
Semburanku membakar apapun yang ada di bawahku, dan aku teringat akan satu orang lagi...
"Pak Tom! Aku lupa dia ada di bawah!"
Aku menajamkan instingku dan merasakan dua hawa keberadaan, satu hawa keberadaan yang amat dahsyat yang mungkin saja adalah Dragon Emperor, dan satu hawa keberadaan yang sedikit lebih lemah yang aku yakini adalah pak Tom.
Jika terjadi sesuatu dengan seseorang, hawa keberadaannya akan berubah drastis dan aku tidak merasakan hawa keberadaan pak Tom yang berubah, masih sama seperti sebelumnya, dipenuhi amarah.
Aku menghentikan semburan apiku kemudian turun dengan cepat dan mendarat sempurna, kulihat dua makhluk besar yang sedang beradu pukulan.
Ya, kulihat amat cepat, tapi masih dalam penglihatanku...
Tetapi, aku tak melihat situasi dimana aku bisa membantu lagi...
Dragon Emperor berukuran besar? Masih bisa kulawan, tetapi yang berukuran setara dengan pak Tom? Aku merasa gerakannya lebih cepat dari sebelumnya.
...
...
...
Sial, semakin lama aku menunggu celah, pak Tom semakin terpojokkan...
"Rajaku, saya sarankan anda maju saja, dibandingkan menunggu begini, anda tidak mencerminkan sikap seorang Raja..." suara Fajar terdengar, dan aku sedikit ragu.
"Jika anda ragu, maka Tom akan tewas, pilih yang mana?" suara Angkasa terdengar, "Pilihan ada di-..."
"Aku akan maju! Terima kasih atas pencerahannya!"
Aku menarik pedangku dan melesat maju, aku takkan ragu lagi! Nyawa rekan seperjuanganku dalam bahaya!
Tak butuh waktu lama, aku sampai di dekat pak Tom dan Dragon Emperor, tanpa basa-basi aku langsung menebaskan Pedang Api Hitam ke tubuh Dragon Emperor dan merobek perutnya.
"Bagus Langit!" Pak Tom berseru, dan aku merasakan kekuatan dahsyat terkumpul di satu titik, "Kau memberikanku celah lagi!"
Aku melihat luka Dragon Emperor yang pulih perlahan, aku memasang posisiku dan melancarkan tusukan cepat ke perutnya, sepersekian detik kemudian pukulan mendarat di dada Dragon Emperor.
"Ugghhh!"
Dragon Emperor terlempar ke belakang, dan aku bersama pak Tom berhenti sejenak kemudian menarik napas bersama.
"Kau kini adalah Raja, kali ini kau tak boleh mundur lagi..." ujar pak Tom dan aura yang dilepaskannya semakin kuat, "Kau juga bukan lagi remaja biasa, kau adalah Hunter rank SSS dan tugasmu satu-satunya adalah menghabisi Monster."
__ADS_1
Aku setuju apa yang dikatakan pak Tom sebelumnya, tapi tentang Hunter rank SSS? Apa aku pantas menerimanya?
"Jika aku mati disini, maka ambillah peringkatku dan jadilah Hunter rank SSS ketiga di dunia." tambah pak Tom, "Kau adalah remaja terkuat di bumi ini..."
"Kau tak boleh mengatakan itu, sekarang yang harus kita lakukan adalah menghabisi naga itu bersama-sama." ujarku tenang.
Dari kepulan debu di hadapan kami, seekor naga kecil berjalan mendekat dan ia melesat maju, kemudian ia tiba di hadapanku dan melancarkan cakaran.
Aku mengangkat pedangku dan menahan cakaran yang dilancarkan Dragon Emperor, sementara aku melirik pak Tom yang mengangkat tangannya dan melancarkan pukulan berkekuatan penuhnya.
Dragon Emperor melompat mundur kemudian membuka mulutnya lebar-lebar, energi berjumlah besar terkumpul di mulutnya.
"Dia akan menyemburkan api! Waspada!" Angkasa berseru, "Dalam hitungan lima detik, ia akan menyemburkan api!"
Harus kuakui, kemampuan kakek Angkasa yang bisa membaca serangan telah membantuku menghindari bola api yang akan membunuhku jika aku memutuskan untuk menahannya.
Lima...
Empat...
Aku bergerak cepat menuju Dragon Emperor, sementara pak Tom kulirik sedang bergerak cepat menuju Dragon Emperor, dan Energi Gaib dalam tubuhnya mengalir cepat, aku bisa merasakannya.
Tiga...
Tusukanku bergerak cepat ke dada Dragon Emperor, dan berhasil menembus dada naga kecil itu hingga pedangku tertanam di dadanya.
