Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
81. Kepulangan seorang kakek tua


__ADS_3

Aku membuka mataku perlahan, sudah seminggu lebih sejak Raid Islandia yang berakhir pada kemenangan para Hunter berakhir, dan hingga saat ini, kakekku belum juga pulang.


Memang sih, dari berita yang ditayangkan langsung dari Amerika Serikat, lebih tepatnya adalah New Washington yang katanya adalah pusat dari organisasi Hunter terkuat di dunia, yaitu StarSam, seluruh Hunter rank SS dikatakan berhasil lolos.


Tetapi kemenangan yang didapatkan tidaklah memiliki bayaran.


Menurut Tom Cage pada sebuah pembicaraan, ada lebih dari seratus Hunter rank A kebawah yang gugur dalam Raid ini, atau dikatakan semua Hunter rank A dan ke bawah telah gugur, menyisakan Hunter rank S dan rank SS.


Aku sedikit bingung, apakah kekuatan para Hunter rank S dan rank SS memang sebesar itu, hingga berhasil lolos dari Raid? Apalagi musuh terakhirnya adalah seorang Lord, lebih tepatnya adalah Serpent Lord, yang mungkin punya kekuatan melebihi Hunter rank SS nampaknya...


Kenapa aku bisa tahu? Itu karena ingatan Flame Emperor yang mengalir dalam pikiranku, jadi aku juga mendapat ingatan tentang para Lord dan Emperor, bahkan aku juga tahu tentang keberadaan terakhir Flame Emperor.


Si Monster yang diselimuti api itu sedang berada di China, sedang menikmati sesuatu di tepi jalan, yah, aku sedikit bingung kenapa keberadaannya tak diketahui satu orangpun? Kecuali...


"Entahlah..." aku bangun dan meregangkan punggungku, sebelum suara ketukan pintu terdengar.


Jujur saja, berjalan dari kamarku menuju pintu itu membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit, dan tentunya aku malas kalau pagiku yang santai diganggu...


Aku berjalan dengan perlahan karena masih mengantuk, dan ketika sudah sampai di depan pintu lalu siap membukanya, aku merasa hawa yang tidak asing di balik pintu itu.


"Ayah? Kakek?" gumamku, dan aku membuka pintu dengan memikirkan dua nama itu.


Pintu kubuka, dan seorang pria tua dengan wajah yang familiar di mataku sedang berdiri dengan kedua tangannya di pinggangnya serta menatapku dengan tajam.


"Apa kau tahu sudah jam berapa ini?!" Tanya pria tua itu, dan langsung saja, mataku langsung melebar dan menatapnya dengan tatapan terkejut.


"Eh, kakek, ehehehe..." aku menggaruk kepalaku, "Baru datang?"


"Kakek sudah datang sejak jam enam pagi, dan sekarang sudah jam setengah tujuh! Apa aku mengajarimu supaya selalu bangun lebih dari jam lima?!" tanpa kusadari, tangan kakekku sudah ada di leherku dan jujur saja, cengkeramannya amat kuat.


"Eugh..." aku tak bisa melawan, apa-apaan fisik kakekku ini yang baru pulang dari perjalanan jauh?! Gila!


"Hanya karena kakek tidak ada di rumah tak bisa membuatmu santai-santai terus!" tangan kakekku bergerak cepat dan menggoyang-goyangkan leherku hingga kepalaku terasa hampir lepas dari tempatnya.


"Ka-kak... Kek..."


"Hmm? Kau meminta ampunan?! Seorang Flame Emperor tidak pantas meminta ampunan!" aku merasa tubuhku naik sebelum terlempar ke halaman.


Aku berguling sebentar sebelum aku berhasil menguasai pergerakan tubuhku dan langsung mengambil posisi berlutut dan menghentikan pergerakan.


Kakekku menurunkan tasnya dan melempar pedangnya kepadaku, dan aku menangkapnya dengan kedua tanganku.

__ADS_1


Aku menatap Pedang Api Hitam milik kakekku dan melihat tulisan di sarung pedangnya.


"I-Ini..." aku menatap tulisan itu, dan tulisan itu terasa familiar di ingatanku, tulisan milik seseorang yang pernah hadir dalam hidupku, "Tulisan ayah..."


"Joko Taru bodoh itu tak mati sebenarnya di Surabaya, dia masih hidup dan melanjutkan hidupnya dengan bekerja pada RedWhite menjadi pelindung rahasianya." Kakekku menjelaskan, "Dia bertarung dengan gagah berani di Islandia, tetapi..."


