Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
121. Persiapan


__ADS_3

BUGH!


"Apa gunanya aku mempelajari buku ini selama sebulan ini?!" aku membanting buku yang baru saja kubaca ke atas lantai dengan kesal.


Bagaimana tidak kesal, kalau Vina tadi datang dan mengatakan kalau organisasi memberikan kemudahan berupa Auto Translator yang biasa dipakai para Hunter ketika mengikuti Raid ke luar negeri.


Tapi yah, agar tidak terlalu tergantung pada Auto Translator, Vina tetap menyuruhku mempelajari buku bahasa Inggris dengan serius.


"Tapi yang menyuruh malas-malasan membacanya!" Rei meremas satu halaman buku hingga robek, "Apa semua perempuan memang serusak itu?!"


"Sayangnya iya, aku sudah tak percaya pada dua manusia itu sejak datang kemari..." Andhika menatap benda kecil di tangannya, "Aku sudah terbiasa memakai benda ini..."


"Heh? Bohong ah..." Rei mendengus sambil melipat tangannya bukunya sendiri sudah ia lempar ke atas tempat tidurnya, "Tunjukkan..."


Yah, aku sama tak mengertinya mekanisme benda kecil satu ini, yang katanya memuat bahasa dari seluruh dunia, bahkan bahasa daerah sekalipun juga ada.


"Benda ini memuat bahasa dari seluruh dunia, termasuk bahasa daerah..." ujar Andhika, "Aku akan menyalakannya, kalian akan memakainya, aku akan berbicara..."


Ia membawa satu Auto Translator kemudian menyalakannya, ia mendekatiku kemudian memasangnya di telingaku lalu berkata, "Dengarkan hasil terjemahannya di telinga kanan dan bahasa aslinya di telinga kiri..."


Ia menjauh kemudian berkata sebuah bahasa yang sulit kupahami dengan telinga kiriku, tapi di telinga kananku, aku mendengar suara laki-laki, dan bunyinya kira-kira begini, "Rei itu anak yang pintar, dia bisa membuat gambar yang bagus."


"Itu hanya contoh, aku yakin aslinya dia tidak bisa..." ujar Andhika, "Aku tadi berbicara dengan bahasa daerah Bali yang tidak akan kujelaskan karena kau pastinya tidak akan mengerti."


Aku berbalik dan menatap Rei yang hanya toleh-toleh sana sini tidak mengerti apa-apa, ia menggaruk kepalanya dan bertanya, "Apa yang kalian bicarakan?"

__ADS_1


"Oh, kau mau mencobanya?" aku melepasnya kemudian memberikannya padanya, "Kau akan mengerti maksudnya tadi."


Rei menerimanya dan memasangnya di hidungnya, sebelum kulihat Andhika datang dan menarik Auto Translator dengan cepat kemudian memasangnya di telinga Rei, sambil berseru, "Bukan disana tempatnya! Jangan ngasal taruh benda begitu woi!"


***


Siang hari kami habiskan dengan mempelajari Auto Translator kemudian kursus bahasa Inggris, sorenya bermain-main di kamar, kemudian malamnya baru berlatih senapan di ruang latihan yang dekat dengan asrama.


Katanya Vina, kami akan berangkat sekitar dua hari lagi, jadi selama itu kami harus mempersiapkan semua benda yang akan kita pakai selama tinggal di Amerika, mulai dari pakaian... Itu saja sih, selebihnya pasti disediakan di StarSam.


Vina juga menambahkan, kami akan tinggal di Amerika, lebih tepatnya di New Washington selama lima tahun, hingga aku, Vina, dan Senja berusia tujuh belas tahun, Andhika berusia sembilan belas tahun, serta Rei berusia delapan belas tahun, lama ya? Tapi pastinya disana akan lebih menyenangkan daripada di Indonesia.


"Tak banyak yang harus disiapkan, hanya pakaian ganti selama lima tahun, mungkin juga buku tulis, alat tulis, kartu lisensi, itu saja kurasa..." Senja mengangkat pistolnya ke depan, "Yang paling penting kurasa senjata api selain pakaian dan kartu lisensi..."


Oh ya, Cakar Ayam Api sekarang sudah ada di tangan mekanik senjata api RedWhite, bersamaan dengan permintaan senjata api oleh Rei. Ia akan memerlukannya di StarSam nantinya, biar dia tidak meminjam Cakar Ayam Api terus-terusan.


