Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
244. Surat dari Kaisar Es


__ADS_3

"Ritual apa yang akan kau lakukan? Jangan katakan santet untuk mengalahkan para Emperor sebelum tempur?" Rei melirikku horor, "Kau adalah Langit yang selalu melakukan hal-..."


"Kau bicara lagi, peluru akan mendarat di kepalamu." Vina menodongkan pistolnya ke kepala Rei, dengan jarinya yang sudah menyentuh pelatuk.


"Tapi kurasa Rei benar, apa kau berniat melakukan santet?" Senja melirikku curiga, "Hei, itu bukan tindakan yang bisa Hunter rank SSS lakukan sepertimu..."


"Oh ayolah, kalian tahu aku, kalian tahu aku tak bisa melakukan hal lain selain bertarung dan bertarung terus, mana mungkin aku mempelajari hal semacam itu? Lagipula, aku jarang keluar dari kantor, jadi kecil kemungkinannya aku bisa melakukannya!" aku memukul tepi kursi, "Kalian percaya aku kan?"


"Hmm, kurasa detail ritualnya tak perlu dijelaskan..." Vina memasukkan pistol ke dalam kantongnya setelah kudengar ia menarik sesuatu, "Intinya, aku akan ikut untuk memastikannya."


BUURRRR!


Senja menyemburkan tehnya ke wajahku, dan aku berdiri cepat, "Hah?!"


"Kau punya firasat buruk tentang Hunter rank SSS kita ini?" tanya Rei setelah ia meminum kopinya, "Aku juga, jadi aku mempercayakan laki-laki itu padamu."


Hei, hei, hei, firasat buruk apa yang kalian maksud?! Apa kalian pikir aku akan benar-benar melakukan santet?!!


"Ingat dosa, Langit, dosa! Kau bisa tersangkut di neraka kalau kau menyantet orang seperti itu." Rei melipat tangannya, "Bagaimana sih Langit Satria? Kehilangan akal sehatnya setelan gagal menghabisi Emperor?"


Untuk saat ini, aku harus menjelaskannya sedikit...


"Aku akan memanggil pasukan Flame Emperor." aku berkata singkat, dan kulihat wajah bercanda tiga temanku berubah.


"Ah, jadi itu alasannya toh..." Vina mengangguk sambil duduk di sebelah Rei, "Kau datang ke gunung agar aksimu tidak dilihat orang, begitu?"


"Ya, bisa rumit masalahnya kalau masyarakat tahu kalau Hunter rank SSS yang dipuja-puja di seluruh dunia bekerjasama dengan Monster." aku menjelaskan, "Kenapa gunung, bukan hutan? Itu karena gunung lebih terpencil dan sulit dilacak masyarakat, selain itu, hutan di Jawa banyak berisi desa-desa kecil, aku khawatir kalau penduduk desa bisa melihat ritualnya."


"Ritual semacam apa yang akan kau lakukan?" tanya Senja.


"Aku membuat api unggun dan berdoa panjang, dengan harapan pasukan Flame Emperor bisa muncul, dan aku juga berencana memanggil dua sosok paling berpengaruh di Nusantara di masa lampau." aku tersenyum lebar, "Raja dan Patih yang mampu menyatukan Nusantara dan beberapa negara sekitar di bawah satu bendera kerajaan."


"Jadi kuharap kalian bisa membantuku menutupi tujuan asliku pergi ke gunung." aku membungkuk sedikit, "Kumohon..."


"Ah, gampang itu eh..." Rei tertawa lantang, "Akan kubuat mereka percaya kalau kau pergi untuk berkunjung ke makam kakekmu."


"Sayangnya kakekku sudah dimakamkan di makam pahlawan." aku mengangkat wajahku dan menatap Rei, "Kau ini bagaimana sih?"


"Eh? Aku tidak tahu!" Rei menggaruk kepalanya.


"Kurasa gunung Semeru yang terbaik untuk melakukan tujuanmu." ujar Senja, "Selain tinggi, disana juga sedikit Monster, jadi kau bisa lebih fokus disana..."


"Aku akan ikut mengawasi." ujar Vina, "Aku sebagai wakil ketua RedWhite akan mengawasimu."


"Terserah..." aku menyandarkan punggungku ke sandaran kursi sambil meminum kopiku.


Raja dan Patih, kuharap mereka mau bekerjasama denganku...


