
"Untuk apa kau mengeluarkan jam tanganmu?" Carroline menatap jam tangan perak yang baru saja dikeluarkan Langit, "Ide apa lagi yang kau pikirkan?"
"Sederhana saja, aku ingin ilmuwan mengoreksi jam tangan yang dipakai para Hunter." jawab Langit, "Ini adalah salah satu cara yang kupikirkan bisa melacak posisi Hunter nantinya dalam perang."
"Seperti?" Carroline menaikkan alisnya sambil meraih jam tangan perak itu, "Kalau kau memikirkan satu ide, seharusnya kau berpikir ide lain yang sama seperti ide pertamamu..."
"Ada teknologi yang bisa melacak detak jantung seseorang, kan? Di ponsel ada teknologi semacam itu, jadi teknologi itu harusnya bisa diterapkan di jam tangan juga." jawab Langit, "Dan, jangan lupa untuk memasangnya di jam tanganku, kalian bisa memantau gerakanku dan tahu aku masih hidup atau sudah mati."
Kata-kata Langit terdengar mengkhawatirkan, tapi Carroline tahu kalau ia hanya berusaha mengusulkan yang terbaik bagi umat manusia...
"Oke, akan kusampaikan..."
...
...
...
"Siapa yang mengira kalau usulan Langit benar-benar berguna saat ini?" Al melirik jam tangannya sendiri, "Dia sudah berpikir jauh..."
Saat ini, ada beberapa sinyal jam tangan yang menghilang dari jangkauan, dengan kata lain jantung pemiliknya sudah tak berdetak lagi.
"Mir..." Al memejamkan matanya, "Nampaknya kau sudah pergi menyusul Alex dan Joko..."
"Yo!!" Marie melompat dan duduk di sebelah Al, "Sedang apa??"
"Seperti yang kau lihat, aku memantau gerakan para Hunter." Al melipat tangannya.
"Kenapa kau mengambil tugas ini? Bukankah ada tentara lain yang bisa kau percaya untuk tugas ini?" tanya Marie lalu ia terdengar menghela napasnya, "Apa kau... Takut dengan Monster?"
Al terdiam, ia menggelengkan kepalanya dan menjawab cepat, "Tidak, aku tidak takut dengan Monster."
"Hoo..." Marie menyandarkan punggungnya, "Tapi kulihat kau seperti mencoba menghindari pertarungan."
Al terdiam sekali lagi. Rasanya perkataan Marie menusuknya amat dalam...
__ADS_1
"Bagaimana aku harus mengatakannya..." Al berkata pelan, "Bukannya aku menghindari, aku lebih memilih tidak mau menjadi beban."
"Hah? Beban? Apa kau tahu orang yang namanya Langit Satria?" tanya Marie dengan nada keras, dan rasanya ia sedang berteriak di telinga Al, "Dia juga dulu berkata dirinya beban, tetapi ia tetap maju!"
"Ia maju karena tak mau temannya mati, sementara kau?! Kau diam disini sama saja dengan membiarkan temanmu mati!" Marie memukul kepala Al, "Ingat tentang perjuangan kita selama ini! Apa kau mau membiarkan usaha Langit mengatur rencana hancur begitu saja?!"
"Dengan diam disini aku bisa menyusun laporan nantinya, tentang apa saja yang terjadi selama perang." Al menghela napasnya, ia kemudian menunjuk ke satu titik, "Contohnya ini..."
Marie mendekatkan wajahnya dengan layar komputer, "Titik apa itu?"
"Titik lokasi dari pasukan RedWhite. Wakil ketua RedWhite yang bernama Vina Celia mengatakan kalau ia membagi pasukannya menjadi dua, satu berjaga di Jakarta sementara sisanya berpatroli di pulau Jawa. Ia menambahkan kalau tak ada yang aman di Indonesia selain pulau Jawa dan pulau Bali."
"Pulau Bali berada dalam pengawasan Hunter SS Andhika Hendrawan dan pasukannya yang katanya hanya berjumlah lima puluh Hunter saja."
"Hmm, begitu ya..." Marie mengangguk, "Kalau begitu, aku temani disini sampai akhir hayat, bagaimana?"
"Aku tak ingin berhubungan dengan perempuan lagi..." Al memejamkan matanya, tangannya terkepal erat, "Sudahlah..."
"Cerita saja, sambil mengisi waktu..."
***
"Aku lebih memilih Andhika dibanding Rei bodoh itu!"
