
Alex berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong jasnya, ia menatap ke depan dengan helaan napas panjang.
"Benar-benar hancur..." gumamnya, dan ia mengeluarkan ponselnya lalu mengambil beberapa gambar situasi sekitar.
Setelah itu ia menaiki motornya lagi kemudian bergerak lagi, melewati reruntuhan bangunan dimana di beberapa bagiannya terselip tubuh manusia yang tak berbentuk lagi.
"Benar-benar hancur, aku tak mengiranya..." Alex menatap tajam sekelilingnya, kewaspadaannya bertambah terus sejak ia mendaratkan pesawat kecilnya di tepi pelabuhan.
Apa yang dilakukan Yen Jiu hingga tak bisa melindungi China, hal itu amat memenuhi pikiran Alex. Bahkan ia melihat tumpukan mayat manusia yang mulai mengeluarkan bau busuk, genangan darah, gumpalan merah, dan sebagainya yang sulit untuk Alex jelaskan dengan banyak kata-kata.
Cukup satu kata yang cocok menggambarkan China saat ini...
Sadis...
"Siapa yang mampu melakukan ini?" Alex menghentikan motornya dan ia melihat gedung yang telah runtuh separuhnya, di pagarnya tertulis nama BraveWarrior.
Matanya melebar, markas besar BraveWarrior yang seharusnya menjadi tempat paling aman di China, hancur.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Alex turun dari motornya dan ia berjalan masuk ke dalam markas besar BraveWarrior.
Mayat-mayat manusia dengan pakaian tempur yang tersisa bekas cakaran bertebaran, ada tumpukan senjata api di beberapa tempat, dan Alex terus berjalan.
Ia mendekati satu mayat yang memakai kemeja putih dengan celana panjang hitam serta dasi yang putus separuhnya, mayat itu memiliki lubang besar di dadanya, dan darah kering di sekitarnya.
"Wajahnya pucat, tubuhnya telah kaku, baunya amat busuk, menandakan kematiannya sudah lama sekali, sekitar dua hari mungkin..." Alex berjongkok, "Mayat ini bernama Yen Jiu, sudah kupastikan..."
Ia berdiri lagi dan mengelus dagunya, "China setidaknya sudah hancur sejak dua hari lalu, dan komunikasi dengan BraveWarrior telah putus sejak dua hari lalu."
Alex melirik ke mayat Yen yang ada di sampingnya, dan ia melihat selembar kertas yang menempel di pedang yang tertancap di dekatnya.
Ia memakai sarung tangan di kedua tangannya kemudian meraih kertas itu. Ia membacanya dan...
__ADS_1
"Huruf yang tak bisa dibaca, ini adalah ulah Monster, aku yakin itu." Alex mengangguk pelan, "******* tak mungkin bisa melakukannya, karena kekuatan BraveWarrior cukup besar dengan keberadaan Yen Jiu dan pasukan militer bersenjatakan ratusan kendaraan militer serta ribuan tentara militer."
Alex hapal sebagian besar huruf di dunia, dan huruf yang tertera di kertas itu sama sekali tak ia kenal.
"Tom mungkin tahu sesuatu." ia memasukkan kertas itu ke dalam kantongnya, "Aku akan pergi ke Amerika."
***
"Joko, aku minta kau serius." Alex menatap Joko tajam, "Kemana Mr. Tom?"
"Sudah kubilang! Mr. Tom dan kakek Oga pergi ke dunia lain untuk mencari Langit dan Carroline!" Joko berteriak keras, "Dan juga, turunkan pistolmu! Aku adalah ketua organisasi StarSam!"
"Persetan dengan itu, aku minta jawaban yang serius." Alex menarik pengaman pistolnya, dan Joko berteriak keras.
"Arrgggghh! Sudah kubilang Mr. Tom pergi ke dunia lain! Hunter lain menjadi saksinya!" Joko melompat dari kursinya, sementara Alex hanya menghela napasnya.
"Lalu kenapa aku tidak tahu?" tanya Alex dan ia memasukkan pistolnya, "Jelaskan."
"Dunia akan kacau, semua Hunter akan saling mencurigai sesamanya, dan pertempuran antar Hunter akan terjadi kembali." jawab Alex, "Oke, aku mengerti."
