
Semua Hunter yang berada di halaman pergi menjauh, meninggalkan tiga petinggi yang paling dipercaya oleh Langit untuk menjaga RedWhite dan Indonesia selagi ia pergi.
Andhika menarik pedangnya dan menancapkannya di depan keduanya dan bertanya dengan nada dingin, "Apa yang kalian lakukan?"
Keduanya diam, tak ada satupun dari keduanya yang menjawab pertanyaan yang dilontarkan Andhika dengan dingin itu...
Andhika bukan hanya Hunter yang kuat, ia juga memiliki sikap yang tegas, yang membuatnya berbeda dari Hunter kebanyakan. Banyak orang yang menyebut kalau sikap tegasnya itu didapatnya dari latihan keras di masa lalunya dan tentunya turunan dari leluhurnya.
Di samping ia memiliki sikap disiplin dan tegas seperti itu, ia juga memiliki jabatan yang lumayan tinggi di organisasi, yaitu salah satu bawahan yang dipercaya Langit serta jendral angkatan laut, membuatnya semakin tegas dalam mengatur pasukannya.
Satu lagi, ia tak pernah berani menentang Langit, karena baginya, semua yang ia miliki dan pegang saat ini adalah sesuatu yang ia dapatkan sejak bersama Langit.
"Dia."
"Dia."
Dua wanita itu saling tunjuk, dan Andhika menaikkan alisnya, apa yang membuat dua orang itu saling tunjuk seperti anak kecil?
"Serius, apa yang kalian lakukan?" Andhika meletakkan kedua tangannya di atas pundak kedua orang itu, "Kalian punya posisi yang penting, dan kalian menjadi panutan disini selagi aku, Langit, dan Rei pergi!"
"Jika kalian bertingkah seperti ini, apa yang harus Hunter lain lihat dari kalian?!"
Lima Hunter terkuat di RedWhite yang berusia amat muda dikagumi oleh Hunter lain, bahkan di seluruh dunia pun mengagumi mereka.
Sepak terjang mereka di dunia sudah dikenal banyak orang, bahkan ciri khas mereka pun sudah diketahui banyak orang.
Jika ada perpecahan diantara mereka, mungkin orang-orang tidak akan mempercayainya.
"Sekarang jelaskan padaku, apa yang terjadi disini?!"
Keduanya diam, sebelum mereka saling tunjuk lagi.
"Dia duluan."
"Dia duluan."
Andhika menurunkan kedua tangannya dan ia mengepalkan kedua tangannya erat, "Aku mencabut peringkat kalian..."
Tangan kanannya meraih medali tujuh bintang dari masing-masing jas dua orang itu kemudian berseru lagi, "Pergi dari sini dan renungi perbuatan kalian!"
"Jika kalian sudah sadar dengan perbuatan kalian, angkat senjata kalian dan tebuslah kesalahan kalian!"
Ia menyimpan dua medali tujuh bintang itu kemudian meninggalkan Senja dan Vina di tempatnya tadi, ia tak peduli apakah ia dihitung memberontak atau tidak, yang paling penting baginya sekarang adalah mengurus perang, bukan mengurus dua anak seperti itu.
***
"Mungkin kalian sulit mempercayainya, kalau aku mencabut rank SS dari mereka dan mencabut jabatan wakil ketua dari Vina." ujar Andhika sambil menatap ke depannya, ke arah lautan musuh di depan gerbang Jakarta.
"Hah? Benarkah?" kak Budi menaikkan alisnya, "Apakah kau sudah menjadi wakil ketua dengan tidak sengaja?"
"Aku terpaksa mengambilnya, Rei sudah hilang, Vina bertingkah aneh, Senja juga bertingkah aneh, sementara Langit tak ada di tempat, jadi aku sebagai yang tersisa dari bawahan Langit yang paling dipercaya harus mengambil alih tugas Langit." jawab Andhika dan ia mengangkat pedang meliuk-liuknya, "Untuk sekarang, kita harus mengurus mereka dahulu.."
__ADS_1
Ia melesat cepat menuju lautan Monster yang mendekat itu, disertai suara tembakan dari belakangnya, dan setelah ia tiba di hadapan lautan Monster itu, tanpa tunggu lama, ia langsung mengayunkan pedangnya dengan cepat serta kuat, mengabaikan rasa lelahnya setelah menempuh perjalanan jauh...
Dari Bali ke Jakarta memerlukan waktu sejam dengan kecepatan penuh, ditambah kelelahannya selama bertempur di Bali, membuatnya semakin lelah setelah tiba di Jakarta.
"Urusan lelah bisa belakangan, aku harus membersihkan semua ini secepatnya!"
Matahari makin bergerak ke barat nampaknya, panas mulai berkurang sejak ia tiba di Jakarta, dan setelah ia menghabisi cukup banyak Monster, suara raungan keras terdengar.
"Itu dia!" Andhika menguatkan genggamannya pada gagang pedangnya dan melesat lebih cepat, sambil mengayunkan pedangnya dengan ganas.
Dari kejauhan...
"Gila, apa-apaan kekuatan semacam itu?"
"Ia menerobos lautan musuh sendirian..."
"Aku yakin ia pasti kelelahan..."