***


"Langit, apa kau masih di dalam?" suara halus terdengar dari luar pintu, dan aku hanya menghela napasku.

__ADS_1


"Ya, aku masih di dalam." jawabku, dan perempuan dengan pakaian santai berupa kaos lengan pendek dan celana panjang masuk membawa botol yang aku tidak tahu isinya apa.


"Sudah malam, apa kau tak berniat pulang?" tanya perempuan itu dan duduk di depanku.


"Tidak, aku ingin menghabiskan malamku di kantor..." aku mengambil cangkir kopiku, "Aku ingin merasakan rasanya jadi orang dewasa..."


"Hmm, begitu ya..." perempuan itu meletakkan botol yang ia pegang, "Kadang aku iri denganmu..."


"Hah? Ulangi lagi..." aku mengambil botol yang ia letakkan dan membukanya, "Hidupku tidak sehebat yang kau pikirkan..."


"Bayangkan saja, lahir dari keluarga yang memiliki latar belakang yang hebat, memiliki kekuatan dahsyat sejak masih kecil, dilatih oleh pelatih Hunter-Hunter terbaik dari RedWhite, memiliki orang tua dengan posisi yang disegani di dunia, bukankah itu adalah hal yang pantas kau banggakan?" perempuan itu meletakkan kedua tangannya di atas meja, "Apa lagi yang kurang dari hidupmu?"


"Ada yang kurang, yaitu kasih sayang orang tua dan kakak sendiri..." jawabku.


Kau tidak akan bisa membayangkan kehilangan keluargamu di usia yang muda...


Memang pada akhirnya aku bisa bertemu dengan ayahku lagi dan kemarin bertemu ibuku lagi, tetapi bagaimana dengan kakakku? Aku... Rasanya ingin bertemu dengannya lagi...


Kak Bintang yang bermimpi menjadi Hunter terkuat di dunia, kini terbaring di dalam tanah, dan mimpinya telah kuwujudkan dengan menjadi Hunter rank SSS dan berdiri di atas Hunter lainnya.


"Seandainya kakakku masih hidup, dia pasti bangga denganku..." Gumamku.


Perempuan itu menghela napasnya, dan untuk pertama kalinya, aku menyadari satu hal yang benar-benar membuat perempuan bernama Vina itu berbeda dari semua perempuan seusiaku yang pernah aku temui...


Dia cantik... Ya, di ruanganku yang hanya diterangi oleh sinar bulan, ia terlihat amat cantik, meskipun aku sedikit kesal dengan sikapnya selama ini...


"Selamat malam, Tuan Kaisar Api..."


"Silahkan duduk, tuan utusan yang terhormat..." aku menunjuk kursi di depanku, "Mari kita minum teh bersama sambil bercanda ria..."


Di dalam botol yang dibawa Vina tadi, berisi teh yang masih panas, dan hanya butuh satu cangkir saja jika utusan Ice Emperor ikut duduk dan minum teh bersama kami.


"Jika anda berkenan begitu, maka baiklah..." makhluk yang mirip seperti manusia dan memakai pakaian tempur lengkap duduk di kursi sebelahnya Vina, "Permisi..."


Ia meletakkan segulung surat di atas meja dan meletakkan kedua tangannya di atas meja kemudian duduk dalam diam.


Vina melirik makhluk itu kemudian menatapku, "Kenapa kau membiarkannya duduk bersebelahan denganku?"


"Kalau kau tidak mau duduk dengannya, maka kau bisa tukar tempat denganku..." aku menuangkan teh ke cangkir dan meletakkannya di depan utusan Ice Emperor, "Silahkan..."


"Te-Te-..." utusan Ice Emperor menggaruk kepalanya, "Sial..."


"Kau tak perlu gugup begitu, anggap saja seperti kau berhadapan dengan Ice Emperor..." aku tersenyum tipis kemudian menuangkan teh ke cangkir lagi dan meletakkannya di depan Vina, "Nih, tehnya."


"Ih dingin amat..." Vina mengambil cangkir kemudian meminumnya, setelah habis ia meletakkan cangkirnya, "Kenapa kau membiarkannya duduk bersebelahan dengan kami dan minum teh bersama?"


