
"Sederhana saja yang kupikirkan, keberadaan Hunter rank SS kuperkirakan bisa mengalahkan satu Lord, dan untuk William Vunion, aku kira dia bisa menghabisi Lord seorang diri."
"Joko dan Alex kuperkirakan harus bekerjasama karena mereka bertipe Assassin, yang mana tipe ini kuketahui adalah tipe yang dirugikan dalam pertarungan terbuka, jadi mereka harus bekerjasama."
"Jenny harus bersembunyi dengan dijaga oleh satu atau lebih Hunter barulah ia bisa menghabisi Lord dalam beberapa kali tembak lalu berpindah, semacam Hit and Run dalam istilah game..."
"Selebihnya bisa melawan Lord seorang diri." ujar Flame Emperor, ia kemudian menunjukku, "Langit kuperkirakan bisa menghadapi Lord dan mengimbanginya dalam beberapa waktu, sementara teman-temannya membantunya mengatasi Monster lain yang mungkin akan mendekatinya."
"Aku tidak tahu berapa tepatnya jumlah Lord yang tersisa, dari laporan si Purple yang kusuruh mengintai ke kastil Zeroz, setidaknya ada lebih dari lima Lord yang diperintahkan menyerang bumi, salah satunya adalah Serpent Lord yang sudah para Hunter rank SS habisi dengan bekerjasama."
"Dengan kata lain, kita harus bertarung melawan musuh yang jumlahnya masih belum diketahui, begitu?" ibuku mengelus dagunya.
Flame Emperor mengangguk, "Itu benar, tapi kalian tak perlu bingung, ada lima Lord yang berpihak pada kita, yang akan membantu kalian melawan Lord."
"Urusan Emperor serahkan saja pada kami, kalian urus saja Lord yang memiliki kemungkinan paling besar akan mengganggu kami." Void Emperor berkata, "Dan juga, tarik semua pesawat tempur kalian dari Zona 9 dan Zona 10, zona itu akan menjadi wilayah paling kacau, kalian tidak akan bisa berkutik disana."
Tanganku terangkat, dan aku bertanya, "Kalau aku sudah selesai membunuh Lord, apa yang harus kulakukan?"
Ini serius, apakah melawan Monster yang lebih lemah untuk menaikkan level atau membalas apa yang sudah dilakukan Ice Emperor padaku?
"Tetap menjauh dari dua zona yang kusebutkan, kau adalah kartu as kami saat melawan Emperor." ujar Void Emperor, "Fokus naikkan level, karena levelmu saat ini adalah level 70, dan kau harus membunuh banyak Monster barulah kau bisa maju di dua zona itu..."
***
__ADS_1
Menurut rencana, ayahku menghubungi Tom untuk menjelaskan rencana yang sudah dibuat oleh Flame Emperor, dan kudengar Tom menyetujuinya.
Dari bawah, kami bisa melihat pesawat-pesawat tempur melintas, dan ibuku berkata kalau mereka sedang menjauh dari wilayah utara.
"Mr. Tom menyetujuinya, ia akan memanggil kembali seluruh Hunter rank SS, dan mereka akan bergerak kemari bersamaan dengan bantuan dari berbagai negara." ujar ayahku sambil memasukkan ponselnya ke kantongnya, "Yah, sekarang kita hanya harus mengikuti rencana Flame Emperor..."
Kami pun berjalan lagi, dan tak lama, sepasukan Monster dengan tubuh besar seperti raksasa berjalan menuju kami.
Ayahku menarik belatinya, sementara ibuku menarik pedangnya, dan aku ikut menarik pedangku kemudian melirik ke belakang.
Semuanya bersiap, raut wajah takut tak lagi menghiasi wajah mereka, aku yakin mereka merasa aman dengan keberadaan dua Hunter rank SS di sisi mereka, tapi sayangnya mereka tak mungkin terus mengandalkan kedua orang tuaku untuk bertahan disini.
