Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
57. Penyesalan Joko Taru


__ADS_3

"Joko, pakai ini..." Alex memberikan satu kacamata yang lensanya berwarna hitam, "Agar kau lebih mudah melihat situasi di depan."


Joko mengambilnya dan memakainya, ia melihat pandangannya berubah menjadi hijau dan ia bisa melihat jalan di depan tanpa lampu sekalipun.


"Inframerah, kan?" tanya Joko lalu melajukan motornya lebih cepat, "Lebih baik dari sebelumnya..."


"Alasanku memberikan itu karena aku melihat Monster serigala sedang mendekat..."


Dan suasana seketika senyap saat Alex berkata begitu...


"Arrggghhh! Bahaya sekali mainnya ini Hunter!!!"


Alex memasang posisi siaganya, sementara Joko sudah menarik gasnya lebih cepat lagi.


"Ya, kita akan mendekati Monster serigala itu, dan persiapkan senjatamu..." ujar Alex dan ia menarik satu pisau dan satu pistol, "Kita akan bertarung terang-terangan disini..."


Biasanya, Joko melakukan itu saat perjalanan menuju RedWhite di Indonesia dulu, dan ia memahaminya.


"Oke..." Joko mengangguk dan tak lama, keduanya bisa melihat gerombolan serigala sedang mendekat, dengan satu serigalanya yang berukuran besar.


"Rank A, kurasa..." Gumam Alex dan ia setengah berdiri, "Pelankan motornya, Joko..."


Joko mengangguk dan ia menarik remnya sedikit perlahan-lahan, hingga akhirnya keduanya berhadapan dengan gerombolan serigala yang dimaksud Alex.


Ia menghentikan motornya dan tak lama, Alex melompat ke depan sambil menghunuskan pisaunya, mungkin bisa disebut belati ya?


Alex menyimpan pistolnya dan menarik belati satunya yang lebih panjang kemudian bergerak maju.


Joko berdecak dan ia menarik Dragon Fang Dagger dan belati yang ia bawa dari Indonesia kemudian menarik kunci motornya dan memasukkannya ke kantong jasnya.


Ia berniat maju, tetapi ia melihat kelebatan hitam di antara gerombolan itu.


Joko bergetar dan ia bergumam, "Apa-apaan itu?"


Terlalu cepat, hanya itu yang dipikirkan Joko, dan ia tak bisa mengikuti gerakan Alex yang satu lawan puluhan serigala itu. Kalau ia pikirkan, ia takkan bisa melakukan apa yang dilakukan Alex saat ini.


"Kekuatanku masih kurang..." Gumam Joko lagi dan ia menggenggam Dragon Fang Dagger lebih erat, "Seandainya aku sekuat Tom Cage dan secepat Alex Curran, mungkin aku bisa menyelamatkan Ayu dan Bintang..."

__ADS_1


Ya, penyesalan terbesarnya adalah tak mampu melindungi dua orang itu dari kehancuran Surabaya enam bulan lalu diakibatkan karena kurangnya kekuatan yang ia miliki.


Meskipun ia memiliki posisi Kolonel, salah satu dari belasan rank S yang dimiliki Indonesia, dan dijuluki Assassin andalan Indonesia, kalau ia tertimpa reruntuhan bangunan di saat kehancuran tempat tinggalnya, ia takkan bisa melindungi kota tempatnya tinggal.


"Sial..." Satu-satunya alasan ia masih terus berjalan saat ini adalah ia ingin mencari sosok yang mengirim Monster ke kotanya dan menghabisinya, kalau mungkin ia ingin membantai semua Monster hingga ia bisa melupakan penyesalannya.


Tapi, ia harus sadar kalau dibalik Monster-Monster lemah yang ada di bumi saat ini, ada lebih dari sepuluh Monster yang dijuluki Lord, dan dua Monster yang dijuluki Emperor, Monster yang lebih kuat dari Lord.


"Joko! Hidupmu dan anakmu ditentukan dari pertarungan ini! Jika kau terus meratapi ketidakmampuanmu, maka kau tidak akan bisa melupakan penyesalanmu!" seru Alex dan ia menembak dahi satu serigala, "Jadi, majulah dan hadapi dunia!"


Joko tersadar, dan ia memasang posisinya, "Ya, kau benar..."


Ia menarik napasnya dan berbalik, melihat beberapa harimau besar datang bersama beberapa harimau yang lebih besar lagi.


"Ya, aku adalah Si Cakar Merah, dan seorang laki-laki..." Joko menekan tombol dan bilah kedua belatinya menyala terang di tengah kegelapan malam, "Sayatan Belati Malam..."


Ia bergerak cepat dan berputar sambil terus mengayunkan kedua belatinya, menyayat leher setiap harimau yang datang dengan kecepatan penuh yang ia miliki.