Aku meminta agar Cakar Ayam Api ditambahkan bagian penyembur api, yang artinya kapasitas gas panasnya ditambahkan. Selain itu, aku juga meminta agar kapasitas gas panas Pedang Api Hitam diperbesar, agar aku bisa bertarung jangka panjang dengan bilahnya yang menyala.


Bilah Pedang Api Hitam dibuat dari tulang lengan seekor Emperor yang dibunuh oleh Death Emperor dulu, namanya adalah Thunder Emperor. Tulang lengan itu ditempa menjadi pedang oleh penempa di Jepang ratusan tahun lalu, kemudian berpindah tangan hingga akhirnya sampai di tangan kakekku puluhan tahun lalu, kemudian turun ke tanganku.


Permintaanku pada Pedang Api Hitam sudah selesai, tinggal Cakar Ayam Api saja yang belum selesai, padahal itu samaan dengan senjata api yang diminta oleh Rei.


Senjata api yang diminta oleh Rei berupa sarung tangan besi yang jari-jarinya akan membara jika pemanasnya dinyalakan, dan Rei akan memberinya nama Penghancur Bumi, nama yang mengerikan bagiku...


Kata penempanya, Penghancur Bumi sudah sedikit lagi selesai, tinggal memasang berbagai komponennya dan mengujinya, setelah itu selesai.

__ADS_1


"Aku tak sabar mengelus Penghancur Bumi, senjata api pertamaku..." Rei melompat-lompat sementara masing-masing tangannya memegang pistol, "Dengan begitu aku tak perlu meminjam punyanya Langit lagi!"


Lebih baik begitu, karena ketika aku pergi ke mekanik dan penempa senjata api RedWhite, Cakar Ayam Api sudah hampir hancur sepenuhnya dan itu cukup membuatku marah pada Rei, bahkan aku hampir menusuknya dengan Pedang Api Hitam saking marahnya!


"Selesaikan sepuluh tembakan kalian!" Andhika berteriak dari tempat duduk yang ada disana, "Masa kalian kalah denganku?"


Andhika sudah berubah, aku yakin itu. Sebulan lebih dia berlatih denganku sementara Keris Raja Singa miliknya diperbaiki, yaaa, kan itu hancur...


Aku berniat menanggung kerugiannya, tapi paman Frans berkata kalau biaya perbaikan Keris Raja Singa, Cakar Ayam Api, Pedang Api Hitam, dan pembuatan Penghancur Bumi akan ditanggung organisasi, jadi kami santai saja menunggu hasilnya...


"Selesaikan!" Vina berseru setelah melancarkan tembakan dengan senapan laras panjangnya, "Atau latihan kalian akan kutambahkan!"


Andhika angguk-angguk cepat tanda setuju dengan Vina, tapi sayangnya dia juga terkena marahnya Vina.


"Kau juga! Kau baru sepuluh kali tepat mengenai target saja bangga! Latihanmu kutambah jadi dua puluh!"


Dan begitulah, aku senang melihat empat orang temanku berlatih dengan riang di ruangan yang sama seperti ini, kuharap semuanya baik-baik saja...


***


Hari keberangkatan kami ke New Washington telah tiba. Segala keperluan sudah kami persiapkan dan masukkan ke dalam koper yang diberikan oleh paman Frans tanpa sepengetahuan Hunter lain, karena katanya, ekslusif bagi penerus Bintang Langit...


Aku yakin alasan lainnya karena kasihan melihat kami yang datang hanya dengan tas gendong yang kepenuhan oleh pakaian, serta tas kecil yang berisi makanan ketika baru sampai di RedWhite sebulan lalu.


"Sudah?" kulirik Andhika dan Rei yang sudah bersiap dengan pakaian yang sama ketika kami sampai di RedWhite, alias mereka memakai pakaian khas mereka, begitu juga denganku.

__ADS_1


Kemeja putih, celana panjang berwarna hitam, Black Scale Coat, serta dasi yang kuminta dari paman Frans, dan koper yang kubawa dengan kutarik, itulah pakaianku hari ini.


"Oke, kita berangkat ke New Washington!" aku keluar dari kamar bersama teman-temanku, menuju tempat petualanganku selanjutnya!"


__ADS_2