Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
242. Setiba di Indonesia...


__ADS_3

Permasalahan di New Washington kuselesaikan dengan cepat, tujuh Hunter rank SS sudah kulantik dan kini kami berlima, yaitu aku, Rei, Andhika, Vina, dan Senja akhirnya kembali menginjakkan kaki kami di negeri tercinta, yaitu Indonesia...


Mungkin, kedatangan kami seharusnya dini hari, tapi karena suatu kesalahan dalam penerbangan, yaitu angin badai di samudra, pilot terpaksa mengambil jalan memutar dan waktu tempuh meningkat, dan jadilah kami sampai di Indonesia saat pagi hari.


Pagi hari, yaaa sekitar jam setengah tujuh pagi, beberapa tentara terlihat melintas di bandara, melakukan aktivitas mereka.


Aku melompat turun, kemudian berjalan meninggalkan pesawat, bersama teman-temanku.


Kami bergerak santai, sementara tak ada satupun tentara yang menyadari kedatangan ketua mereka yaitu aku sendiri.


"Hei, bukankah pagi adalah waktu yang tepat untuk mendarat di bandara?" tanya Senja, "Lihat? Kita tak dicegat-..."


"Itu pak Langit!"


"Petinggi organisasi RedWhite sudah kembali!"


"Pahlawan kebanggaan kita telah tiba!"


"Mana?!"


Senja tak berbicara lagi, sementara suara tepukan dahi terdengar selanjutnya.


"Tak ada waktu yang benar-benar aman bagi kita..." Rei yang berjalan di sebelahku menepuk pundakku, "Sekarang, tunjukkan pada mereka..."


"Apa yang harus ditunjukkan?" tanyaku, Rei ini mengusulkan sesuatu yang aneh-aneh...


"Tunjukkan kalau kau bisa mengatasi keramaian ini..." Rei memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong jaketnya, "Cepat..."


"Semangat, ketua kami pasti bisa!" Vina terdengar menyemangatiku, tapi aku tidak yakin lagi bisa melakukannya...


Rasanya, isi kepalaku hanyalah membunuh Emperor dan membunuh Emperor saja, tidak ada hal lain yang kuketahui...


"Jenderal bintang lima selanjutnya..." pak presiden Oka datang dengan pengawalan ketat militer, dan ia berhenti di depanku, "Indonesia benar-benar bangga pada api sepertimu."

__ADS_1


Aku mengerutkan keningku, "Apa maksud api yang baru saja anda katakan itu?"


"Ahahaha, sebenarnya sedikit rumit, lebih baik kau ikut aku ke istana negara, bersama empat Hunter rank SS baru kita..." ujar pak Oka kemudian melirik satu tentara, "Siapkan mobil ke istana negara!"


***


"Silahkan diminum kopinya, anggap saja sebagai sarapan pagi..." pak Oka duduk kemudian meminum kopinya, setelah itu ia meletakkan cangkirnya dan berkata, "Dinikmati juga makanan ringannya..."


Aku menggaruk kepalaku, sementara Rei dan Andhika sudah minum kopi ditemani biskuit dan roti seolah istana negara adalah rumah mereka sendiri. Kalau Vina dan Senja, mereka menikmati sarapannya dengan sopan.


"Baik, tak perlu banyak basa-basi lagi, apa yang ingin anda katakan?" tanyaku.


Api? Apakah pak Oka tahu sesuatu tentangku? Apakah rahasia Wadah dan Emperor yang memberikan kekuatannya pada manusia sudah diketahui olehnya?


"Sederhana saja..." pak Oka meletakkan selembar kertas kecil, "Jenderal Frans menitipkan ini padamu, dengan pesan kalau api bisa membacanya, contoh orang yang bisa membacanya adalah Jenderal Langit."


"Aku menerimanya dan mencoba membacanya, tetapi aku sama sekali tak bisa membaca satu huruf pun, dan menurut asistenku, huruf ini terlihat mirip seperti yang ditemukan di China." pak Oka menjelaskan, "Jadi, aku menganggap kalau kau mungkin tahu sesuatu tentang ini."


