Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
287. Penyusup


__ADS_3

"Tidakkah kau pikir kalau seragammu benar-benar terlalu kecil dipakai oleh orang sebesar dirimu?" aku menatap Andhika yang membaca buku di depanku.


Kelas ada pelajaran olahraga, dan aku bersama Andhika meminta ijin karena sakit, dan kini kami berakhir di UKS, diberi obat-obatan yang kami sendiri minum yang tidak mengalami sakit apapun...


"Mau bagaimana lagi, aku yang terlalu besar dan seragamnya terlalu kecil..." ia mengangkat lengannya dan menampilkan otot besarnya, "Pelatihan militer membuatku memiliki badan besar, namun tidak sebesar binaragawan..."


Kalaupun aku bilang, ukuran Andhika standar tentara, namun masalahnya ia memakai seragam kecil, jadi ototnya terlihat besar padahal ukuran biasa saja...


"Lalu, apakah kau benar-benar melupakan semua yang kita lakukan dulu?" Andhika menutup bukunya, "Kau sampai tak berkata apa-apa saat di ruang kepala sekolah, seolah menandakan insting petarungmu hilang setelah dua tahun tak bertarung..."


"Kau boleh berkata begitu, tapi apa kau ingat siapa yang meratakan kelompok yang menyerang perumahan tempatku tinggal? Orang yang membunuh puluhan ******* yang berniat menyandera penghuni perumahan siapa?" Aku memejamkan mataku, "Itu aku, instingku masih belum hilang sepenuhnya..."


"Aku hanya geram pada putusan kepala sekolah tentang ia akan mengeluarkanku jika aku bergabung dengan militer. Itu adalah keputusan paling bodoh yang pernah aku dengar sepanjang aku hidup di dunia."


Aku membuka mataku, dan aku melepaskan Mata Surga yang menyusuri seisi sekolah, "Jika kau berpikir insting petarungku sudah hilang, maka kau harus membuktikannya sekarang..."


Aku turun dari tempat tidur, kemudian bergerak keluar dari UKS dengan kecepatan kilat.


***


"Helm seperti ini jika dijual akan laku berapa ya?"


"Kau lihat saja, dengan permukaan yang lecet dan kaca yang retak seperti itu, sedikit yang bisa didapatkan dari menjual helm ini."


Dua murid sedang memeriksa helm yang bukan milik mereka, sambil berdiskusi tentang harga helm itu jika dijual ke orang lain...


Sederhananya, mereka mau mencuri...


Mencuri seolah sudah menjadi hal biasa selama ini, dan sedikit aparat keamanan yang menanggapi kasus pencurian dengan serius, membuat makin banyak pencuri yang merajalela dan meresahkan masyarakat Indonesia, bahkan mungkin dunia...


"Hei, hei, hei, apa yang kalian lakukan?" seorang laki-laki dengan kotak besar di punggungnya menepuk pundak murid yang memegang helm, dan murid itu langsung berbalik cepat.


"Siapa?!" murid itu melempar helmnya ke samping, suara benda yang jatuh terdengar nyaring di parkir sepeda motor.

__ADS_1


"Aku? Panggil aku Andro, aku adalah orang yang akan menghabisi sprinter tercepat di dunia yang bersekolah disini..." ia menurunkan kotak di punggungnya, "Jika kalian mau bekerjasama, maka aku akan melepas kalian..."


"Siapa yang kau cari? Kami mungkin bisa membantu..." murid lain mendekat dan ia melipat tangannya, "Soal sprinter, sekolah kami tak kekurangan pelari yang kapanpun siap turun berlari di olimpiade."


"Berarti kalian tahu pelari yang namanya Langit Satria..."


"Memangnya apa urusanmu dengan sprinter itu? Setahuku dia tak banyak tampil menonjol, selain kecepatannya saja..." murid itu duduk di atas kursi motor, "Apa dia punya masalah denganmu?"


"Sedikit kamu tahu, maka itu lebih baik." orang itu mengangkat kotaknya lagi, "Jadi, bekerjasamalah denganku dan kau akan hidup..."


Ia menarik pistol dari pinggangnya dan menodongkannya ke kepala murid yang duduk di atas kursi motor, "Menurut padaku atau mati..."


"Eh?"


