
Aku menatap penampilanku di depan cermin kamar, aku merasa diriku mulai berubah sedikit demi sedikit.
Meski tidak terlalu mencolok, semacam otot lenganku yang membesar layaknya otot Tom yang besar sekali seperti petinju kelas berat, atau tinggi tubuhku yang meningkat sampai seperti Frans, aku merasa diriku berubah.
Aku dulunya melihat diriku sebagai bocah kecil penakut yang membebani kakekku saat berlatih, kini aku melihat diriku sebagai sosok yang lebih baik dari sebelumnya.
Marie berkata kalau penampilanku mulai mirip seperti kakekku ketika masih muda, tapi aku tidak merasa begitu, aku masih belum bisa mirip seperti kakekku.
Heh, banyak sekali yang mengatakan aku mirip sekali dengan kakekku...
Aku berjalan menuju balkon kamar dan duduk di kursi lalu menyandarkan punggungku, menatap langit malam yang dihiasi bintang-bintang yang bersinar terang.
Hunter itu seperti bintang di angkasa, ya? Mungkin aku mulai memahaminya sedikit demi sedikit.
Saat aku berkunjung ke Jepang untuk mencari pengalaman bersama Yuuki, aku berkali-kali melihat Hunter-Hunter rank S yang berusia muda, dan Yuuki mengatakan kalau mereka semua termotivasi karena Yuuki yang menjadi Hunter rank S termuda di dunia, dan aku yakin mereka ingin mengikuti jejaknya.
Di sisi lain, disaat para Hunter muda bersinar terang layaknya bintang di angkasa, para Hunter tua mulai pensiun dan mundur dari pekerjaannya. Cahaya mereka mulai meredup, termasuk juga mantan ketua organisasi EasternDragon yang bernama Oga Haruno.
Aku sempat bertemu dengannya sekali lagi, dan kondisinya kukatakan lebih baik dari kakekku yang kurus kering terbaring di atas tempat tidur.
Ia berkata kalau ia melihat sesuatu di dalam diriku, dan aku yakin kalau maksudnya pasti Zon atau kekuatan Flame Emperor yang mengalir di dalam tubuhku, tapi di berkata yang lain.
"Kau akan menjadi orang yang akan membebaskan dunia ini." ujarnya, dan sampai sekarang, setelah sebulan aku pergi dari Jepang, aku masih terngiang-ngiang kata-katanya itu.
Tapi yah, Tom juga berkata hal yang sama, dan itulah yang membuatku mengambil keputusan berkeliling dunia untuk mencari pengalaman sekaligus menaikkan levelku.
Aku mengepalkan tanganku, tujuanku selanjutnya adalah negara kelahiranku, yaitu Indonesia. Juga, aku ingin mengunjungi makam ibu pertamaku dan kak Bintang di Surabaya...
***
"Kau memang sudah seharusnya mencari pengalaman lagi..." ujar ayah sialan sambil memakan cemilan, "Kau yang sekarang, meski sudah pernah meratakan sepasukan Monster serigala seorang diri, tetap tidak akan bisa mengalahkan ibumu."
Hei, apa maksudnya? Meski aku sudah bertarung dan menaikkan levelku hingga melewati level 100, tetap saja aku masih belum bisa mengalahkan ibuku?
"Status."
[Nama: Langit Satria
__ADS_1
Level: 106
Usia: 13 tahun
Jenis kelamin: Laki-laki
Pekerjaan: Flame Emperor
Title: Pejuang Sejati, Pemburu Makhluk Buas, Kembalinya Penguasa Api, Pendekar Tanpa Tanding
HP: 4575/4575
STR: 1280 (+1900)
INT: 200
VIT: 835
DEX: 872 (+250)
DEF: 866 (+200)
Stamina: 20000/20000
Bonus poin: 0
Skill pasif: (Kaisar Api: Lv. max) (Pria Api Kejam: Lv. 5)
Skill aktif: (Sprint: Lv. max) (Pedang Api: Lv. max) (Pukulan Gemuruh: Lv. 3) (Darah Burung Api: Lv. max) (Semburan Api: Lv. 4) (Tarian Kaisar Api: Lv. max) (Aura Raja: Lv. max) (Tangan Penguasa: Lv. 5) (Summon: Lv. 1)
Equip: White Shirt (S) Black Scale Coat (S) Black Long Pants (S) Pedang Naga Iblis (S) Pedang Api Hitam (SSSR+) Cakar Ayam Api (SSR)]
Setidaknya sudah hampir tiga bulan sejak libur musim panas dimulai, dan aku sudah menaikkan levelku hingga melewati level 100, dengan begitu diperlukan sekitar 200 level lagi hingga aku bisa berevolusi menjadi Flame Emperor! Wuuhuu!
