
Joko dan Alex turun dari New Starprize dengan belati masing-masing yang sudah keluar dari sarungnya. Keduanya bergerak menjauhi pesawat itu dengan siaga.
"Apakah ini yang namanya Islandia? Terasa sejuk..." Ujar Joko sambil melirik ke segala arah.
"Kau boleh berkata begitu, tetapi aku merasa kalau hawa disini terasa amat pengap, seperti ramai begitu..." Alex menggelengkan kepalanya, "Fokus saja ke depan, aku ingat sedikit dengan lokasi gatenya."
"Tidakkah kau merasa aneh dengan hawa yang kau katakan?" Tanya Joko lagi, "Apa itu hanya sekedar hawa pengap karena panas?"
"Aku merasa tidak, sebab itulah kita harus berjalan lebih cepat."
Keduanya berjalan lebih cepat, dan tak butuh waktu lama, mereka melihat sebuah cahaya berwarna merah di tengah-tengah sebuah padang rumput yang luas.
Mata keduanya melebar saat melihat gate merah itu, dan keduanya langsung berhenti dan memasang posisi, dengan Alex yang mengeluarkan ponselnya dan memotret gate itu.
"Aku merasakan firasat yang tidak baik..." gumam Joko, dan Alex mengangguk.
"Aku akan mengirimkan kabar ini pada Tom, seharusnya dia sudah bersiaga-..." ia berhenti berkata saat melihat pesan yang baru saja dikirimkan padanya.
"Alex, Joko, kalian bersiaga dulu di Kanada, RedWhite dan IronBlast akan menyusul kalian dengan C-140 Hercules.
Langit di atas New Washington berubah warna menjadi merah menyala, itulah alasanku mengirim bantuan ke sana.
Intinya, tunggu saja kabar selanjutnya, aku akan bergabung di C-140 Hercules, menghadapi boss terakhirnya!"
"Bukan hanya kita saja yang melihatnya, bahkan Tom pun melihatnya..." Alex bergetar, "Itu artinya seluruh dunia sudah menghadapi ancaman yang sama."
Joko mengepalkan tangan kirinya yang tak memegang apapun, "Apakah kali ini aku akan berhasil melindungi apa yang ingin kulindungi?"
Alex mendengarnya dan ia menghela napasnya, "Jika kau selalu pesimis begitu, maka kau tidak akan mencapai apa yang kau inginkan..."
__ADS_1
"Yah, tapi hal itu wajar saja setelah kau melihat gate merah yang ada di hadapan kita..." Alex mengangkat ponselnya lagi dan menempelkannya di telinganya, "Halo-...."
"Alex?! Kau dimana?! Apa kau masih di udara?!"
Alex menjauhkan ponselnya dari telinganya saat suara keras seorang pria terdengar dari ponselnya.
"Dimana posisimu sekarang?" tanya orang itu tenang, "Apa kau sudah mendarat di Islandia?"
"Ya, aku sudah mendarat, dan aku dengan Joko sudah ada di depan gate merah..." Alex menurunkan ponselnya, "Dan di hadapan kami sudah ada barisan Monster sekitar rank C sampai rank B."
Ponselnya Alex tak mengeluarkan suara, sebelum kemudian sebuah perintah terdengar.
"Alex, Joko, aku perintahkan kalian untuk mundur dulu, bertahan dengan senjata New Starprize, ulur waktu sementara aku dan pasukan menyusul kesana."
"Aku tak ingin ada Hunter hebat yang gugur karena mengorbankan dirinya, terutama Hunter rank SS, kalian adalah pilar utama pertahanan umat manusia, jangan lupa itu..." setelah itu panggilan ditutup.
Alex menyimpan ponselnya dan ia menekan tombol, kemudian belatinya berubah warna menjadi merah menyala, "Apa kau mengerti, Joko Taru?"
Alex tersenyum tipis, ia tak berniat mendengar perintah Tom untuk saat ini, karena ia merasa kalau musuh sementara ini masih ada di hadapan keduanya, jadi New Starprize seharusnya bisa bertahan dengan persenjataan berat pesawat lapis baja itu.
"Baik, kalau begitu jangan mati..." setelah itu Alex maju dan mengayunkan belatinya, memotong sisi depan leher satu beruang besar kemudian melesat ke samping sambil menyayat kaki beruang itu.