"Hah? Kukira kau akan menjelaskannya, jadi aku bisa melepasnya." Vina berkata santai.
"Harusnya kau bersamaku karena kau lebih paham tentang taktik gerilya di pedalaman hutan!" Senja semakin kesal, apalagi saat ia melihat Rei yang memanjat pohon kemudian berteriak keras, "Kau tidak tahu kelakuannya!"
Taktik gerilya yang disusun Vina adalah suatu taktik bergerak diam-diam di dalam hutan sembari menghabisi musuh tanpa ketahuan. Taktik ini biasa diterapkan Vina saat bertugas di Kalimantan, dan taktik ini seratus persen berhasil karena Vina mampu berbaur dengan senyapnya alam serta didukung dengan peredam suara pada senapannya.
Saking senyapnya, Vina bahkan tidak akan mampu dilacak musuh sehingga ia disebut gerilyawan terbaik sejauh ini.
"Antara aku denganmu, mana yang lebih berpengalaman?" tanya Vina, "Bukannya aku sombong, tapi aku lebih sering terjun langsung dibanding dirimu, dan aku sudah mengajarimu taktiknya."
"Menjelaskannya lagi pada otak batu seperti Rei itu sulit." Senja menggenggam erat ponselnya, "Ah sudahlah!"
__ADS_1
Ia mematikan telepon kemudian melirik Rei yang berdiri di atas pohon, "Hei, turun! Ada perintah baru!"
"Ada gate di depan sana." Rei berkata kemudian ia melompat turun, "Bagaimana kalau kita mendekatinya?"
Senja terdiam, menurut taktik gerilya yang ia pahami, menyerang secara terang-terangan bukanlah cara yang bagus. Memancing musuh menjauh dari keramaian kemudian menghabisinya dengan diam-diam dan cepat adalah cara yang tepat.
"Rei, aku tekankan sekali lagi, saat ini kau tak sedang bersama Langit yang akan melindungimu, tapi kau bersamaku yang mungkin lebih lemah darimu. Kau harus memikirkan tentang keselamatan orang lain juga." Senja mencoba menjelaskan, "Aku jelaskan taktik gerilya sekali lagi..."
"Sebisa mungkin kita mengurangi kontak dengan musuh banyak, kecuali kita sudah bersiap-siap dengan pertempuran melawan banyak musuh, kita juga harus memperhitungkan gas panas di senjata api kita, kita tidak tahu ada musuh apalagi di depan sana."
"Oh, tinggal pukul saja kan?" Rei mengepalkan tangannya, "Meski aku bodoh, aku punya kekuatan yang menutupi kekuranganku itu."
Senja tahu betul kalau Rei kuat, tapi apakah ia bisa memahaminya?
GRR!
GRRROAR!
Senja dan Rei terkejut, sebelum Rei merasakan sesuatu dan ia berteriak, "Menunduk!" Senja menunduk, kemudian Rei melompat dan mendekap Senja yang menunduk.
"Argghh!" Rei merasa punggungnya dicakar sesuatu yang besar, dan rasanya seperti menyentuh tulangnya, amat perih.
"Cih, insting manusia ini kuat juga!" suara decakan berat terdengar, dan Rei langsung berguling tanpa melepas Senja kemudian berdiri dengan tegak sambil meletakkan Senja kembali.
Monster dengan tubuh besar, lebih besar dari tubuh Tom yang Rei anggap sebagai manusia terbesar yang pernah ia lihat, berdiri di hadapannya.
Senja menarik pedangnya, tapi Rei mengangkat tangan kirinya sambil berkata, "Dia adalah jenis Titan, kau mungkin akan kesulitan melawannya."
"Hah?" Senja menggenggam gagang pedangnya dengan erat, "Kau meremehkanku?!"
Pedang biru andalan Senja yang merupakan warisan kakeknya terangkat, dan Rei memasang posisinya sambil berkata, "Kalau begitu, jangan mati."
"Oke!" Senja melesat duluan, dan kecepatannya amat tinggi, lebih dari kecepatan manusia biasa.
Rei ikut melesat, dan dalam jarak satu meter dengan Monster itu, ia melancarkan pukulan anginnya yang mendorong Monster itu mundur.
__ADS_1
Senja menusukkan pedangnya ke dada Titan itu, kemudian merobek dadanya hingga seisi dadanya terburai keluar.
Titan itu tak bisa melawan kombinasi dua Hunter rank SS andalan RedWhite itu, dan tubuh tanpa nyawanya langsung jatuh ke atas tanah.