Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
126. Para pemimpin


__ADS_3

"Langit, ada beberapa orang yang ingin menemuimu."


"Who are they?" tanyaku, semoga bukan orang menyebalkan seperti Carroline. (Siapa mereka?)


"Beberapa orang yang dikenal dunia sebagai pemimpin..."


"Pemimpin?" aku menaikkan alisku, dan Tom mengangguk pelan.


"Ya, mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan memimpin yang amat hebat, karena kau telah mengungkapkan kekuatanmu pada kami, mereka ingin melihatmu langsung, bukan melalui panggilan video saja..." ia berdiri, dan aku ikut berdiri.


Ayah sialan itu ikut berdiri, sementara Carroline berniat kabur, tapi sayangnya ia sudah diangkut oleh Tom, sambil berkata, "Jangan kabur, kau masih punya urusan lagi..."


Setelah itu aku pergi mengikuti Tom dan ayah sialan itu, pergi ke sebuah tempat.


***


Kami masih berada di Akademi Hunter StarSam, tetapi di tempat yang berbeda dengan kelasku, yaitu di ruang yang dekat dengan ruang guru, aku tidak tahu itu ruangan apa.


Tom membuka pintu kemudian masuk, ayah sialan juga masuk, kemudian aku mengikutinya.


Saat masuk, beberapa orang, dengan hawa keberadaan yang setara dengan kakekku, berdiri di ruangan itu, memakai pakaian serba rapi, yaitu jas hitam, celana panjang hitam, serta kemeja putih, beberapa ada yang memakai dasi berbagai warna. Di dada kiri mereka tersemat medali dengan bentuk yang berbeda tiap orangnya. Kakekku biasa menyebutnya pakaian formal, dipakai ketika rapat ataupun acara resmi di masa lalu, sekarang biasa dipakai hanya ketika suatu acara resmi ataupun ketika kedatangan Hunter hebat.


Aku menaikkan alisku, aku melirik Tom yang berdiri di sebelahku, dan hanya bisa menghela napas panjang. Disaat tamunya memakai pakaian formal rapi, pemilik tempat ini hanya memakai celana pendek serta kemeja yang itupun empat kancing paling atasnya tak terpasang dengan benar, menampilkan otot dadanya yang besar. Aku jadi iri padanya, ehehehe...


Ada satu orang, kakek tua yang duduk di atas kursi beroda, yang di belakangnya ada orang yang kukenal, yaitu Yuuki Ken. Di atas kepala kakek tua itu, ada angka yang besarnya cukup membuatku tertegun.

__ADS_1


"Level 170? Dengan penampilan itu? Memangnya dia bisa bertarung?" gumamku, dan sepertinya didengar oleh Tom.


"Langit, kakek tua yang duduk di kursi roda itu bernama Oga Haruno, Hunter rank SS yang dulunya dikenal sebagai ketua organisasi EasternDragon yang bermarkas di Jepang." ujarnya, dan aku membungkuk memberi hormat padanya.


"Ah, tidak usah memberi hormat begitu, aku sudah bukan lagi orang yang pantas menerima hormat itu." kakek tua itu berkata dalam bahasa asing dan Auto Translator menerjemahkannya ke bahasa Indonesia.


"Biar begitu, anda tetap Hunter yang lebih hebat dari saya, jadi saya tak bisa tak hormat begitu saja." ujarku sopan. Mana mungkin tidak sopan di hadapan orang-orang kuat ini, salah omong sedikit, nyawa terancam.


"Hih, apa Wadah Flame Emperor mesti berpikir begitu?" Zon mengejek, dan aku hanya tersenyum tipis di luar, tapi dalam hatiku, aku amat ingin mencekik Zon seandainya dia ada di depan mukaku.


"Kalian pasti orang-orang yang pernah berbicara denganku dan paman Frans?" tanyaku, karena wajah mereka mirip seperti di panggilan video sebulan lalu.


"Benar, dan kami datang hanya ingin berkunjung dan melihat wajah sang Wadah langsung." seorang perempuan yang kuketahui bernama Marie tersenyum, membuatnya terlihat lebih cantik dari ibuku, "Dan, kami sudah melihatnya..."


Yuuki mengangkat pedangnya yang masih tersarung kemudian menyerahkannya pada kakek tua yang dipanggil Oga Haruno oleh Tom sambil berkata, "Kakek, titip sebentar..."


Tom dan ayah sialan sudah pindah sejak tadi, berpindah ke sebelah laki-laki kulit putih dengan kumis kecil di bawah hidungnya yang kuingat bernama William Vunion.


