
"Langit Satria, berhasil. Rei Artawan, gagal. Lee Shin, gagal. John Tarlon, gagal. Wei Zhifu, gagal. Senja Irawan, gagal..." ayahku membacakan satu persatu nama murid di kelas, dan semuanya gagal melawan Yuuki.
Yuuki duduk di satu kursi kosong di dekatku dan ia membersihkan Katananya dengan lap bersih, sambil menghela napasnya.
Aku tahu kalau tadi ia amat menikmati kegiatan Membantai para Hunter lemah, dan ekspresi wajah gilanya benar-benar membuatku sedikit bergetar melihatnya.
Ayahku menghela napasnya dan itu membuat seisi kelas semakin tegang, sebelum ia mulai berbicara, "Satu kelas gagal kecuali Langit Satria..."
"Tapi aku sudah memperkirakannya..." Yuuki menyarungkan Katananya dan suara desingan pedang yang disarungkan terdengar, "Dari latihan tadi, kalian bisa tahu kalau kalian masih takut."
Menghadapi musuh yang lebih kuat, itu pastinya membuat siapapun, bahkan Hunter terkuat akan takut melawannya, sebut saja Tom yang mengatakan ia masih belum berani melawan Emperor seorang diri.
"Sebulan ini, tujuan kalian melawan Yuuki adalah untuk menghilangkan rasa takut kalian pada musuh yang lebih kuat dari kalian." ayahku mengangkat kepalan tangannya, "Jika sebulan ini kalian berhasil melakukannya, maka pintu Kanada akan terbuka lebar untuk kalian dan itulah saatnya kalian akan bersenang-senang, membunuh Monster dan menjadi lebih kuat dari sekarang..."
***
"Langit Satria, berhasil lagi..."
Seminggu sudah sejak Yuuki melawan kelas 1-A beserta kelas 1 lainnya, dan selama ini, aku merasa hanya aku saja yang terus berhasil melawan Yuuki tanpa rasa takut, yang lainnya tidak ada yang berani.
Omong-omong, aku tak melihat ada murid lain di kelasku yang bisa melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan, dan yah, hari ini aku melihatnya.
"Tebasan yang gila, kuakui itu!" Yuuki menyeringai lebar, "Teruskan, Andhika!"
"Ya!!!" Andhika mengayunkan Keris Raja Singa dengan ganas tanpa memedulikan sekitarnya, dan akibat besarnya pedang meliuk-liuk itu, Yuuki tak mampu melawan balik, tapi kurasa bukan itu yang terjadi sebenarnya...
Yuuki melompat mundur dan bergerak cepat memutari Andhika, sambil bergerak acak ke segala arah, membuat tebasan Andhika berhenti dan Andhika menurunkan Keris Raja Singa, memperhatikan pergerakan Yuuki.
Aku bisa melihatnya, Yuuki bergerak acak untuk membingungkan Andhika dan menunggu kesempatan Andhika benar-benar bingung kemudian melancarkan serangan balik.
__ADS_1
Dan benar saja tebakanku, Yuuki berhasil menyelinap ke belakang Andhika, menendang kedua kakinya hingga menjatuhkannya, kemudian mengarahkan pedangnya ke leher Andhika, pose andalannya ketika berhasil mengalahkan kami semua!
Sialan, meskipun hanya gertakan, aku tak bisa menggeser tubuhku jika ujung Hinokami no Ken andalan Yuuki sudah ada di depan leherku! Apa triknya?!
"Reflek Yuuki lebih baik dari kalian, jadi jika kalian bergeser sedikit saja, meskipun jari kalian naik sedikit saja untuk menghilangkan pegal, maka ujung Katana itu akan menembus leher kalian dan mencabut nyawa kalian saat itu juga." Zon menjelaskan, dan aku paham maksudnya.
Jika ia mengijinkan kami untuk bergerak, maka ketika kami bergerak menjauh maka Katana itu tidak akan menembus leher kami, begitulah maksudnya...
Tapi yah, gertakan seperti itu tidak bekerja dengan baik padaku dua hari terakhir ini, karena sejak ia menunjukkan teknik gertakan itu berkali-kali dalam lima hari pertama latihan pertarungan, aku mulai mempelajari celah-celah pada teknik itu.
Setidaknya, satu-satunya cara untuk bisa mematahkan teknik gertakan itu hanya dengan bergerak lebih cepat dari reflek Yuuki dan menendang salah satu kakinya hingga jatuh berlutut dan merebut Katananya dari tangannya dan memojokkan balik, itupun jika refleknya lebih lambat menanggapi serangan balik.
Andhika melepas pegangannya pada Keris Raja Singa dan berkata, "Aku menyerah..."
