Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
266. Bintang muda yang gugur


__ADS_3

Eropa adalah pusat dari segala militer dunia dalam perang dunia ketiga ini, yang mana Inggris dipilih sebagai pangkalan militer seluruh dunia.


Banyak Hunter kelas dunia yang telah berkumpul di pangkalan militer dan bergerak ke seluruh dunia setelah mendapat arahan dari Al yang memegang komando tertinggi selama orang yang seharusnya memegang komando tertinggi pergi sementara.


"Nona Esterosa, apakah anda yakin ingin pergi sendirian?!" seorang Hunter berlari mengejar Esterosa yang berjalan menyusuri ruang penyimpanan senjata api, "Apa anda tidak mendengar himbauan pak Al?!"


Esterosa sudah mendengar kabar sinyal jam tangan Alex, Joko, John, Rei, dan Mir hilang dari radar, yang menunjukkan dua kemungkinan...


Pertama, jam tangan mereka terlepas dari tangan mereka dan mereka masih hidup...


Kedua, mereka tewas di tangan musuh...


Sementara banyak Hunter rank SS yang sinyal jam tangan mereka hilang, jumlah Monster yang muncul tak kunjung berkurang, malahan semakin banyak.


Tentara militer mulai kewalahan mengatasi gempuran para Monster, sementara Hunter juga sama kewalahannya menghadapi musuh yang sama.


Tak ada cara lain selain semua Hunter kuat turun tangan dan membantu garis depan...


"Apa kau tahu kabar terkini di luar sana?" tanya Esterosa sambil memasukkan beberapa granat, beberapa kotak peluru, dan satu senapan kemudian ia memanggul senapannya, "Garis depan kesulitan, dan aku sebagai Hunter rank SS harus turun tangan."


"Aku tak bisa terus-terusan diam disini, aku adalah Hunter dan aku harus bertempur di luar sana!" seru Esterosa dan ia berlari meninggalkan Hunter yang tertegun itu.


***


Menurut laporan yang diterima Al, wilayah Italia mulai dikuasai Monster dan seorang Hunter rank SS dikirim kesana untuk membantu perlawanan.


Ia adalah Alteron de Esquede, dan ia sudah tiba di tempat sejak tadi, juga ia diminta untuk memeriksa kondisi disana.


"Pasukan disini sudah hancur semua..." Alteron menatap tubuh-tubuh yang telah tercabik-cabik itu, "Seberapa kuat Monster itu?"


Sejauh Alteron memandang, daerah Italia terakhir yaitu Roma sudah sepi, tak ada Monster ataupun Hunter yang terlihat, jadi Alteron bisa menyimpulkan seperti itu.


"Dari lukanya, kemungkinan Monster itu bertipe jarak dekat dengan senjata utama adalah cakar." Alteron mengangguk kecil. Ia berdiri lagi dan berjalan, menyusuri jalanan.


Sangat sepi dan hancur, itulah yang bisa menggambarkan situasi daerah terakhir Italia saat ini. Warganya sudah dipindahkan ke bunker bawah tanah, bersama jutaan warga bumi yang lain.


"Dalam situasi begini, aku tak boleh lengah..." gumam Alteron dan ia mengangkat lancernya, "Mana dia?"


Yah, satu hal yang selalu diingatnya saat terjun ke lapangan adalah jangan pernah percaya dengan sepi, ada maksud tersembunyi...


"Apa Monster itu kabur?" gumam Alteron, "Mana mungkin Monster itu masih disini..."


"Ataukah..."


Ia membayangkan satu negara di sebelah Italia, yaitu Prancis, tapi seharusnya negara itu aman dengan keberadaan ibunya, tetap saja ia merasa khawatir.

__ADS_1


"Tidak, tidak, aku tak boleh menyimpulkan semudah itu..." Alteron berlari, "Aku harus menemukan Monster itu dan membuat ibu bangga!"


Belum ada beberapa detik ia berlari, ia merasa sesuatu di tubuhnya terlepas dari tempatnya...


"Eh?"


Ia melirik ke kiri, darah mengucur keluar dengan deras, dari tempat tangan kirinya seharusnya berada.


"Eh?"


Ia melompat ke depan kemudian berputar dengan cepat menghadap belakang, tangan kanannya menyalakan pemanas lancernya dan ia memasang posisi siap bertarung.


"Ohoho, nampaknya kau lengah, Alteron..." sesuatu yang hitam muncul di depannya kemudian membentuk manusia dengan sayap hitam di belakangnya, "Apa kau benar-benar seorang Hunter yang memiliki peringkat SS?"


Alteron benar-benar tak merasakan hawa keberadaan makhluk di depannya. Ia sudah terlatih untuk bertahan di alam bebas, jadi ia memiliki insting yang lumayan tajam.


Tetapi ia tadi benar-benar tak bisa merasakan keberadaan makhluk itu, tiba-tiba saja ia merasa tangannya terlepas.