Dua...
Aku melirik pak Tom yang memukul wajah Dragon Emperor dengan pukulannya yang diselimuti sesuatu berwarna hitam, dan membuat suara retakan terdengar lagi.
"Tulang hidung Dragon Emperor hancur..." suara Fajar terdengar, dan aku hanya diam saja.
Hunter spesialis pukulan terbaik di bumi memang beda, bisa meretakkan tulang hidung seekor Emperor hanya dengan tangan kosong...
"Langit, awas-!"
Hah, apa?!
Yah, aku juga tak sempat bereaksi...
***
"Bergerak di belakang layar, benar-benar ide yang hebat, Rajaku..."
__ADS_1
"Hanya sebatas rencana biasa, tidak lebih..." makhluk berpakaian serba hitam hanya tertawa cekikikan, "Semua demi tujuan akhirku..."
"Seal Field benar-benar hebat, Rajaku, anda bisa menyebabkan empat Emperor tewas hanya dengan satu jurus saja..."
"Kalau hanya melemahkan kekuatan saja, Seal Field sudah lebih dari cukup..." makhluk berpakaian serba hitam itu menghela napasnya, "New Washington juga sudah terpasang, salah satu dari tiga petarung terkuat disana akan tewas, yah intinya yang akan tersisa hanyalah aku seorang, Emperor terkuat dan menjadi raja dunia ini..."
***
Aku terlempar dari tempat tadi aku menusuk Dragon Emperor, untungnya aku berhasil menarik pedangku dari tubuh Dragon Emperor, kemudian aku mengendalikan diriku.
Pak Tom melompat mundur, tapi Dragon Emperor berhasil mengejarnya dan mencekiknya, kemudian ia melempar pak Tom.
Aku... Benar-benar tak bisa membantu pak Tom...
Dragon Emperor meraung keras dan ia melesat menuju pak Tom, dan aku tidak akan membiarkannya!
Aku melesat cepat, gerakanku bertambah cepat, bersamaan dengan suara yang terdengar di telingaku, "Kakek akan membantumu..."
Benar-benar tak butuh waktu lama, aku berhenti di depan Dragon Emperor dan membelakangi tubuh pak Tom yang tergeletak di atas aspal hancur kemudian menghunuskan pedangku, "Jangan mendekat!" Aku melepaskan seluruh aura yang kumiliki dan menekan Dragon Emperor.
Dragon Emperor terlihat tak menghiraukan peringatanku, ia mengangkat tangannya dan bergerak untuk mencekikku, tapi waktu seketika berhenti...
"Kami keluarga Satria akan membantu kunci umat manusia menghabisi musuh bebuyutan umat manusia..."
Seseorang yang memiliki wajah mirip seperti sang pendiri organisasi RedWhite, berdiri di antara aku dan Dragon Emperor, dan aku diam...
"Aku bangga memiliki penerus sepertimu..." ujar orang itu, "Ini adalah kakek Vian, Langit..."
"Kakek Fajar juga akan membantumu..." suara Fajar terdengar, "Sayapku adalah sayapmu juga, Sang Garuda akan terus terbang di udara, begitu juga denganmu..."
"Satria memiliki arti Ksatria, kami terus berjuang sekeras mungkin karena nama bawaan kami..." suara Angkasa terdengar.
"Ketua Andi yang lemah ini akan membantu juga..." suara lemah seseorang terdengar, "Tak banyak yang bisa kuberikan selalu fisik yang kuat..."
"Kakek benar-benar sulit mempercayainya, cucu kakek yang dulunya bodoh itu kini berdiri di barisan depan, bukan dibawah pimpinan ketua Frans lagi, tetapi berdiri sebagai ketua Langit..." suara kakek sialan terdengar, dan ia berdiri di sebelahku, "Jangan pernah melupakan semua yang pernah kakek ajarkan..."
Ia menggenggam tangan kananku yang memegang pedang, begitu juga dengan ketua Andi dan kakek Fajar yang berdiri di sebelah kakekku kemudian menggenggam tangan kananku, kakek Vian dan kakek Angkasa berdiri di sebelahku kemudian menggenggam tangan kananku, dan seorang perempuan datang dari depan...
"Ibu?"
"Yo, Langit! Tak ibu sangka kalau kamu bisa menjadi manusia sekuat ini!" ibuku melompat dan ia berdiri di sebelah kakek Angkasa, "Bercandanya nanti saja, yang penting kita harus menghabisi naga itu!"
"Ayo!" semua leluhurku yang ada di kedua sisiku berseru keras, dan waktu berjalan lagi...
__ADS_1