Budi memejamkan matanya, "Andhika sangat kelelahan, terlebih ia terbang langsung dari Bali kemudian bertarung lagi tanpa istirahat, pastinya itu saja menguras seluruh tenaganya. Sarapan biasa tidak akan bisa membuatnya bertarung seperti itu..."
"Apakah ia memang mengincar posisi wakil ketua? Jadi ia langsung mencabut jabatan wakil ketua dari Vina?" satu Hunter bertanya, dan Budi menggelengkan kepalanya.
"Tidak, ia bukan orang yang akan memanfaatkan situasi seperti itu untuk memberontak. Ia hanya melaksanakan tugasnya, dan ia akan menegakkan kedisiplinan diantara semua Hunter serta tentara militer. Ingatlah siapa Andhika Hendrawan itu sebenarnya..." jawab Budi.
Ia tahu jelas semua tentang Langit dan teman-temannya, jadi ia tak pernah berprasangka buruk tentang mereka.
Apalagi Langit dan teman-temannya adalah atasannya, jadi ia tak bisa berpikir yang aneh-aneh begitu saja...
Ia melihat ke depan lagi, dan ia melihat Andhika yang bertarung dengan ganas di depan, di tengah-tengah lautan Monster sendirian.
WHUSHH!
SHIUUWW!
Sesuatu seperti kilat, melintas dua kali di atas Budi dan pasukannya, dan tak lama, terlihatlah sosok yang baru saja melintas itu...
Satu orang dengan senapan panjang di tangannya, dan satu lagi seseorang dengan pedang biru yang mulai berubah merah di sebelahnya.
"Senja, kau bantu Andhika, aku akan bertarung di belakang!"
"Siap!"
Keduanya mendarat di tengah-tengah lautan Monster itu dan langsung bertarung sesuai aba-aba barusan...
"Itu..."
"Vina dan Senja!"
"Maju!"
Semangat pasukan RedWhite yang sebelumnya naik-turun akibat perpecahan diantara petingginya kembali bangkit dengan bersatunya tiga petinggi organisasi terkuat itu dalam pertempuran.
__ADS_1
***
Carroline mengangkat kedua tangannya yang memakai sarung tangan peninggalan ayahnya, ia mengepalkannya kuat.
"Hmm, setelah berani membentakku tadi, kau kini berani mengangkat kepalan ke arahku? Lancang sekali kau, manusia rendahan..." makhluk penuh api di hadapannya melirik Carroline tajam, "Apa kau tahu akibatnya?"
Carroline menguatkan kepalan tangannya yang mulai bergetar, ia benar-benar tak bisa percaya itu semua...
Pasukan StarSam diratakan begitu saja seorang diri oleh makhluk api di depannya dan barusan, ia merasakan pukulannya yang bahkan lebih kuat dari pukulan Langit yang pernah ia rasakan...
Makhluk api itu mencekik leher Carroline kemudian mengangkatnya dari atas tanah.
"Si-Siapa kau?" tanya Carroline dengan kesulitan. Napasnya terasa tertahan di lehernya, ia juga merasakan panas yang membara di lehernya.
"Nama? Panggil saja Purgatory, aku sudah hampir lupa siapa namaku sebenarnya..." makhluk itu mengelus dagunya dengan tangannya yang lain, "Coba kuingat..."
Ia terlihat berpikir sejenak, dan ia tersenyum tipis, "Namaku Ferio Andros, mungkin..."
"Biasanya aku dipanggil Kaisar Api juga, dan aku sekarang dikejar Storm Bringer atas tuduhan pencurian, ah bodoh sekali aku membuat masalah disini, bisa-bisa Liberator kesulitan mengatasi masalahku..."
"Tapi aku tinggal melempar masalahku ke Storm Bringer, dan PeaceMaker akan memecat Storm Bringer. Nampak mudah saja..."
Carroline melirik ke seluruh tubuh Purgatory, ia melihat samar-samar jam tangan merah di tangan kirinya, dan jas merah di tubuhnya...
Napasnya makin tertahan, dan Purgatory menyeringai lebar, "Nampaknya sudah cukup main-mainnya..."
Api keluar dengan ganas dari telapak tangan kanannya, membakar tubuh Carroline hingga hangus dan tak terlihat bentuknya lagi.
Purgatory menjatuhkan tubuh hangus itu kemudian berjalan pergi, tangan kirinya menyentuh telinganya bersamaan dengan api di tubuhnya yang menghilang...
"Blue Lake, lacak posisiku dan kita akan kembali ke rumah. Urusan dikejar Storm Bringer, itu belakangan."
Catatan penulis:
Yo, Rio Andriana disini...
Sudah lama sejak aku up di akhir tahun, dan akhirnya aku dapat ketenangan untuk menulis lagi.
Hah? Ceritaku membosankan?
Anggap aja begitu, soalnya aku bener-bener susah ngetik arc ini, terlalu banyak karakter yang kusayangi harus mati...
Kematian siapa sih yang menyentuh? (Kayanya ga ada deh...)
Begitulah, sebulan lebih ngumpulin kekuatan buat ngetik arc ini, dan arc selanjutnya akan menjadi arc terakhir Cold Blood Hunter, kuspoileri, judulnya:
Masa Depan dan Kedamaian Semu
What? Kedamaian Semu? apaan itu?
Nantikan saja deh, intinya perang menyakitkan ini berakhir di chapter depan...
__ADS_1
Sampai jumpa,
Rio Andriana a.k.a SlowMind