Belati bukanlah senjata untuk pertarungan terbuka, tetapi bagi beberapa orang, belati adalah senjata yang berbahaya jika digunakan dengan tepat, seperti Alex.
Dikatakan kalau Alex serius, maka dia bisa melepaskan sayatan beruntun ke musuhnya dan menghabisi banyak musuh dalam satu waktu hanya dengan belati saja.
Dan, itu terbukti dari saat ini, Alex telah menghabisi puluhan Monster beruang seorang diri, sebelum Joko turun tangan dan menghabisi banyak Monster semut yang mendekat dari arah lain.
Dalam Raid, Monster yang dihadapi tidak hanya satu jenis saja, tetapi juga lebih banyak lagi, dan tak lagi berupa hewan, tapi juga mutasi, seperti gabungan hewan dengan manusia, hewan dengan tanaman, bahkan Monster berbentuk seperti tanaman pun bisa menyerang.
__ADS_1
Serangannya juga bukan lagi tipe dekat, tapi juga serangan jarak jauh, jadi sulit untuk ikut serta dalam Raid jika kemampuan serta pengalaman masih diragukan.
Selain itu, pasukan Raid bukan lagi hanya Hunter dari organisasi Hunter, tapi Hunter yang pensiun yang memilih membantu, tentara militer, dan beberapa orang bukan bagian dari organisasi Hunter ataupun pasukan militer ikut bergabung dalam pasukan Raid.
Intinya, Raid tidak lagi sekedar serangan biasa ke sebuah kota, tapi menyerang sebuah gate dengan kekuatan besar, karena gate dipercaya memunculkan Monster dan jika gate telah menghilang, maka Monster akan menghilang dari dunia.
Dan juga, gate mengeluarkan Monster dalam beberapa gelombang serangan, dan setiap gelombang memunculkan monster-monster yang berbeda-beda jenisnya. Itulah yang membuat keberadaan Hunter rank SS diperlukan dalam Raid manapun, karena mereka bisa mengira-ngira apa yang akan muncul selanjutnya, apakah Monster biasa atau boss terakhir.
Boss terakhir biasanya memiliki rank S sampai SS, tapi sejauh ini hanya rank S saja yang diketahui selalu menjadi boss terakhir.
Kalau rank SSS, pernah muncul di Antartika, saat Raid yang dipimpin oleh Tang Liao dilakukan, dan boss terakhir dihabisi oleh Tang Liao, tapi itulah yang diketahui dunia, kenyataannya berbeda, yaaa, kalian tahulah...
Joko melompat ke samping dan menusukkan belatinya ke dada satu beruang kemudian berpijak ke tubuh beruang itu, dan melompat tinggi lalu menikam mati leher belakang satu makhluk hijau besar, yang nampaknya bernama goblin.
Ia berdiri di atas tubuh goblin besar itu dan menyeka keringatnya, "Tak ada habisnya..."
Ia melihat ke segala arah, ke hasil perbuatannya dengan Alex, yaitu tubuh tanpa nyawa Monster berbagai jenis yang bertebaran di atas padang rumput luas itu
Alex melompat ke samping tubuh yang diinjak oleh Joko dan berkata, "Kurasa sudah saatnya kita kembali..."
Joko melompat turun dan bertanya, "Bagaimana caranya kita kembali?"
"Jika asal menerobos, kita yang akan mati, itulah masalahnya..." Alex mematikan nyala panas di belatinya dan menancapkannya di tubuh goblin besar di sebelahnya, "Kalau menunggu dan menghadapi semua gelombang ini, kita yang akan kelelahan lebih dulu dibanding gelombangnya habis..."
"Jadi?"
"Kau pakai armor di dalam kemejamu?" tanya Alex kemudian membuka jas panjangnya, "Aku memakainya."
Joko mengangguk, sebelum turun ia memakai armor tipis tapi kuat di dalam kemejanya, jadi ia bersiap jika bertarung lebih lama lagi, karena tubuhnya sudah dilindungi oleh armor.
__ADS_1
"Baiklah, kita akan menerobos..." Alex menarik belatinya dan menyimpannya kemudian menarik tiga tongkat pendek kemudian merakitnya, "Ikuti aku, kita akan kembali ke New Starprize..."