Semakin lama ia mengayunkan Dragon Fang Dagger, ia merasakan belati itu semakin ringan, dan ia menyimpan satu belatinya dan fokus memakai Dragon Fang Dagger saat ini.


"Tiga harimau rank B, ya? Aku bisa..." Gumam Joko dan ia menghunuskan belatinya.


"Sekarang!" seru seseorang dan ia melemparkan satu batu ke depan, mengenai kepala belakang Joko.


Joko tak bergeming dan ia menarik pistolnya dan bergerak maju ke depan dengan cepat, sambil melepaskan tembakan demi tembakan.


Saat sudah ada di depan tiga harimau besar itu, ia mengayunkan Dragon Fang Dagger dan memotong urat leher satu harimau.


Tak berhenti sampai sana, ia melepaskan tembakan ke kiri dan pelurunya menembus dahi satu harimau, setelah itu ia melepaskan tembakan lainnya ke segala arah, kecuali ke belakangnya.


Beberapa pelurunya mengenai dahi harimau, beberapa melesat dan membuat perhatian beberapa harimau yang tersisa terbagi dua, dan Joko tak melewatkan kesempatan itu.


Ia bergerak lebih cepat dan mengayunkan belatinya, melukai mata semua harimau dalam satu ayunan, dan Joko melompat mundur dan menembakkan beberapa peluru ke dahi para harimau itu.


Para harimau jatuh, dan disaat yang bersamaan, peluru dalam kotak pistolnya habis.


Joko menyimpan pistolnya dan mengangkat Dragon Fang Dagger tinggi-tinggi, "Aku menyukai belati ini!"

__ADS_1


***


Fajar menyingsing, Joko dan Alex bergerak makin cepat menuju Kanada setelah pertarungan singkat mereka melawan harimau dan serigala yang mengeroyok mereka.


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, keduanya sudah menempuh separuh perjalanan, dan butuh waktu sekitar sehari lagi agar mereka sampai di Kanada jika melewati jalan biasa.


"Alex, kemampuanmu hebat sekali, kecepatanmu bahkan tak bisa kuikuti..." ujar Joko saat pagi sudah tiba, "Apa rahasia kecepatanmu?"


"Karena aku memiliki sesuatu yang ingin kulindungi..." Jawab Alex, "Kalau aku berniat melindungi, maka kemampuanku akan meningkat."


"Sesuatu yang ingin dilindungi?" Joko menaikkan alisnya, "Apa hubungannya?"


"Jika kau memiliki sesuatu yang ingin dilindungi, maka pikiranmu akan berpikir untuk melakukan apa saja demi bisa mewujudkannya, dan itu akan mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh untuk melakukannya.". Jawab Alex, "Sejauh ini aku bertarung demi bisa membuatku terlihat seperti seorang laki-laki di hadapan Nona Esterosa."


Dan, Joko akan menggali lubang dalam dan memasukkan kepalanya ke dalamnya. Saingannya berat cuy...


"Kau... Apa yang membuatmu terus bertarung hingga sekarang?" Tanya Alex tiba-tiba.


"Aku?" Joko terdiam, "Aku... Ingin melindungi Indonesia."


"Hah? Hunter rank S sepertimu?" Alex menaikkan alisnya, "Apa ada yang lain? Yang lebih rinci?"


"Aku dulunya sudah menikah dan harusnya aku pensiun dari dunia Hunter, tapi semuanya berubah sejak Surabaya diserang Monster besar, yang aku tak tahu wujudnya seperti apa..." Jawab Joko, "Dan, aku terus bertarung hingga sekarang demi bisa melupakan penyesalanku..."


"Apa itu?"


"Aku ini lemah, aku tak bisa melindungi orang-orang yang berharga bagiku..." Joko menunduk sedikit, tapi kedua tangannya masih memegang stang motor, "Istri dan anak pertamaku tewas dalam kehancuran itu..."


"Dan? Apakah kau punya anak kedua? Bagaimana nasibnya?"


"Anak keduaku dilatih oleh ayahku, dan menurut rencana ayahku, anakku yang bernama Langit akan bergabung dengan RedWhite saat ia sudah berusia lima belas tahun. Sekarang dia baru tujuh tahun...."


"Lalu? Penyesalanmu adalah tak mampu melindungi orang yang berharga bagimu?" Alex mengelus dagunya, "Apakah Raid kali ini adalah pelampiasan bagimu?"


Joko merenung sedikit, bagaimana mungkin Alex bisa tahu hal itu?


"Jika iya, maka kita satu nasib..." Alex tersenyum tipis, "Kali ini, biarkan aku bercerita tentang masa laluku dan penyesalanku..."

__ADS_1


__ADS_2