"Tentang api yang kusebutkan sebelumnya, aku menyambungkannya denganmu, karena kau bisa menciptakan api di pedangmu, mungkin saja kau bisa memanipulasi api, jadi api yang disebut Jenderal Frans adalah kau." tambah pak Oka, "Semuanya hanya kusambung-sambung tanpa mencoba menggali lebih dalam kenyataannya."


Vina mengambil kertas itu kemudian menyerahkannya padaku, "Tidakkah tulisan ini mirip seperti yang pernah ditunjukkan Carroline di laboratorium StarSam?"


Aku mengerutkan keningku, ah, coba kuingat dulu...


...


...


...


"Ini tulisan dunia lain." jawabku, dan aku lupa kalau ada pak Oka saat ini bersama kami.


"Oh, tulisan dunia lain, ya? Darimana kau tahu?" tanya pak Oka, dan aku langsung terpojokkan hanya dengan tiga kata saja

__ADS_1


"Emm, itu..." aku menggigit bibirku, bagaimana aku menjelaskannya?


Saat ini, ruang kerja pak Oka diawasi oleh setidaknya sepuluh sampai dua puluh kamera pengawas dari berbagai arah, bahkan bisa juga lebih dari tiga puluh kamera, semuanya mendengarkan semua yang kami katakan, bahkan candaan saja bisa diketahui oleh petugas di ruangan pengawas, aku tak bisa menjelaskannya disini.


"Bagaimana kalau kita berbicara di bunker saja? Disini ada bunker, kan?" tanyaku sambil melipat kertas itu dan memasukkannya ke kantong jasku, "Sebenarnya ini bersifat pribadi..."


"Kalau pribadi dan tak ingin diketahui oleh dunia, maka lebih baik kita bicara di tempat yang tertutup." pak Oka mengangguk.


Aku diam, aku mengatakan hal yang akan kukatakan adalah pribadi sebenarnya memaksanya untuk tidak bertanya lebih banyak, tapi itu malah membuatnya semakin penasaran.


"Kami ikut." Senja meletakkan gelasnya dan mengambil satu roti kemudian memasukkannya ke dalam kantongnya.


"Aku akan membuat pembicaraan ini menjadi rahasia diantara kita saja." Andhika menatapku serius, "Ini bukan hal yang bisa dibiarkan bocor keluar begitu saja."


"Kami akan memastikan kalian berdua dalam kondisi aman..." ujar Rei dan ia mengangkat kedua tangannya yang memakai sarung tangan besi.


"Bunker akan dijaga oleh kami berempat, jadi kalian bebas berbicara di dalam sana." ujar Vina, "Ayo bergerak."


Kami berdiri bersamaan, Andhika menyiapkan Keris Raja Singa, Vina mengangkat koper panjangnya, dan Senja mengangkat pedangnya yang sudah tersarung.


Kami pun bergerak ke bunker dengan cepat, tanpa ada satupun penjaga yang berani menghadang kami berenam.


***


Senja dan Andhika menutup kamera pengawas dengan kain, sementara Rei bergerak ke ruang pengawasan untuk menjelaskan yang terjadi, sementara Vina sudah siap di depan bunker dengan Mata Elangnya yang sudah dirakit sempurna.


Setelah selesai menutup kamera pengawas, Senja keluar dan Andhika tetap di dalam ruangan untuk menjaga pintu dari penyusup.


"Jadi pak Oka, saya akan menjawabnya dengan sejujurnya." aku meletakkan kertasnya di atas lantai, melepas kedua Cakar Ayam Api kemudian meletakkannya di atas lantai, dan aku berkata lagi, "Saya sebenarnya bukan manusia sepenuhnya, melainkan manusia dengan kekuatan Monster di dalam tubuh saya."


"Ingatan Monster mengalir di dalam pikiranku, sehingga aku bisa memahami bahasa Monster."


"Apa yang membuat saya bisa berdiri disini adalah karena kekuatan yang saya miliki."

__ADS_1


"Dan berkat ingatan dari Monster yang memberiku kekuatan, aku bisa membaca kertas ini sedikit." aku menunjuk ke kertas bertulisan aneh yang ada diantara aku dan pak Oka yang kini duduk di atas lantai.


"Kau selanjutnya, persiapkan dirimu..."


__ADS_2