
"What?! What is this?!" Rei melompat ke atas tumpukan sesuatu berwarna putih, "Is this a snow?!"
"Yah, benda putih ini namanya salju, kalian tinggal di Indonesia jadi tidak tahu benda satu ini..." Lee Shin melirik Rei sambil menghela napasnya, ada uap putih keluar dari mulutnya, "Desember adalah bulan dimana salju-salju turun di bumi belahan Utara, setahuku Indonesia ada di belahan tengah, yang mana itu terpapar sinar matahari sepanjang tahunnya dan sulit mengetahui yang namanya salju."
"Akibat invasi Monster, entah kenapa suhu di bumi berubah jadi normal, tak banyak polusi yang dihasilkan, paling hanya dari asap Strategic Missile saja yang meledak saja, tak lebih." Carroline menjelaskan, "Abaikan itu, sekarang kita kemana?"
"Dengan kita turun dan menginjakkan kaki di Kanada, maka ujiannya sudah dimulai." ujar Vina, dan aku mengangguk.
"Situasi yang bersalju begini, pastinya menyulitkan para Monster untuk bergerak, tapi hal yang sama juga berlaku pada kita, jadi yang paling aman adalah terus bergerak bersama sambil mencari Monster." aku menjelaskan, dan kesimpulannya kuambil dari sulitnya aku menggerakkan kaki di salju yang tak terlalu tebal ini, dan juga suhunya yang dingin ternyata tak mampu ditahan oleh Black Scale Coat!
[Kau terkena efek Freeze! Kecepatan gerakmu menurun 10%!]
"Suhu dingin bukanlah serangan, jadi jas hitam itu tidak akan menahannya." Zon menghela napasnya, "Tapi, kau jelas memiliki satu keuntungan tersendiri sebagai Wadah Flame Emperor."
"Ah, tubuhku hangat jika ada di dekat Langit." Senja menempel di punggungku, "Langit adalah penyelamat kita!"
Sialan, ternyata ini maksudnya Zon itu!
***
"Para murid sudah turun, juga sudah kami lengkapi dengan gelang yang bisa menunjukkan lokasi serta jumlah Monster yang dibunuh." Yuuki berkata pada satu layar besar di depannya, "Dan ujian akan dilakukan selama seminggu penuh."
"Sejauh ini masih aman, kan? Belum ada murid yang membunuh Monster, kan?" Tom bertanya, dan Yuuki mengangguk.
"Belum, aku bisa mengatakan mengirim Langit kesini bukan keputusan yang tepat." Yuuki menggelengkan kepalanya, "Masalahnya, disini sudah musim salju dan mereka akan kesulitan menemukan Monster, karena mereka mungkin saja berhibernasi."
"Monster tidak berhibernasi, mereka akan terus berburu sampai mereka mati, tak ada kata berhenti di kamus para Monster, jadi cepat atau lambat para murid akan menemukan Monster..."
***
Kanada tak lebih dari sebuah reruntuhan kota biasa, banyak bangunan hancur yang diselimuti salju, dan tak ada tempat berteduh bagi kami semua.
"Kita tak membawa cukup makanan, yang artinya kita harus menghemat makanan." Carl berkata sambil menunjukkan tasnya, "Lihat?"
__ADS_1
Tasnya berisi beberapa bungkus roti yang ia ambil dari dapur pesawat, dan tiap harinya ia mengatakan akan melakukan itu sampai ujian selesai.
"Kita tak mungkin mencari makanan disini, suasana hancur begini tak memungkinkan kita menemukan satu biji kacang pun, jadi kita harus mempersiapkannya sebelum berangkat..." ujar Carl.
"Yah, itu artinya ini adalah ujian penuh, waktu istirahat hanya saat di pesawat saja." Vina menarik senapannya, "Kalian mendengarnya?"
Aku diam, telinga Vina lumayan tajam dan ia bisa mendengar cukup jauh, melampaui jangkauanku sekalipun. Dia amat berguna sebagai seorang pengintai dan Sniper jika ada dalam sebuah tim.
"Sayangnya tidak..." Senja menggeleng, "Apa yang kau dengar?"