Ayahku seperti meninggalkan pesannya melalui sarung Pedang Api Hitam, dan isinya adalah "Hati-hati dalam berjuang, Langit. Dari Joko Taru yang bodoh pada anaknya yang pintar."


Pesan singkat itu bisa kupahami, karena mungkin ayahku sudah tahu tentangku yang memilih menjadi Hunter, bukan sembarang Hunter melainkan Hunter yang memiliki kekuatan Flame Emperor dalam tubuhnya.


Dan maksud pesan ini adalah memintaku untuk berhati-hati dalam perjalanan hidupku karena kekuatan yang kumiliki bisa memancing banyak musuh untuk menghampiriku.


"Tetapi?" Aku mendengar penjelasan kakekku, dan penjelasannya terdengar masih ada kelanjutannya.


"Ayahmu gugur disana, setelah berjuang amat lama bersama seluruh Hunter kuat dari seluruh dunia, ia akhirnya berhasil membuat sisa hidupnya berarti bagi dunia." kakekku menjelaskan sambil menunduk.


Aku menguatkan genggamanku pada Pedang Api Hitam, aku berdiri dan bertanya dengan nada serius, "Apa yang harus kulakukan?"


"Jika kau benar-benar ingin membalas dendam kematian orang-orang terdekatmu, maka berlatihlah menggunakan Pedang Api Hitam."


***


"Bagaimana dengan levelmu?" Tanya kakekku untuk pertama kalinya setelah ia menyuruhku menyesuaikan diri dengan Pedang Api Hitam, "Ada peningkatan?"


Menurutku, Pedang Api Hitam terasa berbeda dari Pedang Naga Iblis yang biasa kupakai. Aku bisa mengatakannya berbeda dari pegangannya, panjangnya yang lebih dari Pedang Naga Iblis, dan satu lagi, warnanya jelas berbeda.


"Pedang Api Hitam terasa mengerikan ya, jika aku tak menyalakan pemanasnya?" tanyaku sambil mengangkat Pedang Api Hitam tinggi-tinggi.


"Status."


[Nama: Langit Satria


Level: 24


Usia: 7 tahun


Jenis kelamin: Laki-laki


Pekerjaan: Flame Emperor


Title: Pejuang Sejati, 3+

__ADS_1


HP: 700/700


STR: 130


INT: 40


VIT: 36


DEX: 35


DEF: 34


LUCK: 20


Bonus poin: 28


Stamina: 100/130


Skill pasif: (Raja Api: Lv. 2) (Pria Api Kejam: Lv. 1)


Skill aktif: (Sprint: Lv. 6) (Pedang Api: Lv. 6) (Pukulan Kehancuran: Lv. 1) (Darah Burung Api: Lv. 1) (Semburan Api: Lv. 1) (Lv. 25) ( Lv. 30) (Lv. 50)


Equip: Shorts (E) Pedang Api Hitam (SSSR+)]


"Dan juga, apakah tingkatan Pedang Api Hitam ini tak terlalu tinggi? SSSR dan simbol tambah, apakah itu tidak berlebihan?" aku menurunkan Pedang Api Hitam setelah memegangnya beberapa menit.


"Kakek belum menjelaskan tentang asal usul pedang itu, kan? Akan kakek jelaskan sekarang..." kakekku melipat tangannya, "Jadiii..."


Karena kakekku akan bercerita dan pasti ceritanya akan panjang dan menyenangkan hingga lupa waktu, aku menancapkan Pedang Api Hitam ke tanah dan duduk di sebelah kakekku lalu bersiap mendengarkan.


"Pedang Api Hitam ditempa di Jepang, sekitar ratusan tahun lalu, oleh seorang penempa serta pembuat senjata api yang tak terlalu terkenal..."


"Bahannya dibawa oleh Flame Emperor dan berupa tulang lengan, pembuluh darah, dan inti kehidupan seekor Emperor, yaitu Thunder Emperor."


Aku yang mendengarnya sedikit bergidik, pembuluh darah adalah material pembuatan Pedang Api Hitam? Gila...


"Penempa itu membuatkan pedang lengkung yang disebut Katana oleh orang-orang Jepang, dan diberi nama Kurohi no Ken, atau dalam bahasa Indonesia disebut Pedang Api Hitam."


"Pedang tua ini telah menurun dari generasi ke generasi, dan kakek mendapatkan pedang ini dari guru kakek..."


"Siapa?"

__ADS_1


"Hunter rank SS bernama Alexiano Ardhan..." kakekku mengibaskan tangannya, "Kakek jelaskan juga kau tidak tahu, sekarang lanjutkan!"


Hmm, kayanya statusnya Langit ada kesalahan deh, perlu waktu buat perbaiki deh... Lupa cuy...


__ADS_2