"Aku sudah merasakannya, auramu berbeda dari murid-murid akademi ini, yang bahkan sekarang sudah kelas 5 saja memiliki aura yang masih kecil jika dibandingkan denganmu." Yuuki berkata, "Bukan begitu, kakek?" tanyanya sambil melirik ke belakang, ke arah kakek Oga.


"Ya, aku bisa merasakannya, dia berbeda dari yang lainnya..." kakek Oga berkata, dengan suara yang amat ringkih.


"Saat aku mengantarnya dulu, aku tidak percaya kalau dia adalah cucu dari kakek Bintang, serta anak dari Assassin paling bodoh di dunia, si Joko Taru..." orang yang tadi pagi mengantar kami ke asrama berkata, "Setelah memperhatikannya lebih jauh, bukankah dia mewarisi semua yang dimiliki ayah dan kakeknya?"


"Benar..." John Person berkata, "Tapi sekarang kita harus berbicara serius..."

__ADS_1


"Kapan tepatnya kau menerima kekuatan Flame Emperor?" Tom masih berdiri dengan kedua tangannya yang masuk ke kantong celana pendeknya, "Dan kenapa kau memilih mengungkapkannya pada dunia, padahal kau masih belum memiliki kekuatan yang cukup, bahkan kau masih belum bisa mengalahkan salah satu dari kami?"


Dari sana saja, aku tahu kalau Tom mengkhawatirkanku, dan itu mungkin saja seperti mendukungku, tapi dengan cara yang salah, malah terdengar seperti meremehkanku.


Tapi yah, aku tahu juga kalau itu benar, aku bahkan tidak akan bisa mendaratkan satu serangan pun di tubuh Marie Guitternie yang memiliki penampilan paling lemah di ruangan ini, mungkin tidak akan bisa mengimbangi gerakan ayahku yang baru menjadi Hunter rank SS dua tahun ini.


"Kurasa, jika aku mengatakannya lebih awal, maka kalian bisa lebih cepat mempersiapkan kekuatan untuk mengantisipasi serangan yang dimaksud Dragon Lord..." jawabku, "Tentang kapan aku menerima kekuatan Flame Emperor, itu sekitar lima tahun lalu, sekitar seminggu lebih beberapa hari sebelum Raid Islandia dimulai."


"Dan kau sudah mencapai level 46 di usia yang muda, berapa usiamu?" tanya kakek Oga.


"Dua belas tahun." jawabku, "Aku sudah berlatih lama sejak lima tahun lalu dibawah bimbingan kakekku."


Wajah semua orang terkejut, kecuali ayah sialan yang hanya menghela napas, ia pastinya sudah memikirkannya sejak ia mengetahui kalau aku menjadi Wadah.


"Jika kau berlatih keras, menaikkan levelmu hingga level 200, mungkin kau bisa melampaui kekuatan Hunter rank SSS di dunia di masa ini, si laki-laki bertubuh super besar itu." Al Sallah mengelus dagunya, "Yah, anggap saja seperti itu jika konsep sistem memang mirip seperti di dalam game."


"Kalian tahu sistem itu bekerja seperti apa?" tanyaku, jika mereka tahu mungkin mereka bisa menjelaskan bagaimana caranya sistem bisa bersarang di tubuhku saat aku jatuh terjungkal di air terjun ketika aku berlatih pedang untuk pertama kalinya.


"Perkiraanku, ada syarat yang harus dipenuhi agar sistem dalam tubuh itu bangkit, ketika aku dulu, mendapatkan sistem ketika berhasil menghabisi Monster pertamaku, sepertinya karena aku sudah agak lupa dengan kejadian dulu." kakek Oga berkata, "Tom?"


"Itu ketika aku berhasil menghabisi Monster dengan kedua tanganku yang tak memegang senjata apapun, padahal aku punya pedang sulit, tapi sudah hancur ketika pertarungan itu, jadinya aku terpaksa memakai tanganku yang memakai sarung tangan besi." jawab Tom, "Ingatanku masih bagus, jadi hal-hal seperti itu masih bisa kuingat."


"Kau? Bagaimana ketika kau mendapatkan sistem?" tanya kakek Oga.


"Ketika aku berlatih mengayunkan pedang dan jatuh kemudian ditertawakan oleh kakekku." jawabku, dan membuat kakek tua yang duduk di kursi roda tertawa kecil.

__ADS_1


"Kesimpulanku, sistem muncul di waktu tak terduga, dan saat dimana kita melakukan satu hal yang nantinya akan dikenal orang-orang sebagai hal yang biasa kita lakukan, begitu?" tanyaku, dan semua orang terdiam mendengarnya, terlihat seperti tidak mengerti dengan perkataanku.


Apa perkataanku memang sulit dimengerti?


__ADS_2