"Jangan bergerak ataupun berteriak, kau hanya harus menjawab apa yang kutanyakan." orang itu melepas pelindung pistol, "Bergeser sedikit saja, pelatuk ini akan tertarik dan kepalamu akan hancur berkeping-keping."


Murid itu menelan ludahnya, keringat mulai mengucur deras...


"Jangan merusuh disini!"


Sikuannya amat kuat, hingga mendorong murid itu jatuh ke belakang.


Orang itu berbalik dan menodongkan pistolnya, "Apa kau mau mati?"


Dari belakang, seseorang menyerbu orang yang membawa pistol, kemudian murid yang tadi terjatuh langsung berdiri dan melancarkan pukulannya, tapi orang yang membawa pistol bergerak lebih cepat dan menghajar dua murid itu kemudian melepaskan tembakan.


DOR!


DOR!


"Ugh, apa aku mengantuk? Tembakanku meleset dua kali..." ia memegangi kepalanya, dan saat itulah, dua murid yang tadi hampir tewas itu langsung berlari menjauh.


"Hei, aku belum mengijinkan kalian pergi!" ia berteriak dan melepaskan tembakan ke kaki dua murid itu, dan satu peluru mengenai kaki salah satunya.

__ADS_1


Orang itu menyimpan pistolnya, dan ia berhenti saat melihat orang lain yang menghampiri dua murid itu...


"Andhika Hendrawan..." ia menarik pistolnya dan melepas pelindungnya, "Mau apa dia kemari?"


"Hei kamu yang membawa kotak, apa yang kau lakukan disini?" suara menggelegar seseorang, terdengar di telinganya, dan ia tersenyum lebar.


"Sang pahlawan..." ia mengangkat pistolnya, "Mana kau?! Datanglah kemari!"


Tak butuh waktu lama, bahkan sedetik pun tak ada, sebilah pedang teracungkan dan menempel di leher orang itu.


"Bergerak atau mati." suara gumaman terdengar, dan orang yang membawa pedang tersenyum tipis, "Apa kau berencana kudeta?"


"Langit Satria, nampaknya kau sudah berubah..." orang itu melompat mundur dan ia menarik kotak yang sedari tadi ia bawa, "Tunduk padaku dan tewaslah untuk dunia!"


Ia menarik sesuatu dari kotaknya dan sebilah pedang keluar dari kotaknya, bilahnya terlihat mengilap seolah tak pernah disentuh sekalipun...


"Andro Fersato akan menghabisimu disini!!!"


***


Aku menarik Pedang Api Hitam dari bungkusannya kemudian menarik Mata Elang dari bungkusannya juga dan memberikannya pada Andhika, "Kau bisa memakainya?"


Andhika menerimanya dan ia menaikkan alisnya, "Kenapa kalian membawa senjata kalian?"


"Jaga-jaga." aku menyelipkan pedangku di sabuk sekolahku dan menghadap laki-laki bertubuh besar itu, "Setelah insiden kemarin, aku merasa kalau keberadaanku dan Vina bisa diketahui dari keberadaan senjataku, jadi kami membawanya kemanapun pergi, selain itu sebagai alat melindungi sekitar kami."


"Berhubung kau ada disini, aku memerintahkanmu dengan wewenang panglima besar TNI..." aku menepuk pundak Andhika, "Apa kau masih mempercayaiku?"


Andhika tersenyum dan ia berlutut, "Siap Jenderal! Saya siap mengikuti segala perintahmu!"


"Aku memerintahkanmu bergerak di seluruh sekolah, harusnya sekarang sedang ada pembelajaran, jadi tidak akan ada yang peduli kau lewat dengan senjata api." aku menarik tanganku, "Beritahu Yuuki dan tentara lain, katakan bahwa di parkiran motor ada penyusup."


"Lalu kau? Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Andhika sambil berdiri, "Apa kau berniat menghadapi penyusup itu sendirian?"

__ADS_1


"Ya." aku berjalan menuju pintu, "Biar aku yang mengurus penyusup itu sendirian."


Aku membuka pintu dan dengan seluruh Energi Gaib yang kumiliki, yang tak pernah aku kerahkan selama menjadi atlet, aku langsung bergerak pergi dari kelas.


__ADS_2