
"Vina sialan, bisakah kau memakai panggilan yang lebih santai lagi? Pembicaraan akan terasa tegang kalau kau memanggilku begitu..." aku meringis, dan perempuan di depanku hanya tersenyum lebar dengan wajah tak bersalahnya.
Vina menggaruk kepalanya dan ia hanya terkekeh kecil, "Ehehehe, maafkan aku Pak Langit."
"Pakai pak? Masih formal!" aku menarik telinga Vina, dan ia meringis sambil berusaha melepas tanganku dari telinganya.
"Maaf, wakil ketua Langit!" ia berteriak, dan aku tak melepaskan tanganku dari telinganya.
"Maafkan aku, Langit!" dan aku melepas tanganku dari telinganya.
Aku duduk dengan tenang dan menatap Vina yang mengelus telinganya perlahan.
Aku masih tidak percaya, perempuan di depanku ini, yang selalu mengusiliku kalau ia senggang, adalah Hunter rank S tipe Sniper terbaik nomor dua yang dimiliki RedWhite selain kakaknya.
Vina Celia atau yang dunia kenal sebagai Iblis Penembak adalah Hunter rank S tipe Sniper terbaik nomor dua milik RedWhite, dan ia telah berlatih intensif di bawah bimbingan Jenny Anderless, Sniper terbaik nomor satu di dunia.
Setelah dua tahun ia berlatih di bawah bimbingan Jenny Anderless, ia kembali ke Indonesia, dan ia mengikuti Raid bersama teman-temanku yang lain ke pulau terpencil di selatan Sumatra, mereka bersama beberapa Hunter rank A lainnya.
Ada beberapa korban, tetapi teman-temanku yaitu Andhika, Rei, Senja, dan Vina, mereka masih bertahan, itupun Senja sudah terluka cukup berat hingga ia mengalami pendarahan.
Aku belum sempat bertemu dengan Senja dan aku ingin bertemu dengannya untuk menjenguknya.
Andhika Hendrawan atau Pendekar Singa Merah adalah Hunter rank S tipe Striker yang pernah meratakan puluhan Monster serigala seorang diri di Bali, dan pedang meliuk-liuknya yang bernama Keris Raja Singa amat terkenal di seluruh dunia.
Andhika yang dulunya kutemui adalah anak yang tersesat di pulau Jawa, bertransformasi menjadi Hunter yang amat hebat di usia tujuh belas tahun.
Rei Artawan atau Scarlet Fist adalah Hunter rank S tipe Striker yang belum banyak memiliki prestasi yang mengagumkan, tetapi ia dianggap mampu memojokkanku hanya dengan pukulannya saja. Ia kini berusia enam belas tahun.
Rumor itu benar, aku pernah kesulitan melawannya karena ia bergerak cepat dan aku sulit membaca pola gerakannya, biar begitu ia tetap kalah dan ia berteriak kalau akan mengalahkanku bagaimanapun caranya.
Senja Irawan atau Pedang Biru adalah Hunter rank S tipe Striker yang selalu menemani Vina kemanapun dia pergi. Raid manapun, kalau ada Vina maka pasti ada Senja di sebelahnya. Ia kini berusia empat belas tahun.
"Ada rumor yang mengatakan kalau Rei akan berkembang semakin jauh dan kau akan terus terkejar, bagaimana tanggapanmu?" tanya Vina, dan aku hanya menghela napas.
Jujur saja, Rei memang sulit dihadapi karena gerakannya yang semakin cepat dari bulan ke bulan, tetapi bukan berarti aku tidak berkembang, aku juga terus berburu dimana pun ada Gate hitam muncul, sekalipun itu di luar negeri.
"Status."