Dan juga, semakin lama aku berburu, semakin mudah aku membunuh Monster, bahkan aku bisa membunuh Monster sekelas Commander dalam satu tebasan saja!
Tapi yah, untuk melawan Monster sekelas Lord, setidaknya aku bekerjasama dengan Hunter rank SS untuk bisa membunuhnya, karena entah kenapa, kekuatan para Lord yang sekarang berbeda dari Raid Kanada, yang mudah dihabisi dalam beberapa kali serangan, tapi yang sekarang satu tebasan saja hanya meninggalkan goresan kecil di tubuhnya.
__ADS_1
"Kau tak usah begitu, aku masih lemah kalau melawan Leonard..." suara lembut ibuku terdengar, dan itu membuatku sedikit tenang, dibanding mendengar suara kasar ayahku... _-
Kami berada dalam satu pesawat, dan yah, tujuan kami adalah Indonesia. Kenapa kami? Itu karena ayah dan ibuku meminta ikut ke Indonesia bersamaku, dan katanya, mereka ingin berlibur di Indonesia.
Hah, padahal Prancis atau Italia sudah cukup bagi mereka untuk berlibur, malah mereka mencari yang lebih jauh lagi...
Mungkin juga, kedatangan kami ke Indonesia bisa membuat suasana bandara seketika gempar, aku tak sabar melihat wajah terkejut mereka saat melihat kami datang...
***
Jakarta, Indonesia...
"Siapa yang mengira bahwa Nona Esterosa akan datang bersama suaminya kemari, mengikuti anaknya yang amat berprestasi ini..." Frans menyambut kami langsung di bandara, dan ia datang bersama beberapa orang, salah satunya adalah pak Dito dan satu wajah yang mirip seperti Andhika, mungkin namanya adalah Bagus Wijaya.
"Hehehe..." aku hanya menggaruk kepalaku, sementara ibuku berbincang dengan Frans, dan ayahku? Dia hanya cengar-cengir tidak jelas...
Ish, memalukan sekali orang dewasa satu ini... _-
"Pokoknya kami akan menjamin liburan anda akan terasa menyenangkan dan membekas di ingatan kalian." ujar Frans kemudian ia berkata lagi, "Mari, kami antar ke markas..."
Di dalam kendaraan lapis baja empat roda atau yang ibuku sebut kendaraan amphibi...
"Taru! Kukira kau sudah tewas, ternyata masih napas!" pak Dito berteriak dan memukul pundak ayahku keras, "Kau tidak tahu betapa sedihnya Indonesia saat mendengar kabar kau tewas di kotamu!"
"Hei, hei, hei, itu sudah lima tahun lalu, kau lihat aku sekarang? Aku sehat-sehat saja, bahkan aku menjadi Hunter rank SS." jawab ayahku tenang sambil menunjukkan medali di dada kirinya, "Lihat? Jelas kalau aku adalah Assassin yang lebih kuat darimu."
"Dan juga, apa hubunganmu dengan Nona Esterosa? Kenapa kau begitu dekat dengannya?" tanya Bagus, dan ayahku hanya tersenyum tipis.
"Ayah adalah suami dari Nona Esterosa yang kalian sebut itu." jawabku, dan tak lama aku bisa merasakan hawa yang amat pekat muncul di dalam kendaraan ini.
"Jangan bercanda kau anak muda..." Bagus melirikku, dan alisnya terangkat, "Biarpun kau adalah Hunter rank SS, lawakanmu itu tidak lucu."
"Tapi begitulah yang terjadi." ayahku menggaruk kepalanya, "Yah, intinya tinggal di luar negeri tidak semenyeramkan-..."
"Kami meminta penjelasan tentang hubunganmu dengan Nona Esterosa!" satu Hunter lain meraih kerah kemeja ayahku. Aku mengenalinya sebagai Antonio Werdio.
"Mau tahu atau tempe?" tanya ayahku, dan tak lama ia pun dipukuli oleh teman-temannya di RedWhite dulu.
__ADS_1
Aku sih... Hanya tertawa kecil saja, karena teman-temanku sedang berlibur santai menikmati suhu panas musim panas...