"Satu hal, kita harus bertahan selama mungkin, hingga bantuan datang." ujar ayahku dan ia menarik pistolnya, "Perkiraan bantuan datang sekitar dua puluh sampai tiga puluh menit..."
"Pertama kita harus memasang formasi..."
Aku melirik ke belakang dan kulihat Carroline menjelaskan sesuatu, dan sesuatu itu seperti formasi.
Omong-omong, formasi yang mereka pakai sekarang mirip seperti ketika aku mencapai level 50 dan berevolusi. Vina di posisi belakang bersama Carroline yang melindunginya, sisanya bergerak maju.
Vina memiliki pertahanan paling rendah dan pergerakannya tidaklah cepat, ia adalah sasaran empuk Monster jika ia tak dilindungi.
Aku menatap ke depan lagi, dan melihat ayah dan ibuku sudah di antara para Monster, senjata api mereka sudah menyala terang dan sudah menebas banyak sekali kaki Monster. Aku menyalakan pemanas pedangku dan melesat maju, bergerak cepat menuju para Monster raksasa itu.
__ADS_1
Gerakanku terasa makin cepat, bahkan dalam hitungan kurang dari lima detik, aku bisa mencapai tempat para Monster berkumpul dan aku langsung menebaskan pedangku ke kaki salah satu Monster.
Tanpa kuduga, tebasanku menorehkan luka yang cukup lebar di kaki Monster yang kutebas, dan Monster yang kutebas itu jatuh kemudian dadanya tertembak sesuatu.
Aku tahu itu Vina dan aku bergerak lagi menebas satu persatu kaki Monster, menjatuhkan mereka dalam satu tebasan dan suara desingan pedang terdengar.
"Keris Raja Singa beraksi lagi..." gumamku, dan kulihat ayah dan ibuku sudah membunuh banyak sekali Monster.
Pasukan dengan Monster bertubuh raksasa dan berpenampilan amat mengerikan adalah pasukan yang dipanggil Titan Raged, adalah pasukan yang bergerak langsung di bawah perintah Black Emperor si Titan sendiri.
Meskipun bertubuh besar, gerakan mereka mudah dibaca dan aku bisa membunuh mereka dengan mudah, dimulai dari menebas kaki mereka kemudian menunggu mereka jatuh dan melompat ke dada mereka kemudian menusuk jantung mereka.
Aku yang menebas kaki Monster kemudian Vina menembak dada para Monster adalah kombinasi terbaik yang kupikirkan saat ini.
Aku berhenti sejenak dan berbalik, kulihat teman-temanku bertarung dengan ganas, terutama Andhika yang mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuhnya, hanya dia yang kulihat banyak menjatuhkan Monster, dan Senja yang menghabisi Monster dengan menusuk leher belakang mereka.
Aku tersenyum tipis, dan aku kembali bergerak maju mengikuti kedua orang tuaku yang maju tanpa terhenti sedikitpun.
Kuperhatikan, meskipun ayahku bertipe Assassin, ia bisa menciptakan luka lebar di kaki Monster raksasa, dan menghabisinya dengan pistolnya, yang berdasarkan sepengetahuanku pistol tak bisa menembus kulit tebal Monster, sehingga pistol fungsinya hanya untuk mengalihkan perhatian Monster.
Kurasa, ayah memakai bentuk peluru yang berbeda dari peluru pistol biasa, jadi pelurunya bisa menembus kulit Monster yang tebal.
Para Monster tak lagi bergerak maju dan menginjak-injak salju, mereka memilih pergi menjauh. Ayah dan ibuku tak mengejarnya dan mereka berhenti bergerak.
__ADS_1
Aku menggaruk kepalaku di tempatku berdiri, levelku tak naik lagi! Pertarungan terasa cepat berlalu! Aku bahkan tak sempat membunuh satu Monster pun!
Oke deh, setidaknya ada beberapa Monster yang berhasil teman-temanku habisi, dan tak terhitung jumlahnya Monster yang dibunuh oleh kedua orang tuaku...