__ADS_1
[Nama: Langit Satria
Level: 115
Usia: 15 tahun
Jenis kelamin: Laki-laki
Pekerjaan: Flame Emperor
Title: Pejuang Sejati, Pemburu Makhluk Buas, Kembalinya Penguasa Api, Pendekar Tanpa Tanding,
HP: 5025/5025 (+50)
STR: 1325 (+5) (+1900)
INT: 200
VIT: 844 (+1)
DEX: 881 (+1) (+250)
LUCK: 20
Stamina: 20000/20000
Bonus poin:9
Skill pasif: (Kaisar Api: Lv. max) (Pria Api Kejam: Lv. max)
Skill aktif: (Sprint: Lv. max) (Pedang Api: Lv. max) (Pukulan Gemuruh: Lv. max) (Darah Burung Api: Lv. max) (Semburan Api: Lv. 4)(Tarian Kaisar Api: Lv. max) (Aura Raja: Lv. max) (Tangan Penguasa: Lv. 5) (Summon: Lv. 1)
Equip: White Shirt (S) Black Long Pants (S)]
"Kau tidak bisa meremehkan seorang Hunter rank SS, apalagi aku pernah ikut campur dalam Raid Nagasaki bulan lalu..." jawabku, dan Vina hanya menghela napasnya.
"Kau semakin sulit kami kejar..." Vina menggaruk kepalanya, "Dua tahun ini terasa kau semakin menjauh..."
__ADS_1
"Benarkah?" tanyaku, dan ia mengangguk.
"Kalau begitu aku ingin kita bertemu di cafe biasa." ujarku, dan Vina mengangguk. Ia kemudian pergi keluar dari ruanganku.
Tadi, Vina datang ke ruanganku untuk berbicara tentang masa laluku hingga aku menjadi seperti sekarang ini, dan aku menceritakannya. Ia mengatakan akan memuat kisah hidupku di internet, jadi orang-orang bisa tahu tentang masa lalu Hunter rank SS Cold Blooded Hunter Langit Satria.
Aku berdiri kemudian berjalan menuju jendela ruanganku yang ada di belakang kursiku dan memasukkan kedua tanganku ke dalam kantong celana, "Semua terasa terlalu cepat, kakek..."
***
"Pertama, gelas-gelas ini ditujukan untuk Senja yang telah menjadi Hunter rank S dan keberhasilan Andhika di Raid Bali!" seru Rei dan mengangkat gelasnya, "Bersulang!"
"Bersulang!"
Gelas-gelas berdentang nyaring, setelah itu kami meminum teh yang ada di dalamnya.
"Ahh, rasanya segar!" Vina tersenyum lebar, dan aku yang melihatnya menggelengkan kepala.
"Langit, sejak kau menjadi wakil ketua RedWhite, kau jarang mengajak kami berkumpul begini." ujar Senja, "Kau tahu, kami kesepian..."
Hei, yang ada aku yang kesepian! Duduk diam di dalam kantor dan keluar untuk menyelesaikan Raid amat membuatku kesepian parah! Harusnya aku yang berkata begitu!
"Aku mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya kakek dan nenekmu di Raid." ujarku, dan suasana seketika senyap.
Yah, kakek Vano dan nenek Vita gugur di Raid di selatan Sumatra, dan kematian mereka membuat RedWhite berduka.
Tetapi bukan hanya itu, semakin banyak Hunter rank S dan rank A yang gugur dalam Raid, bahkan aku sempat datang dalam rapat Hunter rank SS di markas IHO pada awal bulan Oktober, dan laporan dari Neil Andero membuatku terkejut.
Menurut laporannya, setidaknya separuh dari seluruh Hunter yang ada di dunia gugur dalam kurun waktu dua tahun ini, dan Neil menambahkan kalau aktivitas Monster semakin agresif dari bulan ke bulan.
Di bulan ini yaitu bulan Oktober, aktivitas Monster semakin agresif, sehingga semakin banyak Hunter yang gugur dan kota-kota kecil hancur oleh para Monster.
Selain itu, dalam dua tahun terakhir, para Hunter rank S bertambah banyak, dan para Hunter rank SS diincar banyak Hunter rank S untuk menaikkan peringkat mereka.
"Itulah sebabnya kenapa Rei menantangku dalam pertempuran..." ujarku setelah menjelaskan tentang aktivitas Monster yang meningkat drastis, dan semuanya hanya ber-Ooo saja...
"Jadi paman Frans mempromosikan kami bukan karena orang di belakang kami, tapi karena kita berhasil bertahan melawan aktivitas Monster itu, begitu?" tanya Vina, dan aku mengangguk.
__ADS_1
Aku melirik ke sekitar kami, dan aku memajukan wajahku dan yang lainnya ikut mendekatiku.
"Aku punya prediksi, para Emperor akan menyerang lagi..."