"Sederhana saja, ini adalah gencatan senjata sebelum berperang..." jawabku kemudian meminum teh bagianku, "Sebelum berperang, ada baiknya kita duduk bersama, minum teh atau apapun itu, kemudian berbicara santai bersama..."


"Disini aku mengajak utusan Ice Emperor untuk minum teh bersama, supaya dia bisa menikmati ketenangan sejenak, sebelum akhirnya dibunuh olehmu atau Hunter rank SS lainnya." aku menyandarkan punggungku ke sandaran kursi, memutar kursiku dan menghadap jendela di belakangku, "Dan aku akan membunuh Ice Emperor, Tyrant Emperor, dan Dragon Emperor..."


"Apakah anda akan melakukannya sendirian?" suara utusan Ice Emperor terdengar, "Anda mungkin tidak akan bisa melakukannya..."

__ADS_1


Aku berbalik dan menghadap Vina dan utusan Ice Emperor, "Cukup percaya saja denganku."


"Bukannya aku sombong, tetapi aku tahu batasanku, bahkan Flame Emperor saja tidak bisa bertahan dari keroyokan tiga Emperor. Sebagai harapan sekaligus kunci yang dipercaya umat manusia mampu menyelesaikan invasi Monster, aku harus melakukannya, meski aku kehilangan akal sehatku, bahkan nyawaku sendiri."


Aku mengangkat cangkirku, dan mataku rasanya basah sedikit, "Yah, mungkin aku akan mati muda di kehidupanku yang sekarang..."


Aku tak ingin merasakan mati muda, aku... Hidupku masih panjang, usiaku baru lima belas tahun, bahkan aku tidak tahu hal yang dinamakan cinta itu...


"Baik, cukup basa-basinya..." utusan Ice Emperor mengambil gulungannya dan membukanya, "Saya akan membacakan surat yang dikirim oleh Tuan Ice Emperor..."


"Penguasa Es disini, aku hanya sekedar ingin mengatakan sesuatu yang sederhana saja.


Karena aku memiliki hati yang baik dan memahami kesulitan umat manusia, jadi aku meringankan beban kalian.


Akhir tahun 2329 akan menjadi hari-hari terakhir kalian menikmati kedamaian dan ketenangan, ya, hanya dalam dua bulan saja kalian menikmati kedamaian dan ketenangan, sebelum kami menyerang.


Di bulan Februari 2330, kami akan mulai menyerang, pahami itu baik-baik!


Salam penuh cinta dari saudaramu, Ice Emperor..."


Utusan Ice Emperor menggulung suratnya lagi, "Itu saja yang bisa saya sampaikan, ada jawaban?"


Aku memejamkan mataku dan menjawab, "Sampaikan terima kasih penuh sayang dari saudaranya yang bernama Flame Emperor..."


"Baik, akan saya sampaikan..." utusan Ice Emperor menjawab dan auranya menghilang.


Mataku masih terpejam, aku membayangkan kacaunya bumi saat tiga Emperor mengerahkan seluruh pasukannya...


Ah, kepalaku rasanya hangat, seperti...


***


Di ruangan lain...


"Kurasa aku akan sulit mendekati perempuan bernama Vina, ia benar-benar menyayangi Langit..." laki-laki berjaket hitam melipat tangannya.


"Kalau aku menghabisi Langit, memangnya bisa? Apa pedang peninggalan kakek bisa mengalahkan Pedang Api Hitam andalannya?" ia duduk dan tertawa kecil, "Hahah, betapa bodohnya aku menyukai orang yang menyukai orang lain..."


Tawanya mengisi kosongnya ruang pengawas yang gelap gulita...


Di balik pintu...


"Tak kukira kalau Langit dan Vina..." perempuan berjaket merah memasukkan kedua tangannya ke kantong celananya, "Mereka..."


"Apa yang kau lihat?" laki-laki berpakaian santai datang dan melingkarkan tangannya ke pundak perempuan itu, "Apa kau memperhatikan Langit dan Vina?"


"Ketahuan, ya?" perempuan itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya, "Sial..."


Laki-laki itu menatap ke dalam ruangan, dimana satu laki-laki yang duduk di atas kursi yang kepalanya dipeluk oleh seorang perempuan.


Apakah takdir lain yang akan menghampiri lima sahabat itu kali ini? Apakah mereka benar-benar hanya sekedar berteman saja, atau ada hal lain diantara mereka?

__ADS_1


__ADS_2