
DOR!
DOR!
DOR!
...
...
...
"Tidak!"
"Bagaimana mungkin dia bisa bertahan dari hujan peluru seperti tadi?!"
Aku mengangkat tanganku, dan semua peluru yang tadinya melesat ke arahku, seketika jatuh ke atas pasir. Dan apa yang kulakukan membuat semua tentara yang mengepungku terdiam seribu bahasa.
Kekuatan yang baru kupakai adalah kekuatan telekinesis milik Gold Emperor. Hanya sedikit Energi Gaib yang kugunakan, bisa menggeser beberapa bus yang menghalangiku.
Aku sudah banyak melatih kemampuan telekinesis yang kudapatkan secara gratis dari Gold Emperor di sekolah ataupun di rumah.
Peluru-peluru kecil dengan ukuran tidak sampai satu sentimeter tidak akan bisa menghabisiku semudah itu.
"Bagaimana? Mau dilanjut?" tanyaku sambil mengangkat tanganku yang sudah memakai Cakar Ayam Api, "Buat kata-kata kalian tentang membunuhku itu menjadi kenyataan."
Sekali lagi kutegaskan kalau aku tidak meremehkan...
Dalam jarak pandangku, sebuah Strategic Missile melesat ke arahku, dan aku mengangkat tanganku lagi, dan kurasakan benda itu terhenti di udara. Aku mengepalkan tanganku dan kudengar suara ledakan.
"Serius lah soal menghabisiku, Strategic Missile seperti itu tidak akan bisa menghabisiku." aku menaikkan bahuku, "Bawalah rudal ataupun bom nuklir."
"Yah, mungkin itu sudah tak ada lagi saat ini." aku menarik pedangku, "Biar aku tunjukkan sesuatu."
Aku mengangkat pedangku, kemudian aku bergerak cepat ke arah para tentara yang mengepungku, dan mereka semua langsung menyimpan senapan mereka kemudian menarik benda kecil...
Oke, pisau...
Aku mengetahui kalau para tentara militer, selain dilengkapi dengan ilmu menembak, juga dilengkapi dengan ilmu bela diri jarak dekat, dengan senjata ataupun tanpa senjata.
TNI juga dilengkapi pengetahuan semacam itu, dan kuakui, kemampuan TNI tidak bisa diremehkan begitu saja, terutama pasukan elite yang dipimpin Andhika langsung.
Bisa kukatakan, pelatihan yang dibuat Andhika benar-benar membuat pasukan elitenya adalah yang terbaik diantara yang terbaik, dengan kata lain adalah mesin pembunuh.
Pasukan elite itu tergabung dalam satuan intelijen, dan mereka sering bertugas ke daerah terpencil untuk mengurus banyak hal yang membahayakan negara, salah satunya mengurus ******* di Papua.
Aku bergerak cepat dan menebas banyak tentara dengan pedangku, dengan tetap menghindari semua sayatan yang dimaksudkan membunuhku.
__ADS_1
Yah, meski mereka menyayat dengan niatan membunuh sekalipun, musuh mereka bukan manusia biasa, tapi Monarch langsung, jadi sulit melakukannya meski dengan teknik terbaik sekalipun.
Aku menebaskan pedangku lebih cepat, dan kulihat darah mulai menyelimuti pedangku seiring banyak tentara yang kutebas.
"Kerahkan lebih banyak pasukan! Keluarkan flamethrower kalian!"
Flamethrower? Mereka memilikinya juga?
Aku melompat mundur, menyarungkan pedangku kemudian menarik pistol, kulihat lima orang turun dari kapal perang bersamaan, benda panjang seperti pedang terlihat di pinggang kiri mereka.
"Biar kami yang mengurus Monster ini." suara yang asing terdengar, dan ia menarik pedangnya kemudian menyala terang, "Dia tak bisa dihabisi jika ia sudah memegang pedangnya."
Oke, kalimat itu sudah lumrah diketahui penduduk dunia. Langit Satria sudah menarik pedangnya, maka ia tidak akan terkalahkan, baik saat melawan musuh atau saat latih tanding biasa.
Lima pedang yang menyala terlihat di gelapnya malam, dan aku bisa melihat wajah masing-masingnya...
Tanaka Ginyu, Shalem Singh, Miguel Carrata, Guerrero Tarto, dan Roberto Armstrin, kurasa? Aku tak banyak menghapal nama-nama petinggi militer sejak aku pensiun dua tahun lalu...
Namun setahuku, mereka adalah mantan Hunter rank S dari masa invasi Monster, dan beberapa kukenal juga...