"Kau muda, kuat, dan memegang peringkat yang lumayan tinggi, tetapi apakah pengalamanmu lebih dari cukup? Apakah pengalamanmu sekarang membuatmu pantas memegang peringkat SS?" makhluk itu mengangkat tangannya dan sebilah pisau keluar dari tangannya.


"Jika kau merasa kau pantas menjadi Hunter rank SS, maka habisi aku..." makhluk itu menodongkan pisaunya, "Aku adalah Shadow Lord, akan menghabisi nyawa Hunter rank SS disini!"


Alteron memperkuat posisinya, Lord bukanlah musuh yang enteng, seorang Hunter rank SS yang setara dengan Lord adalah semua Hunter rank SS kecuali dirinya, Al, dan Vina.


Secara kekuatan, Vina sudah lebih dari cukup untuk menghabisi Lord, dengan catatan harus ada Hunter lain yang melindunginya.


Dirinya? Sudah muda, masih lemah, tetapi dipercaya memegang rank SS, peringkat yang hanya bisa diberikan pada orang-orang kuat dan terpilih saja, bukan pada Hunter acak.


"Karena aku adalah Hunter, maka aku akan menghadapimu!" Alteron berseru, dan tak lama, makhluk aneh itu berhenti di depannya dan menusuk perutnya.


"Ugh-!"


Alteron mengangkat lancernya dan mengayunkannya, membuat makhluk itu menjauhi kemudian ia memegangi perutnya yang mengeluarkan darah.


Bahkan sebelum bertarung saja, ia sudah dilumuri darah, apa-apaan Hunter ini?


"Hmm, lemah..." makhluk itu mengangkat tangannya, "Apa kau benar-benar Hunter rank SS?"


"Begitulah..." Alteron menahan sakit di pundak kiri dan perut kirinya, "Aku akan bertarung serius..."


Hanya tinggal masalah waktu bagiku untuk mati disini, batin Alteron, ia sudah tidak yakin bisa bertahan...


"Karena aku tidak mau mati konyol disini! Aku harus melawan!"


Ya, kata-kata yang selalu dikatakan ibunya adalah, "Jangan pernah mati tanpa perlawanan, matilah setelah berjuang."

__ADS_1


Ia melesat maju, tanpa memedulikan darahnya yang mengucur deras dari dua luka di tubuhnya. Hanya satu yang ja pikirkan saat ini...


"Aku tak boleh mati disini!"


Gerakannya semakin cepat, ia menusukkan lancernya dengan kecepatan tinggi, menembus pertahanan makhluk aneh itu dengan mudah.


Makhluk aneh itu melompat mundur, tetapi Alteron tak membiarkan makhluk aneh itu mundur.


Ia bergerak cepat mengejar makhluk itu, dan makhluk aneh itu mengangkat tangannya dan melempar sesuatu dari tangannya, dan mendarat telak di dada Alteron.


Alteron terhenti sejenak, sesuatu menembus dada kirinya sangat dalam, darah langsung keluar dari tusukan itu.


Ia bisa merasakan tubuhnya mulai kehilangan banyak darah, tubuhnya terasa lemas sekali dan sulit untuk digerakkan.


"Nampaknya kau sudah tak bisa bergerak lagi..."


Makhluk aneh itu mendekat dan menempelkan sesuatu yang tajam ke lehernya, "Sudah waktunya..."


"Untukku menghabisimu!"


...


...


...


Dua benda yang tajam, menusuk dua perut orang yang berbeda, yang pertama sebuah tombak yang menusuk perut makhluk bersayap, dan kedua adalah sebuah pedang yang menusuk makhluk kecil bertombak.


Alteron memuntahkan darah dari mulutnya, ia menekan tombaknya dan makhluk yang menyebut dirinya Shadow Lord menjerit sambil menekan pedangnya lebih dalam lagi.


"Aakkkkhhh!!!"


"Ughhh!"


Sekarang hanyalah pertarungan siapa yang tahan lebih lama... Apakah Alteron? Atau Shadow Lord?


...


Alteron mulai merasakan pandangannya kabur, ia juga merasakan Shadow Lord sudah kalah lebih dulu karena ia merasakan tombaknya menopang sesuatu yang berat, yang kemungkinan adalah Shadow Lord yang sudah mati.


Ia menurunkan tombaknya, dan tubuh Shadow Lord jatuh ke atas tanah.


"Ugh..." Tubuh Alteron terasa lemas, ia tak mampu hanya untuk berjalan saja...


"Apa sudah waktunya..." Alteron jatuh telungkup ke atas tanah, "Sialan..."

__ADS_1


Ia memejamkan matanya, tubuhnya terasa lemas dan ia tak mampu berdiri lagi, pendengarannya perlahan menghilang, ia tak bisa mencium aroma apapun lagi, dan kesadarannya perlahan menghilang seiring darah membanjiri tubuhnya.


Di hari itu, seorang Hunter muda yang amat berbakat bernama Alteron de Esquede gugur dengan gagah berani di Roma, Italia.


__ADS_2