpangan, dan kuperhatikan lewat peta yang ada di taksi, peta kota London cukup sulit dihapal dengan banyaknya restoran, cafe, apartemen, dan jalan-jalan berliku.
Di markas IronBlast, penjaga menyapaku dengan sapaan ramah, dan itu membuatku sedikit lega.
Di akademi, tidak ada satupun kakak kelasku yang bersikap ramah padaku, hanya murid-murid dari kelas 1 saja yang menghormatiku, bahkan katanya Lee Shin, aku punya grup penggemar yang berisi murid-murid perempuan yang amat menghormatiku layaknya artis terkenal...
Hei, apa maksudnya?! Aku bukan orang terkenal! Aku hanya Hunter rank A yang beruntung mendapat kesempatan bertarung bersama para Hunter rank SS dan mendapat rank SS!
"Sir William sudah menunggu anda di ruangannya." jawab resepsionis saat aku menanyakan keberadaan William, "Ruangan beliau ada di lantai 2. Anda bisa meminta tolong pada Hunter lain untuk mengantarkan anda."
Aku mengangguk dan berjalan menuju ruangannya, yang katanya ada di lantai 2.
Sir, ya? Apakah itu adalah gelar kehormatan? Setahuku panggilan itu hanya Mr atau Miss, tapi ternyata ada Sir juga, ya? Nampaknya pengetahuanku tentang dunia terasa masih sempit...
Beberapa menit kemudian...
"Untungnya markas IronBlast menyediakan peta di beberapa bagiannya, jadi aku bisa sampai dengan cepat." aku menatap pintu di depanku, yang tak ada bedanya dengan pintu biasa, tapi pintu itu tertempel sebuah papan bertuliskan William Vunion.
"Punten..."
Tidak, bercanda kok... Mana mungkin aku meminta ijin pada orang luar negeri dengan panggilan begitu...
"Permisi, aku Langit Satria!" aku berteriak, dan tak lama pintu terbuka, dibuka oleh seorang pria dengan tubuh yang amat kekar berotot dan ja menatapku dengan tatapan... Mengantuk?
"Halo?" aku mengayunkan tanganku di depannya, dan ia menguap.
"Ah, oke, masuk..." ia pun berbalik dan berjalan menuju mejanya, dan aku mengikutinya.
Setelah ia duduk di kursinya, tatapannya yang awalnya mengantuk seketika kembali tajam, dan itu membuatku terkejut.
"Maaf aku menunjukkan sisi gelap dariku." ujar orang itu, "Kau seharusnya sudah mengenalku, namaku adalah William Vunion."
Oh, iya, aku lupa Sir William adalah orang dengan wajah mengantuk tadi...
"Kau meminta kemari atau disuruh Tom?" tanyanya.
__ADS_1
"Aku yang meminta kemari, dan Tom juga menyuruhku mengurus Gate ungu di Stonehenge." jawabku, dan William hanya mengangguk saja.
"Oh, oke deh, kau bisa tinggal bersama ibumu di rumahnya." ujarnya, ia kemudian melirik ke suatu arah, "Rosa, bawa Langit ke rumahmu."
Aku menaikkan alisku, aku mengikuti pandangan William dan... Amat mengejutkan, ibuku duduk di sofa tanpa kusadari sebelumnya!
Sial! Bahkan mendeteksi orang duduk saja aku tidak bisa! Kemampuanku masih tumpul!
"Oke, tenang saja..." ibuku berdiri kemudian berjalan mendekatiku, "Ayo, kubawa kau ke rumah."
***
Aku mengedipkan mataku sekali lagi, aku tidak bisa mempercayai pemandangan di depanku ini.
Sama sekali tidak bisa mempercayainya!
...
Kalian tahu apa itu? Rumah ibuku... Besar sekali!!!
"Masuk ey, apa kau mau diam disana sampai malam?" ibuku berjalan dengan santai, dan apa yang terjadi benar-benar sulit kupercaya dengan mudah.