Andhika adalah orang terakhir yang bertarung, dengan dengan begini, jajaran murid yang berhasil melawan takutnya bertambah satu.
***
"Rei Artawan, berhasil!"
"Lee Shin, berhasil!"
"Senja Irawan, berhasil!"
"Carroline Cage, berhasil!"
Satu persatu murid berhasil mengimbangi Yuuki setelah dua minggu berlatih melawan Monster satu itu, dan setelah seluruh kelas berhasil mengimbangi Yuuki, satu keputusan dibuat.
"Kalian akan satu lawan satu dengan murid lainnya." ujar ayahku dan mengangkat kertas absen, "Rei Artawan melawan Don Zenkins."
__ADS_1
Rei bersenjatakan sarung tangan besi yang diberi nama Penghancur Bumi, sementara Don memakai pisau yang diberi nama Black Dagger, pertarungan mereka kusebut seimbang, karena jarak jangkau mereka kurang dari satu meter.
Tapi, meskipun jarak jangkau keduanya sama, secara kecepatan Don kalah jauh dengan Rei, dan Rei bisa memukul Don berkali-kali hingga armor tipis yang dipakai Don penyok di beberapa bagiannya.
Selanjutnya adalah Carroline melawan Lee Shin. Senjata Carroline berupa sarung tangan besi sementara Lee Shin memakai tombak yang seluruh bagiannya berwarna ungu.
Secara jarak jangkau, Carroline kalah jauh dengan Lee Shin yang mampu menusuk ke depan dengan tombaknya sejauh lebih dari dua meter, tapi kekuatan tangan Carroline tak bisa kuremehkan begitu saja, ia mampu menarik tombak Lee Shin hingga Lee Shin tak mampu menariknya kembali, dan berakhir ia dilempar oleh Carroline keluar dari batas.
Andhika melawan Senja adalah pertarungan selanjutnya, dimana dua Hunter berperang bertarung. Kuperhatikan juga, jarak jangkau keduanya berbeda, kekuatan sama-sama setara, secara pengalaman juga kusebut seimbang.
Andhika bercerita kalau ia sudah berburu Monster sejak berusia sepuluh tahun di bawah pengawasan ayahnya setelah ia menyelesaikan latihan kerasnya di Bali utara bersama pamannya, dan sekarang sudah lima tahun sejak ia membunuh Monster pertamanya.
Senja mengatakan Monster pertama yang dibunuhnya adalah ketika berusia tujuh tahun, ketika ia terjebak di Surabaya bersamaku lima tahun lalu, dan setelah ia sampai di RedWhite, ia melatih lagi kemampuan dan meningkatkan kekuatan fisiknya di bawah bimbingan Vano, Hunter rank S yang kini sudah pensiun dan memilih bekerja sebagai pelatih para calon Hunter muda.
Dua pelatih mereka sama-sama Hunter rank S, jadi secara pelatihan mereka juga sama, dan hari ini aku bisa melihat lagi hasil dari latihan keras mereka berdua di bawah bimbingan dua Hunter rank S.
Andhika bisa memaksa Senja untuk terus menjauh darinya, dan terlihat Senja sedang memikirkan cara untuk bisa menerobos serangan gila Andhika.
"Si pedang meliuk itu amat gila, ia bahkan berpotensi membunuh Senja jika ia terus melakukan hal gila seperti itu..." Carroline muncul dan berkata di sebelahku, "Bagaimana pendapatmu sebagai sesama ahli pedang?"
"Aku sebut, Senja yang akan menang." jawabku.
Perkiraan orang-orang lain, Senja bisa bergerak leluasa dengan pedangnya yang berukuran sedang dan terlihat ringan untuk dibawa bergerak cepat, berbanding terbalik dengan Andhika yang memakai pedang berukuran lebih besar dari Senja dan pastinya itu lebih berat dari senjatanya Senja, jadi mungkin Andhika tak bisa bergerak cepat.
Tapi aku tahu lebih banyak, dibalik tubuh besarnya itu, Andhika mampu bergerak lebih cepat dari anak seusianya, jadi masalah utamanya hanyalah apakah reflek Andhika bisa mengimbangi kecepatan geraknya, aku kurang tahu itu.
Pada akhirnya, Senja bisa beradaptasi dengan tebasan Andhika, ia mulai menghindari semua serangannya dan bergerak mengikuti pola yang pernah ditunjukkan oleh Yuuki ketika melawan Andhika untuk pertama kalinya, dan Senja berhasil menusukkan pedangnya ke perut Andhika dan membuat Andhika terpaksa menyerah.
Satu hal yg mesti aku kasi tau, fokus arc ini sebenernya di bagian Langit baru nyampe di Amerika, kenyataan tentang ayahnya, dan terakhir adalah Raid Kanada.
__ADS_1