
Aku dan Carroline dipindahkan ke tepi ibukota Jakarta, dan aku melihat penjagaan yang longgar di pintu masuknya.
"Ada apa ini? Kemana perginya para penjaga?" gumamku.
Setahuku, para Hunter memiliki tugasnya masing-masing untuk berjaga di pintu masuk Jakarta, juga berpatroli di sekitar Jakarta untuk mengantisipasi adanya Monster yang berniat mengganggu.
Aku berjalan lebih cepat dan masuk ke kota, kemudian melihat sesuatu yang mengerikan...
Pembantaian...
Lagi...
Oleh Monster...
Para penduduk berlarian kesana kemari tanpa arah, dan kulihat beberapa bangunan yang terbakar dahsyat, sementara beberapa Monster berukuran besar sedang mengamuk menghancurkan beberapa bangunan. Beberapa gedung juga ikut runtuh, menimpa apapun yang ada di bawahnya.
Aku mengepalkan tanganku, inilah yang membuat aku sebenarnya masih belum mengendalikan amarahku saat melihat Monster.
Cincin di tanganku berubah menjadi pedang, dan aku menariknya cepat kemudian bergerak menuju satu Monster berukuran sedang yang paling dekat denganku dan membunuhnya dengan cara memotong kepalanya.
Tak cukup satu, aku harus membunuh semua Monster yang ada di Jakarta saat ini!
***
"Wakil ketua Langit sudah datang!"
"Pak Langit sudah datang!"
Sorakan terdengar tak lama setelah aku memenggal kepala satu Monster beruang besar dengan nama Black Bear Lord, dan aku menatap para Hunter yang terlihat kelelahan.
Aku perhatikan kemungkinannya Jakarta sudah diserang sejak lama, mungkin sekitar setengah jam lalu, dan selama itu para Hunter dipencarkan untuk melindungi seluruh Jakarta.
Menurut susunan perlindungan Indonesia terakhir kalinya aku mengingatnya, ada dua Hunter rank S yang melindungi pak presiden Oka, yaitu Ardika dan Antonio. Aku tak perlu khawatir dengan keamanan pak presiden Oka.
Markas RedWhite dan Jakarta dijaga oleh ketua Frans sendiri, Vina, Senja, Rei, dan aku sendiri. Kak Budi berpatroli di Jawa Barat bersama beberapa Hunter, Alvin berjaga di Aceh bersama pasukannya, Alvian berjaga di Jawa Tengah bersama Jessica, Andhika berjaga di Bali bersama pasukannya, pak Dito berjaga di Kalimantan Selatan, dan Jawa Timur dijaga oleh seorang Hunter bernama Vein Ardhana dan Jerry Zan.
Untuk sekali lagi, aku merasakan firasat yang unik tentangnya...
Meski biasanya firasatku meleset, tetapi aku yakin bahwa ada sesuatu yang dimiliki oleh Vein.
Dua tahun lalu, Kak Budi berkata bahwa desaku dijaga oleh Vein dan tak ada Monster yang datang sejak kedatangannya.
Hal itu jelas membuatku bertanya-tanya, kakekku merupakan Hunter rank SS saja yang berjaga di desa itu saja, tetap kedatangan Monster, lalu kenapa ketika Hunter rank S bernama Vein itu berjaga di desaku, tak ada Monster yang datang?
Dan juga, aku mengetahui kalau ada banyak desa kecil di pedalaman Jawa selain desaku, tapi kenapa hanya desaku saja yang dilindunginya?
__ADS_1
Abaikan itu...
"Kalian harus mengevakuasi warga, aku perhatikan ada beberapa korban jiwa dari pihak RedWhite ataupun dari warga sekitar, kalian tak harus memindahkan mayat-mayat itu, kalian harus menjauhkan warga dari markas untuk mengurangi korban!" aku memberikan perintah, dan para Hunter yang ada di hadapanku memberi hormatnya kemudian berpencar.
"Mengurangi korban dengan cara menjauhkan warga dari markas, ya? Benar-benar strategi yang hebat..." Carroline berkata sambil menepuk kedua telapak tangannya, "Jadi, apa fungsiku disini?"
"Kau memiliki kriteria menjadi Hunter rank SS, tunjukkan itu dan pergilah membantu RedWhite." jawabku, "Terserah kau, mau itu mengevakuasi warga atau menghabisi Monster, lakukan semaumu."
Aku menguatkan genggamanku pada gagang Black Flame Soul Katana, "Aku akan pergi ke markas."
"Siap, pak Langit! " setelah itu aku mendengar derap kaki yang menjauh.
Aku melirik sekitar, kebakaran terjadi di mana-mana, dan aku yakin bahwa level serangan kali ini adalah Disaster, karena mampu membuat organisasi Hunter sekuat RedWhite kewalahan.
Aku melesat cepat menuju markas besar RedWhite, aku tak peduli harus menghabiskan Staminaku untuk berlari kesana, karena motor yang ada di dekatku sudah terbakar dan mau tak mau aku harus menghabiskan Staminaku.
***
Markas RedWhite benar-benar kacau, di sekitar markas bangunannya terbakar hebat, mayat-mayat bergelimpangan di jalanan, dengan bekas cakaran lebar di tubuh mereka.
Darah merah membanjiri jalanan, dan aku semakin yakin bahwa yang melakukannya adalah Lord, atau bahkan Emperor.