Ia merogoh kantong jasnya dan mengeluarkan selembar kertas kemudian meletakkannya di atas meja, "Barusan aku datang ke BraveWarrior..."
Alex menceritakan semua yang ia lihat di China, juga ia menunjukkan beberapa foto yang ia ambil, dan Joko yang melihatnya terkejut.
"Organisasi yang memiliki kekuatan yang amat besar itu, hancur?" Joko menatap foto mayat Yen, "Dan Yen gugur di negaranya sendiri?"
"Seperti yang kau lihat, China telah hancur, dan negara tetangganya yang BraveWarrior lindungi kini kehilangan pelindungnya." Alex duduk dan ia meraih cangkir yang ada di depan Joko kemudian meminum isinya, "Korea Utara, Korea Selatan, Hongkong, mereka kehilangan pelindung."
"Mereka mungkin akan meminta bantuan pada EasternDragon, tapi aku ragu jumlah Hunter di EasternDragon cukup untuk melindungi empat negara sekaligus." Joko mengelus dagunya, "Aku mengetahui kalau EasternDragon memiliki jumlah Hunter yang sedikit..."
"Bagaimana dengan RedWhite? Disana ada dua Hunter rank SS serta satu Hunter rank S yang berencana dipromosikan menjadi Hunter rank SS, mereka mungkin bisa mengirim bantuan." Alex berkata, dan Joko menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Frans pastinya akan bersiaga di Indonesia, Langit menghilang, sementara Andhika, ia masih ditugaskan bersiaga di wilayah darat Indonesia." Joko menggelengkan kepalanya, "Teman-teman Langit..."
"Demon Sniper Vina, Scarlet Fist Rei, dan Azure Blade Senja, kurasa mereka boleh juga..." ujar Alex, "Mereka dianggap hampir setara dengan Langit, bahkan ada rumor angin yang mengatakan bahwa Rei dianggap mampu membuat Langit terlempar jauh hanya dengan pukulannya saja." Joko menambahkan.
"Kita harus memberitahu Yuuki tentang hal ini, dia yang akan mengurus masalah ini." ujar Joko sambil mengibaskan tangannya. Ia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
Sementara itu, Alex duduk menyandarkan punggungnya dan ia menatap Joko yang sedang berbicara dengan Yuuki lewat ponselnya.
"Dengan ini, setidaknya ia sudah lebih baik dari sebelumnya..."
***
"Sekali lagi, Langit hilang." Andhika meletakkan laptopnya di atas meja, layarnya menunjukkan sebuah berita, "Aku bingung, hobinya Langit ini berburu atau hilang sih, tidak jelas..."
"Lagipula, untuk apa kau menanyakan itu? Apakah penting?" tanya Rei sambil menarik laptop Andhika, "Kurasa bebannya semakin berat."
"Maksudmu?" tanya Senja, dan Rei tersenyum lebar.
"Senja, apa kau memiliki perasaan khusus dengannya?" tanya Rei, dan Senja terkejut mendengarnya.
"Apa maksudmu?" Senja menaikkan alisnya.
"Ah, maaf, aku sedikit kelepasan." Rei menggelengkan kepalanya, "Intinya, beban akibat Langit membawa kekuatan yang terlalu besar semakin berat seiring ia semakin kuat."
"Pikir saja, sejak Raid Kanada ia selalu ditimpakan berbagai misi Raid, dan itu membuat kekuatannya semakin besar."
"Akibatnya, aura dahsyat kekuatannya mulai dirasakan oleh manusia biasa dan membuat lokasinya bisa terlacak dengan mudah oleh Monster sekelas Lord dan Emperor." Rei menatap Vina, "Aku menebak kalau kau sering memperhatikan Langit dan kau pastinya menyadarinya, kan?"
Vina terdiam sebelum ia mengangguk, "Yah, dengan instingku aku bahkan bisa membaca gerakannya, hawa yang ia lepaskan terlalu besar."
"Itu dia, alasan kenapa ia mudah ditemukan oleh musuh adalah karena hawa keberadaannya terlalu mudah dibaca." Rei mematikan laptop Andhika, "Sekarang, aku ingin bermain sebuah permainan dengan kalian..."
__ADS_1