Mereka mengangkat pedang masing-masing, dan aku menyimpan pistolku kemudian menarik pedangku lalu memasang posisiku.
Yang sekarang tidak akan semudah sebelumnya...
***
Ruangan milik Panglima Besar TNI terasa tegang. Tiga orang yang ada di dalamnya saling tatap dengan tatapan... Bermusuhan...
"Ekhem..." satu laki-laki itu berdeham, "Namaku Andhika, dan aku ingin menjelaskan sesuatu."
Tiga orang itu adalah Andhika Hendrawan, Vina Celia, dan Senja Irawan. Mereka adalah tiga orang yang dipercaya Langit untuk menjaga ibukota selagi ia mengurus masalahnya.
"Langit memerintahkan kita untuk menjaga ibukota, jadi kita harus melakukannya sebagaimana ia perintahkan." Andhika berkata, "Aku tak ingin kejadian dua tahun lalu terulang kembali."
"Yo."
Ketiganya diam, dan lampu menyala dengan sendirinya, diikuti suara seseorang yang familiar di telinga mereka.
"Apa kejadian itu? Apakah aku penyebabnya?"
Seseorang berjalan mendekati ketiganya, kemudian berdiri di belakang Andhika, "Rei Artawan, telah kembali dan siap menerima tugas."
***
Gerakan lima orang itu masihlah tajam seperti dulu, seandainya aku bukan Monarch maka aku tidak akan bisa bertahan dari keroyokan mereka.
Aku mengangkat pedangku dan menahan tebasan dari Tanaka, sebelum Miguel muncul dan menusukkan pedangnya, diikuti tusukan Roberto yang terasa mematikan.
__ADS_1
Dari belakang kurasakan tebasan yang berasal dari Guerrero dan dari samping, tebasan berat kurasakan dari Shalem.
Aku melompat ke atas dan melepaskan tendangan ke kepala Shalem, hingga ia terlempar jauh dan aku melihat kepalanya terluka akibat tendanganku.
Tanganku bergerak cepat dan melepaskan tebasan memutar yang mengenai Tanaka, Miguel, Roberto, dan Guerrero.
Aku melihat perut Tanaka yang robek beserta armor yang dipakainya, membuatku yakin kalau aku masih menahan diriku.
Jika aku sampai kelepasan, mereka semua sudah tewas sejak tadi. Seharusnya mereka menyadarinya.
"Bagaimana? Masih mau dilanjut?"
Miguel bangkit dan langsung bergerak cepat, menarik pistolnya dan melepaskan tembakan beruntun dalam jarak yang dekat.
Oke... Aku bisa melihatnya, jadi aku tidak perlu panik...
Aku mengangkat tangan kiriku dan menahan tangan kiri Miguel yang mengarahkan pistol, kemudian tangan kananku mematikan pemanas pedangku dan menusukkan pedangku ke tubuh Miguel.
Pedangku masuk cukup dalam, dan Miguel langsung kehilangan nyawanya hanya dalam satu tusukan saja.
Tatapan empat rekannya seketika berubah, tatapan mereka langsung menjadi tatapan amarah dan mereka langsung maju.
"Kau memang tidak bisa dipercaya lagi, Langit!"
"Kau mungkin bukan bagian dari manusia lagi!"
Gerakan mereka menjadi lebih tajam, namun aku bisa menghindarinya dengan amat mudah.
Manusia dalam amarah memang akan menggunakan segala cara untuk menyelesaikan masalah yang membuatnya marah... Begitulah...
Aku melompat-lompat menghindari semua tebasan mereka, dan setelah napas mereka terlihat kacau, aku melepaskan semua aura yang kumiliki.
"Aku peringati sekali lagi, jangan mendekati Indonesia atau dunia hancur!"
Auraku menekan keempatnya hingga jatuh tersungkur, dan kulihat mereka menahan diri mereka agar tetap sadar serta kepala mereka tak menyentuh pasir, singkatnya mereka tak mau tunduk padaku.
"Bawa pergi pasukan kalian dan jangan mendekat! Jika kalian mendekat, maka nasib kalian akan sama dengan pesawat, tentara, dan Miguel yang sudah kuhancurkan!"
Aku menarik auraku kemudian pergi dari tepi pantai, pertarungan terasa mudah, aku sulit merasakan yang namanya tantangan lagi sejak aku menghabisi Death Emperor...
DOR!
DOR!
DOR!
DOR!
__ADS_1
DOR!
SIIING!