"Seperti langkah kaki, langkah yang diseret dalam salju, cukup berisik, berhubung salju disini cukup tebal, ia kesulitan bergerak." Vina menempelkan telapak tangannya di belakang telinganya, "Aku kesulitan mendengar napasnya."
Dua kemungkinan yang kupikirkan, satu adalah Monster, dan kedua adalah manusia, murid seperti kami.
Mencari satu manusia di Kanada amat sulit, kata kakekku, Kanada sudah ditinggalkan sejak lama dan menjadi negara mati lalu menjadi wilayah paling berbahaya di bumi, sebab itulah dua kemungkinan itu bisa kupikirkan.
"Monster?" Rei bertanya, "Langit?"
***
Reruntuhan kota semakin terasa mencekam, saat sosok yang kami tunggu menunjukkan penampilannya.
"Monster..." Lee Shin menghunuskan tombaknya, "Strong Enough..."
Bertubuh seperti manusia tinggi serta besar, bulu lebat berwarna putih di punggungnya, kepala yang mirip serigala, mata yang berwarna merah, cakar yang amat besar, dan kaki yang kurus, itulah penampilan Monster Strong Enough yang kami kira hanyalah Monster biasa.
Aku melirik, semuanya sudah menarik senjata mereka, tapi tak ada yang berani maju karena Monster itu yang berukuran besar dan kuperkirakan setinggi dua meter, setara dengan pak Tom rasanya...
"Dalam batasanku..." aku menarik Pedang Api Hitam dan menyalakan pemanasnya, "Setidaknya, komandan pasukan salah satu Lord..."
Melawan komandan pasukan Lord adalah sesuatu yang pernah kuhadapi dulu, jadi melawan serigala besar ini adalah hal yang seharusnya bisa kuhadapi.
Aku melesat dan melompat tinggi, sementara serigala raksasa itu terlihat terkejut dengan tinggi lompatanku dan ia bergerak mundur sedikit.
__ADS_1
Meskipun ia bergerak mundur, tapi pergerakannya lambat dan aku berhasil menyerang kedua belah dadanya dan melukainya cukup dalam, hingga darah berwarna hitam menetes di atas salju.
GGGRRRAAAHHH!!!
Aku mendarat dengan mulus di atas salju dan berlari melewati kakinya sambil menebasnya, tapi sayangnya tebasanku kali ini tak banyak memberikan efek pada posisi serigala itu.
Aku berguling dan menjauh dari serigala itu kemudian menarik napas panjang lalu menghembuskannya, situasi yang bersalju dan kedinginan membuat pergerakanku tak secepat yang kuinginkan.
"Hooh, ternyata Wadah semenarik ini..." serigala itu bersuara dan ia seperti berbicara, membuatku yakin kalau dia adalah Monster yang cukup kuat.
[Wolf General (Lv. 65)]
Aku melirik ke arah teman-temanku dan kulihat mereka hanya mengangkat senjata mereka, tak ada satupun yang maju.
Oke... Kuhadapi...
"Semuanya! Monster itu adalah Monster yang amat kuat, jika kalian tak melawan, maka kalian yang akan tewas!" Aku berteriak keras dan berlari lagi, "Pikirkan itu!"
Aku melompat dan mengangkat pedangku tinggi-tinggi kemudian menebaskannya ke bawah, menebas dada serigala itu dan darah berwarna hitam kembali menghiasi putihnya salju.
Serigala itu bergerak mundur, sebelum suara tembakan yang keras terdengar, dan dada serigala itu berlubang.
Aku menebak Vina yang melakukannya, dan kulihat Rei berlari dengan kedua tangannya yang memakai Penghancur Bumi kemudian melompat, kedua sarung tangan besinya sudah menyala terang.
BUUAAGGGH!
Suara pukulan terdengar dan Rei menggunakan kedua tangannya untuk membuka paksa mulut serigala itu lebar-lebar.
Sementara itu, Andhika melompat dan menusuk ke dada serigala itu, tapi serigala itu bisa menghindarinya dan tusukan itu hanya mengenai pundaknya. Andhika mendarat dengan mulus di belakangnya.
Rei masih membuka mulut serigala itu, dan terlihat ia tak mampu melakukannya lebih lama lagi, jadi dia melepasnya dan turun kemudian mendarat dengan sempurna.
"Kurasa, ini bisa berhasil..."
__ADS_1