Jika Emperor, aku sedikit yakin pada kemampuan RedWhite untuk bertahan, dengan keberadaan ketua Frans dan teman-temanku yang memiliki kekuatan setara denganku jika digabungkan, mereka mungkin bisa memojokkan Emperor dan memaksa Emperor itu mundur.
Tapi aku tak boleh menganggapnya begitu, aku masih belum banyak mengintip ingatan Flame Emperor dan aku kurang tahu tentang kekuatan para Emperor.
Suasana di markas tak ada bedanya dengan situasi di luar, mayat-mayat bergelimpangan dan bahkan, bendera kebangsaan Indonesia robek menjadi dua, lambang RedWhite berupa bendera putih bergambar garuda merah dan putih ikut robek dan jatuh ke atas tanah.
Aku melesat lebih cepat, dan aku sampai di depan kantor pusat RedWhite, dan aku melihat pemandangan yang mengerikan...
Monster berbentuk seperti manusia separuh belalang mengangkat tangan kanannya dan menusuk tubuh Frans hingga tembus ke punggungnya.
Frans menjerit keras, dan Monster itu menyeringai lebar kemudian menusuk perut Frans dengan tangan kirinya lalu menebasnya, hingga perut Frans robek dan mengeluarkan darah merah yang mengucur deras.
Aku menjentikkan pedangku kemudian menariknya, dan aku berjalan maju perlahan, "Apa... Yang terjadi... Dengan negeriku?"
[Skill pasif Kaisar Api aktif! Semua lawan akan tunduk padamu dan semua kawan akan segan padamu!]
[Skill pasif Pria Api Kejam aktif! Meningkatkan semua serangan elemen Api sebesar 100%!]]
[Skill aktif Pedang Api aktif! Meningkatkan semua serangan sebesar 100% dan peluang Burn sebesar 90%!]
[Skill aktif Darah Burung Api aktif! Semua debuff dihilangkan, All Stat+2000 selama lima menit, HP+6000, meningkatkan kecepatan regenerasi Stamina dan HP sebesar 500 per detik, dan tiap serangan Ignore Defense!]
Aku melihat nama Monster itu, dan amarahku meningkat lebih besar lagi.
__ADS_1
[Tyrant Emperor : (Lv. 300)]
Tyrant Emperor melirik ke arahku dan ia melempar Frans jauh-jauh kemudian ia menghadapku, "Wadah, kau yang kucari..."
Aku melirik teman-temanku, dan kulihat mereka semua menerima luka yang amat parah, bahkan mereka semua tak mampu untuk berdiri tegak lagi.
Amarahku semakin menjadi, dan api di pedangku bertambah besar, "Apa yang kau lakukan pada negeriku?!"
Tyrant Emperor hanya menaikkan bahunya, "Hanya melaksanakan perintah, tak lebih..."
Aku melesat maju, dan menebaskan pedangku dengan cepat, hingga Tyrant Emperor tak mampu menahan seranganku, dan tebasanku merobek perutnya.
Tiap seranganku Ignore Defense, jadi aku yakin kalau aku bisa membunuh Emperor satu ini.
Aku menebaskan pedangku lagi dari atas ke bawah dan Tyrant Emperor melompat mundur dan napasnya terlihat tersengal-sengal.
"Apa-apaan gerakan itu?"
Aku mengangkat pedangku dan menjawab, "Inilah hasil dari latihanku..."
Aku melesat lagi dan api di pedangku makin membara seiring amarahku karena teman-temanku dilukai semakin meningkat.
[Skill aktif Tarian Kaisar Api aktif!]
Aku melancarkan tebasan demi tebasan, dan Tyrant Emperor menahannya semua, tetapi ia tak mampu melakukannya lebih lama lagi dan aku memotong kedua tangannya.
Tak berhenti sampai sana, aku menusukkan pedangku dan menembus perut Tyrant Emperor, hingga darah berwarna hitam keluar dari bekas tusukanku.
Aku menebaskan pedangku ke kanan, merobek perut Tyrant Emperor hingga lukanya melebar.
Tyrant Emperor menjerit, ia melompat mundur dan kedua tangannya tumbuh kembali dan diselimuti aura berwarna hijau, "Akan kubunuh kau!"
Aku menyiapkan posisiku, dan Tyrant Emperor melesat cepat ke arahku, dan aku mengangkat pedangku, menahan tusukan yang dilancarkannya.
"Mati!"
Ia menebaskan tangannya yang berbentuk seperti pedang dan aku menahannya dengan pedangku sambil melancarkan Counterattack.
Tyrant Emperor melompat mundur, dan ia melepaskan aura dahsyat yang kurasakan hampir menekanku.
"Hmph, hanya ini saja takkan mampu menekanku!" aku melesat maju lagi dan menebaskan pedangku secara beruntun.
Tyrant Emperor terlihat terkejut dan ia tak sempat menghindar, semua tebasanku mendarat di tubuhnya dan menyayat tubuhnya hingga seperti garis-garis di steak panggang...
Ia menjerit, dan Gate ungu tercipta di belakangnya kemudian ia melompat mundur sambil berseru, "Tuan Dragon Emperor akan menghabisi kalian!" ia kemudian masuk ke dalam Gate itu.
__ADS_1
Kenapa dah, banyak yang ngira Rei itu pengkhianat? Coba koment di bawah...
Rei be like: Woe kampret, aku orang baik-baik woe, ngapain kalian tuduh aku pengkhianat?!