Aku sempat berpikir kalau rumah ibuku hampir tidak ada bedanya dengan rumah pada umumnya, tapi, aku teringat akan sesuatu, tentang nama belakang ibuku...
Esquede adalah nama sebuah keluarga yang cukup berpengaruh di Prancis. Orang-orang dari keluarga ini sudah cukup sering muncul di berita-berita, sebagai Hunter yang amat hebat.
Aku mengetahuinya setelah membaca-baca arsip di IHO, dan dengan hak sebagai Hunter rank SS, aku bisa melakukannya kapanpun aku mau.
Aku masuk, dan dalamnya terasa amat kuno bagiku, semuanya tertata rapi terlihat antik dan terasa menyejukkan hatiku saat melihatnya.
Beberapa foto terpajang di dinding, dan aku mengangguk saja sambil melihatnya.
"Apa ibu tinggal disini sendirian?" tanyaku, dan ibuku menggeleng.
"Mana mungkin ibu bisa tinggal sendirian di rumah ini, ada beberapa Hunter rank B yang membantuku mengurus rumah ini, dan juga adikmu." jawabnya sambil berjalan menaiki tangga, "Kau diam saja disana, ibu akan membawa Alteron turun."
Ibuku naik, sementara aku melihat sekelilingku yang dipenuhi oleh barang-barang antik yang belum pernah kulihat sebelumnya.
__ADS_1
Tebakanku, rumah ini sudah berdiri cukup lama, dan banyak orang hebat yang pernah tinggal disini, termasuk ibuku.
Aku mendekati sebuah kotak kaca yang di dalamnya terdapat sebuah tombak yang terpajang, tapi aku ragu kalau itu tombak. Tombak itu memiliki bentuk yang berbeda dari yang kuketahui, aku bisa tahu itu mungkin tombak dari gagangnya yang panjang.
Sebuah kerucut berwarna hitam yang terpasang di sebuah tongkat yang panjang, dengan tombol di ujung lainnya, itulah yang bisa kugambarkan tentang senjata ini.
Aku meneliti kotak itu, aku berharap ada petunjuk tentang senjata aneh ini.
Bukan hanya itu, aku juga melihat pedang yang bilahnya lurus ramping, dan gagangnya lebih pendek dari yang kupakai biasanya.
"Benda itu namanya Lancer, tombak unik yang dulu biasa dipakai ksatria di Eropa dulu." kudengar suara ibuku, dan aku berbalik menatapnya.
Ia datang bersama anak kecil, yah, sekitar berumur enam tahun menurut perkiraanku, dan hei, apa maksudnya itu? Ia menatapku tajam, seperti dia melihat orang yang menyebalkan! Apa aku terlihat menyebalkan di matanya?!
"Alteron, dia adalah kakakmu, sapa dia..." ujar ibuku sambil berjongkok di sebelah anak kecil itu, "Ayo..." Ia kemudian mendorong anak kecil itu.
Aku menunduk, menatap anak kecil yang mendekatiku dengan tatapan yang amat tajam seperti ia menatap musuh saja...
"Hai, namaku Alteron de Esquede..." ia mengulurkan tangannya, dan aku ikut mengulurkan tanganku.
"Namaku Langit Satria..." ujarku, dan ia hanya ber - Ooo saja...
Sekian perkenalannya...
...
...
...
"Langit, apa kau sudah makan?" tanya ibuku setelah aku bersalaman dengan Alteron cukup lama.
Aku menggeleng dan berkata, "Belum, setelah mendarat di bandara aku langsung pergi ke markas, supaya tidak membuat Sir William menunggu lama."
"Oh, begitu ya? Baiklah, kita makan sekarang..." ujar ibuku kemudian menarik tangan Alteron dan berjalan pergi.
Aku menaikkan bahuku, dan saat melihat ibuku menggandeng tangan Alteron, aku seperti melihat ibuku yang menggandeng tangan kakakku.
__ADS_1
Ah, kapan terakhir aku memegang tangan ibuku?