
"Langit, hati-hati..." ujar Vina, dan aku tersenyum tipis.
"Ya..." aku melepasnya kemudian berbalik, sudah waktunya, aku tak boleh berdiam lebih lama lagi...
"Hmm, pak Langit kulihat sudah berpamitan dengan istrinya..." Carroline melipat tangannya di depan pintu, aku menatapnya datar.
"Hah? Istri? Jangan bercanda kau iblis sialan..." aku berjalan melewatinya, "Aku hanya melakukan apa yang kakakku inginkan dariku..."
"Apa itu?" Carroline mengikutiku di sampingnya, "Wasiat?"
"Kakakku gugur di Surabaya saat berusia sepuluh tahun, dan sebelum perang, kakak mendatangiku dalam mimpi dan mengatakan kalau Vina adalah takdir hidupku, yang akan kulindungi sampai tua nanti..." jawabku, dan kudengar Carroline hanya meng-Oh saja...
Mungkin, Carroline merasa terpukul jika aku memilih orang selainnya, tapi kuharap ia bisa bahagia dengan orang selain diriku...
"Baik pak Langit, pesawatmu sudah siap dan pilotnya adalah Alex Curran. Ia sudah menunggu di lapangan landasan." Carroline berkata tegas dan aku terkekeh kecil.
"Oke, kau harus berjuang..." aku berjalan lebih cepat dan keluar dari koridor, sampai di lapangan landasan yang luas dan dipenuhi pesawat tempur yang mesin-mesinnya sudah menyala.
Deru mesin pesawat terdengar rusuh, dan seseorang dengan pakaian serba hitam datang mendekat.
Setelah berhenti di depanku, ia memberi hormatnya dan berkata, "Pak Langit, pesawat anda sudah siap..."
Aku mengangkat tanganku dan memberi hormat orang itu kemudian menjawab, "Bawa aku ke Sahara secepatnya."
***
"Sahara sudah di depan mata!" suara Alex terdengar, dan pintu di depanku terbuka.
"Hati-hati, habisi semua pimpinan musuh itu dengan pedang kuno itu!" seru Alex.
__ADS_1
"Ya!"
Aku melompat dari pesawat dan pesawat yang tadi membawaku langsung melesat cepat meninggalkan Sahara.
Kini, Sahara hanya milikku seorang, bersama tiga pimpinan musuh yang sudah berada disini sejak awal.
Aku mendarat sempurna di atas pasir gurun, dan tiga makhluk berbentuk aneh mendekatiku, wajah mereka tidak menunjukkan kalau mereka menyambut kedatanganku.
"Yo..." makhluk berkulit putih berpakaian serba putih menaikkan bahunya, "Waktu berlalu cepat, ya?"
"Ya..." aku menarik resleting jasku, "Tak kusangka aku bisa menghabisi kalian secepat ini..."
"Kau menganggap dirimu mampu menghabisi kami semudah itu?" makhluk besar bertanya dengan nada sinis, "Satu lawan tiga, kau jangan omong besar dulu..."
Aura yang dikeluarkan ketiganya benar-benar aura Emperor, yaitu Ice Emperor, Dragon Emperor, dan Tyrant Emperor, ketiganya benar-benar datang untuk menghabisiku.
"Oh ya?" aku menarik Pedang Api Hitam, "Ataukah aku yang seharusnya berkata begitu?"
Ice Emperor mengangkat tangannya, menciptakan tombak dari es kemudian ia menghentakkannya ke atas pasir, menciptakan es tebal di sekitarnya yang tak lama meleleh, begitu juga dengan tombak esnya.
Biar begitu, hawa sejuk tiba-tiba muncul setelah Ice Emperor kehilangan tombak esnya, aku yakin itu adalah sisa-sisa dari aura dingin yang tadi ia lepaskan.
Aku menyalakan pemanas di Pedang Api Hitam kemudian aku mengangkat pedangku, aku melangkahkan kakiku ke depan dan bersamaan dengan itu, Tyrant Emperor maju dengan kedua tangannya yang sudah berubah menjadi pedang dan ia melancarkan tebasan cepat ke arahku.
Langkah kaki kupercepat, dan aku berhenti di belakang Dragon Emperor kemudian melancarkan tebasan cepat dan kuat ke punggung Dragon Emperor.
Punggung siluman naga itu terbuka oleh tebasanku, kulihat tulang punggungnya terpotong sedikit dan tak lama, naga itu jatuh ke atas pasir.
Hah?! Apa-apaan itu?!
__ADS_1
Pedang Api Hitam yang sekarang bukan hanya sekedar benda mati yang tidak bisa melakukan apa yang kuinginkan seperti dulu, sekarang kulihat Pedang Api Hitam benar-benar mampu mewujudkan hal yang kupikirkan, yaitu membunuh semua Emperor musuh.
Ice Emperor menoleh dengan gemetar, ia mengangkat tangannya dan menciptakan tombak es kemudian melemparnya ke arahku.
Suasana Sahara yang panas ini merugikan Ice Emperor, tetapi menguntungkanku karena suhu panas disini mampu memanaskan Pedang Api Hitam tanpa perlu menyalakan pemanas.
Jika Ice Emperor sampai menantangku di Sahara sementara ia tahu kalau tempat ini adalah kelemahannya, apa mungkin ia berharap kalau Dragon Emperor dan Tyrant Emperor bisa menghabisiku?
Semuanya jadi masuk akal sekarang, alasan kenapa Ice Emperor menantangku di wilayah yang menguntungkanku...
Tyrant Emperor berbalik dan ia melesat ke arahku, aku melangkahkan kakiku cepat dan aku berhenti di depan Ice Emperor kemudian menghunuskan pedangku ke leher raja es itu.
"Kalian tidak akan mampu menghabisiku..." ujarku dingin, aku melepaskan seluruh aura yang kumiliki dan tak lama, Ice Emperor menciptakan tombak dan menusuk perutku.
Ia bergerak cepat, aku benar-benar terkejut karena serangan mendadak itu...
Aku melompat mundur, di saat yang bersamaan Dragon Emperor bangkit kemudian berubah menjadi naga seperti di New Washington saat kematian Tom Cage.
Dragon Emperor membuka mulutnya lebar-lebar dan melepaskan semburan energi yang menyapu Sahara, tetapi aku bisa menghindarinya.
Aku menajamkan instingku dan aku mengangkat pedangku ke sebelah kepalaku, sebilah pedang tertahan di sebelah kepalaku, hampir menusuk kepalaku hingga hancur. Ice Emperor memutar tombaknya dan ia melempar tombaknya ke arahku.
Aku menghempaskan pedang yang menyerangku tadi kemudian melesat menuju Ice Emperor yang menciptakan beberapa lingkaran di sekitarnya.
Ice Emperor menembakkan ratusan bola es yang mengarah ke arahku, dan aku melesat lebih cepat dan memotong tangannya.
Jika mereka bertiga meremehkanku, maka mereka salah besar!
Kekuatanku sekarang bukan lagi hanya kekuatan Flame Emperor saja, tetapi keenam jendral Flame Army serta dua Emperor bersemayam dalam diriku! Aku bisa membalikkan situasi!
__ADS_1